Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Kepulangan Marsha


__ADS_3

Juan: Thor!😑


Fema: Thor!😦


Author Chantik: Iya Om, Tante! kompak banget manggilnya?


Juan-Fema: Pulangin anak gadis gueeee!🤨🤨


Ethan: Iya nih Thor, pulangin cepat sebelum perasaan gue ke dia keburu ngilang.😑


Author: curhat aje lu Than..


\=\=\=\=\=


"Terima kasih atas kehadiran anda-anda semua, saya.. sangat bahagia, diulang tahun kali ini, keluarga saya mendapat kado terindah yang luar biasa." Mama Fema melirik si sulung dan istrinya, dengan senyuman yang penuh arti. "Seorang menantu yang begutu cantik dan baik hati, telah dianugerahkan kepada kami. Nagea, sini sayang!"


Nagea pun mendekati ibu mertuanya dengan perasaan gugup, namun tetap tersenyum senatural mungkin. "Ini dia, menantu kami bernama Nagea Feronica. Akhirnya, saya merasakan serunya bersama seorang anak perempuan lagi setelah kehadirannya." jelas mama.


Semua yang hadir disana seketika bertepuk tangan, ikut bahagia.


"Mell.. bilang sama bu boss, kamu menantu berikutnya!" Melina kembali di goda oleh teman-temannya.


.......


"Harapan saya setelah ini adalah.... mendapatkan cucu pertama dari mereka..!! Bisa kan sayang?" Mama kembali menatap Nagea dengan senyum bahagianya.


'Duuuuh.. hentikan ini Mah.. cucu? Yang benar saja.. tolong jangan ngelantur! Mungkin saja diluar sana cucu mama sudah bertebaran dimana-mana dari wanita-wanita kesayangan putramu!' Nagea hanya sanggup tersenyum, tanpa berani mengiyakan harapan ibu Mertua.


Netra Nage dan Jerry tak sengaja bertemu. Entah kenapa, Nagea seperti melihat senyuman diwajah suaminya itu yang sedari tadi menatapnya. 'jangan buru-buru senang Nagea, bisa saja itu seringai jahat. Kau tidak akan mendapat senyum tulus dari suamimu!'


Moment demi moment berlalu. Inti dari acara ini pun telah usai.


"Faniaaaa?" Seorang wanita elegant menghampiri Fania.


"Oh... tante?" Fania pun tak menyangka bertemu lagi dengan tante baik hati ini.


"Sayang... tante merindukan kamu!" Wanita yang adalah Mami Angel itu, memeluk Fania, tanpa dibalas oleh gadis itu.


Saat sedang memeluk Fania, Mami melihat putra tunggalnya yang berada tak jauh dari mereka. "Ethan!" panggilnya, lalu pria itu menoleh.


'Mami, siapa lagi yang dipeluk mami ini?' Ethan mulai curiga, melihat punggung belakang orang itu. Ia lalu berjalan menghampiri Mami.


"Ini, Fania juga ada disini ternyata.." mami menjelaskan tanpa ditanya oleh anaknya. Ethan hanya mengangguk. Sedikit penasaran, kenapa ada Fania di acara ulang tahun tante Fema. Tapi, untuk apa juga pria itu ambil pusing?


'Dimana Melina? Lama sekali? Idola sudah di depan mata nih Mel, dimana kamu?' Fania membatin, sembari mencari keberadaan sahabatnya itu yang sedang mengurus beberapa hal bersama teman sekerjanya.


"Hai...." sapa Fania kepada Ethan.


"Oh.. Hai.." jawab Ethan, seadanya. 'Dia bahkan tidak terlihat canggung setelah meninggalkanku malam itu? Dasar tak berperasaan.' Ethan membatin, pandangan matanya tak lepas dari Fania. Gawatnya pula, mami Angel melihat itu dan merasa sangat senang.


'Ni anak sepertinya minta dijodohkan paksa dengan Fania, tinggal bilang suka aja susahnya. Selalu saja Marsha jadi alesan.'


“O.... M....G..! Ethan..?” suara melengking milik Melina tiba-tiba mendominasi, tatkala melihat sang idola di depan mata.


