
Acara telah usai, namun keberadaan Fania tak kunjung ditemukan Ethan.
"Permisi Tuan, ini ada titipan untukmu" seorang security menyrrahkan amplop coklat kepada Ethan.
Saat mengecek isinya, ternyata uang dan secarik kertas.
...Tuan Ethan EL.Yared yang terhormat,...
...karena anda telah memiliki seseorang yang bisa berada disamping anda,...
...jadi dari pada bingung sendirian,...
...saya memilih untuk pulang....
...Saya titip sisa upah ini tolong sampaikan kepada tante bahwa saya tidak menuntaskan pekerjaan jadi saya mengurangi upah saya....
...Terima kasih banyak....
^^^Dari: Fania^^^
Hah? Jadi dia pulang?" Etan lagi-lagi keheranan oleh tingkah seorang Fania.
Ia pun masuk ke mobilnya. "Bisa-bisanya dia pulang?" Ethan sungguh sulit mempercayai tindakan Fania.
Diperjalanan, Ethan tak henti-hentinya memikirkan Fania. Deg deg deg.. bahkan jantungnya pun ikut terpacu hanya karena memikirkan seorang Fania.
Ethan menghentikan mobilnya sejenak. pria itu terlihat memukul-mukul dadanya pelan. "Hei... jantungku, kenapa kau berdetak untuknya? Apa kau sudah melupakan Marsha?"
.............
Kediaman Barata.
Waktu sudah tengah malam. Fema merasa haus dan terpaksa keluar kamar untuk mengambil air mineral. Tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Dia adalah pangeran ke-1 keluarga Barata, yang pulang dalam keadaan mabuk Berat.
"Jerr.. sayang! Papa.... Paa" Fema merasa panik dan reflek berteriak memanggil suaminya.
"Maaaa" Jerry menangis.
Fema mendekat dan.. Grepppp.. memberikan putranya itu pelukan hangat.
“Maa... maafkan Jerry Ma.. Jerry bukan goodboy Mama.. maaf Ma...” Pria itu terisak dalam pelukan mama Fema.
“Apa yang telah putraku lakukan Tuhan? Kenapa dia seperti ini?” mama membatin.
“Ma... maaf Maaa...”
“Sudah.. sudah sayang... sudah ya...”
Tap tap Tap...
Terdengar langkah kaki seseorang. Dan orang itu adalah Ferdo yang juga baru pulang di tengah malam ini.
“Fer.. kamu baik-baik saja sayang?” fema ingin memastikan si pangeran ke-2 pulang dalam keadaan normal alias tidak sempoyongan dan ngelantur seperti pangeran ke-1.
Ferdo yang dipanggil namanya berhenti dan melirik abangnya sekilas. Lalu menjawab. “Aku baik Mah..” kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
“Fer, kamu tidak melihat keadaan kakakmu ini? Ayo bantu mama bopong dia ke kamarnya.”
“Biarin aja dia disitu Mah, sudah besar juga.” Sahut Ferdo, acuh. Ia tak peduli dengan abangnya.
“Kenapa lagi yang satu itu? Apa mereka bertengkar?” tanya Mama, dalam hati.
“Ada apa dengan pangeran ke-1 sayang?” Papa Juan yang dipanggil dari tadi akhirnya keluar dari kamar. Fema pun memberitahu keadaan kacau putranya itu, lengkap dengan ucapan ngelanturnya barusan.
“Mungkin saja dia ada masalah dengan Nagea?” tebak Juan.
“Ah sudahlah Pah, kita gotong ke kamar dulu saja. Besok baru kita tanyakan lagi.”
Dengan susah payah Papa Juan dan Mama Fema membawa tubuh Jerry yang bukan lagi remaja tapi sudah dewasa.
“ternyata putraku sangat berat!” keluh Juan yang kini tak muda lagi, melainkan telah berumur 50an.
__ADS_1
“Iyalah pah.. dia sudah dewasa!” jawab Fema.
Keduanya membaringkan Jerry di tempat tidurnya lalu membiarkan pelayan untuk melepas sepatunya.
Pagi Harinya.
