
Tok tok tok...
Ceklek..
Jerry Barata yang tampan itu membuka pintu dan langsung bertatapan dengan wajah sumringah seorang wanita yang belakangan ini membuat wajah datarnya sesekali menyunggingkan senyum kecil.
Fema menyodorkan nampan agar Jerry mengambil salah satu gelas. Anak itu pun mengambilnya tanpa mengatakan apapun.
"Ehm... kata pelayanmu, kamu menginginkan susu hangat bikinan mama ya.." (Fema, dengan nada PD miliknya, menggoda Jerry).
"Aku tidak bilang begitu." (Jerry berlagak tak memgakui)
"Ah yang beneeer?..." goda Fema.
"Untuk apa aku berbohong?"
"Akui saja kalau iya Jerr.. Mama tidak keberatan"
"Bikinan dia tidak enak."
"Lagi pula bukankah itu tugas tante?"
"Dan sangat wajar jika seorang anak menginginkan makanan atau minuman buatan ibunya."
Uhhhuuu...
Jerry, anak itu tidak menyadari apa yang baru saja dia katakan. Ucapan tegasnya berhasil membuat jantung Fema berpacu lebih cepat.
"Oke, baiklah, itu hal yang wajar. Masuklah dan beristirahat." suruh Fema. Ia benar-benar senang saat ini. "Akhirnya, anak itu pasti akan segera menerimaku.. aku sangat yakin.."
Kembali kedalam kamar, remaja yang dinginnya bagaikan gunung es itu, meneguk habis susu hangatnya.
"Aaaaaaaaaaa.. hmmm.. bikinan mama memang yang terbaik." Anak itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuknya dengan berbaring terlentang.
"Mamaa... Mama... Mamaa?" Jerry bergumam, mengulangi kata mama dengan mulutnya.
"Ah... susah sekali memanggilnya dengan nama itu."
Kini, Fema sudah berada tepat di depan pintu kamar Ferdo, dengan senyum yang 100 kali lebih mengembang dari sebelumnya. Bagaimana tidak, ia baru saja mendapatkan tambahan energi positif dari si putra sulung.
Setelah mengetuk pintu, sang pemilik kamar pun membukanya.
__ADS_1
Wajah cantik Fema langsung disambut oleh wajah mengkerut milik si tampan Ferdo Barata.
"Kenapa tante senyum-senyum?"
Anak labil itu mengira Fema sedang menertawainya.
Fema tidak menjawab apapun, melainkan hanya menyodorkan segelas susu ke arah si Tuan Muda kedua itu. Anak itu pun memgambilnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setidaknya, meskipun selalu jutek, anak itu masih memiliki tata krama, tau berterima kasih.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Waktu pertandingan bela diri yang diikuti oleh Jerry akan dilaksanakan 3 hari lagi. Belum ada perkembangan yang berarti dalam hubungan antara Fema dengan kedua anak itu. Meskipun setiap malam wanita itu tidak pernah absen untuk membuat dan mengantarkan susu hangat untuk keduanya.
Dari sikap keduanya, Fema dapat mengerti bahwa kedua remaja itu memang membutuhkan Fema tetapi bukan sebagai ibu melainkan hanya sebatas pembuat susu hangat yang handal. Ibarat seorang penjual yang memiliki pelanggan tetap. Namun bedanya disini, Fema tidak dibayar.😑.
\=\=\=
Di Butik.
Waktu menunjukkan pukul 11.00. Barusan, Juan mengabarkan pada Fema bahwa dia akan menjemput istrinya itu untuk makan siang bersama.
Tok tok tok.
"Masuk!"
Ceklek.
Ternyata seseorang yang datang adalah Jerry. Fema berdiri dari duduknya.
Jerry mendekat dan berdiri berhadapan dengan mama tirinya itu. Meja kerja mama sebagai pembatas.
"Jerr? Tumben? Duduk nak!" (Berusaha terlihat santai)
"Tidak perlu.. saya kesini hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Ya?" Fema merasa gugup.
"Kenapa tante berbohong?"
"Apa maksud kamu Jerr?"
"Tante bilang akan menunggu kami menerima tante. Kenapa harus mengatakan itu kalau pada akhirnya tante akan meninggalkan kami!"
"Jerr... Mama--"
__ADS_1
"4 bulan kan? Berarti 1 minggu lagi tante akan pergi?"
"Kata siapa? Jerr.."
"Bisakah tante tunggu sebentar lagi? Aku sama Ferdo masih berusaha.. tinggallah dengan kami dan tetaplah jadi istri papa.. tepati janji tante.. tante bilang ingin jadi mama untuk kami selamanya.. tepatilah itu.. jangan pergi..!"
Jerry, anak itu berkata-kata dengan nada bergetar, menatap lurus mata ibu tirinya, serta wajahnya yang begitu kasihan.
Fema menghampiri anak itu dan mengambil kedua tangannya. "Sayang, Mama.. tidak pernah berniat sedikitpun untuk pergi! Mama,,, akan tetap sama.. menjadi Mama untuk kamu, Ferdo dan Marsha."
Mendengar pengakuan langsung dari Fema, entah kenapa rasanya Jerry benar-benar ingin menangis. Lihatlah, air matanya saja sudah meluncur dari tempatnya. Melihat itu, Fema memberanikan diri memeluk anak itu. Tidak ada protes, tidak ada penolakan.
Setelah dirasanya cukup, Fema mengusap air mata nakal yang mengganggu ketampanan si anak sulung itu. "Hei.. tubuhmu bahkan sedikit lebih tinggi dari Mama. Kenapa kamu cengeng!"
Jerri menggeleng kepala. "Aku tidak menangis. Hanya airmata ku saja yang ingin keluar!"
Drrruuut drrrrut drrrut.
"Ya Papa sayang?"
"Ayo jalan"
Tuut tuut tut..
Sesaat, Fema menata kesal ke arah ponselnya.
"Jerr, Papa dan Mama mau lunch diluar.. mau ikut?"
"Tidak perlu.. aku akan pergi bersama teman-teman dan pelatih. Tiga hari lagi aku akan tampil dalam pertandingan bela diri!" (datar)
"Oke sayang, mama ingat. Kalau begitu, mama duluan yah, papa kamu tidak bisa menunggu lama."
"Iya.. aku akan keluar sebentar lagi. Tidak apa kan, aku berada di sini?"
"Iya.. kamu boleh berada di sini selama apapun." Fema lalu pergi membawa perasaan bahagianya🥰.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Guys.. dimanapun kalian berada, tetap jaga kesehatan ya.. 😊😊😊