
"Mel ... jangan memelukku, apa kau tidak takut? aku ini seorang pria normal"
"Untuk apa aku takut dengan pria lemah sepertimu? sama terasi saja kamu kalah,"
"Jadi kau tidak takut aku akan macam-macam?"
"Kenapa? Kau berencana memperkosaku? Kalau begitu, aku pergi dulu untuk ke apotek membelikanmu obat. Doktermu sangat lama."
"Jangan, nanti kalau aku mati gimana?"
"Tenang. Sepanjang sejarah hidupku, aku belum pernah tahu ada orang mati hanya gara-gara alergi!"
"Tidak perlu mencarikanku obat. aku sudah punya injeksi khusus. Kau bisa meracuniku jika memberiku obat sembarangan."
"Obat suntik? Ada? Mana?" Melina segera melepas pelukan tak hangat itu, dengan gesitnya mencari keberadaan obat yang dimaksud.
"Ah... ini dia. !"😉
"Mel, kau mau apa? Mencoba membunuhku? Jangan macam-macam!"
Ferdo bergidik ngeri melihat Melina berjalan ke arahnya membawa botol kecil berisi cairan dan spuit lengkap dengan jarum suntik ditangannya.
"Pasien, harap tenang ya, ini akan sedikit sakit!" ucap Melina, dengan senyum ramah-nya.
"Mel, stop ... jangan!"
"Tenang. Aku mahir melakukan apapun. Sini, ulurkan tanganmu" 😊
"No ... stop."
"Lihatlah kulitmu ... sudah sangat penuh. Kau terlihat mengerikan. Bukankah rasanya semakin gatal?"
"Iya, tapi itu lebih baik daripada kau menjadikanku kelinci percobaan!l Mel,"
'Papaku yang seorang dokter sungguhan aja aku tidak mempercayainya memberiku suntikan. Apalagi kamu yang abal-abal Mel.'
Tok tok tok,
Seseorang tiba-tiba saja sudah berdiri di muka pintu. Dia adalah dokter andalan Ferdo.
"Oh, pak... silahkan masuk."
'Selamat hidupku dari Melina'
Dokter tersebut lalu memeriksakan keadaan Ferdo lalu memberinya obat melalui suntikan.
\=\=\=\=
Di Kediaman Barata.
Ethan dan Marsha sedang duduk berdua di ruang keluarga.
Tap tap tap
Terdengar langkah ringan seseorang dan ternyata orang itu adalah Abner, si bungsu.
Kedua anak muda itu menoleh kearah remaja itu untuk sekedar menyambutnya.
"Eh, ada kak Ethan," Abner memicingkan mata, "Kalian ... sudah jadian?" bertanya dengan tatapan curiga.
"Kau ini, pertanyaan apa itu? Tidak sopan,"
"Kak Marsha, aku cuma mau bilang, seleramu tidak buruk" 🤨melirik Ethan sekilas.
"Apa maksudmu bocah? Menurutmu aku hanya lumayan?" protes Ethan.😒
Bocah itu tertawa ngakak singkat sebelum kembali berkomentar.
__ADS_1
"Kak Ethan, kakakku itu... sangat manja. Aku ... merasa kasihan padamu!"
Abner pun melarikan diri setelah memgomentari dua orang itu.
"Maafkan adikku kak," ucap Marsha.😊
"Santai saja, dia hanya bercanda."
Duduk berdua selama beberapa jam, tidak ada obrolan berarti dari dua orang ini. Mereka hanya bertanya jawab seputar hal yang tidak penting. Mau jalan-jalan juga tidak mungkin.
"Sha,"
"Eh? Ya?"
"Besok, mami undang kamu makan malam di rumah. Sekalian kenalan sama papi, dia ... baru pulang."
"Oh yah? Boleh kak, tapi ... apa kakak akan menjemputku?"
"Tentu saja Sha..."
'Dia lagi-lagi memanggilku kakak. Memangnya aku si Ferdo🤦♂️
.
Tiba di istana keluarga Yared, Ethan mendatangi kedua orangtuanya yang sedang berada di kamar.
"Permisi Mi, Pi,"
"Kau kenapa muncul tiba-tiba anak nakal?
Pasangan suami istri itu merasa dikejutkan dengan kemunculan Ethan. Untung saja tidak sedang dalam posisi bermesraan, mengingat ini pertemuan mereka setelah 2 pekan terpisah jauh.
"Mi ... besok aku mengajak Marsha makan malam disini."
"Benarkah?" Mami antusias.
"Jadi dia bernama Marsha?" tanya Papi, penasaran.
"Iya, tapi, tolong jangan papi tanya dan bahas hal yang tak masuk akal dengannya. Kami baru saja jadian."
Karena malas ribut, Ethan terpaksa berbohong. Lagi pula, dia berencana akan benar-benar menyatakan perasaannya itu setelah makan malam besok.
Kini Ethan berbaring di kasur empuknya. "Ya Tuhan, semoga Marsha membalas perasaanku," gumamnya.
\=\=\=\=\=
Seorang pria tampan mendatangi sebuah kediaman megah yang terletak di negara lain.
"Siapa ... kau?"
"Saya ... Jerry Barata, suami dari putri anda!"
"Oh, jadi ... kau orangnya? Si brengsek gila yang mengacaukan hidup putri berhargaku?"
