Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Mengantar Marsha


__ADS_3

Hai hai...


Napa Thor? Girang banget?


Aku mau umumkan, judulnya kita ganti ya tmnΒ².



Kenapa di ganti thor?.


Hehe... mau ganti aja sih.


sama satu lagi. mau Promosi 🀭


Apaan?


Cerita baru aku dong Mampir ya kesana.


Ah udah tau thor. Aku dah mampir.


Ya... buat yg belom seh. Yg ini ye judulnyaπŸ‘‡πŸ˜‰.



Ikutin kisah Gina untuk mengejar cinta anaknya yg kini terpisah darinya. Upss.. kalau anaknya dapet, Gimana dengan bapaknya yg adalah Cinta pertamanya Gina?


Yuk kita lanjut gesss.


...πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””πŸ””...


"Sayang, kalau kamu bilang aku tidak usah ikut ke Korsel, aku tidak akan pergi."


"Kamu apaan si, pergi aja. Udah semangat juga. Dah, sana pergilah. Jagain Marsha buat aku ya,"


"Kamu gak takut gitu, aku di godain cewek korea yang sering kamu tonton di drakor?"


"Ngapain takut, kan aku sama aja cantiknya dengan mereka."


"Mel, kamu gak bisa cemburu biar dikit aja? Kamu tu gak sayang ya sama aku?"


"Ya sayang lah."


"Sini, sini, aku peluk sebentar." Menarik Melina untuk menempel padanya.


"Jangan. Ada banyak orang. Malu tau."


"Mel. Ini bandara. Ada banyak orang. Orang ga peduli kita mau ngapain aja."


"Eggak. Aku gak mau."


"Ferdo,"


Mama Fema memanggil putranya itu, mengingatkan sudah waktunya check in.


"Tu... dipanggil mama kamu. Sana pergilah."


Terpaksa Ferdo menjauh dari Melina, setelah menghubungi supirnya untuk mengantar Melina dengan selamat dan menugaskan supirnya itu untuk mengantar Melina kemanapun selama dirinya tidak di tempat. Entah kenapa, rasanya tidak tepat untuknya menjauh dari gadis itu saat ini.


"Ferdo, kamu gak perlu ikut kok sayang kalau kamu pengen tinggal. Kan mama ditemani Ethan dan maminya juga. Nagea sama kakak kamu juga akan menyusul."


"Tak apa ma, aku ingin melihat adikku masuk ke ruang operasi habis itu aku pulang."


"Ya sudah, terserah kamu. Abis kayaknya kamu gak rela pisah dari sahabat adikmu itu," sindir si mama dengan nada bercanda.

__ADS_1


\=\=\=\=


Selepas kepergian Ferdo, Melina pun duduk si kursi tunggu.


"Halo Nona, mobil sudah siap, kita bisa jalan sekarang." sang supir utusan Ferdo datang menyapa Melina.


"Maaf pak, saya sedang menunggu seseorang. Bapak bisa pulang saja. Nanti saya akan menghibungi jika saya butuh bantuan" Jelas Melina dengan ramahnya.


"Tidak Nona, saya tetap akan menunggu anda. Itu tugas saya."


"Baiklah pak, silahkan tunggu."


\=\=\=


Di tempat lain, Bangkok Thailand.


Bandara Internasional Suvarnabhumi. Nagea dan juga Jerry tentunya, sedang bersiap menempuh perjalanan menuju Seoul Korsel.


"Mi, Pi, Nagea pergi dulu yah,"


"Iya sayang, jangan lupa selalu kabari mami papi yah,"


Demikian juga dengan Jerry, berpamitan pada kedua mertuanya. Meskipun sadar bahwa putri mereka belum berbaikan dengan sang suami, kedua orangtua ini tetap menyemangati Jerry untuk takhlukkan hati Nagea.


Dengan senang hati Jerry mengiyakan setiap masukan dan pesan yang diberikan oleh kedua orangtua istrinya itu.


Saat melangkahkan kaki memasuki pesawat, dengan PDnya Jerry meraih satu tangan istrinya untuk ia genggam.


'Apa si dia, pegang-pegang,'


Nagea bersikap santai saja, seperti tidak menganggap pegangan tangan suaminya.


'Biasanya dia akan langsung melotot, dan menunjukkan kejutekkannya. Kali ini ... tidak? apa ... dia mulai menyukaiku? Ayolah Nagea, sukai aku lagi seperti dulu'


\=\=\=


"Baik Nona."


