Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Serangan Mendadak


__ADS_3

Melina: Thor.. Kenapa? kok bete gitu mukanya?


Thor Cantekz: Abisnya, ga ada komen di part kemarin😑.


Ferdo: Halah.. kirain ada apa thor!🙄


\=\=\=\=\=


“Eh?” Melina sedikit kaget mengetahui ibu bossnya, eh salah, mantan ibu bossnya berada di dalam mobil. “Hai Ibu..” sapanya, hormat. Melina duduk di kersi belakang, sedangkan Ferdo dan mama di depan.


“Fer, kamu yakin, mama sama Melina tidak perlu tukaran tempat?” dengan nada sedikit menggoda putranya. Fema hanya ingin  melihat reaksi sang pangeran.


“Apaan si Mah.. tukaran segala” gumam Ferdo, lalu kembali


menjalankan mobil.


“Yakin kamu?”


“Ma... mulai de”


“Hmmmm oke!”


\=\=\=\=\=\=


“Nageaaa.. Nageaaa..” nama itu keluar dari mulut Jerry.  Dalam keadaan matanya yang masih tertutup, ia


memanggil nama Nagea.


Ceklek.


Nagea baru saja masuk ke ruangan itu setelah barusan menemui


dokter.


“Nageaaaa”


DEG


Nagea tercekat. (Dia ... memanggilku barusan?)


“Nagea!!”


Nagea spontan membekap mulutnya sendiri. (Dia... sudah bangun?)


Dengaaan langkah bergetar dan rasa was-was wanita itu mendekat.


(Matanya tertutup! Dia tadi menyebut namaku kan? Hah.. karena terlalu membenciku, dia bahkan mengingatku disaat seperti ini!)


“Nagea sayang..”


(Hei... kau bahkan berakting saat sedang sekarat?)


Nagea melambai-lambaikan tangannya diatas wajah pria itu.


Tiba-tiba


Tangan pria itu menagkap tangan Nagea, lalu dengan pelan ia membuka matanya.


“Ehhh?” (dia benar-benar bangun?)


“Sayang.. kamu disini!” Jerry mengatakan itu dengan wajah tersenyum dan suara pelan.


Bukannya mengatakan apapun, kedua mata Nagea masih stay melotot menatap wajah Jerry, karena masih terkaget.


 “Tatapan apa ini? Kenapa sepertinya kamu tidak mengharapkan suamimu ini membuka mata? Kamu lebih senang jika aku mati ya sayang?”


(Otakmu memang sangat pintar! Kau tau apa keinginanku. Benar sekali, aku sudah lama mendoakan kau menghilang dari muka bumi ini!)


“Ah... sayang sekali, sepertinya tebakanku benar!”


CUP


Jerry mengecup lembut tangan istrinya itu. “Maafkan aku ya sayang.”


(Eh? Kenapa lagi dia?)


“Nageaa.. aku sangat mencintai kamu!” ucap Jerry.  Membuat ekspresi istrinya itu semakin terlihat


tak percaya.


Ya.. pria itu tidak ingin menunda untuk mengatakan apa yang dia rasakan. Ia harus segera membuka lembaran yang benar-benar baru dengan


istrinya ini.


(Cinta? Hah! Apa otakmu sedikit tergeser dari tempatnya? Apa wajahku terlihat seperti salah satu dari wanita jalangmu?)


“Akuu ... akan memanggil dokter”


Jerry tak menyangka, hanya kalimat itu yang keluar dari bibir istrinya.


Wanita itu pun menekan tombol untuk memangggil petugas medis. “Dokter akan datang. Aku akan tunggu diluar!”


Tapi,


Lagi-lagi pria itu menahannya. Kali ini, dia berhasil meraih tubuh ramping istrinya itu, memeluknya dari belakang, dalam posisi berdiri.


Jerry bener-benr tidak ingin membiarkan istrinya itu menjauh. “Sayang, I Love You” Pria itu, menangis.


Nagea hanya mematung. Namun, air matanya pun ikut keluar dari tempatnya. Entah perasaan apa yang kini ia rasakan. Ia bahkan mengepalkan


kedua tangannya seperti sedang menahan suatu gejolak.


