
"Sha, aku kerja dulu ya ..." pamit Ethan, setelah membicarakan beberapa hal dengan Marsha.
Marsha pun mengantar Ethan sampai di depan pintu. "Hati-hati ya kak, dadah..."😊
Ethan berjalan memasuki mobilnya dengan perasaan yang sangat bahagia.
waktu tak terasa sudah menjelang sore. Marsha mencari-cari keberadaan kakak iparnya di rumah megah itu.
'Kenapa aku tidak menelfonnya?' Mengambil ponsel dan menghubungi Nagea.
Marsha bergegas menuju dapur dimana kak Nagea sedang berkutat dengan peralatan masak.
"Pantas aku mencium aroma masakan enak, ternyata kakak ipar sedang bikin kue?."
"Kenapa cari kakak Sha?" tanya Nagea, dengan ekspresi datar.
"Pengen curhat aja kak,"
"Hmmm. Apa itu?"
"Kak Ethan. Apa menurut kakak, dia suka sungguhan sama aku?"
"Sha, kakak sudah berteman dengan dia sejak dulu. Kakak sangat tahu, dia itu serius sama kamu."
"Kak, tapi ... bagaimana dengan bekas luka? Aku malu kak,"
"Sha, dia pasti akan terima kamu apa adanya."
"Aku akan terus terang tentang keadaan ini dalam waktu dekat kak,"
"Benarkah? Bagus, itu keputusan yang tepat."
.
"Selamat sore sayang!"
Nagea dan Marsha tersentak kaget dengan kemunculan Jerry yang tiba-tiba. Keduanya bertanya-tanya dalam hati, apa kak Jerry sempat mendengar?
"Kenapa? Kok Syok gitu mukanya?" bertanya dengan ekspresi bingung.
Legah. Itulah yang keduanya rasakan karena kak Jerry tidak mendengar pembahasan barusan.
Jerry mendekati Nagea yang tentu saja reflek berjalan mundur.
CUP,
Tanpa permisi, lagi-lagi Jerry main nyosor aja ke wajah istrinya.
Grepp.
Tidak puas hanya memberi kecupan, Jerry bahkan kini memeluk. "Istriku sehat?" bisiknya, setengah serak.
Marsha hanya bisa diam menyaksikan tanpa berani berkomentar. 'Apa ini? Kak Jer benar-baner tidak memandang tempat. Lebih baik aku menghindar daripada baper.'
Marsha pun berpura-pura tak melihat apapun dan melarikan diri ke ruang tengah.
"Adikmu sudah pergi. Tidak perlu akting lagi" Nagea sedikit mendorong tubuh suaminya itu, lalu pergi menata cemilan yang tadi ia buat, ke dalam beberapa toples.
'Lagi-lagi, dia menolakku.'
Tak ada yang bisa Jerry lakukan selain pasrah saja. Melanjutkan aksinya hanya akan membuat Nagea bertambah kesal. 'Baiklah, usahaku cukup dulu, nanti malam akan kulanjut lagi.'
Pria itu pun pergi menjauh dari istrinya itu, menuju kamar untuk mandi dan ganti pakaian.
\=\=\=\=
Malam harinya, karena telah dikabari sebelumnya bahwa mama dan papa Juan akan tiba dirumah malam ini, maka dari itu anak-anak mereka saat ini sedang menunggu di ruang keluarga. (Udah kayak bocil nungguin emak pulang bawa permen aja kalian).
"Kak Marsha, tidak perlu mondar mandir begitu! Kakak terlihat seperti gosokan" Siapa lagi yang memanggil Marsha "kak" jika bukan si bontot, yang masih sempat-sempatnya berkomentar padahal ia sedang menatap ponselnya memainkan game online.
"Slamat malam!" sapa seseorang, yang adalah mama.
"Maaaaaa!" dengan hebohnya Marsha menyambut kepulangan kedua orangtuanya itu. dengan wajah sumringah ia melangkahkan kaki kearah keduanya.
Mendengar namanya disebut, mama Fema auto merentangkan tangan menyambut anak gadis satu-satunya itu dengan senyum lebar.
Greppp.
Marsha malah memeluk papa Juan.
Lah? Semua orang terlihat melongo.
"Papa ... aku merindukan papa!"
"Iya sayang ... papa juga kangen." mengusap pelan kepala gadis itu.
Ketiga pangeran itu menutup wajahnya setelah menyaksikan tingkah konyol Marsha.
Mama yang ia panggil namanya, tapi malah papa yang di datangi. Kan mama jadi merentangkan tangan percuma.
"Ner, kamu tidak mau peluk mama?"
"Nantilah ma ... aku bukan bocah manja yang suka meluk kayak kak Marsha" sahut anak itu sambil terus menatap ponselnya.
