
Ganti Cover ya gess.. Tapi Judul tetap sama😊
mungkin Cover akan ganti lagi, kalian tak perlu bingung😁
\=\=\=\=
Fema dan Juan merasa sangat senang karena Jerry Barata sang pangeran ke satu itu, sudah siuman, tanpa kekurangan suatu apapun. Ingatannya sama sekali tidak terganggu. Dia masih mengingat semua keluarganya, bahkan relasi bisnisnya sekalipun. Tapi, bagi Nagea berbeda. Justru sebaliknya.
Istrinya itu malah berpikir mungkin saja telah terjadi pergeseran pada otak suaminya, karena baginya, Jerry menjadi sangat baik, bersikap hangat padanya. Karena, setahu wanita itu, selama ini sikap baik pria itu hanya sandiwara semata. Memang, selama ini, Jerry pun tak pernah menjelaskan perasaan tulusnya itu pada istrinya. Dia lupa bahwa seorang wanita selalu menginginkan sebuah pengakuan.😏
.
"Nageaa, mama dan papa ... pergi dulu. Adik iparmu juga menunggu untuk di jenguk," pamit Fema dan Juan kepada Nagea. Wanita itu pun menjawab dengan anggukan dan sedikit senyuman.
Setelah kepergian mama dan papa, Jerry meminta Nagea duduk di dekatnya. "Duduk di sebelahku sayang,"
'Apa lagi maksudnya ini? Kenapa pula aku harus menurutinya?' dengan terpaksa Nagea duduk di tempat yang dimaksud Jerry, sementara pria itu sedang berbaring.
"Kenapa ... istriku tidak mau bicara? Hmmm?" Tangan putihnya mulai memeluk pinggang Nagea.
'Kau sendiri, kenapa kau jadi banyak bicara? Bukankah kau pria dingin?'
"Tidak apa. Fokus saja dengan kesehatanmu. Jangan banyak bicara!"
'Benarkah dia istriku? Sejak kapan dia berani berbicara ketus?'
Jerry benar-benar merasa heran melihat sikap Nagea yang kini tidak penurut. Terlepas dari kesepakatan sandiwara pernikahan itu, biasanya Wanita ini selalu menurut dengan wajah yang sedikit enak di pandang. Tapi kali ini, sangat terlihat dari raut wajahnnya bahwa ia berani membangkang.
Bagaimana Jerry menyikapi perubahan sikap Nagea? Apa pria itu akan marah seperti dulu? Tidak. Tidak mungkin. Siap-siap saja Nagea say goodbye kalau pria itu kumat jadi jahat lagi.
"Berhentilah berakting ... sudah tidak ada orang lain!"
'Jadi ... dia menganggap aku ini sedang bersandiwara?'
Jerry pun melepaskan tangannya dari pinggang istrinnya itu, lalu bergerak memeposisikan tubuhnya untuk duduk, menghadap istrinya.
"Nagea, apa ... kamu tidak mempercayaiku?"
Nagea pun menoleh kearah suaminya yang berada di sampingnya. "Mempercayai dalam hal apa ... yang kau maksudkan?" Nagea bertanya.
"Nagea," Jerry menyentuh rambut panjang istrinya itu. "Maaf ... kalau selama ini, aku bukan suami yang baik." ucapnya, dengan tatapan tulus.
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya membalas tatapan Jerry.
Lama dalam posisi saling tatap, Jerry mulai memindahkan tangannya yang semula hanya menyentuh rambut indah istrinya, kini menjalar ke wajah cantik itu, menyibak anak rambut yang seolah menghalangi pandangannya.
Nagea tidak bereaksi apapun, dia hanya menatap lurus wajah dihadapannya. Merasa tidak ada penolakan dari istrinya, Jerry mulai mendekatkan wajahnya. Sepertinya, yang menjadi target utamanya adalah bibir sexy yang berwarna nude milik istrinya.
Hening ... pria itu semakin mendekat.
CUUUUPPPP
Untuk pertama kali, bibir keduanya saling bersentuhan. Jeri sedikit memaksa walaupun ia sangat sadar, tidak ada respon dari lawannya. Memberi ******* dan gigitan pelan pada bibir milik istrinya itu.
Rasanya Nagea sangat tidak percaya akan hal ini. 'Penyiksaan macam apa lagi ini?' batinnya. Wanita itu tak bergerak sedikitpun, ia juga tidak membalas hal itu.
