Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Siuman


__ADS_3

Mami Angel bersama putra semata wayangnya, Ethan, melangkah tegas menyusuri lorong rumah sakit, untuk menjenguk Marsha.


"ini dia ruangannya Mam," Ethan memberitahu.


tentu saja mami Angel segera membuka pintu karena penasaran, apa yang terjadi dengan bakal calon menantunya.


"Loh ... Fania? Fa, Fa, Fania?" Mami segera mendekat.


"Nyonya.. anda datang!" Mama Fema menyapa mami Angel..


"Fe..Fema ... Ethan bilang Marsha, tapi kenapa Fania?"


"Karna.. Marsha yang sebenarnya adalah Fania. Mulai sekarang, panggil dia Marsha."


"Oh,, astaga... Marsha... syukurkah sayang, ternyata ini dirimu." Mami pun membelai rambut gadis yang mungkin saja bakal jadi menantu satu-satunya itu.


.


Sekarang, giliran Ethan yang menjaga Marsha seorang diri. Dengan sabarnya pria itu duduk di samping Marsha, menunggunya bangun. Bahkan, ia sesekali mencuri kecupan pada tangan dan kening Marsha. Benar-benar keterlaluan.


Semantara, posisi mami dan mama Fema saat ini berada di ruang rawat si si pangeran ke-1 yang sedang koma, akibat kalah tempur, bahkan sebelum sempat melakukan perlawanan.


.


Marsha mulai membuka mata. Gadis itu bangun, namun Ethan sedang tertidur dalam posisi menundukkan kepala, dan kedua tangannya sebagai bantal.


Marsha sangat sadar bahwa dirinya sedang menjadi seorang pasien saat ini.


"Siapa ini? Kak Ferdo, ataukah kak Jerry?" tebaknya dalam hati. "Kak, akhirnya ... kita kembali bersama lagi." Marsha menyentuh rambut pria yang disangkanya sebagai salah satu dari kakaknya itu.


"Kaaak ... bangunlah." dengan suara pelan ia membangunkan orang itu.


Merasa ada yang sedang menyentuh kepalanya, Ethan terbangun, membuka mata.


"Kak" suara itu lagi, sontak menbuat Ethan membenarkan posisi duduknya.


"Sha? kamu sudah bangun?" Ia lalu lebih mendekat ke arah gadis itu dan dengan sayangnya kembali mengelus kepala Marsha. "Trima kasih ya ... sudah mau bangun!"


"Kak Ethan?" Marsha tersenyum simpul setelah memanggil nama Ethan lagi, dalam hatinya.


Ceklek.


Seseorang memasuki ruangan Marsha, dan orang itu ialah Ferdo.. "Shaaa?" bergegas menghampiri Marsha. "Kapan kamu bangun Sha?" Menggeser paksa tubuh Ethan, lalu segera memeluk adik perempuannya itu. "Dasar adik nakal, kau berpura-pura tidak mengenal kakakmu selama ini, ha?"

__ADS_1


"Maafkan Marsha kak. Tapi pelan-pelan peluknya, ini masih sakit."


"Ouuuww.. maaf, kakak terlalu bersemangat Sha, lalu, apa ... apa dokter sudah memeriksamu?"


Marsha menggeleng dalam dekapan.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa tidak segera memanggil dokter?" Ferdo melayangkan nada protesnya ke arah Ethan yang dengan gaya coolnya melipat kedua tangan didada. Ferdo lalu menekan tombol yang terhubung dengan tenaga medis.


"So - sorry, aku ... kelupaan." Jawab Ethan.


Beberapa detik kemudian, petugas medis pun datang, lalu Ferdo dan Ethan diminta untuk menunggu di luar.


Sebelum keluar, kak Ferdo sempat-sempatnya memeluk Marsha lagi. "Sayang, kakak senang akhirnya kamu pulang ... setelah ini kakak tidak akan memarahimu seperti dulu lagi. Marsha, kakak sangat merindukanmu."


Marsha mengangguk dalam pelukan hangat sang kakak. "Kaaak ... Marsha juga rindu kakak, rindu kalian semua!"


Ferdo pun menyudahi pelukannya dan mengatakan bahwa dirinya akan menunggu di luar.


Setelah tiba di luar ruang, Ferdo segera mengambil ponselnya untuk mengabari kedua orangtuanya tentang Marsha telah siuman.


Galih, Arnav dan Tomi datang bersamaan untuk menjenguk Marsha, adik dari sahabat baiknya ini. Ketiganya masing-masing membawa bucket bunga ditangan. Berhasil menuai tatapan tak mengenakkan dari Ethan.


