
Bib.
Ferdo segera meraih saat mengetahui ponselnya berbunyi, meski hanya bunyi bib sekali, pria itu tetap peka akan pendengarannya.
Melina Sayang:
[Mari kita ketemu sore nanti, saat aku pulang magang]
Ferdo? Ya senyum senang lah, pacarnya ngajak ketemu lebih dulu, tidak biasanya.
Ferdo pun mengirim pesan balasan : [Oke sayang]
'Aku harus menyiapkan hadiah untuknya. Dia sudah berinisiatif mengajakku bertemu. Ini harus dihargai' Pria itu lalu menikmati makan siangnya bersama sang sekertaris.
"Pak, pacar anda mengajak bertemu?" tebak Bayu, sekertaris Ferdo itu.
"Iya nih Bay. Aku merasa senang."
"Saya tahu, itu terlihat di wajah anda."
"Oh ya?" Ferdo lalu menyentuh wajahnya sendiri.
"Lalu, hadiah apa yang harus saya cari untuk anda berikan padanya pak?"
"Aku heran, kenapa kau selalu bisa menebak isi kepalaku. Apa diwajahku tertulis bahwa ingin memberinya hadiah?"
"Saya hanya menebak pak," ujar Bayu, dengan sikap tenangnya.
"Begini ... setelah ini, kembalilah ke hotel, aku sendiri yang akan mencari hadiah untuk pacarku."
Bayu pun mengiyakan perintah atasannya itu.
\=\=\=
Di posisi lain.
Melina terlihat sangat tidak fokus. Seperti ada beban besar yang sedang ia tanggung sendiri. Beberapa kali gadis itu ditegur oleh teman-temannya agar kembali fokus.
"Mel, apa kamu kurang sehat?"
"Iya, sedikit." Bohongnya.
"Mungkin kamu pulang saja Mel, kasihan kamu."
"Tidak apa, setengah jam lagi juga selesai."
.
__ADS_1
Malam harinya, pukul 7.
Warung Bakso Nuklir.
Melina sudah duduk manis di warung sempit itu, menunggu kedatangan Ferdo.
.
"Apa benar ini tempatnya? Apa ini? Sekarang Warung Bakso?" Ferdo terlihat melirik penampilannya yang benar-benar tidak sesuai untuk dikenakan saat memasuki warung kelas rakyat jelata dihadapannya ini.
Ia pun membuka satu kancing atas kemeja yang ia kenakan dan menanggalkan jas kualitas supernya, meninggalkanya di dalam mobil. "Orang-orang akan mengira aku kurang waras saat berpenampilan sekeren ini lalu makan malam di warung penuh polusi ini. Arrrgh, resiko punya pacar yang berasal dari kelas menengah kebawah. Untung aku sayang kamu," gerutunya.
"Demi Melina, apapun deh," Ferdo lalu masuk ke warung itu yang ternyata sang kekasih sudah menunggunya didalam.
Terlihat mas-mas tukang bakso saling melirik setelah melihat kedatangan Ferdo. Entah apa yang mereka pikirkan tentang pria tampan itu.
"Mas, baksonya dua porsi." seru Melina.
Beberapa menit kemudian, dua mangkuk bakso diletakkan dihadapan pasangan itu.
"Sayang, jangan banyak-banyak sambelnya. Ingat kamu itu baru sembuh" Ferdo mengungkapkan rasa khawatirnya karena pacarnya memasukkan sambel yang menurutnya berlebihan untuk gadis itu dicampur kedalam kuah baksonya.
"Tidak apa. Aku sudah sembuh."
'Kenapa aku merasa dia sangat kalem malam ini?' batin Ferdo bertanya, karena menangkap sedikit perubahan dari sikap pacarnya.
Dengan sigap, Ferdo membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu, namun Melina sepertinya tidak berniat untuk masuk.
"Sayang, masuklah! Mau aku gendong?"
"Ayo kita putus!"
"Ap-apa?" Ferdo terlihat berusaha mengisir keterkejutannya.
"Aku bilang, kita putus saja."
"Hah.! Jangan akting sayang, masuklah, kita mau pulang."
"Aku bilang, ayo kita putus" lagi-lagi Melina mengatakan hal yang sama.
"Mel, kamu habis keracunan pentol nuklir? Atau jangan-jangan kamu di pelet sama abang-abang tukang bakso itu?"
"Pulanglah. Hubungan kita sampai disini saja. Aku merasa kita tidak cocok."
"Cssssh. Selera humormu sangat buruk. Jangan becanda sayang."
"Aku tidak main-main. Aku serius."
__ADS_1
"Mel," Ferdo mulai mendekat. "Kamu kenapa?"
"Aku capek. Aku tidak bisa lanjut sama kamu." Melina lalu memgambil ponselnya dari dalam tas dan meletakkan ponsel pemberian Ferdo tersebut diatas jok, lengkap dengan kotaknya.
"Mel, jangan begini. Apa alasanmu? Aku tidak bisa putus gitu aja."
"Aku bilang, aku sudah capek berusaha menyukai kamu. Tapi ternyata aku tidak menyukai kamu sebagai pria. Kamu hanya kakak dari sahabatku. Tidak lebih."
Melina pun menghilang bersama dengan supir taxi yang menjemputnya, meninggalkan Ferdo yang hanya berdiri mematung, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
\=\=\= Di tempat lain.
Mama Fema bersama dengan menantunya memasuki hotel milik anak sulungnya itu.
"Ma, kita mau apa kesini?" tanya Nagea.
"Kita mau double date sayang, kamu sama Jerry dan mama sama papa." begitulah jawaban mama Fema.
Keduanya pun memasuki restoran hotel tersebut dan benar saja, papa sudah menunggu disana bersama putranya.
Melihat kedatangan istri mereka, dua pria itu berdiri di tempat.
Terlihat papa juan merentangkan tangannya, menyambut sang istri.
"Papa sayang, kalian sudah lama menunggu?" mama Fema masuk kedalam pelukan suaminya tanpa sungkan. 'Ide-mu ini tidak akan berhasil untuk anak kaku itu' bisik Juan ke telinga istrinya.
Keduanya berharap Jerry dan Nagea akan melakukan hal yang sama, namun pasangan muda itu malah hanya berdiam diri menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya itu.
"Ah, duduklah" suruh Juan kepada Jerry dan Nagea.
Double date dengan dinner romantis itu berlangsung hening.
"Mama dan papa akan pulang, tapi kalian berdua akan tinggal dihotel ini!" Akhirnya mama Fema mengutarakan inti dari maksud kencan ini.
"Ma, apa maksudnya?" tanya Jerry, tenang.
"Ini!" papa Juan menyodorkan sebuah card kepada Jerry.
"Csssh, Pah, Ma, kalian apa-apaan? Aku punya kamar sendiri di hotel ini" Jerry merasa lucu karena mendapatkan sebuah kunci untuk menginap di hotel miliknya sendiri.
"Sayang, kalian berdua harus menikmati malam ini." mama menyentuh jemari menantunya itu dengan ekspresi wajah penuh harap.
'Exited sekali mertua aku menyiapkan malam pertamaku,'
.
.
__ADS_1
Bersambung