Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Pernikahan


__ADS_3

Melihat sahabat baiknya hampir mati tersedak, Melina dengan sigap memberinya air mineral. "Ini, minum dulu.. minum yah"


Fania pun meneguk air putih itu, hingga tenggorokannya kembali normal.


"Sorry, sorry Fania, aku terdengar sangat kepedean yah, hingga membuatmu terkejut sampai tersedak begini.." Melina terus mengusap punggung belakang Fania. "Aduh.. temanku, aku hampir saja kehilangan dirimu!" katanya lagi dengan wajah polos.


"Hahaha.. hanya tersedak tapi kau mengira aku akan mati?" Fania berkata di sela batuknya.


"Ah,, kau membuatku gugup Faniaaaa..."


"Tidak.. aku sudah tidak apa-apa.."


\=\=\=


Nagea terbangun dari tidurnya karena merasa sangat lapar. “ada apa ini? Kenapa aku seperti mencium aroma masakan? Tidak mungkin masakan tetangga sebelah tercium sampai kesini.” Ia pun memposisikan tubuhnya duduk. “lebih baik aku mandi dulu.” Karena malas melangkah lebih jauh ke kamar, gadis itu memilih kamar mandi terdekat, dengan santainya ia membuka pakaiannya dan melangkah ke kamar mandi dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.


Selama 30 menit di kamar mandi dan merasa tubuhnya sudah bersih dan wangi, Nagea keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Nagea berteriak kaget begitu melihat Jerry duduk di kursi makan.


“Kemarilah.. makan.” Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir pria kejam itu, terdengar seperti sebuah perintah mengandung kecaman.


'Apa dia bermaksud meracuniku? Tunggu! Sejak kapan dia berada disitu? Apa dia tadi melihat tubuhku? Sial...'


“Apa kau tuli? Kau tidak mendengar aku memanggil?” Pria itu bahkan tidak mengarahkan pandangannya kepada Nagea. Entahlah, sepertinya dia gugup karena Nagea terlihat sangat menggoda.


“Ma—maaaf... tapi, aku sudah kenyang!” bohong Nagea. Ia berpikir untuk apa mati konyol di apartemen ini? Mending memasak nanti saja saat pria jahat ini pergi.


“Apa? Kenyang? Kau berani menolak perintahku?” nada datar dari pria itu terdengar sangat menakutkan.


“Ba—ba-aaiklah,” Nagea menuruti dengan patuh, ia bahkan lupa bila dirinya hanya mengenakan kimono. Ia mengambil posisi duduk di hadapan Jerry. Nagea menatap lekat piring makan yang telah Jerry sediakan untuknya. “Apa ini akan menjadi makanan terakhirku?” batinnya.


Jerry, pria itu hanya memainkan ujung jari tengahnya dengan cara mengetuknya pelan pada meja makan sembari menatap lurus wajah cantik yang tersuguhkan dihadapannya. Wajah cantik milik seorang Nagea yang bahkan menatap wajah Jerry saja tidak berani.


'aku merasa psikopat gila ini sedang menatapku. Apa jangan-jangan dia siap melahapku hidup-hidup sekarng? Atau.... dia sedang ingin menyaksikanku mati perlahan?'


“Kenapa tidak dimakan? Makanlah.. aku tidak memasukan racun dimakanan itu! Tidak, aku hanya belum melakukannya!”


Dengan cepat Nagea memakan makanan tersebut, sambil terus berdoa dalam hati.


“Pelan-pelan.. tidak ada yang mau merbut makananmu!” lagi-lagi nada datar pria itu terdengar.


Perlahan, Jerry menurunkan pandangannya. Ia kemudian reflek memijat pelipisnya setelah melihat kimono yang dikenakan Nagea sedikit tersibak dan hampir lagi memperlihatkan isi didalamnya. “Sial.. apa dia sedang menggodaku sekarang? Dasar wanita ceroboh. Bagaimana jika pria lain yang sedang bersamanya?” Jerry merasa bingung sendiri apa yang sedang ia pikirkan.


(Entahlah Jerr, apa yang sedang kau pikirkan, kau saja bingung, apalagi aku?)


\=\=\=\=\=\=\=


Tiga hari kemudian.


Jerry dan Nagea kini sudah sah menjadi suami istri. Acara pernikahan mereka benar-benar digelar secara tertutup, hanya di hadiri oleh segelintir orang. Ah.. anggap saja ini karena yang punya acara taat protokol kesehatan atau... sedang hemat biaya.


Malam Pertama.

__ADS_1


“Sayang, pergilah beristirahat” suruh Fema pada Jerry dan Nagea. Ia yakin bahwa putra sulungnya yang sudah sah menjadi seorang suami ini sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertamanya.


Miris, mama dan papa tidaklah tahu bahwa mungkin saja ini sudah malam keseribu bagi putra kebanggaannya itu untuk melewati malam bercinta. Bahkan, selama 5 tahun terakhir ini, entah sudah berapa wanita berbeda yang telah ia tiduri.


“Oke Mah, Pah, kami ke kamar dan beristirahat duluan yah.. ayo sayang” dengan hangatnya mengambil tangan Nagea.


