Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Harapan Kakek


__ADS_3

Perkataan kakek disambut gelak tawa sesisi ruangan, kecuali Ferdo dan Melina, yang masih dilanda ketegangan.


“Kakek tidak menghinamu. Tapi,itu adalah kenyataan. Beruntung masih ada gadis cantik yang mau denganmu. Melina, selamat datang di keluarga Barata. Kakek menyambutmu untuk menjadi pendamping cucu kakek. Semoga, kalian berdua bisa bertahan lama, menikah hingga punya anak.” Tutur sang kakek panjang lebar. Kini, sejoli itu saling melempar senyum dengan tatapan penuh arti.


“Dimana anak nakal itu dan istrinya? Berani-beraninya dia menikah tanpa mengundangku.” kakek melanjutkan pertanyaannya menanyakan keberadaan pangeran ke satu. Papa Juan pun menjelaskan bahwa Jerry dan Nagea belum bisa segera pulang ke Tanah Air dikarenakan Jerry masih menjalankan perannya sebagai menantu yang baik dan kini sedang membantu pekerjaan Ayah mertuanya di Thailand.


“Begitukah? Baik, aku akan menelponnya.” Kakek mengambil ponselnya dan menghubungi Jerry melalui video call.


Drrruuut drrruuut drrruuuut.


Jerry baru saja masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang berkemas.


“Kakek? Tumben sekali orang tua ini main Video call?”


Jerry pun menjawab panggilan kakeknya itu.


“hai kek, apa kau sehat?” tanya Jerry, basa-basi.


“Aku sangat sehat. Memangnya sejak kapan kau tahu aku penyakitan?”


“Iya, baiklah, aku tahu kau sangat sehat kek. Aku akan beritahu kakek sebelum bertanya, pekerjaanku sangat lancar, berkembang dengan sangat baik. Tentu saja kakek masih bisa keliling dunia berapa kalipun yang kakek mau, dan akan ku sponsori. Bahkan, belilah kapal pesiar jika kakek ingin.” Tutur Jerry panjang lebar.


“Kali ini, bukan itu yang ingin aku dengar Jerry,”


“Lalu, apa kek, bukankah hanya itu yang kakek ingin tahu?”


“Dimana istrimu? Aku ingin mengenal cucu baru-ku.”


deg.


“Istri? Oh, dia ... dia sedang tidak di dekatku kek,” Jerry berbohong. Padahal, kini dirinya sedang menatap sang istri.


Setelah membuang kasar hembusan napasnya, Nagea menghampiri Jerry, duduk di sampingnya, membuat pria itu terlihat salting.

__ADS_1


“Hai kek, ini saya, Nagea kek.”


“Oh, Nagea... jadi kau adalah istri dari cucuku, ternyata pria itu tau cara memilih wanita. Kau, sangat cantik Nagea, senang berkenalan denganmu.” Basa-basi si kakek, padahal ia telah melihat Foto Nagea sebelumnya.


“Iya kek, saya juga senang berkenalan dengan kakek.”


“Nagea, kakek sekarang sudah pulang dari libur panjang. Kalau bisa, pulanglah sesegera mungkin, bisa kan?”


Nagea tersenyum lalu menjawab kakek dengan kata “Iya”


“Nagea, terima kasih karena sudah mau menjadi istri dari pria tidak menyenangkan itu. Kakek bangga padamu. Semoga ... kalian berdua selalu bahagia seperti sekarang dan segeralah berikan cicit sebelum kakek keburu meninggalkan dunia ini.”


‘Cicit? Astaga. Yang benar saja. Malam pertama aja belum’ Jerry membatin.


(ya itu Nagea yang belum pernah MP bambang, situ mah 1000 malam pun udah).🤨


“Iya kek, panjang umurlah. Jangan lupa jaga kesehatan yah kek,” balas Nagea.


“Sudahlah, kek, bahas yang lain saja.” Celetuk Jerry, yang mulai merasa tidak nyaman.


Wajah kakek pun menghilang dari layar ponsel milik Jerry yang masih berada pada genggaman Nagea.


‘Gimana cara balikin hp ini ke dia? Dia lagi natap intens pula, bener-bener ya, ni orang,’


Akhirnya Nagea meletakkan ponsel itu asal, lalu kembali melanjutkan aktifitas berkemasnya.


“Nagea, kamu, berkemas hendak kemana?” Jerry memberanikan diri untuk bertanya, menuntaskan rasa ingin tahunya.


“Besok aku akan ke Korea Selatan, temani mama dengan Marsha.” Hanya itu jawaban yang Nagea ucapkan, namun membuat Jerry merasa sangat bahagia. Istrinya ini sepertinya tidak sedang berada dalam bad mode andalannya. Dari nada bicaranya sama sekali tidak terdengar ketus.


“Oke, baiklah kita akan berangkat besok. Aku, sama kamu.” Setelah mengatakan itu, Jerry membaringkan tubuhnya dan masuk kedalam selimut.


\=\=\=\=

__ADS_1


Kembali ke kediaman Barata, Melina dan Marsha sedang berada di kamar milik Marsha, ceritanya sih, mereka berdua ingin menghabiskan malam bersama karena Marsha akan berangkat esok hari dan dalam waktu yang cukup lama keduanya tidak akan bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini lagi.


“Mel, besok kan kak Ferdo bakal ikutan antar aku sampai ke Korea. Kenapa, kamu ga ikut aja sih Mel?”


“Ya ampun Sha, untuk apa juga aku ikut kemanapun dia pergi? Bisa – bisa aku dipenggal sama bapak ibukku kalau bertingkah kayak gitu Sha. Lagi pula aku ga punya paspor kali Sha”


“hehehehe. Tapi yakin nih? Gak kangenin kak Ferdo?”


Tok tok tok.


Ceklek, pintu terbuka.


“Nah, yang diomongin langsung datang Mel, stop kak,” Marsha memberi aba-aba pada abangnya itu untuk berhenti. “nah, silahkan lanjut, aku mau sembunyi.” Sambungnya lagi, kemudian masuk ke dalam selimutnya.


Ferdo hanya menggeleng sembari tersenyum melihat tingkah pengertian adiknya itu.


“Kenapa kesini?” tanya Melani, berbasa-basi.


“Pengen liatin pacar aku lah.” Semakin mendekati Melina.


“Sssssh ... gombal.”


CUP.


Ferdo memberi kecupan pada dahi Melina.


"Mel, sepertinya aku, makin kesini, makin jatuh cinta terus sama kamu Mel," ucap Ferdo, dengan tatapan sendunya.



"Selama aku jauh, kamu jangan nakal yah, aku akan terus hubungi kamu. Awas kalau kamu berani gak jawab panggilanku."


"Iya, iya... aku paham" hanya itu yang dikatakan Melina, lalu tersenyum menatap Ferdo.

__ADS_1



'Duuuuuuu, mereka so sweet banget si? Bikin aku baper aja deh.' gumam Marsha pelan, dari balik selimutnya.


__ADS_2