
Restaurant.
Ferdo terlah mereservasi tempat pertemuan antar dua kelaurganya dan keluarga Melina, di salah satu ruangan VIP restaurant ternama yang terletak di pusat kota.
Malam ini kedua keluarga itu akan makan malam bersama sekalian merayakan kelulusan Melina.
Juan beserta istri, anak sulung dan anak bungsunya datang lebih awal. Beberapa menit kemudian, hadir pula ketiga anggota keluarga Melina.
Agar tidak merasa canggung, Juan pun memperkenalkan istri dan anak bungsu kepada ketiganya, karena memang belum saling kenal. Kecuali Jerry, ia sudah mengenal ketiga orang itu.
Bibbib.
Ponsel milik Jerry memberi notif. Segera ia membuka ponselnya dan ternyata, sang istri yang semakin hari semakin manja itu yang mengirim pesan.
Kesayangan:
[Cinta, kangen! Kalau pulang, belikan batagor ya]
'Batagor? Apa itu? Aku belum pernah dengar nama itu'
Tak ingin terlihat bodoh, Jerry segera membuka aplikasi google untuk browsing.
'Ini? Jadi ini makanan?'
Jerry pun mengirim pesan kembali kepada istrinya.
[Oke,]
Kesayangan:
[Kok cuma oke?]
'Memangnya aku harus bilang apa lagi?'
"Bang, bilang saja aku juga kangen sayang, tunggu aku pulang ya" bisik Abner, yang ternyata mengintip obrolan manis sang kakak.
'Kurang ajar sekali bocah ini''Jerry mengerang dalam hati. Kalau saja keadaan mendukung, pria itu pasti sudah memberi adik usilnya itu pelajaran.
"Sekali lagi kau mengintip isi ponselku, akan kuhilangkan kedua bola matamu."
Abner bergidik ngeri mendengar ancaman kakak tertuanya itu. "Sorry Bang," bisiknya lagi.
Tak butuh waktu lama, dua keluarga itu sudah terlihat mengobrol santai dengan suasana yang lebih hidup. Mereka bertanya jawab seputar usia, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, sampai pada akhirnya, papa Juan menyebut tentang hubungan Ferdo dan Melina.
"Apa ... Pak Juan dan keluarga tidak masalah tentang hubungan mereka?" tanya ayah dari Melina itu.
"Masalah? Tidak. Tidak ada yang kami permasalahkan dalam hubungan mereka. Menurut kami, mereka terlihat sangat serasi." jawab Juan, dengan semangat. Ia bahkan mengedarkan pandangan kearah istri dan anak-anaknya yang juga menanggapi dengan senyum tulus.
"Kami berterima kasih karena putri kami mengenal seorang pria seperti Ferdo. Tapi ..."
"Tapi?" Keluarga Barata itu terlihat kompak mengerutkan kening.
"Saya ingin mengatakan ini,-"
"Buk, jangan" si abang dari Melina itu menahan ibunya yang hendak mengatakan sesuatu.
"Tidak bang, hal ini harus dibicarakan"
Sementara si bapak, hanya diam dengan wajah setengah tertunduk.
"Melina mungkin belum mengatakan ini. Anak itu, putri kami itu, menurut medis, dia akan sulit untuk memiliki anak." terang si ibuk, sukses membuat keempat orang dihadapannya terkejut mematung, menatap tak percaya wajah menunduk ibu dari Melina. Wanita itu kini kembali mengundang airmatanya untuk keluar.
Pintu ruangan VIP restaurant itu kembali terbuka. Muncullah pasangan kekasih itu, Melina dan Ferdo.
Senyum sapa keduanya auto memudar tatkala merasa disambut oleh aura aneh dari ekspresi kedua kelaurganya itu.
"Ada apa ini?" Ferdo bertanya, dengan raut muka yang tak dapat diartikan. Sedangkan Melina, gadis itu terlihat gusar.
Tak ada jawaban, semua orang hanya menatap kosong kearah keduanya.
Juan dan Fema, tentu saja tidak pernah membayangkan akan mendengarkan hal ini. Itulah yang membuat keduanya tak bisa berkata apapun untuk sesaat.
Ibu dari Melina itu, telah membicarakan hal ini dengan putrinya, bahwa akan mewakili Melina mengatakan tentang kondisinya yang sebenarnya itu kepada orang tua Ferdo. Saat ini, Melina pun sudah paham akan sitiasi ini. Terlihat sangat jelas wajah terkejut dari Juan dan Fema.
