Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Bangunlah


__ADS_3

Ethan: Thor


Thor Cantekz: napa ganteng?


Ethan: Knp Marsha masih panggil aku kakak? Bikin kesel..😑


Thor Cantekz: emg dy hrs pgl kmu apa? Sayang? Hadeh..☹


\=\=\=\=\=


Seorang remaja tampan datang sendirian mengunjungi Marsha.


“Hai kakak cantik,” Sapanya.


Marsha memperhatikan remaja laki-laki itu dalam beberapa detik. “Oh, si bontot. Kau mengenalku? Kenapa kau sangat tinggi? Cepat sekali besarnya,”


Remaja itu mendekat. “Tentu saja aku mengenalmu. Kita lahir dari rahim yang sama.” Abner pun memeluk Marsha. “Jangan menghilang lagi ya kak, aku sangat tersiksa melihat mama, papa dan dua kakak yang tidak seberapa itu selalu berbicara sabil menatap fotomu!” Entah remaja itu serius atau sedang melucu, Marsha mengangguk semangat.


(tapi, dimana kak Jerry? Tiga hari dirawat kenapa dia tidak menjengukku?)


“Jadi hanya mereka yang merindukanku dan kau tidak?” tanya Marsha dengan memicingkan matanya.


“Tentu saja tidak. Tapi aku senang karena kakak sudah pulang. tapi apa itu kemarin? Bisa-bisanya ada kakak perempuan yang menyamar jadi dirimu? Sampai detik ini aku merasa kesal memikirkannya.”


“Hei ... tidak perlu kesal ... dia sudah mendapat ganjarannya!”


“Baiklah ... asalkan kakakku yang asli sudah kembali. Oh ya kak, apa kau mengenal kakak cantik yang bernama Melina?”


“Melina? Tentu saja. Dia teman baikku. Kenapa?”


“Teman baik? Kak ... sepertinya ... kak Ferdo menyukai kakak itu.”


“Menyukainya? Yang benar saja kau ini!”


“Aku mendengar kak Ferdo mendumel di kamarnya tadi malam dan menyebut nama Melina beberapa kali."


“Itu dumelan Abner, dan itu artinya, Melina pasti membuat kak Ferdo kesal.


“Lalu apa ini?” Abner dengan usilnya menunjukkan foto abang Ferdo dan Melina seperti sedang berpelukan. Foto saat Melina tidak fokus melangkah menuruni tangga sebab Foto Marsha kecil yang membuatnya kebingungan kala itu. sayangnya, pose itu benar-benar terlihat seperti sedang berpelukan.


🤔🤔


Marsha merebut ponsel dari tangan Abner. (Yang benar saja kalian berdua). Marsha menyunggingkan senyuman.


Setelah saling berbincang dalam waktu yang cukup lama, akhirnya, pangeran kecil itu berpamitan pada Marsha.


Kini Marsha kembali tinggal sendirian di ruangan itu. Ingatannya tiba-tiba tertuju pada kejadian malam itu. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kakak tertuanya dipukul oleh orang jahat.


(Kak Jerry dimana yah, kenapa tidak menjengukku?)


Tok to tok.


Seorang wanita muda datang menjenguk Marsha.


“Kakak? Eh, salah. Kakak ipar!” Marsha buru-buru mengoreksi panggilannya terhadap kak Nagea.


“Bagaimana keadaanmu Sha?” Nagea bersikap seolah mereka akrab.


“Seperti yang terlihat kak, bagaimana dengan kakak? Apa banjingan itu melukai kakak?”


“Tidak! Kakak sangat baik-baik saja.”


“Kak, aku tidak akan bertanya, kenapa waktu itu kita bisa bertemu di ruangan gelap itu. Tapi, boleh aku tahu dimana kakakku? Kenapa sampai hari ini dia tidak datang menjengukku?”


(Jadi.. mereka tidak memberitahukan keadaan Jerry padanya?)


“Sha ... kakakmu ... dia belum bangun. Mungkin dia sangat lelah!”

__ADS_1


“Apa?? Maksud kakak, Kak Jerry belum bangun tidur atau bagaimana?”


