Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Kalau Serius, Oke.


__ADS_3

Karena keadaan darurat, Ferdo menurut saja kemana Melina membawanya. Kini mereka memasuki rumah yang terlihat lebih sederhana dan kecil, namun perabot didalamnya tertata dengan sangat rapih.


"Nek, permisi yah, dia mau numpang WC," dengan langkah tergesa Melina membawa Ferdo sampai ke depan toilet. "Masuklah, aku akan berbincang dengan nenek." Lalu mendorong tubuh pria itu masuk ke toilet tersebut.


"Melina, siapa dia? Kenapa kelihatannya ada beberapa pria ada di rumahmu?" tanya si nenek, dengan wajah ingin tahu-nya.


"Nek, dia itu, calon pacar aku." bisik Melina.


"Oh ya? Benarkah?" Wajah kepo nenek berubah sumringah.


"Berapa usianya? Apa pekerjaannya?"


"Dia, seumuran sama abangku nek, dia bekerja di hotel."


"Wah benarkah? Bagus. Dia terlihat sangat tampan Meli. Jangan biarkan dia lepas ya,"


Melina tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolnya kearah nenek.


Setelah beberapa menit bersemedi di dalam sana, akhirnya Ferdo keluar juga, dengan kadar ketampanan yang bertambah berlipat kali ganda.


"Sudah?" tanya Melina, basa-basi.


"Csssh! Kamu basa-basi banget si, aku ga mungkin keluar kalau belum kelar."


"Hehe ... Fer, kenalkan, ini nenek aku."


"Oh, halo Nek, saya Ferdo" menberi senyum memikat.


"Oh, iya, panggil saja saya Nenek ya nak. Oia, nenek mau bilang, kalian berdua terlihat sangat cocok, cantik, ganteng." si nenek memberi pujian.


"hehehehe. Kalau begitu, kami balik dulu ya nek, terima kasih Nek," Melina lagi-lagi menyeret Ferdo, sebelum nenek mengatakan hal yang berlebih.


.


Setelah selesai dengan acara mandi dan bersiap-siap, mengenakan pakaian rapi dan tentu saja terlihat makin memukau, terdengar suara dari arah dapur memanggil tamu di rumahnya untuk sarapan bersama.


"Bro, calon mertua kamu nawarin kita sarapan tuh, celetuk Tomi.


"Ayolah, apa lagi? Bang Jerry sudah duduk manis disana. dia saja tidak jaim, apa lagi aku yang sangat kelaparan" sambung Galih.


Sudah numpang gratis, dapet sarapan gratis pula keempat pria itu.


"Nak, apa kegiatan kalian di Jakarta?" tanya kedua orang tua itu, sekedar basa-basi setelah menyelesaikan sarapan. Sebenarnya mereka cuma penasaran dengan Ferdo saja si, karena dari yang mereka lihat, Melina sepertinya tertarik dengan pria yang telah lebih dulu bilang I love u ke dirinya itu.


"Saya, bekerja sebagai manager di perusahaan ayah saya pak, buk," dengan penuh percaya diri, Tomi menjelaskan.


"Saya, pemilik supermarket yang diwariskan ayah saya pak, buk!" Ujar Galih, pula.


"Kalau kalian berdua? Bekerja di usaha milik bapak kalian juga?" bertanya kepada kakak beradik itu, Jerry dan Ferdo.


Serentak keduanya menjawab satu kata yaitu "enggak"


"Buk..." Melina dan bapak mulai mengingatkan.


"Oh... maaf"😊 si ibu jadi salah tingkah.


"Kami ... bekerja di hotel buk, beda dengan papa" sambung Ferdo.


"Ooooo, sudah lama kerja di hotel?" eh, masih bertanya.


"Sejak SMA buk," jawab Ferdo lagi.


"Oh, ya ampun, berarti kalian berdua cukup mandiri, mau bekerja sambil sekolah. Memang, seperti itulah seharusnya kalau kita ingin sekolah sementara orangtua sudah tidak mampu membiayai." sambung si ibu, kagum.


Tomi seketika membekap mulutnya sendiri, demikian juga galih yang tiba-tiba memijat pelipisnya sambil melirik kakak beradik yang tengah saling tatap itu.


Jerry dan Ferdo tersenyum canggung, kearah ibuk bapak itu. Mau menjelaskan keadaan yang sebenarnya juga tidak mungkin. Itu bukanlah gaya mereka berdua.


Memang benar kan, hotel yang mereka berdua pimpin adalah warisan dari kakek, bukan papah Juan. Memang benar juga saat masih duduk di bangku SMA sang kakek sudah memaksa keduanya untuk ikut campur sama urusan hotel miliknya yang tersebar di berbagai tempat.


