Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Misi Penyelamatan


__ADS_3

Jerry: Thorrr... 😣


Author Cantikzz: Napa bang?


Jerry: Balikin bini gue!😑


Thor Cantikzz: Cari aja sndiri😏


\=\=\=\=\=


“Dimana kamu Nagea.... dimana?”


Jerry sudah mendatangi berbagai tempat yang mungkin saja didatangi oleh istrinya, termasuk kediaman pasangan pengasuh yang menjadi orangtuanya saat menikah. Akan tetapi, mereka pun sudah tidak berada di rumah itu karena telah dikirim ke negara tetangga yaitu Malaysia, oleh Nagea, untuk melanjutkan pengobatan anak mereka. Informasi itu ia dapatkan dari ibu mertuanya. Ah... entahlah, apa wanita itu menganggapnya sebagai menantu atau bukan, yang jelas Jerry menganggap Nagea sebagai istrinya.


Kediaman Barata.


Juan baru saja pulang dari kantornya setelah waktu sudah malam. Tiba di kamar, ia melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah sedih. Istri yang biasanya menyambut kepulangannya dengan wajah bahagia, kini malah murung bahkan tidak menyadari suaminya pulang.


“Mama sayang! Kenapa?” Juan mendekati Fema dan duduk disebelahnya.


“Pa... sepertinya aku bukan ibu yang baik!” wanita itu menangis setelah mengatakan kalimat itu kepada suaminya.


“Kenapa sayang? Kamu ibu terbaik yang pernah ada.. jangan menangis!” Juan memeluk tubuh istrinya itu.


“Aku sudah gagal mengajarkan hal baik pada pangeran kita! hiks hiks hiks..."


“Ada apa dengan mereka sayang?” Juan memang tidak tahu apa yang terjadi hari ini.


“Pa... Jerry, anak itu.. dia telah memaksa Nagea menikah dengannya. Dia menikahi Nagea karena gadis itu bertanggungjawab atas menghilangnya Marsha. Sekarang marsha kita sudah pulang, Nagea pun pergi!..”


“Pergi? Lalu?”


“Jerry pergi mencarinya.. tapi sudah selarut ini anak itu belum pulang pa!”


“Kenapa anak itu melakukan hal sekonyol itu? Dia pasti memang menginginkan Nagea, sayang!”


“Pa... dengarkan rekaman ini!”


Fema memperdengarkan rekaman suara Jerry kepada suaminya melalui benda kecil yang diberikan Nagea, karena menurutnya suaminya ini harus mengetahui orang seperti apa sebenarnya putra pertamanya itu. Alhasil, Juan meremas benda kecil itu, dengan rahang mengeras. Sama seperti Fema, ia juga merasa sangat marah kepada Jerry yang telah bermain-main dengan hidup.


Tidak hanya itu, Fema pun memberitahukan tentang kedatangan ibunya Nagea dan mengajak suaminya untuk menemui wanita itu di kamarnya.


............


Di dalam kamar mandi, Melina berulang kali menghubungi nomor ponsel Fania! Ia harus mempertanyakan tentang foto jadul Fania yang terpajang nyata di kediaman bossnya ini.


“Aduuuu.. Faniaa.. dimana kamu? Kenapa tidak aktif?”


Melina segera menyelesaikan mandinya. “Aku sangat penasaran. Aku harus bertanya pada seseorang”


Tok tok tok.


“Melina..”


“Dia memanggilku?”


Ceklek.


Pintu terbuka. Ferdo dengan tampang kerennya berdiri didepan pintu.


“ya? Ada apa yah?”


“Ayo makan malam!” ajak Ferdo dengan sikap acuh


“Benarkah aku boleh numpang makan malam juga?”


“Maksudmu?” Ferdo menautkan kedua alisnya.


“Maksudku adalah, aku sudah menumpang istirahat disini, apa tidak masalah jika numpang makan juga?” bertanya dengan wajah polos menggemaskan.


“Itu lebih baik daripada kau mati kelaparan dirumahku!” ketus Ferdo, tak habis pikir dengan perkataan Melina.


“Oh baiklah,”


Keduanya pun melangkah menuruni tangga. Lagi-lagi Melina melihat pose jadul Fania. 'Aku yakin, dia Fania.. aku harus menanyakannya.'


“Ni bocah, nurunin tangga aja pake ngelamun, dia pikir lagi main drama? Pake gaya slowmotion segala.” Ferdo lagi-lagi geregetan akan tingkah Melisa.

__ADS_1


Pada akhirnya, Bruuuk.


“Aaaaaaaaaaaa”


Karena asik berpikir dan mata yang fokus menatap foto Fania kecil, Melina tidak konsen sampai menubruk Ferdo yang berhenti di tangga untuk menunggunya.


“Makanya... mata itu dipake yang bener.” Bisik Ferdo, yang kini menahan tubuh Melina yang hampir saja jatuh bebas dari tangga karena kehilangan keseimbangan.


'Haaa?!!!! Apa ini? Dia memelukku?' Melina tersadar berada dalam pelukan saat mendengar detak jantung Ferdo yang berpacu cepat.


“Kalian ketahuan!” tiba-tiba suara Abner terdengar, membuat kedua orang itu saling memisahkan diri.


“Jangan sembarang mengada-ada bocil,” ketus Ferdo, kembali melangkahkan kakinya.


“Ini buktinya” dengan santai Abner si bungsu itu memperlihatkan hasil jepretannya barusan.


“Haaaaaaaaaaa! 😱 Mati aku, bisa-bisa kena pecat nih!” batin Melina. Lagi-lagi Abner membuatnya mati kutu.


“Eh.. eh.. eh... hapus!” Ferdo berusaha mengejar bocah itu, namun sia-sia. Abner sudah tiba di ruang makan.


Melina kembali mematung. Sungguh memalukan jika bu boss melihat pose itu, pikirnya. Ferdo kembali menghadapkan wajahnya pada Melina.


“Ayo... tunggu apa lagi?”


“Maaf, sepertinya aku tidak bisa makan malam ini!” Melina mulai gelisah.


“Tenang saja! Aku bisa mengatasinya.”


Dengan terpaksa, Melina mengikuti ajakan Ferdo.


“Fer, siapa dia? Pacar kamu?” tanya Papa dengan wajah datar.


Di ruang makan juga ada ibunya Nagea.


“Bukan Pah,” Ferdo menjawab singkat, lalu memberi sorotan mata tajam ke arah Abner si remaja usil itu.


“Dia pegawai baru di butik pah..” jawab mama Fema, dan papa hanya mengangguk.


Drrrt drrrt drrrt..


“Iya” jawab Fema, tak bersemangat.


“Ma... aku belum menemukan istriku.... bagaimana ini mah?” Jerry bertanya dari ujung sana dengan nada bergetar, karena menagis.


“Jangan menangis, dan pulanglah saat sudah menemukan menantu mama!”


Tuut tuut tuut.


Fema mematikan poinselnya secara sepihak. Tiba-tiba ia sangat ingin menangis. Kini, airmatanya pun sudah keluar dari tempatnya.


“Maafkan aku, kalian makanlah, aku tidak bisa makan saat ini!” ia pun beranjak dari duduknya.


“Sayang..” Juan memanggil dan siap menyusul istrinya.


“Maaf, biar saya yang mendatanginya. Silahkan kalian makan tanpa kami!” ibunya Nagea membuka suara.


Kini melina tidak lagi mengkhawatirkan akan perasaan gugupnya, terganti dengan perasaan bingung, karena tidak tahu masalah apa yang tengah dihadapi oleh keluarga ini.


“Silahkan makan... papa juga sangat lapar.. papa harus makan banyak agar punya tenaga untuk menghajar seseorang!” Juan mulai menyantap makanannya.


“Pa.. ada apa dengan mama?” tanya Marsha KW, basa – basi.


“Nanti saja kita tahu ada apa. Makanlah dulu sayang..”


“oke Pah..” jawab Marsha.


\=\=\=\=\=


Jerry Barata sedang berada di apartemen milik Nagea, sambil berharap, istrinya itu akan muncul disana. Pikirannya terus disibukkan dengan memikirkan keberadaan istrinya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menampilkan nama kontak David, teman baik Jerry yang adalah seorang detektif.


Dengan malas Jerry menjawab panggilan itu.


"Jerry.. sepertinya... aku menemukan adik perempuanmu."


"Apa, maksudmu David? Adikku.. sudah kembali."

__ADS_1


"Ya? Adikmu? Adikmu yang kau minta aku cari keberadaannya?" Tanya David, ingin memperjelas pendengarannya.


"Iya Vid.. adik perempuanku baru saja pulang." Jawab Jerry, dengan nada lemas, sebab dia masih bingung akan keberadaan Nagea.


"Apa kau yakin dia adikmu? Bisa saja itu orang lain bro..."


