Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Numpang


__ADS_3

Malam ini, kediaman Barata kedatangan tamu yang tak lain adalah mami Angel yang berkunjung sendirian.


"Mami ga bawa pacar kamu Sha," ucapnya saat menangkap gelagat Marsha yang sepertinya mencari-cari keberadaan seseorang yang mungkin saja ikut dengan mami ke rumahnya.


Marsha merasa malu karena serasa kepergok sama tante Angel. 'Emangnya, terlihat jelas gitu? Lagian kenapa kak Ethan ga ikut si sama mamimya?'


Mama Fema hanya menggeleng kepala melihat tingkah Marsha. 'Anakku benar-benar tidak bisa sembunyikan perasaannya.'


Mami Angel menginformasikan bahwa 4 hari lagi mereka sudah bisa berangkat ke Korsel, tepatnya di ibu kota negara tersebut, guna mengusahakan pemulihan untuk Marsha dengan cara melakukan proses bedah plastik.


Sedangkan menurut info dari papa Juan, bahwa di Negara Thailand itu, secepat-cepatnya dua minggu lagi untuk Marsha bisa melakukan operasi, karena banyaknya antrian. (Entah, kemungkinan warga disana emang doyan nambal tubuhnya pake kresek).


Fix, mama dan mami memutuskan untuk membawa Marsha ke Korea Selatan dalam dua atau tiga hari lagi.


(Seandainya aja othor diajak, bisa dong ketemu oppa² disana😜)


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 alias jam 10 malam.


Mobil yang ditumpangi Jerry dan tiga sekawan itu, kini tiba di depan sebuah rumah yang katanya adalah tempat tinggal pemilik mobil tersebut bersama istri dan kedua orangtuanya.


Pria muda itu pun mengajak keempat orang penumpangnya itu untuk mengikutinya dan bertemu keluarganya.


"Pak, buk, mereka ini penumpang aku dari kota. Untuk malam ini, mereka akan menginap dirumah kita ya bu, karena jalanan masih licin, gak bisa balik ke kota." terang pria itu pada ibu bapaknya.


Merekapun berkenalan dengan kedua orangtua beserta istri sang supir itu.


"Panggil saja kami ibu dan bapak." ucap si bapak, ramah.


"Perkenalkan, saya Jerry,"


"Saya Ferdo,"


Keluarga itu sedikit menatap lama karena terkejut mendengar nama Ferdo.


"Saya Tomi pak, buk, mbak"


"Saya Galih!"


Kemudian mereka berempat dipersilahkan duduk.


'Ferdo? Apa ini orang yang sama?'


Kalimat itu menjadi pertanyaan yang ada di kepala tuan rumah itu.


'Kakaknya Fania? benar. Mereka tadi habis menangkap pria dingin itu'


"Maaf, kalau boleh tau, apa ... kalian ini, keluarganya Fania?" si abang supir bertanya dengan sopan.


Bapak, ibu dan istrinya diam mencermati.


"Benar sekali. Saya, kakak sulungnya, dan Ferdo adik saya, kakak dari Fania juga." jawab Jerry, dengan sikap tenangnya.


Keluarga itu saling melempar pandangan. Kemudian terlihat menatap Ferdo dari ujung kaki hingga kepala.


'Ferdo. Jadi, Pria ini yang bilang I Love u ke adikku?' batin si abang.


'Tunggu, kenapa aku merasa mereka sedang menatapku?' Ferdo pun membatin.


Hening.


"Ehm ... silahkan kalian mandi dulu nak, masih ada makanan di meja makan, jika lapar, silahkan dimakan." suruh si ibuk, dengan nada ramah dan sopan, memecah keheningan.


Benar, sangat kebetulan, rumah ini adalah tempat tinggal Melina. Namun, gadis itu sudah terlelap.


Kini Keempat orang pria itu berada di salah satu kamar. Tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa harus berdesakan di kamar khusus tamu itu, dengan beralaskan tilam busa.


"Mami ... help me, anakmu tidak akan bisa tidur malam ini" Tomi benar-benar tidak bisa tidur dalam keadaan ini. Kasur empuk king size-nya selalu terbayang-bayang di benak pria itu.