"Aaaaaakh!" Abner tiba-tiba menjerit saat merasa ada yang sedang memulas telinganya. "Apa si bang jewer-jewer," protesnya pada Ferdo.
"Kamu tu harus sopan bicara dengan orang tua. Jangan sambil liat hp."
"I,iya bang, sorry."
\=\=
Besok paginya, seperti biasa, mama dan Nagea menyiapkan sarapan.
"Ge .."
"Iya ma?"
"Bagaimana hubungan dengan suamimu?"
"Seperti biasa aja ma. Tidak ada yang berubah atau bagaimana."
"Nageaa, kemarin itu, mama sama papa pergi untuk menemui kedua orang tua kamu."
"Yah?" Nagea terlihat bingung.
"Ya, mama dan papa pergi untuk melamar kamu secara resmi sayang.
Nagea hanyan tersenyum simpul.
"Ternyata, suamimu juga sudah mendatangi mereka. Dia tidak bilang-bilang kalau ingin menemui mertuanya."
"Apa? Jadi... dia berangkat waktu itu untuk mendatangi mami dengan papi?"
"Iya sayang."
__ADS_1
Fema dapat melihat menantunya yang bahkan masih gadis itu, menarik napasnya berat.
"Ma ... aku ... mau pulang hari ini, boleh kan ma?"
Deg.
"Ap-apa maksud kamu Ge?"
"Pulang ma ... aku ... merindukan mami dengan papi."
"Tapi, kamu akan kembali kan sayang?"
"Aku usahakan mah..."
.
Di kamar Jerry.
"Apa? Papa dengan Mama mendatangi mertua aku?" tanya Jerry.
"Iya nak, bagaimanapun juga, mereka adalah besan yang sesungguhnya."
"Lalu, apa yang mereka katakan?"
"Seperti yang kamu tahu, mereka berdua merestuimu. Jadi, baik-baiklah pada istrimu, supaya dia tidak marah lagi. Jangan bermain wanita lagi. Papa juga tidak menyetujui anak papa mencari kepuasan aneh diluar sana."
"Iya pa. Aku ngerti.
.
Selepas kepergian papa, Jerry masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan urusannya di kamar mandi, Jerry pun keluar dengan hanya melingkarkan handuk dipinggangnya..
"Sayang, ka-kamu ngapain?"
Bertanya karena istrinya terlihat memasukkan pakaian kedalam koper.
"Kenapa sih, suka panggil-panggil sayang"
"Ge ... aku tanya, kamu ngapain, kenapa berkemas?"
Kini pria itu menahan aktivitas kedua tanfan Nagea.
"Aku, mau ke Thailand, aku kangen orangtuaku. Aku sudah pamit sama mama."
"Kalau begitu, perginya sama aku yah ..."
Nagea menggeleng. "Aku bisa pergi sendiri." menjawab dengan nada datar.
.
Saat ini, Jerry mengantarkan istrinya itu tiba di Bandara.
Greep.
"sayang, jangan lama yah, aku tunggu kamu pulang"
Nagea tidak menjawab, bahkan tidak membalas pelukan suaminya.
"I Love You Nasa-ku,"
Jerry terpaksa harus melepas kepargian sementara istrinya itu. Wanita itu terus saja menjauh tanpa membalikkan tubuhnya.
\=\=\=
Marsha sudah siap dikamarnya dengan mengenakan dress pemberian mami Angel.
"Pakai dress ini di acara minggu depan kalau kamu terima perasaan aku" itulah yang dikatakan Ethan malam itu saat mengantar Marsha pulang setelah makan malam.
Kini, Marsha sedang tersenyum memandang pantulan dirinya di dalam cermin. Bekas luka di lengannya itu, tampak sangat jelas. Gadis itu pun pelan-pelan berbalik memutar tubuhnya, melihat pemandangan bekas luka lainnya yang hampir memenuhi tubuh belakangnya.
'Huuuf! Kenapa aku mulai gugup? Tak apa Marsha. Ini akan merubah cara orang melihatmu, tapi tak apa.'
Gadis itu mengangguk membenarkan keputusannya. 'Ya... ini sudah benar. Memang sangat memalukan untuk dilihat orang, tapi ... tak apa. Semangat."
.
Seperti yang telah dikatakan Marsha sebelumnya kepada keluarganya bahwa mereka harus tiba lebih awal di tempat acara untuk menyaksikan dirinya akan menjawab "iya" bahwa dia menerima Ethan sebagai kekasihnya.
Marsha tidak merahasiakan tentang perasaannya ke Ethan, satu-satunya yang menjadi rahasia gadis itu hanyalah tentang bekas luka mengerikan itu. Ia pun sudah mengabari Melina tentang keputusannya ini. Namun sayangnya, Melina tidak bisa mendampinginya oleh karena masih berada dikampung menikmati liburan singkatnya sebelum melaksanakan magangnya.