Mami yang asik memikirkan suatu rancangan dikepalanya, terbuyarkan karena teriakan seorang gadis yang meneriaki nama putranya.


Ferdo yang sedang berbincang dengan beberapa tamu, menoleh dong? Pria itu lupa jika gadis kasar itu juga pastinya menghadiri acara ini bersama-sama dengan seluruh pegawai butik mama.


“Apaan dia?” gumam Ferdo. Pria itu lalu permisi dari beberapa orang yang berbincang dengannya. Dia merasa sangat harus menemui gadis kasar itu.


“Faniaaaaa! Ini Ethan kan?” Melina sama sekali tidak menyadari kehebohan yang dirinya ciptakan, mengundang perhatian beberapa orang. Eit, bukan lagi beberapa. Banyak orang yang kini menatap ke arah mereka dengan berbagai ekspresi diwajahnya.


Orang-orang yang hadir disana pastinya bukan orang kelas biasa yang ketika melihat Ethan harus berteriak dengan wajah berbinar seperti Melina. Apalah daya Melina yang hanya seorag penggemar yang hanya bisa melihat Ethan didalam layar ponsel atau televisi.


Sebelum Melina semakin menggila, Fania segera membisikkan sesuatu ke telinganya. “Mell.. tolong biasa aja, jangan terlalu heboh. Semua orang lagi mandang kita gara-gara kamu!”


“Haaaaah?” Melina segera tersadar. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Benar... banyak yang sedang menatapnya. 'Ya ampun, apa tingkahku sudah berlebihan? Dasar, Melina.. kau pasti terlihat seperti ABG yang kekanak-kanakkan'


“Jadi gadis ini adalah teman Fania yang mengidolakan Ethan!” tebak Mami Angel dalam hati.


“Ini pasti sahabatnya Fania yang mengagumiku!”


(Ethan)


Menyadari kehebohan yang ia ciptakan di pesta ibu bossnya ini, Melina menampilkan senyuman ramahnya seraya mengatupkan kedua tangan, sebagai permintaan maaf telah merusak suasana.


“Tante.. ini sahabat saya, namanya Melina.. Melina, dia tante yang aku tolongin waktu itu.” Fania segera memperkenalkan sahabatnya itu kepada mami Angel, guna mengalihkan perhatian orang-orang pada Melina.


“Hai Melina, senang ketemu sama kamu.. ternyata.. kamu cantik juga seperti Fania!” ucap Mami, ramah. “Dan.. pria yang bernama Ethan ini adalah . .. anak saya” sambung tante dngan senyum percaya dirinya.


“Waaaaaaah.. kebetulan sekali,” walau pun dengan volume terkontrol, tapi wajah kagum Melina tak dapat ia sembunyikan. “Hai.. Ethan!” Melina mengulurkan tangannya untuk menyalami sang idola.


Sebagai idola yang tidak sombong, Ethan mengulurkan tangannya seraya melirik Fania sekilas. 'Gila, dia terlihat santai saja bahkan saat temannya menatapku dengan liur hampir menetes!'


“Hai.. Melina, Aku Ethan!”


“Iya.. aku sdah tau Ethan!” dengan wajah stay sumringah, Melina masih saja betah menahan jemari Ethan, tak rela rasanya di lepas.. ini adalah hadiah besar dalam hidupnya.


Memi Angel, tak henti-hentinya membaca situasi. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat putranya itu selalu melirik Fania. Tangannya memang menyalami Melina, akan tetapi pandangan matanya menyoroti Fania. 'Shhh.. dasar anak nakal. Sudah sangat jelas ia menyukai Fania.'


“Ehmmm.” Seseorang berdehem mengagetkan.


Melina seketika menarik tangannya yang sedari tadi tak rela melepas Ethan, dan sayangnya Ferdo melihat gelagat anehnya. 'ya ampun, kenapa aku merasa seolah sedang ketangkap selingkuh?'


“Hai Ferdo..” Ethan menyapa.


Ferdo membalas sapaan Ethan seraya melirik Melina. Sementara Melina, salah tingkah bukan main.

