
'Aku tidak pernah mengira pangeran dingin ini bisa semanja ini padaku. Ya Tuhan.. aku merasa semakin bahagia. Biarkanlah kami bersama selama mungkin ya Tuhan,'
"Mama sayang? Jerry kenapa?" Juan akhirnya menyusul isterinya karena tak kunjung kembali ke ruang makan.
"Pah.. dia demam."
"Demam? Baiklah aku akan menghubungi dokter."
Meskipun dirinya seorang dokter, tapi kedua anaknya itu tidak mempercayai kemampuan ayahnya, lebih mempercayai dokter pribadi.
"Pah.. minta koki buatkan bubur sayang."
"Ma... maunya buatan mama"
"Jerr? Kamu bangun sayang? Pengen makan apa nak?"
"Bubur Ma..."
"Ya sudah.. Mama sayang buatkan buburnya. Biar papa yang temani dia."
"Maunya ditemani mama.. jangan kemana-mana ma."
"Terus?"
"Bagaimana Mama mau masak untukmu kalau dia tidak boleh keluar dari kamar ini Jerr? Kau tidak jelas." Juan setengah membentak.
"Pah... jangan membentaknya. Dia sakit!"
"Maaf mama sayang.. tapi dia tidak jelas."
Jerry hanya diam. "Astaga.. ada apa denganku? Benar kata papa, aku tidak jelas. Apa kecerdasanku jadi menurun gara-gara sakit?"
10 menit kemudian, dokter pun datang. Karena sang dokter sedang memeriksa Jerry, maka Fema dengan segera menyelinap ke dapur untuk bertempur dengan alat masak, membuat bubur spesial untuk si pangeran tampan yang sedang sakit.
Di kamar Jerry.
Marsha, Kakek Mahendra dan juga Ferdo juga bergegas ke kamar Jerry setelah mengetahui bahwa dia sedang sakit.
"Pantas saja kakak tidak ikut sarapan bersama. Ternyata kakak sakit?" (Ferdo).
"Dokter, kakakku sakit apa?" tanya Marsha tak sabaran.
"Jangan dulu menanyakannya. Nanti pak dokter bisa salah diagnosa." Seperti biasa, Ferdo selalu protes pada apa yang Maraha katakan.
"Diagnosa itu apa kak? Baru dengar!" Bukannya diam, Marsha malah bertanya pada Ferdo.
"Kau sudah kelas berapa? Diagnosa saja tidak tahu"
"Kelas 2 kak" jawab Marsha dengan wajah polos.
"Cih.. biasanya kau akan menjawab sebentar lagi kelas 3. Jangan bertanya lagi. Kau tidak perlu tahu apa itu."
ππ"Baiklah kak!"
"Dia hanya kelelahan. Jadi, biarkan dia banyak istirahat maka dia akan sembuh. Ini Vitamin untuknya dan obat penurun panas. Berikan setelah dia makan." jelas dokter.
"Gawat. Kalau bocah ini tidak segera sembuh, bisa-bisa istriku akan menghabiskan malam dikamar ini. Lihat saja tadi, dia bahkan tidak ingin berjauhan dengan Fema."
Juan mengangguk paham setelah membatin.
"Jadi cucu saya tidak perlu di bawa ke rumah sakit?" tanya kakek.
"Tidak perlu Tuan Mahendra." jawab dokter mantap.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dokter keluarga yang belum diketahui namanya itu pun pamit untuk pergi. Kakek mengantarkan kepergian dokter.
"Mama dimana?" tanya Jerry.
"Kak, sepertinya mama sedang memasak sesuatu untukmu." jawab Marsha. Boca perempuan yang masih ingusan itu mendekati kakaknya dan meletakkan tangan kecilnya pada kening Jerry. "Aduh kak, fuh fuh fuh,!" Maraha meniup-niup tangannya. "Kak.. kepalamu sangat panas." serunya, dan di sambut oleh gelak tawa Papa Juan.
