
"Melina, kamu dipanggil tuh, ke ruangan ketua."
"Yah? Saya? dr Juan minta saya ke ruangannya?"
"Iya, benar sekali."
"Oh, ba-baiklah." jawab Melina, malas.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Saatnya magang berakhir untuk hari ini.
Disinilah Melina sekarang, di depan pintu ruang kerja pemilik rumah sakit ini.
'Aku sangat gugup. Kira-kira dokter Juan akan mengatakan apa? Apa ini tentang kinerjaku? Atau tentang aku dan anaknya?'
Tok tok tok.
Pintu pun terbuka otomatis. Melina melangkah masuk dengan kaki yang terasa begitu kaku.
"Permisi pak," Melina sedikit menunduk, tak berani meluruskan pandangannya.
"Hai!" sapa seseorang yang sangat melina kenali.
"Kamu?"
"Kenapa sayang? Kaget?"
Ferdo mendekati Melina. Sudah pasti gadis itu reflek melangkah mundur.
"Ka-kamu mau apa?" Melina merasa gugup karena pria itu semakin mendekat.
"Siapa yang kasi kamu hak untuk meninggalkan aku Mel? Kamu semudah itu bilang putus dan meninggalkan aku di depan warung bakso hem? Kamu membuat aku sangat terhina."
'Apa maksud pria ini? Memangnya dimana tempat yang dia inginkan?'
"Melina sayang," menangkup wajah gadis itu.
"I Love you. Kamu tahu kan itu artinya? hem?"
"Ya tahu lah,"
"Apa? Apa artinya?"
"Kamu juga tahu artinya, kenapa masih bertanya?"
"Aku tanya kamu Mel, apa artinya kalau kamu tahu?"
Melina membuang napas kasar sebelum memjawab. "Aku cinta kamu"
"Sama Mel, aku juga cinta kamu."
__ADS_1
Grreep.
Kini Ferdo, memeluk Melina. "Jangan nakal lagi yah sayang, kamu itu, diciptakan untuk jadi pasangan aku. Jadi jangan lari kemanapun. Hem?"
Melina menyudahi pelukan pria itu. "Ferdo, sepertinya aku harus bilang ini ke kamu. Aku-"
"Sssuuuut" Ferdo meletakkan ujung jari telunjuknya pada bibir Melina.
"Jangan katakan apapun sayang, aku tidak ingin kamu mengatakan sesuatu yang bisa buat kamu sedih. Aku sudah tahu Mel, semalam, aku menelfon ibuk di kampung."
"Yah?"
"Hei. Dengar. Soal anak, itu adalah bonus dalam suatu hubungan. Aku tidak akan mempermasalahkan tentang itu Mel," kembali menatap lekat, Melina.
"Itu kamu. Belum tentu itu kata oramg tuamu."
"Sayang, orangtuaku adalah orang baik. Mereka tidak akan ikut campur tentang hal itu. Percayalah Mel,"
"Kamu ... yakin?" tanya Melina, ragu.
"Sayang, lagi pula dokter mengatakan kamu hanya akan sulit untuk hamil. Bukan berarti tidak bisa hamil kan?"
"Iya, tapi ... aku pesimis. Aku takut itu benar-benar terjadi Fer,"
"Mel, kita belum berusaha menciptakan anak, jadi kita belum tahu tingkat kesulitannya. Atau ... kita menikah saja segera, hem?"
"Me-me-menikah?"
"Hizzz, kamu bercanda."
"Aku tidak bercanda sayang, siapa tau saja benihku adalah bibit unggul, yang hanya dalam sekali tembak sudah bisa membuahi kandungan kamu."
Perkataan Ferdo sungguh membuat wajah Melina memerah karena malu. Otak gadis itu sudah traveling kemana-mana.
Mengetahui pacarnya sedang salah tingkah, Ferdo kembali menggoda Melina dengan usilnya. "Sayang, kalau kamu penasaran bisa hamil atau tidak, kita bisa ... mencobanya saat ini juga. Mau?" berbisik dengan nada serak.
"Hizzz, kamu tu, taunya bercandain aku aja,"
"Mel, aku tidak bercanda kalau kamu mau" menatap intens, dengan menaikkan satu alisnya.
"Ferr. Apa kamu sudah pikirkan tentang lanjut dengan aku? Kamu harus benar-benar memikirkan tentang kondisi aku. Tanya hati kamu, bisa terima aku atau tidak."
"Mel, aku sudah mentok di kamu, sayang."
"Tapi aku tidak yakin. Secara, anak itu sangat penting dalam hubungan pernikahan. Aku takut kamu akan beralih ke wanita lain nantinya karena aku tidak bisa kasih kamu keturunan."
"Mel, Mel! kamu tu keseringan nonton sinetron sama baca novel sad ending ya? kebanyakan halu kamu Mel."
"Lagi pula, ada yang namanya bayi tabung Mel, zaman ini sudah maju kali"
__ADS_1
"Iya, tapi ... bayi tabung itu butuh biaya banyak."
"Apa kamu lupa aku ini Sultan, hem? Jangankan bayi tabung, Rumah sakitnya aja aku bisa beli Mel" Menggenggam jemari Melina. Tak lupa, tatapan sendunya itu, yang sudah bagai sihir yang tak dapat di tangkis.
'Iya-yah? Aku lupa tentang itu.'
"Kau terdengar sangat sombong." ketus Melina.
"Apa sih, yang nggak buat kamu Mel,"
Kini, Melina tersenyum.
Greep.
Melina memeluk Ferdo. "Kalau begitu kita tidak jadi putus. Aku mau dengan kamu terus. Jangan pernah tinggal aku apapun yang terjadi."
"Siap sayang" membalas pelukan Melina. "I love you Mel," kini kembali menangkup wajah itu.
Zzzzeep.
Menyesap bibir cantik kesukaannya itu.
"Hei... jangan lakukan disini. Kita dipantau oleh bapak kamu lewat CCTV."
"Sorry sayang, ayo, cari tempat aman. Aku sudah kangen sama kamu."
"Tunggu."
"Apa lagi Mel?"
"Ingat, hanya sebatas itu yah, awas kalau kamu minta lebih."
"Iya iya Mel, kamu kira aku lelaki macam apa? Biar begini aku masih tau aturan"
.
.
Di kediaman Barata.
Pasangan Juan-Fema, sedang berduaan di kamar.
"Pah, kenapa mereka sampai hari ini tidak pulang?"
"Mah, kamu sendiri yang menginginkan mereka bulan madu, tapi kenapa malah kamu lagi yang terlihat khawatir?"
Yah, Jerry dan Nagea sudah dua hari tidak memperlihatkan batang hidung mereka di rumah. Entah apa yang mereka lakukan, sepertinya mereka masih asik dengan dunianya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung.