
Maaf lama gak up. Othor usahakan up lagi sampe tamat. πππ
1 Bab lagi, tamat guys.
.........
Sejoli itu kini telah menyelesaikan acara makan siangnya.
"Maunya kangen-kangenan dimana nih sayang?" tanya Ferdo, basa-basi.
"Emmmm" Melina berbisik.
"Okeh, tancap."
Ruang Pribadi yang terdapat di ruang kerja milik Ferdo itu lah yang menjadi tujuan mereka. Yang mana, Melina memiliki beberapa koleksi pakaian ganti yang sengaja mereka disiapkan disana. (Titisan papa Juan memang kamu bang Ferdo).
Tak butuh waktu lama untuk keduanya tiba.
"Bay, kalau ada yang mencari saya, bilang saja saya sedang beristirahat." Ujar Ferdo, tak ingin ada pengganggu dalam proses silahturahminya siang ini.
Sang sekertaris tentu saja mengangguk paham.
"Sayang, aku mau mandi dulu yah,"
Melina memberitahukan bahwa dirinya merasa sedikit gerah dan harus mandi terlebih dahulu.
"Mandilah. Aku akan lanjutkan sedikit pekerjaanku."
Ferdo lebih memilih bekerja sembari menunggu istrinya itu menyelesaikan acara mandinya.
Dua puluh menit kemudian, Melina keluar dari kamar mandi memgenakan kimono dan handuk kecil yang menggulung di rambutnya. "Sayang ...," memeluk Ferdo dari belakang dengan cara melingkarkan tangannya di leher.
"Sudah mandinya?"
Melina menganggukkan kepalanya.
Pria itu lalu melepas mouse dari tangannya dan ...
"Emmm ... kamu sangat wangi sayang," Ferdo lalu memutar kursinya dan meminta Melina duduk di pangkuannya dalam posisi berhadapan "Mau di kamar, di sofa itu, atau ... disini saja?" bisiknya.
"Emmmm" Melina berpikir sembari meraba kancing kemeja suaminya. "Di sini, di sofa lalu di kamar. Setuju?" Melina balas berbisik menggoda, yang tentu saja membuat Ferdo tersenyum nakal mode on.
"Hei, girl, boy, mama kalian semakin pintar menggoda," Ferdo mengelus perut rata itu seperti biasa.
Pemanasan pun di mulai, dilanjutkan dengan aktifitas yang benar-benar panas.
"Sayang, kita akhiri ini di kamar." bisik Ferdo sembari mendesah nikmat, yang hanya diangguki oleh Melina. Pria itu menggendong istrinya masuk ke kamar pribadi tersebut.
Setelah tiba di puncak nikmatnya, Ferdo mengambil bantal dan ia letakkan di bawah bokong istrinya. "Sayang, jangan bergerak dulu ya, biarkan benih unggulku berkelana di dalam sana." bisiknya serak.
"Ha? Emangnya ada teori seperti itu? Siapa yang ngajarin?" Melina hampir ngakak melihat posisi baringnya terasa aneh ulah Ferdo.
"Entahlah, temannya author katanya yang ngajarin. Biar gak langsung terbuang itu bibit unggul yang sudah aku semprotkan ke dalam barusan."
"Oke, baiklah sayang. Biarkan dia berburu di dalam."
Tak lama, Melina pun tertidur.
"Aku yang kerja keras kok kamu yang kelelahan si Mel," Ferdo menatap lama wajah tenang istrinya itu, sembari memainkan rambut lurus terurai yang membuat Melina terlihat sangat cantik.
'Aku telah memilihmu dari awal. Sebab itu, aku akan menerima semua keadaan ini. Memangnya apa yang susah? Jika pada akhirnya kita tidak bisa memiliki anak, kita tinggal adopsi saja. Aku tidak akan goyah, aku tetap akan menjadi suami yang baik dan menyayangi istriku sampai kapanpun. Siapa pun tidak boleh menyalahkan kondisi istriku.'
Ferdo Barata membatin panjang lebar.
.....
1 bulan kemudian.
Di Kediaman Yared.
"Sayang, hari ini aku pengen shopping."
"Shopping? Sayang apa tidak tunggu weekend saja?"
"Tidak. Aku udah janjian sama Melina."
"Okelah, tapi kamu harus hati-hati ya sayang, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan baby kita."
"Iya, aku pasti hati-hati."
Di Kediaman Barata.
Melina sedang asik bermain bersama baby Gerry, anak dari kak Nagea dan bang Jerr.
'Baby boy, doakan onty yah, semoga cepet punya dedek juga biar kamu ada temennya.' bisi Melina di telinga bayi yang tak tahu apa-apa itu.
...
Marsha dan Melina kini menikmati waktu berbelanja di salah satu mall.
__ADS_1
"Mel, kamu boleh ambil apapun. Aku yang akan membayarnya."
"Hei ... aku juga punya uang kali Sha,"
"Tapi kan kamu selalu berhemat Mel."
"Iya nih, aku lagi nabung buat bayi, Sha."
"Bukan nabung buat bayi, tapi buat bayi tabung Mel,"
Keduanya tertawa meskipun pembahasannya tidak lucu sama sekali.
"Mel Mel, apa kak Ferdo memberimu jatah buat belanja? Semacam card gitu?"
"Ada, tapi aku tidak membawanya. Kenapa? Kamu ingin aku yang bayar belanjaanmu?"
"Bukan Mel, enak aja nebeng sama kamu. Hari ini tuh aku akan belanja dengan uang hasil usahaku sendiri."
"Oh, iya. Aku lupa Sha, bisnis online-mu sangat lancar bahkan pendapatanmu melebihi gajiku sebagai seorang dokter. Baiklah, bayarkan belanjaanku hari ini." Melina menggandeng lengan Marsha, bersemangat.
"Hei ... kenapa kau terlihat bersemangat tiba-tiba? Mel, aku tidak berencana menghabiskan uangku hanya untukmu. Kau harus tau diri."
"Aku tidak peduli. Pokoknya aku akan membantumu habiskan semua uangmu hari ini."
Mata dan tangan Melina mulai jelalatan melihat-lihat dan dengan kejamnya asal nyomot semua yang dia inginkan.
"Mel, kau sangat kejam. Stop! Aku bahkan belum belanja satupun untukku."
"Sha, kau sangat pelit. Tadi katanya aku boleh ambil apapun."
"Iya, tapi jangan berlebihan. Ini sangat banyak."
"Tapi aku menginginkan yang lain lagi, Sha."
"Stop! Ayo bayar. Jika kau berani nambah, akan ku kirim notanya ke kak Ferdo. Mau?"
"Apa? Jangan begitu! Jangan melibatkan suamiku."
Keduanya pun mengakhiri shopoing bareng dengan belanja beberapa pakaian lucu buat baby boy bang Jerr.
Keluar dari mall, ternyata Ethan sudah menunggu untuk menjemput istrinya.
Melina pun masuk ke mobilnya sendiri. Benar, wanita itu mendapatkan mobil baru setelah resmi menjadi istri, sebagai hadiah dari sang suami.
Dalam perjalanannya, Melina terlihat tengah berpikir keras dengan wajah murung. Pasalnya, 3 hari yang lalu, ia baru saja dengan gilanya menghabiskan seluruh gajinya yang telah ia tabung selama bekerja sebagai dokter, dengan membeli sebuah tas merek Hermes seharga 40 juta.
"Aku memang sudah gila. Untuk apa aku tiba-tiba membeli tas itu tanpa rencana sedikitpun." Melina memyesali perbuatannya, dan kini ia kembali ke butik Hermes itu lagi guna menjualnya kembali.
Saat melihat berita itu, seketika Melina merasa jiwa mizzqweennya merontah, telah menghabiskan puluhan juta hanya demi sebuah tas.
Tiba di butik Hermes.
Melina segera melangkah masuk.
"Permisi, saya ingin bertanya, jika saya ingin menjual kembali tas ini, saya harus kemana ya?"
Pertanyaan Melina itu sontak membuat penjaga butik tersebut saling pandang. Biasalah, holang miskin yang ingin terlihat kaya tidak akan bisa dipercaya memiliki barang dari brand ternama seperti Hermes. Baru membeli satu dengan harga 40 juta saja mungkin langsung bangkrut saat itu juga, pikir mereka.
...
Di posisi lain. Ferdo Barata, sedang serius membolak balik berapa file di hadapannya. Fokus pria itu tiba-tiba buyar karena dering ponselnya.
"Abner? Mau apa bocah itu menghubungiku."
Bukan karena penasaran, Ferdo menjawab sembari menebak 'Bocah ini pasti ingin memerasku'
[Bicaralah Abner!]
Abner : [Bang, aku ingin menjual informasi seharga 5 juta . Jika abang ingin tahu, transfer ke akunku sekarang juga.]
Ferdo:
[Apa ada hubungannya denganku? Sejak kapan kau menjadi informan bayaran?]
Abner: [Ini adalah info tentang kakak ipar. Apa abang tidak peduli?]
