Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Dia Seperti Marsha


__ADS_3

Mami Angel merasa senang karena gadis cantik nan polos ini akhirnya setuju untuk pergi dengan putranya.


Ia lalu memanggil beberapa pelayan untuk mengantar Fania ke salah satu kamar. "Fania, ikutlah dengan mereka dan beristirahatlah dulu sebelum kamu memulai pekerjaan itu."


"Baiklah tante.. permisi tante!" Fania lalu pergi bersama mereka, dan sepertinya dia tidak perduli lagi dengan keberadaan Ethan.


Ethan masih menatap heran kepergian Fania. "Baru kali ini ada cewek, yang terlihat biasa saja ketika melihatku."


"Ehmmm.." Mami berdehem menyadarkan Ethan.


"Eh, Mam.." Ethan sedikit terlihat canggung.


"Mami mo tanya, apa kamu sudah punya pacar Than?"


Ethan menyunggingkan senyum disudut bibir kanannya. "Mi.. kalau aku punya pacar, jagat raya ini pasti sudah memberitakannya."


"Jadi masih Jomblo? Bagaimana dengan Fania? Mau?" goda Mami.


"Mam.. apa aku sudah gila mau sama dia?"


"Tapi..dia cantikkan?"


πŸ™„"Mam.. masih banyak lagi yang lebih cantik"


"Kamu masih menunggu dia?" tanya Mami, datar.


"Sudahlah Mam, biarlah itu menjadi urusanku!"


"Ethan.. kamu sudah 27th sayang, kapan kamu mau menikah dan memberikan teman buat Mami?"


"Kalau Mami suka cewek tadi, bayar saja dia menemani Mami dan tinggal disini."


\=\=\=\=


Melina sedang dalam perjalanan menuju Butik ternama sebagai tempat kerjanya.. Ya.. sepulang kuliah, Melina bekerta part time di butik ini sejak 2 minggu terakhir ini.


Bib bib


Terdengar notif masuk ke ponsel Meli, ia pun membukanya.


Fania:


"Melina Cantik.. aku sudah mendapat pekerjaan"


^^^"Ohya? Ahh syukurlah, aku senang!^^^


Fania:


"Kau tahu? sekarang berada di kamar salah satu istana."


"Mimpi ya Fania? Lagi bobo dimana?" Melina mengejek.


Saat sedang asik fokus pada ponselnya, tiba-tiba.. bruuk.


"Aw...." Melina menjerit kesakitan pada bokongnya. Lebih sakit lagi saat melihat ponsel satu-satunya tergeletak tak bernyawa di lantai.


"Aaaaaaaaaa.. ponselku..." seketika Melina sadar bahwa dia baru saja bertabrakan dengan seseorang. Dan sayangnya, orang ini tidak berperasaan, hanya berdiri ditempatnya.


Setelah memungut ponselnya, Melina berdiri dengan perasaan marah yang sudah menggumpal di kepalanya.


"Kaaaaau" teriaknya. mengejutkan semua pengunjung yang berada di dalam disana.

__ADS_1


'Eh? Kenapa dia sangat tampan?' Kemarahan Melina menghilang seketika.


"Kau? Kau berteriak padaku?" tanya orang itu, dengan santainya.


"Baiklah, maaf karena saya berteriak. Tapi, tolong anda tanggung jawab karena telah menyebabkan kerusakan pada ponsel saya" Melina memelas.


Pria itu dengan gaya menyebalkan mengangkat bahu, menyatakan bahwa dia tidak tahu-menahu. "Kau yang menabrakku" ucapnya santai.


"Tapi, anda juga punya mata. Kenapa tidak menghindari saya?" Melina membela diri dengan wajah memohon.


'Untung saja kau terlihat tampan. Kalau tidak, aku pasti sudah... mengacak wajahmu.'


"Maaf, tapi anda juga bersalah disini.. pleasee.. ganti rugi yah!" Melina memohon dengan gaya menjanya.


"Sepertinya bocah ini sengaja cari perhatian" batin orang itu.


"Maaf, itu masalahmu, jadi urus saja sendiri." Orang itu pergi begitu saja, tidak peduli.


"Baiklah.. anda sepertinya memang cari ribut." Melina melemparkan bangkai ponselnya itu dan.. PASSSSSSSS... mengenai punggung pria yang katanya tampan itu.


πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™‰πŸ™‰πŸ™€πŸ™€πŸ™€πŸ™€


Semua orang yang melihat itu, terkejut bukan main.


Merasa ada benda yang menghantam tubuh berharganya, pria itu berbalik dan menatap tajam ke arah gadis pemberani tak punya sopan santun itu.


"Kaauuu... melempariku?"


Karyawan dan pengunjung lain terlihat saling berbisik.


"A... emm.. o.. a.." Melina berubah ke mode gugup, takut dan bingung.


Pria itu kembali mendekat, dengan membawa bangkai ponsel jelek itu ditangannya.


