Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Aku Cemburu


__ADS_3

Ambulance tiba dengan cepat di RS milik papa Juan. Kak Nagea belum nampak akan sadar dari pingsannya. Melina tentu saja merasa khawatir. Para medis segera mengambil tindakan atas ibu dan bayi baru lahir itu.


Lama Melina menatap ke arah jaketnya yang tadi ia gunakan untuk membungkus bayi tampan itu. 'Aku, baru saja menolong kelahiran seorang bayi? Apa aku telah menolong keduanya? Tapi, kenapa kak Nagea menutup mata setelahnya? apa ... aku telah gagal?' Wanita itu pun kini duduk di kursi tunggu yang kosong, dengan rasa takut yang menghinggapi seluruh pikirannya.


"Mel, Mel ... dimana istriku?"


"Mel, kenapa kamu disini? Apa mereka baik-baik saja?"


"Mel, apa cucu mama baik-baik saja?"


Tiga pertanyaan dari kakak ipar dan kedua mertuanya itu tidak mendapatkan jawaban. Melina mematung dengan tatapan kosong.


"Mah, tetap disini, jangan tinggalkan aku," Melina menahan lengan ibu mertuanya.


Seolah tak memperdulikan Melina, ketiga anggota keluarga suaminya itu berlalu meninggalkannya. Entah kenapa, Melina merasa sangat sedih, ia bahkan menangis dalam diam.


'Apa aku mulai diabaikan sekarang?'


Melina memeluk jaket ditangannya lalu berjalan menuju ruang istirahat dokter. Wanita itu merasa saat ini dirinya harus menenangkan diri. Mendapat gejala serangan panik secara tiba-tiba, mengharuskan Melina untuk lebih baik jika beristirahat sejenak, agar keluar dari perasaan tak jelas yang merasuki hati dan pikirannya.


....


"Sayang," Jerry mendekati Nagea yang masih terpejam. Pihak medis menjelaskan bahwa istrinya itu tidak apa-apa, hanya sedikit syok.


Tak lupa pria itu mengecup sayang wajah istrinya berulang kali, mengungkapkan rasa syukurnya, betapa bahagianya karena wanita yang dicintainya itu telah melahirkan seorang malaikat kecil untuk keluarga Barata.


"Papi,"


"Sayang, kamu bangun?"


Kembali pria itu menghujani kepala istrinya itu dengan siuman kasih sayang. "Maafkan aku sayang, aku tidak di samping kamu saat sedang berjuang"


Nagea tersenyum. "Papi, dimana baby kita?"


"Ada sayang, sebentar baby akan di antar kesini. Sayang, dimana yang sakit? Apa masih terasa sakit?"


Nagea menggeleng pelan.


"Lalu kenapa kamu tidak temani dia? Dia masih kecil sayang."


"Tenang, ada mama dan papa sayang. Lagi pula dia sedang berada di dalam inkubator biar hangat."


"Papi, dia baby yang tampan atau cantik?"


"Dia tampan sayang. Sepertiku. Maaf ya sayang, tidak menemanimu saat kamu berjuang lahirkan bayi kita."


Lagi-lagi, Nagea tersenyum lebar. "Tidak apa-apa. Yang penting baby kita sehat dan selamat."


CEKLEK


"Wah wah wah, yang sudah jadi mami papi sibuk berpelukan. Ikuuuuut."


"Eh, Marsha,"


Marsha menghambur ke arah pasangan bahagia itu dan memberi pelukan selamat secara bergantian. Sedangkan Ethan, suaminya itu hanya berdiri mematung, membiarkan istrinya beraksi.


Ceklek,

__ADS_1


pintu kembali terbuka. Ternyata orang yang baru saja datang adalah Ferdo. Ia pun turut memberi ucapan selamat pada dua orang yang baru saja resmi sebagai orang tua itu.


"Mana Melina?" tanya Nagea dan juga Marsha bersamaan.


"Melina? bukankah dia yang menemani kakak ipar sampai ke rumah sakit?" tanya Ferdo.


"Iya, tapi kemana dia? Kenapa tidak muncul lagi setelah aku bangun?"


Ferdo pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dan mencari keberadaan sang istri.


Tak lama, muncul pula beberapa orang, yakni dua orang perawat bersama mama dan papa yang dari awal selalu mengawasi cucu pertama mereka.


"Nagea, sayang! Kamu tidak apa-apa?" Mama Fema terlihat begitu legah karena menantu pertamanya itu sudah bangun.


Kembali Nagea mendapatkan ucapan selamat yang sangat menyentuh dari keluarga besar suaminya. Bisa dibilang, Nagea adalah wanita paling beruntung saat ini. Seluruh keluarga membuat hati wanita itu selalu merasa senang setiap hari, sejak kehamilannya ia selalu dimanja, apapun yang ia inginkan selalu tersedia hingga kini sudah melahirkan seorang putra dengan bobot 4.2kg dan panjang badan 52 cm.


Beralih ke Ferdo.


Tidak ingin membuang waktu lama, Ferdo mendatangi ruang pemantau CCTV karena ponsel Melina tidak bisa ia hubungi.


Dari layar monitor Ferdo dapat melihat raut wajah tak biasa istrinya beberapa jam lalu.


'Kenapa dia terlihat aneh?' batinnya.


Ruang Istirahat. Kesanalah Ferdo untuk bertemu dengan sang istri.