\=\=\=\=\=\=


Marsha Agatha.

__ADS_1


Gadis itu sedang berjalan pelan, masih mengenakan pakaian


pasien. Entah gadis itu mau kemana. Dia terus saja berjalan dan menemukan pintu


lift lalu masuk kedalamnya. Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah tiba di depan


pintu besar yang tertutup rapat. Wah ternyaya.. dia ingin mendatangi kantor


ayahnya itu.


Tok tok tok.


Ceklek.


Marsha membuka pintu setelah mengetuknya.


“Papaaa!”


“Marsha?” Papa Juan berdiri dari kursi kebanggaannya, lalu menghampiri putrinya.


Grep..


“Pah, aku kangen Papa!” memeluk erat Juan.


Juan tersenyum menanggapi. “Jadi.. kamu kesini hanya karena


merindukan Papa?” Juan membalas pelukan itu.


“Hmmm” gadis itu mengangguk  dalam dekapan papa.


(Ya... kau memang putriku yang telah hilang. Kau masih tidak


berubah, selalu mendatangiku ke ruangan ini)


\=\=\=\= ruangan rawat Marsha\=\=\=\=


Mama Fema yang datang bersama Ferdo dan Melina, hampir saja


panik saat tidak melihat Marsha di ruangannya ini. Beruntung seorang perawat


datang dan menjelaskan bahwa gadis itu tadi pamit untuk pergi ke ruangan sang


ayah, dr. Juan Barata.


(Jadi... ayahnya Marsha seorang dokter dirumah sakit ini?)


batin Melina.


“Ma.. dia pasti sedang  mengulangi  kebiasaan lamanya dulu.” Kata Ferdo, mengingat kelakuan manja sang adik saat masih bocah.


Tak lama, muncul pula Ethan, dan lagi-lagi membawa bunga


ditangannya, untuk kesekian kali. (Dasar monoton, sangat tidak kreatif) “Eh,


kau datang lagi, apa kau berniat memindahkan toko bunga kesini? Ini bukan


Pfffffft. Melina reflek tertawa.


“Memangnya aku harus bawa apa lagi? agar dia cepat sembuh,


jadi aku membawa bunga. Bukankah itu yang kau ajarkan?” ujar Ethan, polos.


“Ahhh. Terserah kau saja.”


Ferdo mengalihkan pandangannya ke wajah Melina. “Kau sedang


menertawaiku?”


“Bukan.. aku hanya tertawa karena kamu terdengar lucu.!”


“Ha?.. apa kau anggap aku ini komedian gratisan?”


Terjadilah perdebatan kecil antara kedua orang itu. Tak ingin


menjadi obat nyamuk, Ethan pun keluar ruangan dan duduk di kursi yang ada


disana.


(Kira-kira kapan aku akan mengungkapkan perasaanku


terang-terangan padanya? Kenapa dari gelagatnya, dia tidak meresponku dengan


baik? Hmm.. pelan-pelan saja!)


“Kak Ethan?” suara Marsha memanggil.


“hei Sha..” Ethan berdiri dari duduknya dan menghampiri Marsha.


“kenapa berkeluyuran? Memangnya sudah sehat?” tanyanya perhatian.


“yah, seperti yang terlihat kak.. bunganya, buat aku?”


Marsha bertanya disertai dengan senyum malu-malu. Entah ini sudah bucket


keberapa, tapi... Marsha seolah belum terbiasa. Jantungnya terasa deg degan


setiap kali Ethan mendatanginya dengan membawa bunga yang berbeda.


“Ya.. tentu saja ini buat kamu Sha..” menyerahkan bucket tersebut.


Marsha menerima bucket tersebut lalu menciumnya. “Hmmmmmmm..


wangi sekali kak, kakak tau  selera para wanita!”


“Apa? Aku tidak terima kamu bilang begitu. Wangi itu khusus

__ADS_1


dubuat untuk kamu. Bukan dari toko bunga, tapi---“


Grep.