"Marsha.. ternyata kau bisa melawak juga" ucap papa memuji kelucuan Marsha.
π"Cah... Marsha kau sangat berlebihan. Apa Jarimu terbakar?" ketus Ferdo.
Kali ini, Jerry ikut tertawa, walau pun hanya seadanya. Ngakak bukanlah gayanya.
"Buburnya datang" Fema muncul membawa semangkuk bubur dan segelas air mineral.
"Ma..." Jerry seketika bangun dari baringnya.
"Ini sayang, buburnya dimakan."
"Apa Mama tidak keberatan untuk menyuapiku?" tanya Jerry seraya melirik semua orang yang sedang mengelilinginya, dengan wajah datar.
"Tentu saja sayang,"
"Kak, bukankah kau bisa makan sendiri? Kenapa harus disuap?" kebiasaan protes Ferdo kembali ke mode on.
__ADS_1
"Fer.. kalau sedang sakit memang harus di suap sayang." jelas Fema.
"Ferdo, kita di pihak yang sama!" (Juan).
"Sebelum punya mama, kita tidak pernah disuap saat sakit." Ferdo menggerutu, membuat semua orang terdiam dan menuai tatapan tajam si remaja remaja dingin.
"Ferdooo.. diamlah." Untuk yang ini, Juan tidak sehati lagi dengan Ferdo. Menurutnya, remaja yang selalu dijuliki pangeran ke-2 oleh istrinya itu, sudah agak keterlaluan.
"Iya Pah... Eh kak, apa buburnya enak?"
"Kalau iya kenapa?"
"Aku ingin cicip."
"Nih... ciciplah.." Fema meletakkan sendok makan yang dipegangnya ke dalam mangkuk bubur.
"Aw.... kepalaku sakit!" Ferdo menjerit. "Ma.. suapin.. Aaaaaaaa" Ferdo membuka mulutnya.
"Ya ampun, kau ini, jujur saja kalau mau disuap. Kenapa harus bilang sakit!" (Fema)
"Maaf mama.. aku bercanda.."π
"Mengganggu acara makanku saja" kesal Jerry.
Ferdo hanya cengegesan.
"Kak, tolong sembuhlah besok. Jangan sampai mama tidak bisa datang menyaksikan penampilanku gara-gara sibuk mengirusmu."
"Iya Ferrr" jawab Jerry malas.
\=\=\=
Festival grup musik antar SMP.
Ferdo dan teman-teman sudah berada di tempat acara. Ferdo sedikit gelisa karena kedua orangtuanya belum juga nongol batang hidungnya. Sementara, keluarga teman dan supporter mereka sudah tiba. "Dimana mereka? Kenapa belum juga datang?"
"Kakak...." suara cempreng Marsha tiba-tiba masuk ke telinga Ferdo
Ferdo tersenyum bahagia melihat keluarganya hadir, lengkap dengan kakek Mahendra.
\=\=\=\=
Ferdo dan grupnya menjadi peserta penampil pertama.
"Permisi nyonya, kalau boleh saya tahu, anakmu yang mana? seorang wanita yang usianya kira-kira 5 tahun diatas Fema, bertanya.
"Anakku yang itu Vokalis. Ah.. aku tidak pernah menyangka anakku itu memiliki suara yang bagus saat bernyanyi. Dia bahkan mahir memainkan semua alat musik." curhatnya lagi.
"Terkadang kita memang tidak tahu bakat anak-anak nyonya," respon Fema.
"Tapi ngomong-ngomong, apa anda menikah muda? sepertinya anda masih sangat muda untuk memiliki anak seusia itu."
"Ah.. benar.. dia anak sambung saya nyonya,"
"Oh, jadi begitu? Jadi... kalian sudah akrab?"
"Iya.. baru-baru ini kami saling akrab"
"Wah.. baguslah.. yang ku dengar, anak-anak kita sangat akrab dan bersahabat. Semoga.. mereka semua bisa selalu bersama sampai besar nanti"
"Iya, semoga saja."