'Psikopat ini sungguh menakutkan. Dia sepertinya memiliki kepribadian yang ganda.'


Kamar yang biasa ditempati oleh Jerry sendirian, kini menambah satu penghuni. Karena ini malam pertama, maka seluruh kamar ini telah dihias sedemikian rupa dengan suasana yang teramat romantis. Ulah siapa lagi jika bukan mama Fema!


Suasana romantis dengan aroma wangi semerbak ini benar-benar tidak mewakili perasaan Nagea. Tidak ada sedikitpun kebahagiaan dihatinya.


'ada apa dengan pria ini? Kenapa aku merasa dia tidak pernah bermain kasar lagi? ahhhh.. jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Nagea.. bisa saja sekarang pria gila ini sedang lelah.'


Jerry masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Nagea sama sekali tidak berniat untuk mandi. Wanita itu lebih memilih berbaring di sofa panjang, lalu tertidur disana.


Saat Jerry keluar dari kamar mandi, matanya langsung tertuju pada istrinya yang tertidur di sofa.


“Kenapa tidur disini? Apa takut ? tenang saja, aku tidak akan memaksamu kecuali kau menginginkannya!” jerry bergumam lalu mengangkat tubuh itu untuk pindah ke kasur empuk.


\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya.


Nagea sedikit terkejut mendapati dirinya yang sedang tidur bersama dengan Jerry. Dengan segera ia mandi dan turun ke dapur dimana mama mertuanya sedang memasak. “hah? Mama mertua? Ini sangat konyol.” Batin Nagea.


“pagi sayang..” Fema menyambut kehadiran menantunya dengan begitu bersemangat.


“iya, pagi Ma..” Nagea menjawab sekenanya.


“Itu tidak akan terjadi Maahhh!” batin Nage. Ia hanya menyunggingkan senyuman untuk menanggapi ibu mertuanya.


Acara masak memasak yang dilakukan oleh mertua dan menantu itu telah selesai, itu artinya, para penghuni rumah ini sebentar lagi akan berkumpul untuk sarapan.


“Pagi Mamaku!” Ferdo memeluk Fema, seperti biasa.


“pagi sayang, duduklah, kita akan sarapan.


“selamat pagi kakak ipar” Ferdo menyapa Nagea.


“Iya, pagi Ferr”


Tak lama, muncul pula pangeran bungsu dan papa Juan, sembari menyapa.


Tap..tap..tap..


Jerry yang sudah tampan, rapi, serta dengan aroma parfum menggoda itu menghampiri istrinya, “pagi istriku...” Jerry memeluk tubuh istrinya itu serta memberi kecupan dikening mulusnya, dan ini untuk pertama kalinya.


'gila! Apa maksud pria gila ini?' batin Nagea berteriak.


“Waaahh.. aktingnya terlihat sangat natural,” batin Ferdo.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Di istana kecil Fania dan Melina.


Melina sudah otw ke kampus sementara Fania hanya baring-baring malas di bangsal kontrak itu.


Tok tok tok.. sesorang mengetuk, lalu Fania membuka pintu, tanpa perasaan curiga.


Tak ada siapapun, hanya ada sebuah kotak yang bertuliskan nama penerimanya.


Untuk marsha!


Dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, Fania membuka kotak tersebut setelah menutup pintu rapat-rapat.


Secarik kertas yang digulung asal dibuka oleh Fania.


...HAI MARSHA!


...


...3 HARI LAGI AKAN DIADAKAN PESTA ULANG TAHUN IBUMU.


...


...DATANGLAH KE PESTA ITU KARENA AKU SUDAH MENYIAPKAN KEJUTAN UNTUK SELURUH KELUARGAMU!


...


...INGAT! JANGAN PERNAH BERMIMPI UNTUK KEMBALI KE KELUARGAMU. INI ANCAMAN.


...


...JANGAN COBA-COBA MENGANGGAP REMEHKU.


...


...SEBUAH PISTOL SELALU SIAP DIARAHKAN KE KEPALA KAKAKMU,


...


...YANG JIKA PELURUNYA MELESET, BISA SAJA MENGENAI AYAHMU, IBUMU, SAUDARAMU YANG LAIN ATAU BAHKAN SAHABATMU, MELINA!


Brak..


Kotak tersebut seketika terjatuh dari tangan Marsha yang bergetar, dan menumpahkan seluruh isinya. Sumpah demi apapun, Marsha tidak berani melihat isi kotak tersebut. Ia merasa sangat ketakutan. Akan tetapi, perasaan takutnya ia lawan dengan tetap melihatnya.


Setelah memastikan isinya, Fania membuang napasnya dengan kasar.


“Siaaal..” Fania mengumpat dengan setengah berteriak. “benar dugaanku, orang itu pasti sedang memantauku!. Aku harus lakukan sesuatu agar dia bisa tertangkap.” Fania mengepalkan kedua tangannya.


.


.


Bersambung ges....

__ADS_1


Wah ... kenapa tiba² jadi begini ceritanya? Apa kalian masih semangat ingin membaca? Atau ... jadi kesal pada author?☺


__ADS_2