__ADS_1


Apa kabar Fania? Gadis itu mengalihkan perhatian ke handphone pintarnya. Sibuk menscroll sosial media miliknya. “Kenapa kak Ferdo harus kesini?”


“Hai.. nyonya.. anda datang! Terima kasih!” Fema menghampiri Mami Angel.


'Oh, No.. Mama? boleh kah aku menatapnya' Fania terus membatin, sembari menatap ponselnya.


Akhirnya, selagi mami Angel dan mama Fema asik saling sapa, Fania memberanikan diri menaikkan wajahnya. 'Ma... seneng deh, lihat mama dari jarak ini.'


“Ferdo, Ethan, kalian berdua, mana hadiah buat mama?? Eh.. Melina? Kamu disini?” mama Fema melirik Melina dan Ferdo bergantian.


'Wah, jadi bu boss juga mengenal Ethan? Sungguh terlalu, idolaku sangat dekat denganku selama ini.' (Melina sibuk melanjutkan kekagumannya).


Akhirnya, dengan senang hati Melina mengucapkan selamat ulang tahun kepada bu bossnya itu serta menyerahkan kado, lalu memperkenalkannya kepada Fania. “Saya datang dengan sahabat saya bu, namanya Fania.. Fania, ini bu boss aku!”


“oh, Aaa... selamat ulang tahun ibu! Saya Fania!” kedua orang itu pun saling berjabat tangan. Tak lupa, Fania juga menyerahkan kadonya seperti yang dilakukan Melina.


Deg.


“Teman kamu Melina? ...” Mama Fema dan Ferdo yang berada disitu menatap Fania, tanpa berkedip.


Ya.. karena sibuk mencuri-curi pandang ke arah Melina, Ferdo tak menyadari keberadaan Fania.


Suasana dingin menyelimuti hati dan perasaan Fania, seolah ada seseorang yang sedang melihat gerak – geriknya. Ia pun menarik tangannya kembali.


“lya, kami sama-sama dari kampung bu!” terang Melina.


Ferdo terus menatap Fania terang-terangan dan itu berhasil mengganggu konsentrasi Ethan, begitu juga dengan Melina.


'Dia terlihat mirip dengan adikku' (Ferdo)


“Mata Gadis ini seperti milik Marsha.. aku merasa melihat Marshaku lagi.” (mama Fema)


Tiba-tiba....


.


.


“Mama!”


Deg...


Seorang gadis yang bisa dibilang cantik, baru saja memasuki rumah besar ini dan memanggil nama “Mama” lalu mendekati Fema.


“Ma... Marsha pulang Ma...!” ucap gadis itu, dengan raut wajah kasihan.


Kado yang baru saja Fania dan Melina berikan ke Fema, terjatuh begitu saja dari tangan wanita itu.


“Marsha?”


Dengan napas yang terasa berat, Fania menatap kado yang ia berikan tergeletak begitu saja di lantai, nyaris terinjak oleh setiap kaki yang melintas.


Fema merasa tubuhnya bergetar.. ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya akan keajaiban ini. Mama tak pedulikan apapun lagi, ia lalu memeluk gadis itu. “Marshaku! Marshaku...!”


Semua mata kini tertuju hanya kepada gadis itu.


“Dari mana saja kamu sayang....?” tanya mama.


Papa Juan dan anak-anaknya yang lain pun mendekat. Kecuali kakek Mahendra, entah berada dilaut bagian mana orang tua itu saat ini.


Gadis yang mengaku sebagai Marsha itu pun menceritakan koronologi kejadian menghilangnya waktu itu, yang berujung amnesia tidak mengingat apapun selama ini.


“Karena Marsha sudah kembali mengingat kalian, apakah Marsha masih boleh pulang Ma?” tanya gadis itu dengan nada menangis.


Dalam sekejap, keharuan memenuhi seluruh ruangan. Seluruh anggota keluarga Barata menghampiri gadis itu.


Jerry, pria itu seketika melepas tangan istri yang sedari tadi ia genggam, lalu menghampiri adik perempuannya. Lama Nagea menatap tangannya yang baru saja menyelesaikan sandiwara pasangan bahagia dengan sang suami, di depan para tamu.


