
"Pagi mama!" sapa Ferdo, pagi-pagi sekali anak muda itu telah rapi dan dengan setelan siap ke kantor.
"Pagi sayang!" sahut mama Fema, yang sedang menyiapkan sarapan pagi bersama Nagea, menatanya ke meja makan.
Selang berapa saat, Marsha dan Abner sama-sama keluar dari pintu lift. Yang biasanya anak remaja itu akan berlari menuruni tangga dari lantai atas rumah itu, beberapa hari ini dia dengan setianya main drama melalui tangga lift bersama kak Marsha.
Sepertinya remaja itu sudah terbiasa dengan gelayutan manja kakak perempuannya itu yang selalu saja menempel dilengannya ketika mereka berdua berjalan bersama menuju pintu lift dan keluar lagi masih dengan posisi yang sama.
Memiliki tubuh semampai di usia remajanya, membuatnya sedikit lebih tinggi dari pada Marsha.
"Wahhh anak-anak mama, ini sayang sarapannya,"
Keluarga Barata pun menikmati sarapan dalam keadaan hening, sampai akhirnya si bungsu yang ketika bicara selalu terdengar menyebalkan itu memecah sedikit keheningan.
"Kak Ferdo, kenapa sepagi ini sudah siap?" tanyanya.
"Kenapa memangnya, kau keberatan?" Melirik tajam kearah si bocil.
"Sinis banget si, diputisin kak Melina ya?"
Tuk,
Sendok dan garpu yang tadinya saling bertabrakan auto terhenti, semua mata melirik Ferdo.
"Kamu, sejak kapan jadian sama Melina?" tanya Mama.
"Apa si Mah, siapa yang jadian, Mama mempercayai ABG rusuh ini?" menunjuk Abner dengan garpu ditangannya.
Yang lain hanya menyimak.
"Oh, kira sudah jadian." Mama lanjut makan dengan santainya.
'Dihhh belum jadian?' Abner membatin sembari melirik Ferdo dari ekor matanya.
Juan pun memgumumkan kepada anak-anak dan menantunya jika dirinya dan sang istri akan berpergian ke luar kota, dan meminta anak-anak itu saling menjaga diri.
"Kita semua sudah gede kali Pah, ga perlu berlebihan ah, yang penting pulangnya jangan bawa adik baru untukku." Canda Abner.
"Adik baru apa maksudmuu?" protes mama.
"Mama sama Papa pasti mau bulan madu lagi kan, boleh saja, asal jangan buatkan aku adik baru"
"Eh, siapa yang mengajarimu bilang begitu? apa yang kau pikirkan?" papa pun ikut protes.
"Guru biologi Pah" menjawab sambil mengunyah.
"Pah ... anakmu, kenapa dia begini?" ketus mama.
"Kamu yang melahirkannya sayang"
"Tidak, aku rasa dia tertukar dengan bayi orang lain"
Tuk,
Tubrukan sendok dan piring lagi-lagi terhenti. Semua orang menatap mama dan Abner bergantian.
"Mama meragukan aku?"
"Iya ... kamu sangat berbeda dengan anak-anak mama yang lain." menjawab dengan gaya cueknya.
__ADS_1
"Mama yakin, ga nyesal? Aku adalah siswa tertampan di sekolahku. Semua guru dan teman-teman mengagumiku." ketus Abner.
"Berarti benar kau berasal dari papa boy,"
Ucapan juan di sahuti oleh gelak tawa yang lainnya, termasuk Fema.
"Iya, Papa kalian memang tampan."
"Ya dong, Papaku!" timpal Marsha penuh percaya diri.
"Papa aku!" Abner tak mau kalah.
"Papaku ... aku yang lebih dulu lahir." sahut Marsha lagi.
"Papaku!! Aku yang paling disayang, iya kan Pa?"
"Ya aku lah, ya kan pa?"
"Stop! Jangan memperebutkan suami mama! Ayo sayang, kita siap untuk berangkat." ajak Fema, ia pun melangkah bersama Juan menuju kamar untuk bersiap. Meninggalkan anak-anak itu saling tatap.
"Kak, aku ngambek padamu. Kita musuhan." Abner lalu berdiri dari duduknya.
"Eh, eh, jangan begitu.
\=\=\=\=
Di Perjalanan.
Ferdo menghubungi kontak Melina
π"Halo," Suara Melina dari seberang sana, menyapa.
π"Kamu sudah siap Mel?"
π"Ya iyalah Mel. Tunggu ya,"
π"Hmmm"
Mobil Ferdo pun semakin melaju, untuk menjemput Melina, yang katanya akan akan pulang kampung.
"Kamu cepat juga sampainya"
"Iyalah, pengen cepat ketemu kamu"
"Cshhh" tersenyum malu.
Dalam sekejap, keduanya tiba di bandara soekarno Hatta. Dengan langkah sedikit buru-buru mereka melangkah ke area check-in.
"Mel,"
"Ya?"
"Berapa lama kamu disana?"
"Satu Minggu"
"Trus, apa jawabanmu untuk pernyataanku?"
"Eh?"
__ADS_1
"Aku butuh jawabmu Mel" menahan lengan Melina.
"Emmm akan kujawab begitu kembali dari kampungku."
"Baiklah" Ferdo pasrah.
"Ya sudah, aku pergi dulu yah ... kamu ... hati-hati dijalan."
Keduanya pun berpisah. Ferdo menatap kepergian Melina sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.
'Ya ampuun, aku sangat gugup, kak Ferdo kayaknya serius suka sama aku' Melina kembali memikirkan Ferdo, saat sedang duduk di deretan kursi tunggu.
Bib,
Ferdo: I Love You
π±"Kak Ferdoooo"π₯°π₯°π₯°
Melina sempat mencoba mengetik beberapa kata sebagai balasan, akan tetapi ia urungkan lagi, akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan pesan cinta dari pria itu.
\=\=\=\=
Jerry.
Dengan langkah pasti pria itu memasuki kediamannya setelah mendarat dari penerbangannya dari negara tempat tinggal mertuanya. Begitu melihat wanita yang dirindukannya sedang duduk santai bersama adik kesayangannya, pria itu langsung saja memghampiri istrinya memberinya pelukan hangat.
"Sayang, aku sangat merindukanmu."
'Dasar ... pintar sekali dia kesempatan melakulan ini dihadapan adiknya.'
"Hihihi, kasian de lu kak, ga dikangenin sama kak Nagea," celetuk Marsha. Dalam hatinya, dia mengasihani kakaknya itu karena istrinya sepertinya bersikap acuh, bahkan tidak membalas pelukan suaminya itu.
Tidak merespon apa yang dikatakan adiknya, Jerry malah kembali melanjutkan aksi nekadnya.
CUP.
"Sayang, aku tunggu kamu dikamar ya"- ucapnya, setelah memberi ciuman singkat di kening Nagea.
Tanpa menjawab atau merespon sedikitpun, Nagea tetap saja fokus sama drama yang sedang ia tonton bersama Marsha.
"Nageaku telah berubah menjadi dingin. Kapan dia akan mengerti dengan kehangatan yang kuberikan ini?"
..
Jerry melangkah gontai tak bersemangat memasuki kamarnya.
Malam harinya,
Marsha, dengan dibantu oleh kakak iparnya, ia telah beres bersiap menanti kedatangan kak Ethan untuk menjemputnya.
Tak menunggu dalam waktu lama, Ethan pun datang.
'Kamu makin cantik sha,' gumam Ethan, mengagumi Marsha.
.
__ADS_1
.
Bersambung....