"Maafkan saya ... Tuan, saya ... benar-benar menyesalinya.!"
"Lalu ... apa tujuanmu mendatangi rumahku?"
"Saya ... datang kesini untuk meminta maaf dan ... memohon izin untuk memiliki putri anda sebagai isteri saya, Tuan."
Benar sekali, Jerry Barata sedang mendatangi kedua orangtua Nagea. Ia rela terbang jauh ke negara lain setelah baru saja pulih.
Menurut pria ini, ia harus bergerak cepat untuk meluruskan masa depannya bersama Nagea yang sedang terlihat suram.
Dengan keyakinan penuh, ia melangkah ke kediaman megah ini, sendirian, tanpa ditemani oleh siapapun. Kedatangannya kesini juga tanpa sepengetahuan keluarganya, termasuk istrinya. Ia hanya mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis ke LN.
__ADS_1
Mama dan Papa mencoba menghentikannya karena khawatir akan kesehatannya, akan tetapi pria ini bersikeras melanjutkan rencananya.
Bisa dibilang, kedatangannya ke sini sama saja dengan mengantar nyawa, karena dari yang ia dengar, ayah mertuanya adalah seorang pria tegas dan konsisten dengan apa yang ia katakan.
Jerry tak peduli dengan apapun hasilnya, yang terpenting sekarang adalah dirinya harus berusaha menunjukkan niat baiknya.
"Ku dengar kau ... baru saja bangun setelah ... seseorang memukulmu! Apa aku perlu menambahnya? Aku rasa ... aku sangat ingin membuatmu hilang ingatan sehingga tidak lagi mengingat putriku." Suara dingin seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya itu, menguasai ruangan.
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan, saya memang seorang pendosa besar dan sangat tidak pantas untuk putri anda. Tapi, saya tidak bisa melepaskan dia Tuan, saya ... ingin bersama dia selama saya hidup di dunia ini."
"Apa jaminannya? Apa jaminannya supaya aku mempercayaimu?"
Pertanyaan yang cukup mengejutkan memang bagi Jerry. Akan tetapi, Nagea adalah segalanya.
"Semuanya Tuan, semuanya. Semua yang saya punya, itu menjadi jaminannya. Saya sungguh-sungguh."
"Kalau begitu, serahkan semua saham dan aset yang kau miliki menjadi atas nama Nagea. Kau berani.?"
Deg.
Meskipun tak menyangka akan mendengar hal itu, Jerry tetap mantap akan maksudnya.
"Ya... saya bersedia, Tuan! Asalkan hidup bersama Nagea." Jawab Jerry mantap.
Pria paruh baya itu memperlihatkan senyum smirk.
"Ternyata ... kau pemberani juga. Ku lihat, tekadmu sangat kuat. Baik, aku akan mempercayakan putriku padamu."
"Yah?"
"Aku dan istriku, sepakat untuk merestuimu."
Deg.
Jerry tertegun.
'Benarkah ini?'
"Kau telah menunjukkan niat baikmu terhadap Nagea. Pria seperti ini yang pantas untuknya. Tapi, kembali lagi pada Nagea, keputusan utama tetap ada di tangannya. Itu hidupnya. Jika dia berkeras tidak menginginkanmu setelah masa 1 bulan ini, kami tidak bisa berkata apa."
"Tuan, Nyonya, terima kasih, karena kalian memgampuni saya," ucapnya, dengan wajah tertunduk sedih, menyesali kesalahannya yang teramat banyak.
Jerry tak kuasa menahan perasaan haru-nya. Pria itu meneteskan airmata dalam posisi wajahnya yang terus saja menunduk.
"Jerry," suara datar itu kembali menggema. "Kau memang telah menyakiti putri kami. Menyakiti hatinya, maupun fisik luarnya." Terlihat pria itu menarik napasnya berat sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kami berdua sangat ingin menghukummu. Akan tetapi, daripada menghukummu dengan cara menyakitkan, kami berdua sepakat menghukummu dengan cara yang lain. Bayar lah semua perlakuan burukmu sebelumnya dengan cara membahagiakan putri kami. Jangan sampai aku mendengar sekalipun putriku itu tersakiti." pria paruh baya itu kembali tegas.
.
\=\=\=
"Ma, apa kamu sudah menghubungi pangeranmu yang mantan penjahat itu?" tanya Juan, saat baru saja tiba di kediamannya.
"Sejak td aku menghubunginya pah, tapi sepertinya dia masih sibuk. Semoga saja, anak itu baik-baik saja. Masih sakit, tetap saja memikirkan pekerjaan.
"Semoga saja ayahnya Nagea bisa menyambut baik kedatangan kita berdua besok. Aku benar-benar ingin segera menyelesaikan masalah anak itu."
"Iya pa, tapi tetap saja kembali ke keputusan Nagea kan papa sayang."
"Hmmmm. Semoga anak itu masih mau memaafkan putra kita." Juan terlihat sedikit memijat pelipisnya sebelum kembali mengatakan sesuatu. "Ma ... bagaimana kalau kita pakai cara lama untuk mempersatukan mereka?"
"Cara lama? Apa itu?" tanya Fema, menatap bingung.
"Teh hangat."
Jawaban Juan berhasil membuatnya mendapatkan cubitan di pinggangnya dari tangan Fema.
__ADS_1
"Ide gila. Apa kau ingin menantumu marah pada kita?"