'Akhirnya, Marsha pulang? maka, kami akan berakhir kan?' Nagea membuang napas legah, namun terasa sangat berat.


Disisi lain.


Mami Angel mengarahkan pandangannya ke sosok putra tunggal yang berdiri disebelahnya. “Itu.. Marshamu sudah pulang, Marsha yang kau tunggu sudah datang!” batinnya.


Pria itu hanya tersenyum getir menatap sosok Marsha.


........


“Marsha.. Maafkan kakak Sha,.. maaf karena kakak tidak menjaga kamu!” Jerry dan Ferdo memeluk gadis itu bersamaan. Keluarga itu tak henti-hentinya menangis terharu, termasuk gadis itu.


Satu-persatu tamu telah keluar dari rumah besar itu untuk pulang ke rumah masing-masing.


“Mell.. kau kenapa ikut menangis?” tanya Fania kepada sahabatnya yang ikut-ikutan menangis melihat drama itu.


“Dasar wanita tak berperasaan, kau tidak terharu? Tentu saja aku menangis karena terharu! Lihatlah semua orang.. mereka sibuk menangis sepertiku. Setidaknya berpura-puralah menangis!” Melina kembali mengusap airmatanya.


'hah.. terharu? Kenapa aku harus terharu saat aku merasa kesal?' Batin Fania.


“Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini Mel.. kau tidak melihat orang-orang bubar?” Fania dengan santainya mengajak Melina untuk pulang ke istana kecil mereka.


“I—ya, ayo pulang, tapi.. am..bil itu dulu..” Melina menunjuk hadia pemberian yang masih tergeletak di lantai.


“Kenapa? Kau ingin membawanya kembali pulang mel?” tanya Fania, dengan maksud bercanda.


“Tentu saja.. aku sudah membayar mahal demi hadiah itu. Jadi jika bossku tidak membutuhkannya, lebih baik kita bawa pulang.” jelasnya, dengan nada terbata-bata karena kembali menangis.


“Cissss.. kau terdengar lebih tak berperasaan dari pada aku!” ledek Fania, lalu melangkah menyeret Melina dibelakangnya, memungut hadiah terabaikan itu.

__ADS_1


“Permisi ibu, hadiah ini tercecer.” Fania kembali menyodorkan dua hadiah kecil itu ke hadapan Fema. Wanita itu pun menerimanya dengan senang hati.


“Ayo Mell,” Ajak Fania kepada Melina.


“Tunggu, Fania!” Melina menghentikan langkahnya. setelah mereka sudah melangkah beberapa Meter.


“Apa lagi?”


“Aku ingin tandatangan Ethan dan berfoto dengannya!”


“Haaah? Mel.. haruskah sekarang?” Fania bertanya heran.


“Iya.. aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini jika aku melewatkan kesempatan!”


“Astaga... Pergilah, aku menunggumu disini.”


“Tapi aku malu.. maksudku, kau yang memanggilnya utukku Fania.. tolonglah.. jika kau berhasil, aku tidak akan memintamu bayar sewa rumah bulan ini.. bagaimana?!” Melina dengan tatapan penuh harapnya.


“Ya ampun, baiklah Mel,” keduanya pun kembali mendekat ke arah Ethan yang kini sudah bergabung dengan keluarga barata beserta maminya. Dan tak enaknya lagi, Ethan kini sedang memeluk Marsha yang sangat ia rindukan itu.


Tamu yang lain sudah menghilang karena sudah bubar, tapi kedua gadis ini malah masuk kembali dengan tidak tahu malunya.


“Permisi...” Demi Melina, Fania terpaksa merusak momen manis antara Ethan dan keluarga Barata.


Tentu saja Fania menjadi sosok yang menui sorotan mata keluarga itu saat ini.


'Siapa gadis ini? Kenapa aku merasa pernah melihatnya?' batin Nagea.


'mau apa dia? Apa dia keberatan melihatku bersama Marsha?' (Ethan).


Fania kembali melangkah mendekati Ethan dan gadis yang katanya Marsha itu.


“Maaf, tapi .. temanku.. membutuhkan tanda tanganmu di buku ini. Dan.. dia ingin berfoto denganmu! Maaf, ini buru-buru karena sudah sangat malam dan kami berdua harus pulang!” Terang Fania, jujur apa adanya.