Merasa tak ada balasan, mau tak mau Jerry harus tau diri. Ia menghentikan aksinya. "Sayang ... kamu kenapa?" Ternyata bawah mata Nagea terdapat aliran air matanya. Wanita itu sedang memahan gemuruh di dadanya, ingin marah.
"Sayang, maaf ... maafkan aku." Jerry memeluk Nagea. Memeluknya dengan sayang, seperti sedang menghibur wanitanya itu.
"Apa aku ... terlihat ... seperti salah satu wanitamu?"
__ADS_1
DEG.
Jerry kembali menatap Nagea. Ia menatap lekat wanita itu. "Sayang, apa ... yang kamu maksudkan?"
"Aku sudah capek. Aku sangat capek. Aku ... ingin menyerah. Tolong ... bebaskan aku. Biarkan aku pergi," Nagea mengusap air matanya yang keluar bersama dengan setiap kata yang dia ucapkan.
Jerry menggeleng. "Tidak ... sayang, kamu milikku dan ... aku tidak akan membiarkan kamu pergi." Ia kembali memeluk tubuh wanita itu.
"Mungkin kamu lupa, tapi ... kamu pernah bilang kalau pernikahan ini hanya sandiwara. Kamu memilih aku karena punya alasan untuk sakiti aku, ya kan? Sekarang, adikmu sudah pulang! Artinya, tak ada alasan lagi untuk melanjutkan sandiwara kan? Ayoo ... lanjutkan hidup kita masing-masing. Kamu bisa menikahi salah satu wanitamu yang katanya sangat kau sayangi itu dan aku bisa pergi dengan bebas kemanapun aku mau."
"Nagea, sekarang dengarkan aku ... gantian bicara oke,"
"Katakan"
"Dengar baik-baik sayang, aku ... sudah lama ingin mengatakan ini. Aku ... sudah jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada istriku sendiri. Kamu orangnya."
"Cinta? ... Aku? Hehe ... tidak mungkin."
"Nagea, harus dengan cara apa supaya kamu percaya, hmm?"
"Maaf, tidak perlu berusaha membuatku percaya. Cinta? Terima kasih jika itu benar, tapi maaf ... sekarang aku sudah tidak ada rasa padamu. Dulu, aku memang seperti gadis gila yang menyukaimu, tapi sekarang, sudah tidak lagi."
"Jangan gitu sayang ... aku mohon." menatap dengan tatapan memohon.
"Surat perceraian yang telah kamu siapkan bahkan sebelun kita menikah, aku sudah menandatanganinya. Tinggal sedikit langkah lagi, maka kita berpisah."
"Gea, dengar ... aku sudah tobat, aku tidak pernah dengan wanita lain setelah kita menikah. Aku berani bersumpah."
Nagea menyunggingkan senyum kecut.
"Berikan aku waktu. Tolong Nagea, kasih kesempatan aku untuk bisa buat kamu bertahan denganku."
\=\=\=\=
Gadis itu terbangun setelah tidak sadarkan diri dalam waktu 1 jam. 'Sedang dimana aku?'
Melina merasa sedikit bingung mendapati dirinya sedang berada di atas ranjang pasien. 'ha ... kenapa aku tiba-tiba jadi seorang pasien?'
Dalam Ingatannya langsung terlintas bayangan peristiwa mengejutkan yang sudah lewat. 'Aaaaaaaaaaaa ... bibirku ... bibirku sudah tersentuh oleh bibir seorang pria, '
Setelah yakin tidak ada keberadaan Ferdo disana, Melina buru-buru pergi. Rasanya sangat canggung kalau harus bertemu pria itu lagi.
Tiba di kontrakan, tiba-tiba ada notif masuk ke hp Melina. "Iyeeeeeeeeeeees ... oh Lord ... terima lasih banyak!" wajah Melina yang tadi terlibat datar lebih pantas disebut murung, tergantikan dengan kebahagiaan yang melimpah. Ada penambahan uang masuk ke rekeningnya. Itu artinya, gaji selama 3 minggu bekerja di butik itu telah dibayarkan.
'Terkadang, hidup seakan mempermainkanku' Melina menyayangkan nofit tersebut datang terlambat membawa kabar gembira itu padanya. Bayangkan saja, Melina telah berjalan sebanyak ribuan kaki dari rumah sakit itu sampai ke istana kecilnya, tentu saja dalam kondisi keringat mengucur deras dan kaki yang terasa hampir patah. Andai saja notif itu tiba tepat waktu, maka dirinya akan segera order si babang gojek tanpa harus mikir.
