Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Fania dan Melina


__ADS_3

"Ap.. apa maksud kamu boy..?"


Juan ingin memperjelas pendengarannya.


"Menikah pah.. aku akan menikah dengannya."


Sumpah, Nagea tidak tahu apa maksud Jerry kali ini. Mungkin saja Jerry sedang mempermainkan perasaannya.


Jika saja tidak menghormati Juan dan Fema sebagai orang tua, Nagea pasti sudah berteriak ataupun membentak Jerry.


"Sayang, kamu mau kan nikah sama aku?" Jerry bertanya pada Nagea di depan Juan dan Fema.


"Seberapa jauh kau berencana menghancurkan hidupku kak Jerr? Apa kau pikir kau pantas untukku? Tidak sama sekali."


Nagea tak kunjung memberi jawaban. Ia hanya memperlihatkan ekspresi datar.


"Goodboy,.. kamu membuatnya gugup sayang.." ujar mama.


"Apa ini Jerr? kau bahkan tidak memperkenalkannya pada Papa Mama tapi langsung mengajaknya menikah?" Timpal Juan.


"Sayang, perkenalkan dirimu pada Mama Papa aku!"


"Baik, sebelum bebas dari perangkap, bukankah kita harus baik-baik dulu agar pemangsa lengah?"


"Hai tante... Om... nama saya Nagea"


"Nagea? Kamu yang... temannya Ferdo dan Marsha kan?" mama Fema seketika mengingat masa lalu tentang Marsha. Gadis inilah orang terakhir yang bersama Marsha sebelum menghilang.


"Iya tante, om.. ini saya" jawab Nagea, gugup setelah nama Maraha disebutkan. Nama itulah yang membuatnya terjebak dalam kemarahan seorang Jerry yang egois.


"Sejak kapan kalian dekat?" tanya Juan.


"Sudah lama pah, tapi... selama ini kita hanya kontak jarak jauh." jawab Jerry dengan santai, tanpa merasa bersalah.


"Nagea.. benarkah kamu mau menikah dengan putra kami? Jika iya, maka kami akan sangat senang." Fema mendekat dan duduk di samping Nagea.


"Tante... aku tidak mengerti.. Menikah? Pernikahan yang bagaimana? Maaf tante, aku tidak mau jadi istri dari anakmu! tolong, jangan merestuinya!"


"Ma,, aku sama Nagea akan ke atas dulu, mau membicarakan rencana pernikahan kami. Nanti saja mama bicara dengannya lagi yah.."


"Ah.. iya sayang!" jawab Fema.

__ADS_1


"Ayo sayang, ke kamar aku.." kembali menyeret Nagea.


Sungguh permainan yang halus, kedua orangtuanya bahkan tidak menyadari akan sikap kasar Jerry.


\=\=\=


"Pah.. mama lagi bersemangat nih, sebentar lagi bakal punya menantu, mama jadi punya anak perempuan lagi" Fema memeluk suaminya.


"Jadi.. kalau mama sedang bersemangat, papa bisa terima jatah nih,"


"Iya.. ayo ke kamar sayang.."


Tiba di kamar,


"Sayang, aku curiga pangeran ke 1 tidak benar-benar ingin menikahi gadis itu." (Juan).


"Begitukah menurut Papa sayang? Kalau begitu tugas kita adalah membuatnya benar-benar menikahinya." (Fema).


\=\=\=


Di Kamar Jerry.


"Dengar baik-baik... kau akan menikah denganku, suka atau tidak suka."


"Cishhh... sebenarnya banyak wanita cantik disekelilingku, tapi aku menyayangi mereka.. aku tidak mau menyakiti mereka.. Berhubung aku punya alasan untuk menyakitimu, makanya aku memilihmu"


"Kau... sakit.. jiwa" tegas Nagea, dengan rahang mengeras.


"Apaaaa?"


Bruuk.. Jerry kembali menghempas tubuh Nagea, kasar seperti sebelumnya. Beruntung ini terhempasnya di kasur empuk, jadi kali ini kepala pelindung otak Nagea tidak terbentur.


"Berani sekali kau mengataiku sakit jiwa? Apa kau sudah bosan hidup?" Jerry kembali meremas rambut Nagea dan sedikit menariknya kasar.


"Aku lupa, melawan badboy sepertinya, aku harus terlihat lemah. melawannya terang-terangan hanya akan membuang energiku!"


"Jadi apa maumu kak Jerr? Apa lagi kali ini?" Nagea berubah melemahkan nadanya.


"Bagusss.. kau sudah kembali ke Nagea yang ku kenal.. seperti ini.. kau hanya harus menurut." Dengan pelan Jerry melepaskan eraman tangannya, lalu berdiri.


"Aku.. tidak ingin menikah.. aku, tidak ingin punya istri.. aku.. tidak mau jadi suami.."

__ADS_1


"Jadi kenapa kau mau menikahiku kalau kau tidak ingin? Manusia gila!"


"Papa dan Mamaku ingin menjodohkanku dengan seseorang. Itu sebabnya aku memakaimu sebagai penggagal perjodohan itu. hah.. sepertinya Tuhan memang peduli padaku.. Dia mengirimmu disaat yang tepat."


Nagea hanya diam, tidak melayangkan protes. Karena apa? Karena dia sedang mengumpat dalam hati.


"Kau sudah berjanji untuk mencari adikku.. lakukanlah.. setelah itu, aku akan membebaskanmu."


"Benarkah? Kau berjanji?" raut senang memenuhi seluruh wajah Nagea.


"Sesenang itu kah kau terbebas dariku?"


"Aku tak tahu dimana adikmu berada. Haruskah aku membuat seseorang menyamar jadi Marsha? Apa kata ibumu? goodboy? Aku bersumpah akan membuat mereka mengetahui betapa jahatnya dirimu! Tunggu saja, mereka akan menyesal telah menganggapmu pria baik."


\=\=\=


"Faniaaaa..." teriak seseorang.


"Hmmmmmm"


"Banguuun"


"Huuuummmmmmm"


"Melina... aku masih mengantuk" menjawab dengan suara malas.


"Bangun atau aku akan menyirammu. Kau menumpang ditempatku tapi kau malah enak-enakan tidur. Seharusnya tau diri sedikit. Siapkan aku makan karena aku akan ke kampus.."


"Melina cantik, jangan mengomel, nanti kau cepat tua," Fania bersikap cuek tak peduli, terus saja tutup mata.


Fania dan Melina, gadis berusia 22 tahun. Keduanya adalah sahabat baik sejak SMP.


Perkenalkan Visual Fania👇



Visual Melina👇



Siapakah 2 tokoh baru di atas?

__ADS_1


kita lanjut nanti malam😊


__ADS_2