Keluarga Barata sudah menunggu dalam keadaan siap.
"Ini dia, tuan putri kita sudah siap." sahut kak Jerry ketika Marsha menuruni tangga.
"Loh ... kok pakai blazzer segala si kak, cantiknya jadi kurang maksimal deh"
"Sudahlah Ner, bukan cuma kurang maksimal, tapi kecantikan kakak akan hilang dalam sekejap kalau tidak pakai jas ini." jawab Marsha, dan hanya dia yang mengerti dengan maksudnya.
"Bagus seperti ini Sha. adikku tidak harus mengekspos tubuh mulusnya. Cewek tidak harus terlihat sexy. Ya kan mah?"
Ferdo merangkul adik perempuannya itu.
"Iya Fer, kamu benar sayang," jawab mama.
Kini keluarga Barata sama-sama menuju ke tempat acara, tepat sebelum tamu yang lain berdatangan.
\=\=\=
"Mi, Pi, aku merasa gugup"
Ethan terus saja memainkan salah satu kaki panjangnya, mengusir kegugupan yang melanda.
'Apa kira-kira dia akan mengenakan dress itu?' hanya itu yang ada di kepala Ethan saat ini.
"Hei cucu oma, mana pacarmu tidak datang-datang? Oma sangat penasaran!"
"Yang sabar oma, dia masih otw. Tapi dia belum jadi pacarku oma, belum tentu dia menerimaku atau tidak." bisik Ethan di telinga omanya.
Seluruh keluarga besar Ethan pun juga turut hadir disana lebih awal, sesuai dengan permintaan pria itu. Tapi, hanya ada keluarga dari pihak Mami Angel dikarenakan keluarga papi berdomisili di Luar Negeri.
"Bro... kau terlihat sangat gelisah."
Seorang pria tampan datang mendekati Ethan yang terlihat sangat gugup.
"Kak Arles, ini adalah cinta pertamaku, dan aku belum tahu dia menerimaku atau tidak."
Pria yang adalah kakak sepupu Ethan bernama Arles itu, memicingkan mata "Cssssh kau payah. Pastikan dulu dia menerimamu baru minta kami hadir menyaksikannya. Belum apa-apa kau sudah mengumpulkan kami semua? Aku sempat berpikir malam ini kau akan melamarnya atau bahkan bertunangan.. Tapi apa ini? Status belum jelas?"
"Diamlah kak, kembalilah ke keponakanku dan kak Calis. Itu dia calon istriku datang." Ethan terlihat membenarkan posisi duduknya, dan tak henti menatap langkah kaki Marsha yang datang bersama sengan anggota keluarganya.
"Ternyata seleramu tidak buruk," sahut Arles.
"Fix, dia akan terima aku kak."
__ADS_1
Mami Angel dan papi terlihat saling melempar senyum ketika melihat Marsha datang dengan anggunnya mengenakan dress pemberian mami itu. Yang artinya, gadis itu akan menerima cinta putra mereka.
"Sayang ... selamat ya," bisik mami di telinga putranya.
Seluruh keluaraga besar mami Angel menyambut baik kedatangan keluarga Barata.
'Kenapa ada banyak sekali mereka?' Marsha berubah menjadi kembali gugup. Sebelumnya, ia berpikir bahwa hanya akan ada Ethan dan kedua orangtuanya. Siapa sangka keluarga mami Angel juga akan ada disini secepat ini.
"Terima kasih banyak telah menyambut kami dengan sangat baik, suatu kehormatan bisa bertemu seperti ini dengan keluarga besar anda Tuan Yared," sapa papa Juan dengan penuh wibawa, terkesan sangat sopan.
Ethan kembali membisiki Arles yang masih berada di sampingnya. "Kak, kalau jadi aku, apa yang harus kau lakukan?"
"Kau ini. Kenapa masih gugup? Datangi dia sekarang juga."
"Sayang, kamu sangat cantik. Mami senang kamu mau pakai dress ini. Apa artinya ... kamu terima cintanya anak mami?"
Tanpa basa-basi lagi, mami Angel sudah lebih dulu menghampiri Marsha yang duduk di apit oleh kedua kakaknya.
Marsha pun berdiri dari tempat duduknya.
Ethan datang menghampiri Marsha, dengan senyuman teramat bahagia miliknya. Kini semua mata hanya tertuju pada mereka. Sudah serasa nonton drama romantis, deg-degan.
"Sha ... jadi kamu jawab iya?" tanya Ethan, pelan.
Marsha pun mengangguk. Apa lagi coba.
"Lihat kan, gadis ini, menerima cinta anakku." Mami Angel menghampiri keluarganya seolah sedang mengumumkannya. Terlihat keluarga besar Adiwijaya itu mengangguk untuk merespon mami Angel.