"Huz! Diam Tom. Kau mengganggu tidurku" Ferdo mulai terusik.


Sedangkan Jerry dan Galih sudah traveling dalam mimpi indahnya sendiri.


"Fer, aku tidak bisa tinggal ditempat sempit seperti ini. Aku tidak bisa tidur dengan banyak orang" keluh Tomi lagi, dengan nada putus asa.


"Aaaagh.. aku bilang diam, malah curhat." Ferdo lalu keluar dari kamar itu untuk mendatangi kamar kecil karena tiba-tiba air si kecilnya minta di buang.

__ADS_1


Legah. Itulah yang dirasakan pria itu setelah membuang racun-racun yang meluncur bersama dengan air kecilnya.


Ceklek.


Pintu tiba-tiba terbuka.


"Aaaaaahhhhhhgh"


Teriak seseorang, yang tentu saja mengagetkan Ferdo yang baru saja berbalik setelah membenarkan posisi celana kolornya. "Me... Mel?"


"Ke..ke... kekekeke..napa kamu ada di rumah aku?"


"Apa itu? Apa itu?"


Ternyata, teriakan Melina mampu membangunkan seluruh penghuni rumah itu. Termasuk Jerry dan Galih yang tadi sudah tertidur nyenyak, ikut bergegas keluar kamar dengan wajah bantalnya.


"Diiiiia," Melina menunjuk Ferdo yang masih berdiri mematung menatapnya.


"Ka..kalian?" Menunjuk tiga pria lainnya.


"Walah Mel, kirain ada apa. Mereka penumpang mobil abang, nginap dirumah ini malam ini" sahut kakaknya Melina.


"Mel? Jadi ... kamu tinggal disini? Dirumah ini?" Tanya Ferdo, mewakili pertanyaan kedua sahabatnya.


Jerry sih santai aja, dia juga baru sekali liat Melina saat ulang tahun mama.


"Nak, kalian saling kenal?" tanya si bapak, yang tentu saja sedang berpura-pura tak tahu, ingin melihat reaksi Melina.


"I...ya... dia.. kakaknya Marsha, pak."


Seluruh keluarganya sama-sama bilang "O" seraya mengangguk-angguk.


'Jadi, si cantik ini ternyata tuan rumah ini juga?' Batin si Tomi.


"Ya sudah, ini sudah tengah malam. Kembalilah tidur." titah si bapak.


Semua orang pun menuruti perintah itu.


Canggung. Itulah perasaan Ferdo saat ini. Tapi, tak bisa dipungkiri bahwa dia merasa sangat senang. Pria itu meraih ponselnya untuk mengirimkan chat ke Melina.


Beberapa detik kemudian, Melina membalas.


Melina:


["Kenapa kamu ke kampung ini? Susulin aku yah?"]


🀡: 🀣🀣"Iya. Kangen Mel, sama kamu." 🀭


πŸ‘©β€πŸ¦°: "ih, kamu gimana si, kan aku bilang aku bakal balik dalam seminggu?"


🀡: "Jadi boleh ni, kangenin kamu?"


🀡: "Melll?"


'Yah ... ditinggal tidur.'


\=\=\=\=\=


Ditempat lain.


Nagea sedang duduk santai sendirian di balkon kamar miliknya.


Saat ini, istri yang bahkan masi gadis itu sedang membaca pesan dari kontak yang bernama HUSBAND.


Discrolnya layar ponsel itu untuk membaca semua pesan dari Jerry yang isinya hampir sama setiap hari.


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, aku sudah bangun"


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, I Love u"


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, aku kangen"


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, ayolah, balas chat aku sekali aja"


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, ga kangen ya sama aku?"


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, aku di kamar, sendirian, nungguin kamu pulang."

__ADS_1


πŸ‘¨β€πŸ’Ό: "Sayang, aku cinta kamu!"


Pesan yang di ulang itu-itu lagi setiap hari. Tanpa sadar, wanita itu tersenyum kecil.


"Apa aku ini egois? Apa aku ini tega? Apa ... aku memang tidak cinta dia lagi?"