'What? Dia menemuiku ternyata demi sahabatnya itu?'


Mami terlihat tersenyum geli melihat kekonyolan Fania. “gadis ini memang pemberani, unik, lucu dan sedikit polos!” batinnya.


“Permisi semuanya, saya akan selesaikan urusan dengan dua orang ini dulu!” terang Ethan kepada semuanya.


Tidak hanya sekali jepret, Melina dengan tak berperasaan meminta Fania menjepret dirinya bersama Ethan berulang kali.


Ferdo yang melihat itu dengan sangat jelas, merasa ada api yang sedang membara di dalam tubuhnya. "Haahh.. ada apa denganku? Sepertinya perasaannku mulai tidak beres!" batinnya.


Makin kesini, Ethan mulai tak fokus. Bukannya melihat ke lensa kamera, matanya malah sibuk memandang Si fotografernya, yakni Fania.


"Ethan, kendalikan perasaanmu.. ingat, Marsha sudah pulang!" Ethan membatin.


Puas dengan hasil jepretan gambar dirinya dan Ethan, Melina akhirnya mengajak Fania pulang. Keduanya pun berpamitan dan pergi dari sana.


Sebelum benar-benar pergi, Fania menyempatkan diri untuk kembali melihat sekilas ke arah keluarga Barata yang tengah berkumpul di ruang tengah dengan wajah bahagia mereka, karena kepulangan Marsha.


\=\=\=


Keesokan paginya.


"Ferdo!"


"Yah?" Ferdo yang hendak menuruni tangga lantai dari lantai 2, mendengar panggilan Negea.


"Tolong bantu aku, lepaskan kalung ini!" Lalu ia berbalik membelakangi Ferdo.


"Diamana suamimu? Kenapa kau harus merepotkan aku?" Meskipun protes, Ferdo tetap membantu.


"Kau kan tahu hubungan seperti apa yang kami jalani. Kenapa harus bertanya.? Dia tidak akan sudi membantuku untuk hal seperti ini."


"Tapi aku salut. ternyata dia sangat berbakat. Semua yang dia lakukan padamu di depan mama Papa terlihat sangat natural!"


"Aku tidak sabar ingin cepat mengakhiri sandiwara ini Ferdo.. Setelah ini, aku tidak mau lagi ada kaitan apapun dengan kakakmu. Berada di dekatnya saja aku rasanya susah untuk bernapas, apalagi berbicara. Sekarang adikmu sudah pulang, itu artinya aku akan terlepas dari kakakmu. Besok, aku akan pergi.."


"Kusarankan supaya kau memikirkannya lagi Nagea.. pikirkan mama papa yang pastinya akan terluka."


"Ferdo, kakakmu pasti punya wanita yang dia sayangi, dan itu bukanlah aku. Aku tidak bisa hidup dengan pria yang seperti itu selamanya. Aku tidak tahan menyiksa perasaanku Ferdo."


Nagea terdiam, tak bisa meneruskan perkataannya. Benar, dirinya tidak pernah memikirkan perasaan mertuanya. Nagea hanya memikirkan perasaannya sendiri.


Keduanya tidak menyadari bahwa ada orang yang mendengarkan perbincangan nereka.


\=\=\=


Setelah kepergian Melina ke kampus, Fania bangun dari pura-pura tidurnya.


"Orang ini benar - benar ingin mempermainkan keluarga Barata. Aku tidak akan takut lagi dengan ancamannya. Apa katanya? Siap meledakkan kepala kakakku? Hah.. orang sepertinya hanyalah pengecut.. hanya bisa bersembunyi. Aku yakin dia hanya ingin menonton drama keluargaku."


Marsha benar-benar merasa geram. Pasalnya, orang jahat itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


"Mami Angel, ya.. aku sepertinya membutuhkan dia"


Marsha mencari kontak Tante Angel yang baru di dapatnya tadi malam.


.


.


Bersambung gesss.


Selamat menjalankan bulan Ramadhan ya dears...

__ADS_1


yang kuat puasanya, lancar selalu. Amin.


__ADS_2