__ADS_1
'Jelas mereka tidak akan suka dengan calon menantu sepertiku. Apa yang aku harapkan? Biar bagaimanapun, mereka pasti memikirkan masa depan yang sempurna untuk putra mereka.' Melina tertunduk, membatin.
"Kenapa kalian hanya mematung disana? Duduklah." tegur Bang Jerry, mencairkan suasana.
Ferdo pun mengambil tangan Melina dan membawanya ke tempat duduk disamping ayah gadis itu. Ia memundurkan kursi dan mempersilahkan Melina duduk.
"Yah, apapun kondisi putri anda, selagi putra kami tidak mempermasalahkan dan mau menerimanya, maka itu tidak apa-apa." Papa Juan menanggapi berita kurang menyenangkan itu dengan kalimat panjang, namun penuh keramahan. "Lihatlah, putraku terlihat sangat menyukai Melina. Aku dan istriku sama sekali tidak memperdulikan hal lainnya. Iya kan sayang?" Menggeser pandangan, menatap istrinya. Fema tentu saja mengiyakan dengan penuh semangat. Jangan lupa, senyum keibuan terbaiknya itu, benar-benar melegakan.
"Jadi kalian sedang membahas hal serius tanpa kami?" tanya Ferdo, menatap keluarganya.
"Tidak penting. Lebih baik kita makan terlebih dahulu. Kalian berdua sangat lama. Kami semua sudah sangat lapar." tutur papa, sembari berguyon, untuk menghidupkan suasana yang sempat dilanda kecanggungan.
Keluarga itu pun menikmati makan malam. Tak lupa, setiap mereka sekali lagi memberi ucapan selamat kepada Melina.
DITEMPAT LAIN,
Kediaman Keluarga Yared.
"Sayang! Sayang!" panggil Ethan, tidak menemukan keberadaan istrinya di ruang keluarga. Biasanya, Marsha akan menyambut kepulangan suami tercintanya itu.
"Selamat datang Tuan Muda, nona ada di kamar." beritahu si pelayan kepada Ethan.
Tanpa banyak bicara, lelaki itu segera menuju kamar untuk segera menemui Marsha.
"Sayang, kamu kenapa?" Ethan nampak kebingungan melihat istrinya melompat-lompat kegirangan.
"Sayang? Kamu sudah pulang?" Dengan wajah sumringahnya, Marsha menghampiri Ethan.
"Kenapa istriku terlihat sangat senang?"
"Sayang, lihat ini. Saldo Akunku berjumlah 498ribu. Aku mendapat banyak uang hari ini, aku sangat senang."
"Yah? Uang segitu kau dapatkan dalam satu hari ini?"
"Iya, sayang. Bukankah itu keren? Aku sangat bosan, jadi aku iseng-iseng bejualan online. Aku tidak menyangka, teryata banyak yang order, aku sangat senang."
"Begitukah? Memangnya, apa yang kau jual?"
"Begitu, sayang, kau sangat hebat. Sampai-sampai tidak memyambut suami pulang saking senangnya."
"Sayang, maaf." Memeluk Ethan sangat erat.
'Kasihan istriku. 498ribu dalam satu hari? Yang benar saja. Aku bahkan bisa menghasilkan ribuan kali lipat dari jumlah itu setiap detik.'
"Ya sudah, aku akan mandi dulu sayang,"
"Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu."
Keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, bukannya segera mengenakan pakaiannya, Ethan malah memyambar istrinya itu.
"Eh, sayang,"
"Aku ingin bermain dulu denganmu sayang," bisiknya.
"Ya? Hei ... ayo makan malam dulu."
"No, aku hanya ingin memakanmu saat ini."
"Haiizzz. Terserah deh,"
Permainan pun dimulai.
\=\=\=\=
"Pak, buk, saya ... ingin menjadikan Melina istri saya."
Ferdo menyampaikan maksud baiknya ingin menikahi Melina, dihadapan dua keluarga mereka. Sementara, Melina hanya diam tak bergeming. Entah kenapa, saat mendengar kata menikah, dirinya kembali dilanda rasa takut dan rendah diri.
"Kami hanya serahkan ke Melina. Kalau dia setuju, maka kami hanya menerima keputusannya."