Melina, gadis itu juga terlihat sama seperti Galih, hanya memijat pelipis.


"Tak apa, pekerjaan apapun yang penting halal dan dan dibayar sama pakai uang juga. Karena apapun usaha dan pekerjaan kita sama-sama mendapatkan uang. Contohnya bapak, bapak adalah seorang guru yang diangkat menjadi kepala sekolah, tapi tidak ada dari dua anak bapak yang mau jadi guru." terang sang bapak.


Keempat pria itu hanya mengangguk, setuju.


'Curhat lagi bapak gue'


.


Setelah memastikan keadaan jalan sudah aman, abangnya Melina memutuskan untuk mengantar para penumpangnya itu ke kota. Begitu juga dengan Melina yang memang dijadwalkan balik ke Jakarta hari ini.


Tentu saja Ferdo merasa sangat senang mengetahui pujaan hatinya akan berpergian bersamanya.


Diperjalanan.


Jerry dan ketiga sahabat itu sedang menikmati perjalanan dengan tertidur nyaman di jok belakang. Sedangkan posisi Melina bersama sang kakak pada kursi depan.


Melina menoleh ke belakang dan melihat Keempat orang itu sedang tertidur di sandaran kursinya masing-masing.


Lama ... ia tatap Ferdo yang semakin di tatap semakin terlihat ganteng dimata Melina

__ADS_1


'Benarkah aku akan jadian dengan pria ini?'


"Bang, sudah booking tiket buat aku?"


"Sudah Mel. Tapi kan ada limitnya tu. Coba cek aja"


Melina pun segera mengambil ponsel abangnya tersebut untuk mengecek tiket yang dimaksud.


"Bang, ga salah? Penerbangan besok pagi ini bang,"


"Lah ... adanya itu Mel yang harganya sedikit terjangkau. Tiba di kota kakak langsung antar kamu ke penginapan."


"Okelah bang"


"Kamu perginya sama aku Mel!" Sahut Ferdo dari belakang.


"Hah? kamu bangun?"


Ferdo pun membuka mata. Diliriknya sekilas abangnya Melina. "Mel, kamu berangkatnya bareng aku ya. Tiketnya sudah ada kok Mel,"


"Oh, gitu ... ya sudah, bang, gak apa kan aku bareng dia?" Melina meminta izin pada kakaknya.


"Ya ... gak apa. Terserah kamu Mel"


.


"Bro, aku ... titip adikku selama berada disana. Tolong ... jaga dia ya," abang-nya Melina menepuk bahu Ferdo setelah berpesan padanya. Ferdo pun mengangguk mantap. (Ya ealah, masa enggak).


'Duuuh, ya ampun, jadi gini yah rasanya berada di bisnis class?'


Baru ini kali pertama seorang Melina berada kelas bisnis sebuah pesawat. Ferdo merasa senang melihat raut wajah bahagia Melina. Duduknya bersebelahan pula.


"Mel,"


"Ya?" menghadapkan wajahnya ke Ferdo, yang juga sedang menatapnya.


'Uuuuhh, tatapan dia gitu banget si, jiwa jomblo aku meronta-ronta ni,"


"Apa? Jawaban kamu?"


"Hmmmm? Itu yah?


"Hmm" Ferdo mengiyakan melalui gerakan alis matanya.


"Sini, sini, aku bisikin jawabannya."


Ferdo pun mendekat.


"Tergantung kamu. Kalau kamu serius, aku jawab oke, Tapi kalai kamu gak serius, aku gak oke." bisik Melina.


Melina mengangguk pasti.


"Sini, sini, aku bisikin"


Melina pun mendekat.


"Selamat, sudah jadi pacarku" bisik Ferdo, lalu ....


CUP.


Memberi ciuman kilatnya di pipi Melina.


"Ahhhhgh" Wajah Melina kini memerah. Gadis itu menutup wajahnya dengan majalah karena malu parah.


'Mel, Mel, kamu tu, menggemeskan.'


Ferdo menyentuh rambut gadis itu dengan lembut. 'Aku akan jaga kamu Meli, aku janji, akan jadi pacar yang baik'


\=\=\=


Di ruang kerja Ethan.


Pria itu dengan perasaan tak sabar menunggu kedatangan Marsha, yang katanya hendak ke kantornya.


Tok tok tok.


Vivian, sang sekertaris muncul untuk memberitahukan kedatangan Marsha.


Ethan pun meminta Vivian menyuruhnya masuk.