Ferdo: [Kakak ipar? Kakak ipar yang mana? Kau punya banyak kakak ipar.]
Abner: [Kalau ini tentang kak Ethan atau kak Nagea, aku tidak akan menjual informasi ini padamu. Tentu saja ini tentang kak Melina]
Ferdo: [Apa? Istriku? Kenapa dia?] Ferdo mulai penasaran.
Abner: [5 juta dulu bang. No debat.]
Dengan tidak sopan anak itu menutup telepon.
Dalam waktu 1 menit, terlihat notif yang memberitahukan bahwa saldo di akunnya bertambah 5 juta. Senyum bocah itu auto mengembang sempurna.
Drrrrt drrrrt.
__ADS_1
Bukan Abner lagi yang menelpon, melainkan abang Ferdo.
Abner: [Bang, kakak ipar memasuki butik Hermes]
Ferdo: [Yah? Tidak mungkin. Istriku tidak akan ke sana. Dengan siapa dia?].
Abner: [Sumpe Bang! Dia Sendirian. Saat ini dia sedang melakukan transaksi. Menjual sebuah tas seharga puluhan juta. Menurut info penjaga butik, kakak ipar baru membeli tas itu tiga hari yang lalu.]
Ferdo: [Apa kau merekamnya?]
Abner: [Tenang saja. Aku membayar seseorang merekamnya.]
Ferdo: [Oke, aku tunggu.]
Telpon pun berakhir.
Segera Ferdo memeriksa ponselnya. Tapi, tidak ada satu kali pun pemberitahuan dari riwayat belanja istrinya itu.
"Yang benar saja. Tidak ada sekalipun transaksi dari kartu belanja yang aku berikan untuknya. Lantas dia membayar dengan apa? Jangan bilang dia sedang jadi kurir?"
........
Malam harinya.
"Malam semuanya," sapa Ferdo pada seluruh keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah tanpa Melina.
"Fer, kenapa lembur lama? Istrimu belum belum makan malam tuh,"
"Loh Ma, tadi aku memintanya tidak perlu menungguku makan malam karena aku makan malam diluar dengan rekanku."
Ferdo segera ke kamarnya dengan langkah cepat. "Mel, sayang ... kamu sudah tidur?" Tak ada sahutan dari wanita itu.
Setelah mandi dan mengenakan pakaiannya, Ferdo menyusul Melina masuk selimut.
"Sayang, bangun. Kamu belum makan malam kan?" Ferdo menyibak selimut yang menyelimuti seluruh istrinya dan melebarkan mata saat tahu ternyata istrinya sedang menangis.
"Sayang, kamu kenapa?"
Melina hanya menggeleng.
"Karena aku makan malam dengan rekanku? Mereka laki-laki kok sayang."
Kembali Melina menggeleng.
"Apa karena kamu lapar?"
Lagi-lagi jawabannya hanya gelengan.
"Apa karena aku pulang terlambat? Kamu kangen ya?"
"Bukan." jawab Melina, sesegukkan.
'Astaga, setidaknya bilang saja iya meskipun hanya berbohong'
Ingatan Ferdo kembali pada Video rekaman saat Melina berada di butik Hermes itu.
"Sayang, apa kamu tadi ke butik Hermes?"
"Ya?" Melina kini menghapus airmatanya. "Kata siapa aku kesana?" berusaha mengelak.
"Temanku bekerja disana. Apa kamu tadi habis belanja?"
"Tidak. Aku pergi menjual kembali tas yang baru aku beli tiga hari lalu."
"Lalu, kenapa di jual lagi?"
"Karena aku ingin membantu biaya rumah sakit seorang pasien kanker serviks" jawabnya.
"Terus? Apa yang membuatmu bersedih, sayang?"
"Aku sangat menginginkan tas itu."
"Ya sudah, tunggu saja. Akan ada kurir yang mengantar tas itu kembali menjadi milikmu."
"Benarkah?" Wajah Melina berbinar menatap suaminya.
"Iya benar! Lagi pula, kenapa tidak belanja dengan kartu yang aku berikan? Itu unlimeted sayang, kamu bisa beli apapun."
"Kamu janji tidak akan marah jika aku membeli apapun?"
Ferdo menggeleng.
'Apa dia serius? Tadi Marsha juga mengatakan hal yang sama. Akan membayar apapun yang aku inginkan. Taunya, dia hanya PHP'
'Aku merasa istriku sedikit aneh. Kemana perginya jiwa super hemat-nya itu?'
.
.
__ADS_1
Bersambung....