Ya, jadi ... Melina kedatangan ibu-nya. Ibuk tampak bingung, kenapa dirinya dan Melina diperlakukan dengan sangat baik oleh seseorang yang bahkan mengenakan jas rapi.


"Mel, siapa orang ini?" bisik ibu pada Melina, menanyakan tentang orang yang duduk di kursi kemudi.


"Supir buk. Nanti aku cerita ya."


Sampailah mereka di kontrakan kecil itu.


"Terima kasih ya pak, sudah mengantar kami" ucap Melina pada sang supir.


"Sama-sama Nona,"


"Ya sudah, bapak boleh pergi, nanti saya hubungi saat butuh bantuan"


"Baiklah Nona" sang supir pun pergi.


"Mel, siapa pria itu? Bukan teman kencanmu kan nak?"


Melina hampir saja ngakak mendengar pertanyaan konyol si ibuk.


"Ya bukan lah buk, masa iya aku kencan dengan dia orang yang sudah setua bapakku?"


"Lalu kenapa dia perhatian sama kamu?"


"Karena, dia ditugaskan buk. Dia itu biasa dipanggil paman oleh Marsha."

__ADS_1


"Oooo"


.


Kini, keduanya kembali berada di dalam mobil, namun tidak dengan supir pribadi Ferdo lagi melainkan taxi, menuju RSUD setempat.


Disinilah keduanya berada sekarang, di salah satu ruang rawat. Melina akan menjalani operasi pengangkatan kista Ovarium yang sudah membesar dan harus dilakukan penindakan yang tepat.


Mengetahui putrinya mengalami penyakit ini, tentu saja membuat ibuk sangat khawatir.


'Mel, Mel, calon dokter kok bisa sakit si nak, ibu kira kamu akan selalu sehat, kuat seperti ibuk' Ibu-nya Melina menatap putrinya itu dengan perasaan yang berkecamuk. 2 Jam lagi maka Melina akan masuk ke ruanng bedah dan itu membuat ibu-nya merasa semakin deg-degan.


Riwayat penyakit ini kemungkinan di dorong karena faktor genetik. Dimana, adik perempuan ibu-nya Melina juga pernah mengalaminya, dan sampai hari ini, adiknya tersebut belum berhasil memiliki anak dari rahimnya sendiri. Ini yang membuat ibuk merasa khawatir terhadap Melina.


"Buk, aku akan matikan hp. Tolong jangan dinyalakan ya buk, aku takut Marsha akan khawatir padaku jika tau. Aku sudah bilang ke dia kalau aku akan ngisi daya hp aku."


"Iya nak, iya. Ibu ngerti."


\=\=\=


Perumahan di kawasan elit di kota Seol, yang pemiliknya adalah keluarga Yared, disinilah Marsha dan semua yang turut serta menemaninya menjelang proses bedah plastik yang akan ia jalaninya besok.


"Kami datang"


"Jerry, Nagea," Mama terlihat bersemangat menyambut kedatangan putra dan menantunya itu.


"Gimana kakak ipar? Sudah ada calon keponakanku?" tanya Ferdo, sekedar basa-basi pada Nagea yang duduk di sebelahnya.


"Pertanyaan macam apa itu? Kau sedang meledekku?"


"Bukan. Kali aja ... kalian sudah bekerja keras selama ini" bisiknya lagi.


.


Malam sudah semakin larut. Ethan mengantarkan Marsha ke kamarnya.


"Sayang, segera tidur ya,"


"Iya. Aku akan tidur nyenyak kak."


"Oke, aku akan ke kamarku. Tapi, sini dulu, sulit rasanya pergi kalau tidak seperti ini dulu." Memeluk Marsha. Gadis itu hanya tersenyum senang lalu membalas pelukan.


"Sha, aku cinta kamu. Sangat cinta. Ingat itu ya,"


"Hmmm... iya... aku selalu ingat."


....


Ferdo mondar-mandir seperti setrikaan panas sambil terus menghubungi kontak Melina.


"Kenapa lama sekali ponselnya dimatikan?"


Ia pun beralih menghubungi sang supir. Pria yang tak muda lagi itu pun mengatakan bahwa tadi siang Melina kedatangan ibunya dari kampung, lalu mengantar keduanya ke kontrakan.


'Ibuk datang? Kok Melina gak cerita sih?'


satu jam kemudian sang supir kembali melaporkan bahwa Melina tidak berada di tempatnya. Membuat Ferdo kian merasa khawatir.


"Kenapa aku harus khawatir? Dia pasti bersama mama-nya. Tapi waktu Indonesia sekarang pukul 10 malam. Kemana mereka di waktu ini?"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2