Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Kedokteran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sepulang dari hotel, Ferdo sedang dalam perjalanan menuju bangsal tempat tinggal pacarnya yang sejak kemarin belum ditemuinya itu.


Tok tok tok.


Beberapa kali mengetuk pintu barulah ada respon dari dalam.


Ceklek.


Melina membuka pintu dan hanya memunculkan kepalanya.


"Hai ..." sapa Ferdo


"Kamu? kenapa ga bilang-bilang kalau mau kesini?"


"Ada kok, kamu yang ga baca chat aku."


"Oh, sorry! Aku tadi sedang mandi. Tunggu sebentar ya, aku belum pake baju."


Pintu pun tertutup kembali.


'Apa? Dia bilang belum pake baju? oh... dia benar-benar polos. Untuk apa beritahu aku?'


2 menit kemudian, Melina membuka pintu dan mempersilahkan Ferdo untuk masuk.


"Mel, kemasi beberapa pakaianmu, ikut aku pulang."


"Yah? Ke ... kenapa?"


"Marsha. Dia minta kamu tinggal di tempat kami sebelum dia berangkat."


"Oh, gitu. Oke deh."


Melina pun mengemas beberapa pakaiannya.


.


"Melinaaaaa" Marsha begitu antusias menyambut kedatangan Melina. Ia bahkan memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat, seperti sudah seabad lamanya tidak bertemu.


Marsha pun mengajak gadis itu masuk dan tidak melepaskan tangan Melina dari genggamanya.


"Melina datang?"


"Hai ibuk, bapak," sapa Melina dengan sikap hormat kepada Fema dan Juan.


"Jangan sungkan Mel, anggap aja rumah sendiri." sahut mama.


Melina hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Mah, Pah, aku sama Melina ke atas dulu yah." pamit Marsha, kedua orangtuanya pun mengiyakan.


"Kak, pinjam pacarmu sebentar ya."


"Iya, tapi jangan di apa-apain ya ... awas aja bikin dia capek,"


'Hah, kenapa mereka terang-terangan begini? Aku kan jadi malu sama bapak ibuknya,' teriak Melina dalam hati.

__ADS_1


"Ayo Mel," Mersha kembali menarik tangan Melina.


"Jangan khawatir. Papa mama sudah tau hubungan kamu sama kakak." terang Marsha ketika keduanya sedang menaiki tangga bersama-sama.


"Yah? Duh Sha ... aku malu sama mereka."


"Jangan khawatir ... bakal mertuamu itu orang baik kok Mel."


Tiba di kamar Marsha.


"Nih Mel, buat kamu. Aku sengaja belikan karena kamu akan magang."


Marsha menyerahkan beberapa paper bag kepada Melina.


"Apa ini? Melina membuka tas belanjaan tersebut lalu memicingkan mata ke arah Marsha. "Kamu lagi pamer ya sama aku?"


"Kok pamer si Mel, itu hadiah dari aku buat kamu. Biar penampilanmu bisa mempesona banyak mata ditempat magang dan orang-orang akan baik padamu"


"Idih ... tenang... kemanapun aku pergi aku selalu disukai semua orang kok"


Tak ada obrolan yang begitu berarti. Hanya hal-hal biasa saja yang mereka bahas tapi keseruannya keduanya mampu mengundang perhatian.


"Apa para wanita kalau bicara harus kencang?" Tiba-tiba si Abner sudah di depan pintu yang tidak tertutup itu dengan melipat kedua tangan diatas perutnya.


"Ah, ada adikku. Ada apa Ner?" tanya Marsha dengan wajah polosnya.


"Begini kak. Aku sedang belajar dan suara cempreng kalian berdua sangat mengganngu konsentrasiku."


"Maaf bocah, kami akan hati-hati setelah ini. Kembalilah ke kamarmu"


Anak itu pun menghilang, kembali ke kamarnya.


'Siapa nih yang dipanggil sayang? Aku? apa adiknya?' batin Melina, tak ingin kepedean.


Pria itu melangkah masuk dan mendekati Melina yang duduk di sisi ranjang bersama Marsha.


"Tutup matamu Sha" titahnya pada adiknya itu.