“Dia terkena trauma otak ringan. Tapi, kata dokter, dia kan segera bangun”


“Haaaa?” Marsha tersentak. “Lalu, antarkan aku menemuinya kak, aku ingin melihat kakakku!”


“Baik, ayolah” Nage membawa Marsha dengan mendorong gadis itu diatas kursi roda.


(Kuharap, kau bisa membangunkan kakakmu itu Marsha.) Batin Nagea, dengan langkah pasti ia mengantarkan adik ipar untuk menjenguk suaminya. (Kali ini, bangunlah ... aku membawa adik yang kau rindukan untuk membangunkanmu Jerry. Aku yakin kalian bahkan belum sempat berbincang malam itu.)


Tiba di ruang rawat kak Jerry.


“Sha, tenangkan dirimu, jangan stress yah, kamu belum pulih sepenuhnya.” Ujar Nagea, memberi sedikit perhatian. Marsha pun, mengangguk pelan.


“Haiii kakakku sayang..!! apa ini? Kenapa belum bangun? Bukankah kakakku adalah pria yang keren? Kak ... malu sama julukan mama padamu. Mana ada Pangeran Mahkota yang tidurnya sangat lama!” Marsha mengusap bahu Jerry, berharap pria itu akan mendengar lalu membuka matanya.


"Kak Jerr!.." Gadis itu mengussap telapak tangan kak Jerr dengan lembut. "Bangunlah kak, ayo kita pulang!"


Nagea hanya menatap lurus kearah dua sosok di depannya.


(Ya ... bangunlah, kau tidak mendengar adikmu? Bangun, biar aku cepat bebas).


Setelah puas mengatakan banyak hal pada kakaknya, Marsha pun kembali ke ruang rawatnya diantar oleh kak Nagea.


Tiba di ruangan Marsha, Nagea membantu adik iparnya itu berdiri dari kursi rodanya dan menuntunnya naik ke ranjang pasien.


"Terima kasih kak Nagea.." ucap Marsha.


"Iya Sha.." menjawab sekenanya.


Nagea pun pamit untuk kembali menemani Jerry.


"Selamat yah kak,"


DEG.


"Selamat sudah mendapatkan cinta pertama kakak," sambung Marsha.


Hati Nagea bagaikan tertusuk jarum kecil. Memang, setau Marsha, dirinya sangat menggilai Jerry. Tapi itu dulu. Nagea sudah bersusah payah melupakan tentang perasaan cinta monyetnya yang sangat bodoh itu. Dalam kurun waktu 5 tahun itu, Nagea merasa perasaan itu sudah tidak ada lagi. Namun siapa sangka bahwa saat ini dirinya malah berstatus sebagai istri pria itu.


"Iya Sha.." Nagea hanya menjawab singkat, tak ingin panjang lebar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Melina sedang dalam perjalanannya menuju Butik tempat ia bekerja. Hari ini ia akan menyerahkan pengunduran diri dari pekerjaan menyenangkannya itu.


(Sayang sekali aku sudah tidak bisa bekerja lagi. Ah... semoga saja semuanya lancar, aku lulus dengan baik, ayah dan ibu di kampung pasti sangat bangga. Ah.. tidak hanya mereka. Mungkin orang sekampungku akan bergembira atas keberhasilanku ini).


Satu hari yang lalu, Melina diberi surat resmi dari kampus untuk malaksanakan praktik magang terakhirnya, sebagai salah satu syarat kelulusan. (Oke, satu langkah lagi, aku akan lulus! Tunggu.. aku baru bekerja selama 3 minggu. Apa bu bos tetap akan membayarku?)


Tiba di depan ruangan Fema.


"Hei Mel.. silahkan masuk!" Mama Fema mempersilahkan setelah Melina mengetuk pintu dan mengatakan permisi pada bossnya itu.


"Ini bu" hanya itu yang Melina katakan, sembari menyerahkan surat pengunduran diri diatas meja Fema.


"Apa ini Mel?" bertanya dengan wajah sedikit bingung, lalu membuka surat tersebut. "Pengunduran diri? Kenapa?"