"Ha...hai... kak"


Kenapa diam disitu? Sini lah" Ethan merentangkan kedua tangannya.


Marsha tentu saja sudah tau maksudnya. Gadis itu menghampiri Ethan dan masuk ke pelukan pria itu.


"Aku kangen, sayang!" Marsha memeluk erat pacarnya itu.


"Sama, aku juga" memeluk Marsha tak kalah erat!


Lama saling memeluk, Ethan kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Marsha, gadis itu duduk dihadapan Ethan, diam memperhatikan pria itu.

__ADS_1


"Hei ... jangan diliatin terus, jantung aku mulai gak aman nih."


"Hehehe ... suka aja liatnya." Marsha memangku dagunya dengan satu tangan, terus saja tersenyum kearah Ethan. "Sayang, I Love U" ucapnya.


Dan ... kalian tahu, kata cinta dari Marsha yang ditujukan kepadanya, membuat Ethan kembali beranjak dari duduknya dan memutar tubuh Marsha, mengangkat gadis itu naik ke atas meja kerjanya lalu ... ... ... benar-benar memberinya kiss, dalam durasi yang sangat lama.


"Sayang, napasnya mana? Jangan ditahan."


"Huf hah huh hah"


Ternyata, Marsha sampai lupa bernapas.


"Kak, aku ... hampir lupa bernapas."


Ethan hanya tersenyum sembari menggeleng melihat tingkah lucu kesayangannya ini. "I Love u too, Sha"


Kembali memeluk Marsha.


\=\=\=


"Kak, mulai sekarang, Melina adalah adik iparmu." Ferdo membawa Melina mendekati Kak Jerry.


Pria itu hanya merespon dengan sikap santainya. Benar-benar tidak asik.


"Ada apa nih? Turun - turun dari pesawat kalian sudah bergandengan aja kayak perangko?"


Tomi dan Galih bertanya karena heran.


"Bro, kami berdua ... sudah jadian. Sekarang, dia pacarku."


"Iya. Tapi kapan?"


"Sejak kita masih di ketinggian puluhan ribu kaki. Keren kan, jadiannya diatas pesawat" Ferdo tersenyum bangga. Sementara Melina, gadis itu hanya ikut mengiyakan setiap perkataan Ferdo.


.


Tiba di kediaman Barata.


"Sayang, kalian sudah pulang,"


Kedua pangeran itu di sambut oleh mama.


"Iya Ma, dan semuanya beres." jawab Jerry.


"Dan dapat bonus lagi Mah," sambung Ferdo.


"Bonus?" mama terlihat penasaran.


Ferdo pun mendekati mamanya itu, dan meraih tangannya. "Ma ... aku, jadian sama Melina. Aku, sangat serius dengan dia Ma, tidak apa kan Ma?" Ferdo meminta restu.


"Melina? Jadi ... dia pacar kamu sekarang?"


Ferdo mengangguk mantap, yakin seyakin-yakinnya.


"Ma, aku ingin jemput istriku besok. Boleh kan Ma?" tanya Jerry, tiba-tiba.


"Tentu boleh sayang. Minta dia baik-baik ke orangtuanya."


"Iya ma, lalu, dimana adik perempuanku? kok tidak heboh kakaknya pulang?"


"Main ke kantor Ethan sayang. Supir Ethan menjemputnya."


Pria itu lalu melangkah ke lantai atas menuju kamarnya setelah memgangguk paham.


Beralih ke Ferdo.


"Fer? terus dimana Melina? Kok ga di ajak ke rumah kita?"


"Dia berkeras menolak Ma ... katanya, kangen kamar dia yang sempit itu."


"Selamat siang!" sapa seorang gadis, yang datang bersama kekasihnya.


"Sha? Hei... darimana kamu? Kelayapan ya kalau kakak tidak dirumah" melirik Ethan sekilas lalu memeluk adik perempuannya.


"Kak, aku menebak bahwa kakak sedang bahagia. Ada apa?" tanya Marsha lalu melepas pelukan sang kakak.


"Sha, Melina, dia ... akan jadi kakak iparmu."


Jleb.


Ferdo benar-benar tidak sabar ingin mengumumkan tentang dirinya dan Melina.


"Wah? Selamat kakakku. Itu adalah keinginan besarku. Kak, semoga kalian berdua langgeng sampai ke jenjang selanjutnya." doa Marsha, tulus.


Ethan pun juga mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.


"Makasih, Than. Kau juga. Jaga baik-baik Marsha, adik perempuanku yang tersayang ini."


.


.

__ADS_1


Bersambung....


.


__ADS_2