Marsha tiba-tiba memeluk Ethan, sampai-sampai pria itu tidak sanggup menyelesaikan perkataannya.


Deg deg, deg deg, deg deg.


“Terima kasih banyak kak, kamu memang selalu baik sama aku!”


(Ya Tuhan.. apakah tidak apa-apa kalau aku membalas pelukannya?)


“Sama-sama Sha...” Ethan pun, pelan-pelan membalas pelukan


itu.


.


Di dalam ruang Rawat Marsha, Ferdo dan Melina hanya berdua


saja karena mama sedang menjenguk kak Jerry.  Akhirnya saling diam-diaman setelah melewati


proses perdebatan. Ferdo mulai gelisah, sementara Melina, santa- santai saja


sambil terus memainkan ponselnya.


(Ponsel itu dia terima dari pemberian aku, tapi kenapa


wallpapernya adalah foto berdua dengan pria lain? Ini sungguh tidak adil..


Tunggu! Apa dia menyukai Ethan? Ah.. sudah jelas.. bukan hanya menyukai, tapi


dia tergila-gila pada Artis kekurangan job itu!) Ferdo mendumel dalam hati


sembari mengingat wajah sumringah melina ketika memandang idolanya, Ethan. (heh.. dia pasti sedang memandang wajah Ethan yang ada di ponselnya! Sial..)😒


Melina berdiri hendak melangkah keluar.


“Mau kemana?” tanya Ferdo, dengan sikap acuhnya.


“Aku ingin cari udara segar. Lagian adikmu itu kenapa lama sekali!”


“Tunggu, ayo sama-sama.. aku juga ingin keluar!” Ferdo merasa panik memikirkan Melina yang akan bertemu Ethan yang berada di luar ruangan itu. sungguh meresahkan. Pria itu pun melangkah mendahului Melina.


😳😳 Upsss..


Ferdo tak menyangka akan terkejut melihat pemandangan di


depannya. Ethan dan Marsha sedang dalam posisi berpelukan dan itu sudah pasti


akan menyakiti Melina jika melihatnya.


CUP


Ferdo berbalik dan reflek menyosor bibir cantik Melina yang memang tengah berada persis di belakang tubuhnya, bermaksud menghalangi


pandangan gadis itu, agar tidak patah hati melihat sahabat dan pria yang dia sukai sedang berpelukan.


Melina yang mendapat serangan tiba-tiba auto melototkan kedua matanya dengan tatapan bingung.


Deg deg, deg deg!


(Maafkan aku Mel).


(ke,,na..pa.. dia menciumku?)


JLEB. Melina, Pingsan.


Bagaimanapun juga, ini namanya serangan mendadak dan ini


adalah ciuman pertama seorang Melina. Tentu saja gadis itu terkejut bukan main.


Beruntung Ferdo dengan sigap menangkap tubuh Melina, sehingga


gadis itu tidak terbentur ke lantai.


“Mel.. Mel.. bangun Mel.. kamu kenapa?”


Suara panik Ferdo membubarkan Marsha dan Ethan. Keduanya pun


masuk dengan langkah tergesa..


“Kak, Melina kenapa? Dan.. dan.. kenpa kalian berdua ada


disini? Sejak kapan?” Pikirn Marsha sudah menjalar kemana-mana, memikirkan


acara berpelukannya barusan yang mungkin saja disaksikan oleh kakaknya. (Mati aku)


“Dia pingsan Sha! Apa dia punya riwayat penyakit jantung?” tanya Ferdo.


“Tidak, dia sangat sehat.”


“begini saja. Pastikan keadaannya, panggil dokter atau bawa


dia ke ruang gawat darurat!” saran Ethan.


Tanpa pikir panjang lagi, Ferdo segera membawa Melani di


gendongannya. Kebetulan seorang perawat melintas sambil mendorong brankas


pasien dan Ferdo pun dengan cepat mendorong Melina menuju ruang emergensi. (ya ampun.. dia tidak akan mati kan? Ternyata membiarkannya sakit hati lebih baik daripada dia harus pingsan begini.)


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2