Malam harinya.
Melina sudah terlelap di alam mimpi, padahal bulan dan bintang baru saja datang menyapanya.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk. Karena sudah sangat-sangat nyenyak, Melina tidak mendengar suara ketukan.
Ceklek,
Ternyata gadis itu sangat ceroboh. Dia bahkan tidak mengunci pintunya sebelum tidur.
Orang yang baru saja membuka pintu, pun masuk dengan langkah hati-hati, mengendap - endap seperti pencuri.
.
__ADS_1
Di perjalanan.
Ferdo sedang mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal Melina. Ini semua gara² adiknya yang merengek memintanya untuk segera menjemput Melina.
'Dia dan adikku sangat dekat. Tapi walaupun begitu, Marsha tidak boleh terlalu manja pada sahabatnya.' Ferdo mendumel memikirkan betapa cerewetnya si Marsha.
Ferdo merasa heran saja. Padahal ada dua orang perawat khusus yang dipekerjakan untuk merawatnya di rumah, akan tetapi gadis itu menolak mentah-mentah. Dia mengatakan bahwa hanya Melina yang boleh mengurusnya, seperti membantunya mandi membuka dan mengenakan pakaian. Bahkan mama pun ia tolak.
'Tapi apa gadis itu ada di rumahnya?' Ferdo sudah bertanya ke perawat di ruang IGD dan mereka mengatakan bahwa pasien pingsan yang tadi ia bawa sudah pulang tanpa membawa obatnya, walau pun itu hanya sekedar vitamin.
Tiba di depan pintu bangsal milik Melina, Ferdo segera saja masuk karena pintu dalam keadaan terbuka. 'Semua lampu sudah dimatikan tapi dia tidak menutup pintu?'
Ferdo segerah melangkah cepat ke arah kamar gadis itu, entah kenapa feelingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Hmmmmmmmmmp" seseorang dengan berpakaian serba hitam sedang berusaha menindih tubuh Melina. Sudah pasti Ferdo meradang melihatnya.
Pria itu terpental ke dinding setelah di tarik oleh tangan Ferdo.
BUGH.
BUGH.
BUGH
BUGH
BUGH
Entah sudah berapa kali pria itu menghadiahi wajah lelaki brengsek tersebut.
Melina? Gadis itu menangis bergetar sambil meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.
Ferdo tak dapat mengendalikan kemarahannya sehingga memukul orang tersebut sampai tak sadarkan diri. Tak ada lagi perlawanan dari pria itu, Ferdo segera berlari menghampiri Melina yang terlihat sangat ketakutan Ia pun menyalakan lampu.
"Mel ... jangan takut lagi, aku ada disini." Ferdo lalu duduk di di samping Melina lalu memeluk gadis itu erat-erat.
Tangisan melina pun pecah. Isak tangisnya memenuhi seluruh ruangan. Makin lama semakin terdengar. "Aku ... sangat ... takut!"
'tak perlu kamu jelaskan, suda sangat jelas kamu sedang ketakutan Mel'
"Jangan takut lagi yah, ada aku disini"
Ferdo mengambil ponselnya lalu menghubungi polisi.
Sadar bahwa Melina hanya mengenakan baju tidur yang kekurangan bahan, Ferdo lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh gadis itu, sebelum polisi datang dan melihat kecantikan luar dalam gadis yang telah berhasil menguasai hatinya, namun selalu ia tepis itu.
Tak butuh waktu lama, polisi pun tiba.
Setelah bertanya jawab beberapa hal dengan Ferdo, polisi pun berterima kasih karena telah dihubungi. Mereka pun menjelaskan bahwa pria ini adalah seorang pencuri yang telah menjadi target operasi pihak kepolisian.
Satu-satunya barang yang sempat pencuri itu amankan adalah ponsel milik Melina, namun kondisi hp tersebut kini rusak parah karena posisinya berada di dalam saku celana sang pencuri dan beberapa kali tubuh pria itu terpental akibat keganasan Ferdo.
Ferdo menatap hp pemberiannya itu dengan senyum smirk. Dalam hati ia berdoa supaya tak ada satu file pun yang bisa terselamatkan dari bangkai ponsel itu.
'Akhirnya, aku tidak akan tersiksa lagi membayangkan dia menatap fotonya bersama artis sok ganteng itu.'
.
.
Bersambung.
__ADS_1