Nagea mengulang pertanyaan itu dalam pikirannya sembari memejamkan mata. Tak terasa, airmata wanita itu jatuh dengan sendirinya.


Ia pun membuka galeri pada ponselnya. Disana ia melihat kembali foto pernikahan mereka. Melihat moment itu kembali membuat hatinya merasa terenyuh.


Sakit rasanya mengingat acara pernikahan yang tidak menghadirkan kedua orangtuanya itu.


'Aku adalah anak papi dan mamiku. Hanya ada aku. Tapi kamu, kamu membuat aku mengecewakan mereka. Kalau bukan karena kamu, aku pasti masih jadi putri yang baik bagi mereka'


"Nagea..." papi menghampiri anaknya yang terlihat sangat sedih. Putrinya itu bahkan sepertinya tak kuasa untuk mengusap airmatanya sendiri.


"Sayang, lihat papi. Papi tidak mau lihat kamu seperti ini Nagea." Papi menyeka airmata Nagea dengan kedua tanngan.


"Pi .... maaf Pi ... maafkan aku, tidak jadi anak yang baik!"


Nagea terus meminta maaf pada Papi dengan tangis sesegukan, menggambarkan betapa hancurnya perasaannya.


"Iya sayang, papi mengerti nak, iya, papi memaafkan kamu!"


Papi berusaha menenangkan putrinya itu dengan cara memeluknya.


"Nagea, ini bukan hanya salah kamu nak, ini juga kesalahan papi dan mami. Kami berdua selalu sibuk mengejar harta dunia ini sehingga mengabaikan keberadaanmu, sehingga kamu mencari perhatian dan kasih sayang orang lain."


"Papi dan mami seharusnya dulu, lebih banyak waktu bersama denganmu, sehingga kamu tidak sebegitunya mengejar cinta seseorang, mengejar cinta orang itu sampai-sampai harus dihukum karenanya."


"Papi minta maaf sayang"


Mendengar pengakuan sang papi membuat Nagea tambah menangis. Memang ada benarnya yang dikatakan papi. Cara mereka memberikan kasih sayangnya adalah hanya dengan harta yang melimpah. Mereka tidak menyadari betapa Nagea membutuhkan kasih sayang melalui kehadiran mereka sebagai orang tua.


"Gea, ayo kedalam sayang, disini udaranya dingin. kamu bisa masuk angin. Ini sudah tengah malam, udaranya tidak baik untuk kesehatan" ajak papi.


Nagea pun mengangguk.


Sebelum papi meninggalkan Nagea, ia kembali mengatakan sesuatu yang sedikit menggetarkan hati seorang Nagea. "Nak, papi perhatikan, suamimu itu orang baik. Terlepas dari seburuk apapun masalalunya, dia adalah orang baik sekarang. Masa lalu memang penting sebagai pelajaran. Tapi, masa depan jauh lebih penting. Pertimbangkanlah itu nak, menurut papi, kamu masih bisa bahagia dengannya. Itu yang papi dan mami lihat dari hubungan kalian."


\=\=\=


Keesokan harinya.


Jerry dan tiga sekawan itu bangun dari tidur barengnya, saat waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. (Sudah numpang, bangkong pula🀭).


"Aduuuh kebelet nih,"


Ferdo mondar-mandir di depan pintu kamar mandi yang juga menjadi tempat membuang hajat itu.


"Maaf nak, kamar kecil kita hanya satu. Jadi kalau banyak orang begini ya .. bingung deh,"


"Iya, tidak apa buk," ucap Ferdo, dengan wajahnya yang sangat tidak baik-baik saja.


"Mell, Melinaaa," panggil si ibuk.


"Ya buk?"


"Antar dulu si abangnya Masha ke rumah nenek sayang, udah kebelet tuh keknya!"


"Hah?" datang mendekati Ferdo.


Setelah melihat ekspresi wajah Ferdo, Melina tak tega lagi banyak bicara. "Ayo, ikut aku ke rumah nenekku."


Ditariknya tangan pria itu.


"Nek, permisi yah, dia mau numpang WC."


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2