
Keesokan harinya...
Kediaman Kakek Mahendra.
Juan dan keluarga kecilnya baru tiba pada sore hari. Mahendra meminta semua pekerjanya untuk mengangkat barang-barang kepindahan keluarga Juan barata itu.
"Kakek, benarkah selama ini kakek tinggal dirumah seluas ini sendirian?" Marsha bertanya dengan wajah kagumnya. Yang anak kecil itu dengar adalah kepindahan mereka ke rumah kakek yang bagaikan istana ini karena kasihan kakek tinggal sendirian.
"Iya sayang.. dan sekarang kakek sangat bahagia karena anak dan cucu kakek akhirnya ikut tinggal disini. Apa lagi sekarang ada Marsha ini. Kakek sangat senang." jawab Mahendra.
Marsha sangat senang karena kakeknya ini sangat baik dan menerima dia dan mama sebagai bagian dari keluarga Barata.
"Anak-anak, kamar kalian bertiga ada di atas sudah dalam keadaan siap. Pelayan, antar cucuku ke kamar mereka." perintah Mahendra.
Kakek satu ini keren. Bahkan masing-masing cucunya memiliki pelayan pribadi, termasuk Marsha. Orang tua itu benar-benar telah mempersiapkan segalanya.
Fema merasa kagum pada mertuanya ini. "Berapa banyak uang yang dia punya? Pelayan dirumah ini berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing. Berapa uang yang harus dia keluarkan untuk membayar pekerja sebanyak ini?"
..........
"Aku mau melihat kamar Marsha dulu yah.." Fema pamit kepada Juan dan ayah mertuanya.
"Iya Ma..." Juan mengangguk.
"Ma katamu? Juan, kamu memanggil istrimu dengan sebutan apa? Maa?" tanya Mahendra, memicingkan mata, ingin mendengar jawaban Juan.
"Haa? aku? bilang apa?... Pa... namanya Fema.. jadi wajar aku menyebutnya Ma.." berusaha terlihat polos.
"Cih... berkilah... sepertinya kalian berdua tidak akan bercerai dalam 4 bulan."
"Pa.. pernikahan itu hanya bisa dipisahkan oleh maut. Siapa yang berani bercerai? Kami tidak akan cerai.. nambah dosa saja." menjawab enteng.
"Hah... takut dosa atau kau memang takut kehilangan istrimu?.... hahah... tapi, apapun itu, bagus jika kalian tidak bercerai. Trima kasih nak."
Juan hanya mengangguk seraya tersenyum. Benar yang dikatakan orangtua ini. Juan tidak ingin kehilangan istrinya.
"mandi dan bersiaplah dulu. Kita akan makan malam sebentar lagi." Juan pun mengiyakan lalu pamit ke kamar miliknya.
Di kamar Marsha.
Cklek.
"Kakak?" Marsha sedikit heran karena dua kakaknya ini yang mendatangi kamarnya.
__ADS_1
"Pelayan, keluar dulu.. kami berdua ingin bicara dengan Marsha" (Ferdo)
"Baik Tuan Muda" pelayan pun keluar.
"Apa kata pelayan? Tuan Muda? sejak kapan kakak berganti nama?" Marsha membatin, merasa heran mendengar itu.
Kedua remaja itu mendekati Marsha dan melipat kedua tangan di dada.
"Eh... anak kecil kau sudah kelas berapa?" tanya Jerry.
"Sebentar lagi akan naik kelas tiga kak" jawab Marsha dengan bangga.
"Berapa umurmu?" tanya Ferdo.
"Sudah melewati 8 tahun kak"
"Cih.... rupanya kau sudah besar tapi masih ditemani saat tidur?" (Ferdo)
Marsha menggaruk kepala bingung.
"Memangnya ada apa kak?"
"Mulai sekarang jangan minta ditemani mama lagi. Kau bisa minta ditemani pelayanmu. "Ferdo.
Marsha seketika mengedipkan matanya beberapa kali. Pasalnya, dirinya tidak pernah meminta mama tinggal di kamarnya.
"Iya.. kak, ngerti!" Marsha masih terlihat bingung.
Tok tok tok..
Ceklek... Pintu kamar Marsha terbuka dan masuklah Fema.
"Mamaaa!"
"Sha? Jerrr? Ferr? Tumben?"
"Ma... eh... Tante, kenapa ke kamar Marsha?" (Ferdo)
"Bukankah tante seharusnya tinggal di kamar yang sama dengan Papa?" (Jerry)
"What? Apa yang ku dengar ini? Apa aku sedang di prank?" Fema membatin.
"Ayo ikut, kita antar ke kamar papa di bawah.." Ferdo melangkah dan menggandeng tangan mama tirinya itu, seolah memaksanya harus ikut.
__ADS_1
Fema yang masih bingung karena sedikit terkejut, hanya diam.
Jerry mengikuti mereka dari belakang. Sebenarnya dirinya juga ingin memegang tangan Fema yang satunya, tapi dia tidak seberani Ferdo. "Jangan harap tante bisa meninggalkan kami" batin remaja pendiam itu.
Sementara Marsha, dia hanya menatap kepergian ketiga orang itu sambil bergumam. "Ada apa dengan kakak? Kenapa tiba-tiba mengomeliku soal itu?"
Tok tok tok.
Tak ada respon dari Juan sebab pria itu sedang mandi.
Ceklek...
Ferdo membuka pintu bersamaan dengan Juan yang keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang dada. Hanya ada handuk berwarna putih melingkar di perutnya.
Fema melebarkan mata merasa sedikit terkejut melihat pemandangan ini.
"Kalian bertiga?" Juan menatap heran, ada angin apa ketiga orang ini mendatanginya bersamaan.
"Uuuh... benar-benar waktu yang tidak tepat" batin Fema.
Juan melihat ke arah tangan Ferdo yang masih menggenggam tangan Fema. Menyadari akan hal itu, Ferdo melepaskan tangan Mama tirinya itu dengan salah tingkah.
"Pa... kami berdua mengantar istri Papa ke kamar ini. Mulai hari ini, biarkan tante dengan Papa di kamar ini." (Jerry)
Juan melipat tangan di dadanya. "Iya.. memang benar.. siapa yang bilang dia tidak tinggal di kamar ini?" jawab Juan dalam hati.
"Jadi... begitu kah? Kalian berdua tidak keberatan?" Juan bertanya dengan wajah pura-pura polos.
"Tentu saja tidak. Tante... tinggallah dengan Papa mulai sekarang!. Ayo kita keluar kak,"
Kedua remaja itu pun menghilang di balik pintu.
"Wah... sepertinya... anak-anak itu juga ingin segera memiliki adik baru," Juan tersenyum menggoda ke arah istrinya.
"Eittt.. stop.. jangan menatapku begitu."
"Kenapa?? Mama Sayang, takut terpesona ya!"
.
.
Dan... Bersambung.
__ADS_1
Thanks guys..