\=\=\=
Festival Band antar SMP sekota itu pun berakhir dalam 2 hari berturut-turut. Ferdo dan Grupnya berhasil meraih juara ke-3. Memang sakit sih tidak mendapat juara pertama, tapi.. itulah hasil keputusan para Juri.
"Hai kakak.. kok sendirian disini?"
"Anak kecil ini? Aku seperti pernah melihatnya. Dimana yah?"
"Kaka pasti capek yah nyanyi.. ini Marsha kasih minum." Marsha menyerahkan sebotol air mineral kepada anak remaja yang merupakan teman dari kak Ferdo nya.
"Oh, namamu Marsha? Kamu adiknya Ferdo sama bang Jerry?"
Marsha mengangguk sebagai jawaban.
"Apa suaraku bagus?"
"Bagus kak.. Marsha suka"
"Jadi kau suka padaku?"
"Iya kak, suka!" jawab Marsha dengan wajah berbinar.
"Ya ampun, apa yang kutanyakan pada anak kecil sepertinya?"
"Ya.. kau pasti menyukai suaraku. Bukan aku." bergumaman sendirian.
__ADS_1
"Kak.. siapa namamu?"
"Namaku? Panggil saja aku Ethan."
"Wah.. nama yang keren kak.." Marsha mengagumi.
"Adik kecil, apa kau mau berteman denganku?"
"Mau kak,"
"Sampai nanti kita dewasa?"
"Iya, mau kak"
"Baiklah, kau harus janji akan selalu cantik ya.."
"Cantik? Baiklah kak!"
"Iya.. pintar.. kau sangat penurut.."
"Kak, aku ingin berkenalan dengan kakak yang memainkan Keyboard."
"Kenapa ingin berkenalan dengannya?"
"Karena Marsha ingin belajar memainkan Keyboard atau piano."
"Kalau begitu belajar denganku saja."
"Kakak bisa?"
"Iya, aku bisa memainkan banyak alat musik."
"Wah, kakak sangat keren."
"Iya.. aku memang sekeren itu"
Di Kediaman Keluarga Barata.
Ferdo nampaknya sedikit murung. Bagaimana tidak, harapannya terlalu tinggi untuk mendapatkan juara 1 dalam festival. Ternyata Juara 3 adalah kenyataan yang harus ia terima.
"Sayang... sudah.. lain kali, ada waktunya kalian pasti menang." Fema mendikati si pangeran ke-2 yang tengah menekukkan wajah. Sangat tak enak dilihat.
"Ma.. aku sakit."
"Apa?"
"Sakit disini ma.." Ferdo seolah sedang menunjuk hatinya.
"Sakit? Hatinya? Sini mama peluk!" Fema memeluk Ferdo.. "Sabar.. berlatih lebih giat lagi, akan ada saatnya menang di event yang lain."
"Iya Ma.. Ma... suap..."
"Apa?..."
"aku sakit hati dan sekarang lapar.. suap ya Ma.."
"Ha?? Ya... ya.. baiklah Ferdo.."
\=
"Papa... tidak perlu mencarikan pelatih musik untuk Marsha.. Marsha sudah punya pelatih Pa.."
"Oia? Maraha yakin?"
"Iya Papa.. kakak yang itu.. yang temannya kak Ferdo, yang penyanyi itu Papa."
"Oh... coba tanya kakak kamu, apa dia orang baik?"
"Oke Pah.." Marsha berlari mencari keberadaan Ferdo.
Marsha menggeleng kepala dengan wajah datar saat melihat abangnya yang super ngeselin itu tengah menerima suapan dari mama.
"Kakak, apa kak Ethan itu baik hati?"
Kenapa kau bertanya tentang si Ethan?" Ferdo menjawab dengan nada jutek.
"Kak Ethan akan mengajariku bermain musik yang ku sukai."
"Begitukah?"
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1