"Ferdo!... Sayang!" Ibu boss butik itu menghampiri Ferdo. Ya.. Ferdo Barata, dan yang menghampirinya adalah mama Fema. siapa lagi.


😳"Jadi, makhluk tampan ini, adalah kekasih ibu bos? Atau suaminya kah? Tamat.. aku akan berakhir!"


"Iya, Ma.." Jawab Ferdo.


"Fix.. mereka suami istri!" Melina hanya bisa membatin.


"Ada apa ini sayang?" tanya Fema.


"Ah.. tidak apa-apa Mah.."


"Tidak apa-apa batokmu! Kau menghancurkan ponselku satu-satunya kamfreet!"


"Oh.. Meli.. kamu baru datang?" Fema beralih ke Meli.


"Iya bu," jawabnya sopan.


'Jadi gadis kasar ini bekerja disini?'


"Ma.. dia bekerja disini?" tanya Ferdo.


"Iya sayang.. dia baru bekerja disini. Kalian mau kenalan? Mell.. kenalkan ini putra saya, Ferdo!" Mama tersenyum manis.


"What??... mereka ibu dan anak? Oh Lord.. sepertinya aku akan ditendang dari pekerjaan ini tanpa dibayar 1 rupiah pun." Melina menatap keduanya bergantian.


"Apa liat-liat.. kau mau bilang apa?" Ferdo menyadari keterkejutan Melina akan hubungan antara dirinya dan mama.

__ADS_1


"Oh.. ah.. maaf.. em.. hai nama saya Melina Bang.."


"Bang bang bang.. memangnya aku tukang ojek?"


'OMG sensi kali ni orang. Jadi aku harus memanggilmu apa? Masss? Belum tentu kau orang Jawa. Panggil Pak? Bisa-bisa kau akan melemparku ke laut. Panggil Tuan? Tidak mungkin. Aku bukanlah pelayanmu.'


"Oh.. iya.. sorry kaak!" ucap Melina, berharap itu adalah pilihan yang tepat.


Pria itu menatap Melina 🀨 dengan menaikkan satu alisnya. "Kaaak? Sejak kapan kau jadi adikku?"


"Ssssuut sut stop.. Kalian berdua kenapa sih? Mama cuma mengenalkan kalian, tapi kenapa bicara harus pake urat begitu?" Mama menatap Ferdo.


"Melina, lakukan pekerjaanmu!.. Ferdo, ayo kita pergi. Fema menyeret putranya seperti seorang anak kecil padahal sudah berusia 27 tahun, tapi masih jomblo.


Sepeninggalan ibu boss membawa pergi putranya, semua teman-teman kerja Melina membuang napas legah. "Mel.. sabar yah.. tapi kenapa kau seberani itu?" Melina hanya diam.


Di perjalanan.


"Fer.. kamu yah, bisa-bisanya bertingkah seperti tadi? Ingat umur.. gadis itu bahkan masih 22.


"Apa? Dia seumuran Marsha?" Ferdo terliha sedikit terkejut.


"Iya.. dia kebetulan seumuran adik kamu. Dia juga cantik, putih, kulitnya terawat, rambutnya bagus. Kalau Marsha ada bersama kita, pasti dia juga seperti Melina." Mama mulai menitikkan air mata.


Ferdo menggenggam jemari ibunya itu. "Ma.. sabar ya... Ferdo akan cari Marsha.."


"Ferr.. apa kira-kira Marsha kita tumbuh menjadi gadis cantik juga? Apa kulitnya terawat? Apa rambutnya masih panjang dan sehat?"


"Maa.. sudah... jangan nangis lagi Ma.."


\=\=\=\=\=


Bolak balik para pelayan membawa gaun untuk Fania untuk dipakainya menghadiri acara yang dimaksud. Akan tetapi, tak ada satupun yang diterima oleh Fania. Gadis itu bahkan tidak mencobanya.


"Maaf, saya sudah bilang, saya tidak mau memakai pakaian tanpa lengan."


"Mengertilah nona. Ini adalah pakaian yang sesuai dengan selera nyonya dan Tuan Ethan."


Fania tetap menggeleng. "Aku tidak mau pakai kalau tanpa lengan."


"Memangnya kenapa? Kau bahkan tidak mencobanya? Apa lenganmu cacat sehingga harus kau tutupi?" Suara Ethan menggema. Entah kapan pria itu berada di ambang pintu kamar.


Degh..


Fania merasa terhina.


"Maaf, tapi saya tidak mau kalau tanpa lengan." keukehnya.


"Pakailah dan aku akan menambah bayaranmu diluar dari yang mamiku berikan. Bagaimana?"


'Apa dia menganggapku mata duitan? '


"Maaf, aku tidak cantik jika memakai pakaian tanpa lengan!" tegas Fania, dengan tatapan datar.


"Siapa yang peduli kau terlihat cantik atau tidak?" ketus Ethan.


.


.


Bersambung*.

__ADS_1


__ADS_2