Bagaikan terhipnotis? Marsha pun menutup mayanya dengan tangan, tapi mengintip dari sela jari.


CUP.


Ferdo memberi kecupan hangat pada kening Melina. "Tidur yang nyenyak ya sayang" lalu mengacak sedikit rambut pacarnya itu.


Melina? Gadis itu terjebak dalam keadaan jantungnya yang tiba-tiba terasa berdetak dengan tidak normal.


"Sha ... jangan membuat pacarku bergadang." Ferdo pun pergi dari sana dan menutup pintu kamar serta mematikan lampu.


"Duuuhhh... Mel ... kakakku sangat manis ... aku jadi kangen sama kak Ethan"


Marsha mengagumi sisi romantis kakaknya tersebut. Akan tetapi, tak ada tanggapan dari Melina.


"Shaaa... jantungku ... jantungku Sha ..." pada akhirnya gadis itu bersuara sambil mengelus-elus dadanya, meminta supaya jantungnya sedikit tenang.


"Eh? Kau ... kenapa Mel?"


"Itu ... abang kamu, dia benar-benar buat aku jatuh cinta tiap kali bertemu"

__ADS_1


"Hah?"


"Kamu disuruh tutup mata, ih ... Marsha kamu ngintip ya?"


Marsha hanya tertawa ngakak melihat wajah malu-malu sahabatnya itu.


...........


Besok paginya.


Keluarga itu tengah mengelilingi meja makan, termasuk Melina yang sudah dalam keadaan rapi, siap berangkat ke tempat magangnya. Kecuali abang Jerry, pria itu sudah berangkat ke untuk menjemput istrinya.


Melina tak hanya duduk diam melihat ibu dari pacarnya itu melayani keluarganya di meja makan. "Biar saya bantu buk," ia pun berdiri dari tempatnya.


'Wahhh ... ternyata dia punya jiwa keibuan juga' batin Ferdo, menatap kekasinya itu dengan wajah terpesona.


"Kak, tatapanmu terlihat sangat jelas menyukainya" Abner berbisik pelan.


"Apa sih bocah"


Marsha merasa lucu melihat tingkah abangnya itu. Tapi dalam hati ia merasa legah karena ... kak Ferdo sepertinya sangat menyukai Melina.


Hening.


Semua orang sedang menikmati makanannya.


Tapi, bukan gaya Marsha hanya diam saat makan. Gadis itu terbiasa membahas apapun saat kumpul bersama keluarganya.


"Mel, dirumah sakit banyak dokter ganteng lo. Awas ya kamu berpaling dari kak Ferdo."


"Yah? Rumah sakit? Kamu mau ke rumah sakit Mel?" tanya Ferdo dengan menaikkan salah satu alisnya ke arah Melina yang duduk tepat disampingnya.


"Heheh, iya.. magang." Melina menjelaskan.


"Magang di rumah sakit? Kamu kuliah jurusan apa Mel?" tanya si papa Juan. Bapak satu itu memang sangat bersemangat jika berhubungan dengan kata rumah sakit.


Ferdo juga terlihat ingin tahu. Ia bahkan menghentikan kunyahan dimulutnya.


"Jurusan Kedokteran pak!"


"Uhuk - Uhuk uhuk!" Ferdo tiba-tiba tersedak makanannya.


"Ini, minum dulu." Melina dengan sigap mendekatkan air mineral ke mulut Ferdo. "Pelan-pelan aja makannya.."


"Mel, kamu ga becanda? Apa katamu? Kedokteran?" Ferdo bertanya dengan ekspresi tak percaya. Ia bahkan menyoroti Melina dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


Sementara yang lain, hanya tersenyum geli atas kelucuan seorang Ferdo. Pria itu ternyata tidak benar-benar mengenal kekasihnya.


"Kenapa menatap aku begitu? Kamu sedang remehin aku yah?"


"Mel, ganti jurusan aja. Jangan kedokteran. Aku ... tidak yakin kamu mampu mendiagnosa penyakit seseorang"


"ih. jahat banget si sama aku, "


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Guys... tengkyu🥰🥰🥰🥰


__ADS_2