"Apa?" Jerry menegang.


"Begini.. tadinya aku harus merahasiakan ini. Seorang gadis menemuiki dan memintaku melakukan penyelidikan rahasia. Dari bukti-bukti yang dia punya, semuanya menunjukkan bahwa dia adalah Marsha.. dia juga bilang bahwa dirinya adalah Marsha. Dia memang menyerahkan foto seorang gadis dan mengatakan bahwa gadis itu berada di kediaman Barata sebagai Marsha.... Dan menurut perkembangan penyelidikan kami, adikmu dalam bahaya saat ini. Kami, tidak bisa menghubunginya. Aku dan rekanku akan bergerak mencarinya.


"Kalau begitu, kirimkan semua titik tempat tujuanmu, aku akan meluncur.." Jerry lalu menghubungi Ferdo, menanyakan keberadaan Marsha kw."


"Apa.. bicaralah.." Ferdo hanya berbicara malas. Jujur saja, setelah peristiwa pemukulan terhadap kakaknya waktu itu, belum ada kata baikan diantara mereka, meskipun mereka sering tak sengaja harus bicara.


"Apa Marsha ada dirumah?"


"Sepertinya ada.. kenapa? Carilah istrimu, jangan dulu memusingkan Marsha. kalau tidak, kau tidak akan pulang."


"Fer, dengar.. bisa saja dia bukan Marsha.!"


"Apa maksudmu? Jangan asal bicara.!"


Tok tok tok


Ceklek. Melina membuka pintu, hingga tak sadar Ferdo menjauhkan ponsel dari telinganya.


Gadis itu masuk ke kamar Ferdo tanpa dipersilahkan. "Aku ingin bertanya.. apa ini benar Foto Marsha ?" Melina memperlihatkan foto jadul Fania yg sudah ia jepret di ponselnya.


"Iya.. benar! Itu Marsha. Kau masuk ke kamarku hanya untuk menanyakan itu? Modus ya.." 🤨


"Begini, maaf jika aku lancang, tapi.. aku mengenal gadis di foto ini dia adalah sahabatku, Fania.


DEG.


Jerry, dari kejauhan mendengar penjelasan Melina tentang Marsha, dengan jari mengeras membentuk sebuah genggaman.,.


"Apa maksudmu? Ini Marsha, bukan Fania. mungkin saja mereka terlihat mirip." Ferdo berusaha meluruskan kesalahpahaman Melina.


"Tidak.. itu Fania, aku yakin.. Fania seperti ini saat pertama kali ia pindah ke kampungku." Jelas Melina, dengan wajah serius.


"Benarkah? Kapan itu?" Ferdo bertanya, asal.


"Saat aku kelas 5 SD. itu.. 13 tahun yang lalu."


"Kalau begitu... bawa aku bertemu dengannya." Ferdo bergegas untuk bersiap.


.


"Sial.. jadi gadis itu penipu?" Jerry menyesali kebaikan yang sudah ia lakukan kepada Marsha palsu itu.


Ketika mendapatkan beberapa titik tempat berbeda dari sahabatnya, David, Jerry langsung mengirimnya kepada Ferdo.


"Nagea sayang, dimanapun kau saat ini, aku berjanji akan menemukanmu dan pulang denganku.. maaf karena aku harus menjemput adik perempuanku terlebih dahulu" Jerry pun melangkah keluar dari sana dengan langkah tergesa.


\=\=\=\=


"Aku ikut... aku ikut," Melina berlari menyusul Ferdo yang berlari menuju mobilnya.


"Heiii.. jangan ikut. bisa saja kita akan bertemu bahaya.."


"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Melina dengan tatapan malu-malu.


🙄"Melina... kauu"😑


Keduanya kini berada di dalam mobil. Ferdo membuka grup obrolan di ponselnya dan menjelaskan misi penyelamatan Marsha kepada sahabat-sahabatnya. Tentu saja Jerry sudah memberitahukan tentang Marsha padanya.


"Oke bro, kami meluncur." ketiga sahabat Ferdo, termasuk Ethan, bergegas menuju tempat yang dimaksud. Akan tetapi, ketiganya tidak tahu tentang Marsha yang adalah Fania.


"Melina, saat bertemu Ethan, tolong bersikaplah biasa saja. jangan berlebihan." Ferdo memperingati.


Marsha menoleh ke wajah Ferdo yang sedang menyetir🤨😒 "Apa dia cemburu?"


...


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2