Keluarga Barata, kecuali kakek Mahendra, kini bersiap untuk sarapan pagi bersama. Kemanakah si kakek tua itu? Jawabannya adalah, beliau sedang keliling dunia dengan kapal pesiar bersama para rekan bisnisnya sesama usia renta.
“Pagi sayang..” Mama menyapa Jerry yang baru bergabung.
“Pagi Maa.. Pa...” jerry menjawab singkat.
“Pagi kak...” sapa Abner, si putra bungsu.
“Pagi Ner...” Seraya mengacak pelan rambut bocah remaja itu.
“kak, jangan menyentuh rambutku.. itu bisa mengurangi ketampananku.
“tenang saja Ner.. jika benar kau adikku, ketampananmu tidak akan pudar karena bersifat permanen.” Jawab Jerry, dengan wajah datarnya.
Sepertinya Jerry sengaja ingin mencairkan suasana karena tahu bahwa Ferdo masih marah padanya.
Ferdo hanya terlihat acuh, seperti tidak ada siapapun, Pria itu terus saja makan tanpa menoleh.
“Jadi kau kenapa tadi malam Jerr?.. Kenapa kau pulang dalam keadaan mabuk?” tanya Papa Juan.
“Aku?” Jerry menunjukk wajahnya sendiri. “Aku mabuk? Tidak mungkin Pa.. aku tidak merasa.” Elak Jerry, dengan gaya menjengkelkan.
“Tentu saja dia tidak merasa Pa... dia kan mabuk, jadi tidak ingat!” timpal Fema.
“Jadi kau bahkan tidak tahu, Papa dan Mama yang membopongmu ke kamar semalam?” papa bertanya dengan wajah heran.
“Aduuuuu.. masa iya, aku mabuk?” Jerry mengerutkan kedua alisnya.
“Apa aku melakukan kesalahan tadi malam? Apa aku mengatakan yang tidak-tidak?” Jerry merasa was-was, takut jika keburukannya mencuat ke permukaan.
“Kenapa diam? Hah.. pasti kau tidak ingat. Jangan diulang! Lagi pula tubuhmu sangat berat. Badan papa jadi pegal tak karuan sekarang!" omel juan.
Glek.
Jerry meletakkan sendoknya dengan kasar sebagai tanda protes. Ya iyalah dia tersinggung jika menyangkut tentang kesalahannya.
“kenapa? Kau keberatan?” batin Ferdo.
Glek.
Ferdo pun ikut menghentak sendok di piringnya. “Aku duluan” ferdo beranjak dari sana.
Sejenak, papa dan mama saling pandang. Jerry dapat menangkap aura kebingungan dari wajah keduanya.
\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain.
“Taraaaaa,” Fania dengan bahagianya memberi kejutan sarapan spesial, yang hampir saja memenuhi meja makan.
“Faniaaaa? Dari mana semua ini?” tanya Melina dengan nada meninggi!
“Aku yang membuatnya!”
“Apa kau sedang pamer sekarang? Kau bahkan baru bekerja satu hari!”
“hehehe.. tak apa.. anggap ini syukuran pekerjaan baruku!”
“Cih.. kau ini!” Melina mengambil semua macam menu yang tersedia memenuhi piringnya!”
Fania yang melihat itu seketika menatap heran. Ia bahkan beberapa kali mengedi-ngedipkan matanya. “Me—Mell.. ka—kau serius memakan itu semua?” tanyanya, heran.
“hah?... Kenapa? Tidak boleh?” Melina bertanya balik, dengan wajah serius.
“te—tentu saja boleh, kenapa tidak?”
__ADS_1
“ya sudah, jika boleh, berhentilah menatapku begitu!”
Keduanya pun mulai menikmati makanannya. Fania merasa aneh dengan sikap Melina. Ia makan dengan sangat fokus, tanpa cerewet seperti biasa. Belum lagi wajahnya yang semakin lama kian tertunduk.
“Mel.. makan pelan-pelan.. tidak ada yang ingin merebut makananmu!” ucap Fania, santai, tentu saja gadis itu hanya bercanda. “Eh? Eh? Ada apa dengan hidungmu? Kau kepedasan?” tanya fania lagi.