"Karena saya harus menyelesaikan kuliah saya bu, saya mesti bersiap untuk tugas magang. Magang kali ini benar-benar akan full day, sehingga saya tidak bisa kerja part time lagi." Jelas Melina dengan sopan.


"O... begitu.. baiklah Mel.. pendidikan memang nomor satu. Semoga kamu sukses ya Mel.."


"Iya bu,. terima kasih atas pengertiannya ibu, kalau begitu, saya permisi dulu."


Fema mengiyakan dan meminta Melina berhati-hati di jalan.


(Putriku.. apa dia masih mau melanjutkan pendidikan? Kasihan dia. Sahabatnya sudah melangkah jauh diatasnya. Marsha... masa depanmu setelah ini, mama pasrahkan padamu sayang).

__ADS_1


.


Rekan kerja Melina melepas gadis itu dengan perasaan sedih. Walaupun kebersamaan dengan Melina sangat singkat, tapi.. mereka sudah sangat akrab.


Sebelum pergi jauh, Melina kembali menatap ruko itu lama. Senyum mengembang terukir di bibir cantiknya tatkala mengingat pertemuan awalnya dengan Ferdo.


(Astaga... apa yang aku pikirkan? Kenapa aku lagi-lagi mengingat orang itu?)


Melina kembali melanjutkan langkahnya. (Eitt.. stop. Bu boss kayaknya tidak membahas tentang gajiku? Apa dia lupa? Haduuuuh Melinaa.. kau terkadang sangat sial!) Kini hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati. Ia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja, untuk menjenguk sahabatnya. (Sorry babang gojek, kali ini.. aku tidak menggunakan jasamu. Aku perlu berhemat.)


\=\=\=


"Halo Fer.. iya ini mama sudah mau turun. Bentar ya sayang!)" Fema melangkah keluar dari butik karena pangeran kedua telah menjemput. Keduanya sudah sepakat unguk barengan ke rumah sakit, mengingat ada dua manusia tak berdaya masih terjebak disana.


Dalam perjalanan.


"Fer ... kamu sudah punya pacar?"


(Hmmm mulai deh). "Dulu, mungkin pernah Ma," Ferdo menjawab sekenanya.


"Mama Papa tunggu loh, kamu bawa menantu kerumah."


"Hmmmm... Kapan-kapan ya Mah.."


"Segera Ferr.. keburu tua kamu!"


"Cssss Mama. Belum kali Ma.."


"Eh, eh.. siapa tu? Kok mirip Melina?" Mama menunjuk ke arah trotoar, dan memang ada seorang gadis sedang berjalan lenggak lenggok.


Tanpa perintah, Ferdo menghentikan mobilnya. Mama tunggu disini ya.." Pria itu segera keluar tanpa menunggu jawaban sang mama.


(Lihatlah anak itu. Aku yakin dia tertarik pada Melina).


.


"Melina!"


(Eh? Pria itu?)


Ferdo semakin mendekat.


"Mau kemana?" bertanya dengan gaya jaim, padahal niatnya adalah perhatian.


"Oh.. aku.. mau ke rumah sakit, jemguk Marsha." menjawab dengan wajah polosnya.


"Ayo, ikut aku. Kebetulan juga akan kesana."


(Tidak ada yang kebetulan. kau pasti sengaja kan ingin mengusili ku?)


"Maaf, tapi aku mau jalan kaki saja." Menolak dengan cara halus.


"Tidak bisa. Lihatlah kau berkeringat parah. Jika penampilan seperti ini, kau tidak akan boleh masuk menemui pasien."


(Yang benar saja! Tidak ada peraturan yang bilang begitu!).


Melina kini tersenyum yang dibuat-buat. "Maaf, aku akan berjalan kaki. Permisi"


"Aaahh.. payah! Kau benar-benar minta di paksa ya.." Pria itu menyeret paksa tangan Melina. "Masuk," suruhnya lagi, setelah membukakan pintu mobilnya.


(Oh Tuhan.. kenapa makhluk-Mu satu ini?)


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


Thanks supportnya gaesss.


__ADS_2