
Di Lampu Merah.
(Kenapa dibilang lampu merah si thor? kan ada ijo sam koneng juga?😎)
Seorang pengamen mendekati mobil Juan dan mulai memainkan gitar mengiringi suara emasnya. semua orang sudah sangat hafal dengan pengamen satu ini. Sepertinya, dia memang menguasai daerah sini. Juan membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah kepada pengamen itu.
"Ini... pulanglah karena sepertinya akan turun hujan."
"Terima kasih tuan.. semoga rejeki anda semakin ditambahkan." Juan pun mengangguk.
"Papa, bukannya itu sangat banyak?" Fema bertanya dengan maksud mengkritik pemberian Juan yang menurutnya sangat berlebihan.
"Ya?.... Ma.. kamu menghitungnya?" Menatap heran.
"Tidak. Tapi, kulihat kamu memberikan semua uang yang ada di dalam dompetmu." dengan nada setengah protes.
Upsss.. lampu berganti ke warna hijau.
Juan lalu kembali menginjak pedal sembari menyentuh jemari istrinya itu dengan tangannya. "Kalau jadi aku, kamu akan kasih berapa memangnya?"
"Emmm.. satu lembar saja mungkin, aku juga sering ngasih untuk pengamen, paling banyak satu lembar uang biru, mereka sudah sangat senang."
"Sekecil atau sebesar apapun pemberian kita, asal kita memberikannya atas dasar syukur dan dengan hati yang ikhlas, percayalah.. semua itu akan mendatangkan kebaikan Mama sayang."
"Iya... iya.. ngerti."
"Nah.. kalu tahu, lain kali jangan protes lagi yah"
"Iya Pa.. maaf yah! Ternyata... suamiku seseorang yang suka berbagi!"
Tiba di apartemen.
__ADS_1
"Mamaaa... Papaaaa... " suara manja milik Marsha menyambut kepulangan Juan dan Fema.. sudah pasti anak itu berlari kearah keduanya.
"Pa... Marsha rindu Papa..." dan yang dipeluk lebih dulu tentulah Juan.
Dua orang remaja itu juga turut serta menghampiri kedua orangtuanya ini. Hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan secara sukarela. Keduanya menyalami tangan Fema bergantian. Berhasil membuat Fema terheran-heran. "Apa dua anak ini sedang kesambet?"
"Eh... anak kecil.. kau sangat lama memeluk Papa.. apa kau lupa pada Mamamu?" Protes Ferdo. Sedangkan Jerry, biasalah, hanya diam.
Tak di sangka, Marsha menggeleng kepalanya di pelukan Papa. "Sabar kakak, Marsha masih mau dipeluk Papa. Kalau mama, bisa Marsha peluk sepanjang malam."
Mendengar itu, Ferdo merasa jengah🙄.
"Kau sangat serakah. Gantian! Minggir! Sudah berani melawanku? Tidak mau jadi adikku lagi?" dengan nada ketus. Ferdo mengancam.
"Iya... maaf kakak." melepas pelukan.
Ferdo dan Jerry menyalami Juan bergantian. "Fer.. jangan biasa ketus pada adikmu." Juan memperingati dan hanya di jawab dengan hmmm oleh Ferdo.
"Kalian baru pulang?" suara berat seseorang tiba-tiba terdengar.
"Iya... aku datang untuk menagih janjimu Juan."
"Iya Pa... aku mengerti."
"Kalau mengerti, malam ini juga, kemasi barang-barang yang ingin kalian bawa. Jangan lupa ajak juga si Sum itu." Perintah Mahendra.
"Baiklah, kalau begitu.. anak-anak, kemasi barang-barang kalian. Besok, pulang sekolah langsung ke rumah kakek."
Jerry - Ferdo menuruti dan segera melaksanakan perintah.
"Juan, Fema.. ikuti Papa.. ada yang mau Papa bahas dengan kalian."
__ADS_1
Di kamar Juan.
Kakek Mahendra yang sudah tidak muda itu mulai mengatakan maksudnya.
"Tidak terasa, ini sudah bulan ke tiga pernikahan kalian. Apa... sudah ada tanda kalian akan memiliki anak?"
"Anak?" ucap Juan dan Fema, bersamaan.
🤨"Pertanyaan macam apa ini? Kita bahkan baru hari ini mencetaknya."
"Ah...aku lupa.. kalian berdua sepakat menjalani pernikahan konyol ini hanya selama 4 bulan."
"Pa... kami berdua--"
"Iya... tak apa Juan, bercerailah bulan depan. Itu yang kalian inginkan dari awal."
"Pa.. sepertinya Papa harus mendengarkan kami dulu"
"Tidak perlu menjelaskan apapun Fema.. Papa.. sudah cukup senang, kamu mau menjadi menantu Papa walau hanya dalam waktu singkat. Jadi... untuk itu, sebelum benar-benar berpisah, mari tinggallah dengan Papa. Jangan lupa untuk mengemasi barang-barang dan pindah ke tempat Papa mulai besok." Mahendra pergi begitu saja setelah menyampaikan maksudnya. Pria tua itu pergi dengannmenyunggingkan senyum usilnya.
.......
Brukkk..
Seseorang menutup pintu kamarnya dengan kasar. Orang itu adalah Jerry. Remaja tampan irit bicara itu melampiaskan kekesalannya pada pintu kamarnya. Tak sengaja ia mendengarkan pembicaraan kakek Mahendra barusan, mengatakan tentang pernikahan singkat antara papa dan ibu tiri yang mulai disukainya itu.
"Baru saja aku ingin membuka hatiku untuk mereka.. tapi apa? Mereka akan pergi dari kehidupan kami?" Jerry tertunduk sedih.. airmata anak itu benar-benar keluar dari tempatnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Guys... trima kasih banyak telah memfav serta mendukung cerita ini😊🙏