"Bro! Aku turut senang karena adikmu yang sesungguhnya sudah kembali." ucap Galih yang memang baru mengetahui akan kebenaran ini.


"Aku? Aku tidak membawa apapun kecuali perasaanku." Ethan menjawab dengan santai. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya sendiri. "Lagipula, kenapa kalian bertiga membawa bunga? Memangnya ini pemakaman?" Mendumeli ketiga sahabatnya.


πŸ™„πŸ™„πŸ˜’"Apa kau tidak pernah menjenguk orang sakit? Sesuatu yang romantis yang harus dibawa untuk orang sakit adalah bunga. Ini bisa buat pasien bersemangat untuk cepat sembuh" sahut si Arnav seraya mencium aroma bunga yang ia bawa.


"Arnav, aku sepakat denganmu," Galih dan Tomi mengangkat jempol bersamaan.


"Ya ... kalian bertiga memang sahabatku yang paling setia" Puji Ferdo, melirik Ethan sahabatnya yang tak tahu aturan satu ini.


"Baiklah, aku akan menelpon sekertarisku untuk membeli bunga. Dimana kalian membelinya?" Ethan mengakhiri tanggapannya dengan pertanyaan, yang tentu saja membuat 4 orang sahabatnya terperanga heran.


"Kau ... bahkan tidak tahu nama toko bunga? Sudah berapa lama kau hidup di kota ini?" Tomi, geregetan.


"Lagipula katamu kau akan meminta sekertarismu membelinya. Kau tak perlu beritahu, seorang sekertaris tahu segalanya Ethan." πŸ™„Galih tak habis pikir.


"Oh ... iya ... kali ini kau benar Gal. .. sekertarisku sangat pintar, dia tahu segalanya." Etan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya dari sana, untuk menelpon sang sekertaris pribadinya.


"Aku memang selalu pintar." celetuk Galih.


Drruuut

__ADS_1


"Halo Pak," jawab si sekertaris dari kejauhan dengan suara malas.


"Vivian, tolong belikan sebucket bunga terbaik yang pernah ada." Ethan memerintah.


"Maaf pak, ini hari jum'at, dan jam kerja sudah habis. Saya sudah di rumah, beristirahat." Jawab Vivian dengan nada sopan. Ia pun mengakhiri telepon.


Ekspresi berbeda nampak di wajah keempat sahabat itu, saat mendengar tanggapan seorang Vivian terhadap bossnya ini.


"Vi..vi..aann" Ethan nampak geregetan menatap layar ponselnya. "Kurang ajar sekali dia. Apa dia sudah bosan bekerja?"


Tap tap tap tap tap..


Terdengar dua pasang langkah kaki yang mengenakan heels, datang dengan sangat buru-buru.


Kelima sahabat itu, tentu saja menoleh bersamaan.


Mami Angel dan Mama Fema muncul dengan wajah sumringah. Betapa senangnya kedua wanita itu setelah mendengar kabar bahwa Marsha sudah siuman.


"Ferdo sayang, bagaimana adikmu?"


"Mah.. dokter bilang dia akan cepat pulih. Dokter baru saja selesai memeriksanya." terang Ferdo.


"Ahhh ... syukurlah ... Ferr ... gimana ini? Apa kira-kira dia mau melihat mama?" Fema merasa tiba-tiba bimbang, tak percaya diri dengan apa yang akan dia katakan pada putrinya, setelah sekian lama anak itu berada jauh darinya. Bahkan pertemuan pertama mereka, bisa-bisanya sebagai ibu yang melahirkannya, Fema tidak mengenali wajah putrinya sendiri.


"Maa ... masuklah ... dia bilang merindukan Mama.."


"Benarkah sayang?"


Ferdo mengangguk.


\=\=\=\=\=


Nagea.


Wanita itu duduk di samping pria tampan yang belum sadarkan diri dan masih berstatus sebagai suaminya itu.


"Kapan kau bangun kak Jerr? Adikmu sudah pulang ... adikmu yang sesungguhnya sudah pulang. Apa kau tidak ingin melihatnya? Bangunlah, dan selesaikan urusan sandiwaramu denganku! Kuharap, setelah kita selesai, jangan ada dendam lagi di hatimu. Jangan lagi menyakitiku. berubahlah jadi lebih baik. Sayangi wanita yang akan menjadi istrimu nanti. Jangan lagi bermain dengan banyak wanita. Setidaknya, hargai mereka seperti menghormati mama. Kau dengar aku kan?"


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2