“Makanan ini sangat pedas” jawab Melina dengan nada terisak.
“Fix, ini pasti kelanjutan drama semalam” batin Fania.
Fania mendekati Melina, berdiri disebelah sahabatnya itu dan mengelus pundaknya. “Maaf Mel.. lain kali aku akan mengurangi cabainya... menangislah – menangislah Mel..”
“Hiks..hiks.. hiks... hiks... “ Melina terisak dipelukan Fania. Sedangkan Fania? Gadis itu tidak menangis sama sekali. Tidakkah dia merasa terharu? Mungkin saja terharu, tapi... gadis itu sepertinya sudah lupa caranya menangis. Sudah sangat lama Fania tidak mereproduksi airmatanya. Fania menduga, mungkin saja airmatanya telah habis.
Lama dalam posisi itu, Melina akhirnya melepas pelukannya dari tubuh ramping milik sahabatnya.
“Kenapa Mel? Sudah tidak kepedisan lagi?” tanya Fania selembut mungkin. Fania tahu, Melina bukanlah menagisi makanan pedas laknat itu. Pasti ada persoalan lain. Seluruh warga di kampung mereka juga tahu jika Melina adalah hantu cabai, penyuka makanan pedas. Secara, emaknya memiliki kebun cabai yang sangat luas.
“Fania... ponselku, sudah tidak ada..” Melina berbicara dengan wajah sedih.
Ini dia.. tanpa bertanya pun, Fania akan tahu apa yang terjadi.
“Kenapa ponselmu? Terjatuh?
“Rusak”
“Rusak? Kalau begitu, beli saja lagi!”
“Beli? Aku tidak punya uang untuk membeli benda mahal terkutuk itu” menjawab dengan nada memelas.
Tiba-tiba Fania mengingat keberadaan amplop coklat berisi uang tunai yang ia dapatkan dari pekerjaannya tadi malam. Ia lalu berlari ke kamar dan keluar membawa amplop tersebut.
“Taraaaaaa” Fania mengeluarkan uang merah yang sangat banyak dan meletakkannya di hadapan Melina.
"Haaaaaa?" Melina melongok heran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kediaman Tante Angel
“Nih Mam..” Ethan meletakkan uang tunai dihadapan mami dan itu adalah titipan dari Fania.
“Uang apa ini than? Sangat sedikit!” Mami mengira anaknya sedang mempermainkannya.
“mam.. itu dari Fania.. gadis kesukaan mami itu.” Ethan lalu meminta mami membaca surat singkat yang ditinggalkanFania.
“ppfffffff...hahahahah.. jadi kamu ditinggal olehnya tadi malam? Gara-gara kamu pergi dengan yang lain?” tanya mami dengan wajah senang, menertawakan Ethan.
“Apa mami sesenang itu? Aku bahkan hampir mengelilingi seluruh gedung untuk mencarinya. Ternyata dia sudah pulang” gerutu Ethan, terlihat masih kesal.
“hahahahahahaha” mami ternyata belum puas tertawa. “Dia sangat luar biasa Than.. dia sangat lucu.. dia pasti tidak mengenalmu sebagai artis terkenal.” Seru mami lagi.
“Dia tau Mi.. temannya malah mengidolakanku, sementara dia tidak.”
“hahahahahahahahahaha...” kini mami tertawa makin kencang sembari menahan getaran perutnya yang mulai sakit akibat tawanya sendiri. “Mulai sekarang, jangan merasa terlalu PD Than. Karena ternyata masih ada gadis cantik yang tidak mengagumimu!” Oceh mami lagi, merasa puas meledek putranya.
“Hidup dia aja kali yang membosankan Mi, satu artis pun tidak ada yang dia gemari!” adu Ethan, sesuai kenyataan.
“Than.. dia type menantu idaman mami.”
“Pffft..uhuk uhuk uhuk!” Ethan tersedak minumannya sendiri akibat pernyataan Mami. beruntung hanya air mineral. “Jangan bilang mami mau jodohin aku sama dia!”
“Benar, mami pengen kamu berjodoh sama dia.”
“No..Mi.. Stop.. no reason. Aku masih tunggu Marsha.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....