Semua orang pun menunggu jawaban Melina. Sepertinya, gadis itu enggan mengatakan apapun.
"Mel, bagaimana menurut kamu? Apa kamu setuju untuk menikah dengan Ferdo?" tanya si bapak, mewakili.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, pak." jawabnya, dengan tatapan lurus menatap wajah Ferdo.
"Mel, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ferdo, membalas tatapan Melina.
Fema merasa dapat mengerti perasaan Melina. Wanita itu tahu betul bagaimana kedekatan gadis itu dengan putranya. 'Ini pasti soal anak' batin Fema.
Ibu sambung Ferdo itu lalu berdiri dari tempatnya dan mendekati Melina.
"Mel, kenapa sekarang kamu tidak yakin dengan putra saya? Kalian saling sayang kan?"
Melina mengangguk, namun tanpa ekspresi.
"Mel, dengarkan saya." Fema menyentuh jemari gadis itu, kini keduanya berdiri berhadapan. "Jangan pikirkan hal lain. "Saya, dan suami saya tidak keberatan dengan kamu. Kamu adalah gadis yang dicintai putra kami. Jangan merasa minder atau tidak sempurna, Mel."
"Apa ibuk dan dokter Juan berjanji tidak akan membenci saya suatu hari nanti? Ada banyak mertua jahat yang membuat putra mereka membenci istrinya karena jenuh menunggu yang namanya keturunan."
'Ya ampun, bicara apa putriku?' batin ibu bapak-nya Melina.
'Adikku terdengar sangat keren.' batin si Abang pula.
Ferdo terlihat mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi kekasihnya ini mengkhawatirkan tentang keturunan. 'Kita bahkan belum mencobanya tapi kau sudah pesimis, Mel.' batinnya kemudian.
Fema menarik Melina kedalam pelukannya. Ia merasa harus membangun kedekatan dengan gadis pujaan putranya itu.
"Maafkan saya, buk. Karena anak ibuk menyukai gadis seperti saya."
"Mel, berhenti merasa rendah diri. Mari kita jadi semakin akrab mulai sekarang yah, jangan khawatirkan apapun."
'Aku tidak menyangka, keluarga ini sangat menyambut baik putriku. Mereka tidak memandang perbedaan kasta yang ada diantara kami.' ibuk dari Nelina itu tersenyum dalam hati, memikirkan kebahagiaan putrinya.
.......
"Nagea .... aku pulang sayang,"
Ceklek.
"Papiiii ....!"
Nagea menyambut kepulangan Jerry dengan wajah bersemangat.
Mmmuah mmmuuuah.
Jerry memberi kiss bertubi-tubi pada perut istrinya. "Sayang, sehat kan? Tidak menyusahkan mami kan?"
"Iya, papi sayang. Dia sangat pintar."
"Ini sayang bata pesanan kamu, makanlah."
"Bata? Sayang, kamu suru istri dan anak makan bata apa gimana?" Nagea terheran.
"Duh, maaf, apa lagi namanya? Jangan pura-pura lupa. Kamu yang memintaku membelinya. Itu hanya salah sedikit penyebutannya."
"Batagor sayang. Kamu kayak belum pernah makan aja ini aja,"
"Memang belum. Itu bukanlah makanan sehat. Jangan sering-sering makan itu. Lagian baby kita kenapa si, semua kesukaannya adalah makanan yang sangat asing bagiku."
"Maaf, sayang. Jangan marah. Habis ini, aku akan bikin kamu enak. Mandilah sana, akan ku lahap dulu batagor ini."
"Oke. Tunggu dulu." Jerry kembali membuat posisi mereka berhadapan. "Aku harus bicara dengan anak ini."
Ia pun mensejajarkan tingginya dengan perut yang mengandung baby-nya itu. "Baby, dengarkan papi. Kamu itu anak pertama papi kan, mintalah makanan yang sedikit berkelas. Pizza, KFC, Dunkin Donat, BTS Meal yang lagi Viral atau semacamnya. Mengerti?" Pesan beruntun dari sang suami membuat Nagea menggeleng sembari ngakak.
Kembali ia elus perut Nagea dengan sayang. "Papi tidak marah sayang, jangan sedih ya."
.
.
Bersambung.
3 Bulan kemudian.
Bang Ferdo udah sebar undangan nih, pada datang yah guys😆.
__ADS_1