"Bagus, ini akan menjadi pengumuman besar di ulang tahun Perusahaan Yared kali ini. Bersiaplah nak, papi akan mengumumkannya sebelum acara kita mulai." jelas sang papi dari tempat duduknya.
"Ehmm begini, ada yang mau aku beritahukan."
Marsha akhirnya membuka suara setelah mengumpulkan keberaniannya. Posisi Ethan berada tepat di hadapannya.
"Apa itu Sha?"
Sejujurnya, Ethan sedikit merasa khawatir.
"Emmm... aku ... tidak secantik yang terlihat. Ada bekas luka di tubuhku." terangnya, pelan.
"Uhhhh... " mereka yang tahu Marsha baru saja sembuh dari luka tusuknya terlihat mengelus dada, legah.
"Kirain ada apa sayang, jangan khawatir, lukanya pasti akan sembuh sayang. itu tidak masalah." sahut mami Angel.
"Sha, kamu ada-ada aja. kecantikan kamu tidak akan hilang hanya gara-gara luka itu Sha" Ethan bahkan kini mengelus sayang kepala Marsha.
"Bukan, bukan yang itu yang aku maksudkan.! Tapi ... bekas luka yang lain." dengan nada datar sedikit bergetar, Marsha mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
Deg.
Mama, Papa, adik dan kedua abangnya kini menegang yang sebelumnya duduk santai di sandaran kursi.
"Apa maksud kamu sha?" Mama mendekati Marsha.
"Aku malu memperlihatkannya, tapi ... itu yang mau aku bilang. Ada bekas luka ditubuhku. Tidak, ada banyak bekas luka. Ya ... ada banyak."
Marsha meyakinkan setiap perkataannya, membiarkan orang-orang membayangkannya sendiri.
Ethan hanya diam, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, apa maksud gadis ini membuat pernyataan aneh.
"Sha, ada apa? Mana bekas lukanya?"
Kedua kakak yang super protek dengan adiknya itu kini ikut berdiri.
"Aku sudah bilang, aku malu memperlihatkannya."
"Lalu apa maksud kamu mengatakanya kalau kita tidak boleh tau dan lihat?"
Mama mulai membuka paksa mini jas yang dikenakan Marsha. "Aku bilang jangan ma." Marsha kembali merapikan posisi blazzernya yang sempat dikacaukan mama.
"Sha, apa maksud kamu mengatakan ini?" tanya Ethan, dengan nada pelan.
"Maksud aku adalah, kak Ethan boleh berubah arah, mencabut kembali rasa suka terhadap aku. Aku sangat tahu, kakak menyukai gadis yang cantik. Karena aku, benar-benar tidak bisa di bilang cantik." ucap Marsha, sedikit terbatah.
"Anak bodoh, mana lukanya, mama mau lihat."
Mama Fema mengguncang-guncang tubuh putrinya itu. Dengan sangat kasar mama melucuti jas yang dikenakan putrinya.
Tinggal lah dress sexy itu yang menempel pada tubuh Marsha.
"Haaaaaaa"
Mama seperti berusaha menutup mulut dengan kedua tangannya yang terasa bergetar.
Tidak hanya mama Fema, dua keluarga itu terlihat sangat syok.
Ethan bahkan reflek memundurkan satu langkah kakinya karena terkejut.
"Shaaa?" hanya itu yang keluar dari mulut pria itu.
Kaget melihat lengan Marsha yang memiliki bekas luka mengerikan.
Papa dan ketiga saudara Marsha hanya diam mematung dengan perasaan penuh amarah. 'SIAPA YANG TELAH MELAKUKANNYA?'
Setelah menyadari ekspresi orang-orang, gadis itu memaksakan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja.
"Bukan cuma ini Mamah, tapi, masih banyak bekas lagi. Mah ... maafkan Marsha tidak bisa jaga diri. Jangan nangis Ma... ini yang aku tidak mau. Mama akan menangis jika melihatnya."
"Sha..."
Grep...
Mama memeluk Marsha. Mana sayang, mana lagi? Mama memutar tubuh putrinya dan menyingkap rambut panjang gadis itu.
"Haaaaaaaaah!" Ia kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang masih bergetar hebat. "Marsha... Marsha..." Histeris.
Menoleh kearah suaminya, "Pah... anakku.."
Bruk..
Mama, pingsan.
Ethan yang berada disebelahnya reflek menangkap tubuh mama Fema.
"Jerry segera mengangkat tubuh Mama, dan bersama Abner keluar dari ruangan itu membawa mama ke salah satu kamar.
Marsha kembali membalikkan tubuhnya berhadapan lagi dengan Ethan. Seolah, tidak menghiraukan apa yang terjadi dengan ibunya.
"Aaaahhh lihatlah, mamaku sendiri aja sampai tak sadarkan diri. Rupaku, pasti sangat mengerikan" ucapnya, santai.
.
.
Bersambung.
__ADS_1