Ceklek.


Ruangan sepi seperti tak berpenghuni. Tampaklah Melina duduk termenung di atas ranjang susun dengan sebuah buku ditangannya.


"Sayang," Ferdo menyapa.


"Kenapa kamu disini? Semua orang sedang berkumpul bersama bersama si bayi."


"Benarkah? Tapi ... aku ... sudah melihatnya. Aku yang pertama kali melihatnya." Melina tersenyum lebar.


"Cieee, istriku hebat. Aku bangga sama kamu sayang. Kamu bahkan belum jadi dokter kandungan tapi sudah berhasil menolong persalinan darurat." memeluk istrinya. Ferdo terlihat sedang menghibur istrinya yang seoerti sedang galau.


"Apa kira-kira suatu hari aku juga akan melahirkan?"


"Sssuuuut. Sayang, jangan pesimis. Kita masih usaha kan,"


"Katanya kamu tokcer, tapi mana? Kok lama?" Melina memanyunkan bibir.


"Sengaja. Biar kita pacaran aja dulu puas-puas. Hmm, tunggu. Aku harus ngomong dulu sama baby.


Ferdo duduk di ranjang kecil itu lalu meminta Melina berdiri dihadapannya. Untuk kesekian kalinya, pria itu bertingkah lucu berbicara dengan perut rata istrinya. "Hai boy, girl, kapan kalian akan hadir? Kenapa lama sekali membuat papa menunggu? Emmmuah, mmmuuah, ayolah, tumbuhlah sayang ... mumpung papa ini masih kuat dan sehat. Hmm?"


Tak ada yang bisa Melina lakukan selain menikmati tingkah Ferdo yang menggemaskan itu.


Pasangan itu kini berjalan bersama untuk mengunjugi baby boy.


...


"Selamat yah kak, sudah jadi mami sekarang" ucap Melina tulus.


"Mel, kami yang berterima kasih padamu. Kamu sangat membantu. Kamu yang terbaik." jawab kak Nagea. Tak hentinya ibu baru satu itu mengatakan terima kasih pada Melina.

__ADS_1


"Karena kita semua ada di ruangan ini, aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting"


"Yah?"


Kompak seluruh keluarga itu mengarahkan pandangannya ke arah Marsha.


"Sayang, kamu aja yang bilang." bisik Marsha pada suaminya.


"Ehm. Begini. Istriku ... sedang mengandung"


"Apa? Ethan, kamu serius? Mama tidak salah dengar kan?"


Ethan tersenyum bangga lalu mengangguk.


Tentu saja ini adalah kebahagiaan luar biasa bagi keluarga itu, terutama mama Fema.


"Ya ampun, putriku sudah benar-benar dewasa. Kamu akan jadi ibu juga sayang. Mama sangat senang." Memeluk erat putri satu-satunya itu dengan wajah berbinar. Seperti biasa, papa dan dua abang-nya juga ikut memberi ucapan selamat untuk Marsha dan sudah pasti bergantian memeluk adik kesayangannya.


Melihat itu, lagi-lagi Melina merasa rendah diri. Saat orang lain sedang larut dalam perasaan bahagia untuk Marsha, dirinya keluar ruangan untuk menyendiri.


'Kenapa aku merasa begini? Aku tidak boleh seperti ini. Bahkan saat sahabatku berbahagia, aku tidak berdaya memberinya ucapan selamat. Aku merasa seperti orang jahat.'


"Mel," seseorang duduk di samping Melina dan menyapa dengan lembut.


"Ma ...,"


Sepertinya mama Fema mengerti akan kondisi hati menantunya satu ini. Ia raih sebelah tangan Melina lalu mengatakan sesuatu yang otomatis membuat Melina mengeluarkan airmata.


"Jangan pernah bersedih karena semua ini sayang, kamu tetap seorang istri tercinta untuk putra mama. Tidak ada yang menyalahkan kamu atas situasi ini. Itu yang harus kamu ingat."


"Ma ... Aku cemburu saat Marsha dan kak Gea mendapat pelukan semua orang. Maukah mama memberiku pelukan juga?" Melina menatap lurus mata mama dengan mata berkaca.


Permintaan Melina tentu saja dikabulkan oleh mama mertuanya yang sangat baik itu.


"Maafkan aku Mah, aku belum bisa membahagiakan keluarga." Melina terisak dalam pelukan hangat mama Fema.


"Ssuuut, iya Mel, tak apa ... Mama tidak marah sama sekali, sayang." Fema megurai pelukan dan memberikan senyum hangatnya untuk menenangkan Melina. Dengan jarinya ia hapus airmata istri pangeran kedua-nya yang sedang galau berat.


"Sayang, kamu disini? Aku cari kemana-mana ternyata sama mama disini, Mel? Kamu kenapa sayang? Mama marahin istriku?" menatap mama dengan tatapan curiga.


"Untuk apa mama memarahinya? Kurang kerjaan. sudahlah, Fer lebih baik kamu ajak jalan-jalan istrimu. Sepertinya dia masih syok pasca lahiran darurat kakak ipar kamu itu." Mama lalu pergi.


"Sayang, aku lapar." keluh Melina kemudian.


"Oke, kita cari makan yuk, abis itu aku mau makan kamu."


"Oke, aku juga kengen sama kamu sayang."


"Ya? Tumben Mel."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2