
"Jadi, kamu magangnya di rumah sakit mana Mel? Tanya papa Juan, setelah perdebatan antara Ferdo dan Melina terhenti.
"Kebetulan, di rumah sakit yang sama dengan anda pak." jawab Melina, berusaha terlihat santai walaupun rasanya sangat tegang berhadapan dengan dokter senior seperti dr. Juan.
"Oooooooooo" serempak keluarga itu menjawab dengan membentuk bibir menjadi huruf O.
'Gitu banget sih tanggapannya?' batin Melina.
Lagi-lagi, Ferdo menatap Melina yang berada disampingnya, tatapan yang sulit diartikan.
"Ke-kenapa lagi liat aku? Makan aja!"
Ferdo hanya menggeleng kepalanya.
"Mel, ada rencana lanjut spesialis?" lagi-lagi papa Juan bertanya.
"Emmm ... rencana ada pak, setelah dapat pekerjaan tetap." jawab Melina, apa adanya.
"Rencana mau spesialis apa Mel?" tanya mama Fema.
Abner, Marsha hanya diam nyimak.
Melina tersenyum simpul sebelum menjawab. "Awalnya pengen spesialis bedah plastik bu, tapi ... batal.
"Loh. Kenapa?" tanya papa Juan.
"Tadinya karena ... aku berkeinginan memberikan pelayanan bedah plastik secara gratis untuk sahabatku. Tapi ... sekarang dia sudah mendapatkan dokternya sendiri, ku rasa aku tidak perlu lagi jadi spesialis bedah plastik." jujur Melina, mengalihkan pandangannya ke sahabat baiknya itu.
Tug,
Marsha menghentikan aktivitas makannya. "Wah ... selesai juga sarapannya." Marsha berdiri dari duduknya dan menghampiri Melina.
"Mel, berdiri." suruhnya.
"Yah?" Melina terlihat bingung, namun ia pun meletakkan sendok makannya lalu berdiri.
Hug.
Marsha Memberi pelukan hangatnya kepada Melina.
"Hei ... ada apa ini? Aku tau kau sangat menyayangiku Sha!"
"Diam, diamlah... aku sangat ingin memelukmu Mel."
__ADS_1
Wah ... Melina mulai merasa tidak enak hati.
"Mel... kamu tau, kamu itu satu-satunya temanku dan kamu sangat baik." ucap Marsha dengan nada bergetar, seperti sedang menahan tangis.
"Sha ... itu karena kamu baik. Sudah ah, jangan begini." Melina hanya mengusap punggung belakang sahabatnya itu dengan rasa sayang.
Mel, trima kasih ya ..."
"Terima kasih untuk apa? Aku tidak melakukan apapun."
"Terima kasih untuk segalanya. Semuanya Mel, semua waktumu, tenagamu, materi bahkan cita-citamu, yang sudah kamu korbankan demi aku." Marsha kini benar-benar menangis.
Bagaikan sedang menabur kupasan bawang, semua orang yang sedang menyaksikan mereka berdua pun ikut menitikkan air mata.
"Hei apa maksudmu?... sudah. Jangan menangis. Malu Sha.." Disini, hanya Melina yang tidak mengeluarkan airmata sedikitpun.
Memang benar, bisa dibilang banyak sekali pengorbanan Melina untuk Marsha sejak mereka memutuskan untuk bersahabat. Waktu, tenaga, materi, cita-cita. Melina sudah pernah mengorbankan hal tersebut demi Marsha.
Untuk menemani Marsha saat gadis itu membutuhkan, Melina selalu ada. Cita-cita Melina untuk menjadi seorang bidan harus ia tinggalkan dan berusaha mati-matian belajar agar bisa diterima pada Fakultas Kedokteran sebagai salah satu penerima biaya kuliah penuh, agar kelak bisa menjadi seorang ahli bedah plastik yang nantinya akan bisa memulihkan kondisi tubuh sahabatnya, Marsha. Melina juga rela menabung, menyisihkan uang transferan bulanan dari orangtuanya biar bisa membawa Marsha pergi dari kampung itu.
"Sha, aku tidak pernah menganggap itu semua pengorbanan. Aku lakukan semuanya dengan senang hati. Diamlah. Jangan nangis."
Pada akhirnya, acara sarapan pagi itu diakhiri dengan ucapan terima kasih dari keluarga itu kepada Melina. Mama Fema bahkan memeluk erat sahabat dari putrinya itu, betapa bersyukurnya memiliki seorang Melina disisi putri satu-satunya.
.
Tentulah Ferdo yang mengantar kekasihnya itu ke rumah sakit.
"Sayang,"
"Sayang? Kamu panggil aku sayang?"
"Hemmmm" jawab Ferdo.
"Agak aneh dengarnya, hehe"
"Mulai sekarang, kita panggilnya sayang ya!"
"Ha? Berarti aku juga harus panggil kamu sayang?"
"Ya iya lah. Apa lagi,"
"Oke deh,"
__ADS_1
"Sayang, dengar, aku khawatir sama kamu. Kamu tahu, keluarga pasien yang datang ke rumah sakit itu beragam. Aku gak mau kalau kamu dimarahin orang saat salah dalam menindak pasien." tutur Ferdo, perhatian.
Ferdo tiba-tiba teringat akan pria yang dendam terhadap papa-nya karena tidak bisa menyelamatkan pasien. Ferdo merasa takut hal itu akan menimpa kekasihnya ini.
"Jangan khawatir" balas Melina, singkat.
\=\=\=\=\=
Thailand.
Nagea sedang berkutat di dapur dengan berbagai alat memasak. Ia bermaksud membuat masakan spesial untuk dirinya, mami dan papi.
"Eh?"
Tiba-tiba tangan seseorang menutup matanya.
"Siapa? Jangan sentuh, aku sedanng memegang benda panas." Ketus Nagea.
Dia menebak, orang ini bukanlah mami atau papi. Orangtuanya tidak pernah melakukan hal iseng seperti ini.
CUP.
Kecupan menadarat di pucuk kepala Nagea.
"Jangan macam-macam"
"Aaaaw..." Orang itu meringis menahan sakitnya rasa terbakar dari sutil yang di pegang oleh Nagea. wanita itu tak segan-segan menempelkan benda panas yang baru saja ia gunakan untuk mengaduk masakannya ke tangan orang itu.
"Kamu? Ngapain kamu kesini?" bentaknya saat melihat siapa yang sedang di dekatnya.
"Sayang, suami datang kok di bentak-bentak si, mana sakit lagi kena sutil panas!" Jerry meniup lepuhan ditangannya.
"Salah sendiri. Ngapain tutup mata aku!"
Nagea mematikan kompor lalu memindahkan masakan buatannya itu ke wadah saji.
Jerry kembali mendekati istrinya itu. "Wah ... kayaknya enak nih, aku kangen juga sama masakan kamu sayang."
"Basi. Sejak kapan aku pernah masak buat kamu."
'Apa ada pria lain yang memiliki istri judes seperti istriku ini?'
.
__ADS_1
.