
Mahendra dan ketiga cucunya sudah duduk manis mengelilingi meja makan.
"Kenapa papa dan mama kalian tidak keluar kamar? Apa mereka tidak lapar?"
"Kakek, biar Ferdo panggilkan ya kek!" Ferdo menawarkan diri dan diangguki oleh Mahendra. Namun, baru saja anak itu berdiri dari tempatnya, Juan muncul bersama dengan Fema.
"Papa... Mama..." Marsha menyambut keduanya seperti biasa.
"Hei Sha... " Juan menyentuh kepala putrinya itu. Mahendra terkesima melihat sikap lembut Juan, putranya sendiri yang terkesan aneh dipandangannya.
'Sejak kapan putra dinginku ini berubah sikap? Dia terlihat lebih hangat sekarang!'
Juan dan Fema pun duduk di kursi yang bersebelahan.
Setelah keluarga itu berkumpul, kepala pelayan mulai mengarahkan rekannya untuk membawa makanan yang telah mereka siapkan, seperti kebiasaan Tuan Mahendra. Jika dia sudah berada di kursi meja makan barulah pelayannya boleh meletakkan makanannya ke atas meja.
Satu per satu menu masakan ditata sedemikian rupa. Marsha dan Fema terperanga melihat banyak sekali menu dan terlihat sangat menggoda. Belum lagi para pelayan yang melayani mereka lebih dari dua orang. Bahkan kini, untuk memasukkan makanan ke piring masing-masing pun akan di layani.
"Kakek, kenapa ada banyak sekali makanan?" tanya Marsha.
"tentu saja sayang.. di rumah ini kan tidak hanya kakek.. ada kalian!"
"Permisi," Fema menghentikan tugas para pelayan.
"Iya nyonya?"
"Biar saya saja yang lanjutkan. Kalian bisa layani diri kalian untuk makan malam." ujar Fema, ramah. Para pelayan terlihat melirik ke arah Tuan Mahendra dan pria tua itu menganggukkan kepalanya. Pelayan pun melangkah mundur menjauh dari meja makan itu.
Lalu Fema melayani keluarga kecilnya itu seperti yang biasa ia lakukan.
'Aku memang tidak salah menjadikan dia menantu. Sepertinya Iriana memang mengajarinya dengan benar! Semoga dia bisa jadi ibu yang baik untuk kedua cucuku ini.'
"Pa..... yang mana papa ingin makan?" tanya Fema kepada ayah mertuanya.
"Ah... berikan sup dan ikan goreng saja Fem!" Fema pun memberikan menu sesuai keinginan Mahendra.
Keluarga itu pun menikmati makan malam untuk pertama kalinya dirumah besar itu.
Para pelayan masih berdiri ditempatnya, berjejer rapi dengan pandangan lurus ke lantai. Marsha merasa aneh dan memperhatikan mereka semua. termasuk bu Sum juga berada disana.
"Kakek, apa kita harus dijaga saat sedang makan?" tanya Marsha karena penasaran. Padahal tak ada satupun yang boleh berbicara saat sedang makan.
Ferdo - Jerry kini menyorotnya dengan tatapan tajam, seolah sedang mengintimidasi.
"Banyak bertanya." ( Jerry )
"Apa dia tidak takut dimarahi oleh si kakek tua ini?" (Ferdo).
"Tuan Putri... itu sudah tugas mereka. Mereka akan melayani ketika kita butuh sesuatu bahkan saat makan." jawab kakek, menjelaskan.
"Kakek, apa mereka tidak makan? Bukankah mereka juga lapar seperti kita?" Marsha masih saja bertanya.
"Sha... makanlah saja. Jangan banyak bertanya." (Fema).
__ADS_1
"Sayang, mereka akan makan apabila kita telah selesai" (Juan).
"Tapi Papa, bukankah Papa tahu kalau mereka telat makan bisa terkena sakit?" Marsha bertanya dari sudut pandang kedokteran mengingat profesi ayahnya sebagai seorang dokter.
"Iya.. benar.. kita tidak boleh telat makan. Bisa sakit. Papa hampir lupa" (Juan tersenyum lalu melirik sang ayah)
"Marni," Tuan Mahendra memanggil nama kepala pelayan.
"Iya Tuan!" menunduk kepala.
"Silahkan nikmati makan malam dengan semuanya. Mulai sekarang, tidak perlu melayani kami saat makan. Cucuku yang satu ini sepertinya.. kurang nyaman."
"Tapi Tuan" (Merasa tidak enak).
"Tak apa.. kalian makanlah.. jika telat makan kalian semua bisa sakit. Iya kan Tuan Putri?"
"Iya kakek," marsha mengangguk semangat dengan senyum lebarnya.
'Cahhhh.. Tuan Putri? benar-benar tidak pantas!' (Ferdo).
\=\=\=\=
Menjelang tidur, pelayan membawa susu hangat untuk tuannya masing-masing.
"Susu apa ini? Tidak enak!" Jerry meletakkan gelasnya dengan sangat kasar kedalam nampan yang masih di pegang oleh pelayan pribadinya.
"Maaf Tuan Muda, saya akan buatkan lagi! Permisi Tuan,"
"Aku mau bikinan mama"
"Aku ingin minum bikinan ibuku. Tidak dengar?"
"Baiklah Tuaan Muda"
"Oh Tuhan, kenapa Tuan Mudaku sangat cerewet?"
Di Kamar Ferdo.
"Susu ini bikinan siapa? Kenapa rasanya tidak sama? Ganti.. ini tidak enak. Terlalu manis."
"Baik Tuan Muda"
"Buatkan yang rasanya sama seperti bikinan mama."
Dikamar Fema-Juan.
Fema tersadar akan sesuatu. "Sayang... apa kira-kira anak-anak masih bangun yah? Aku melupakan susu hangat untuk mereka."
"Mereka memiliki pelayannya masing-masing sayang. Itu bagus mengurangi pekerjaanmu."
"Iya juga.. oke, lebih baik kita beristirahat"
"Mama sayang, kau melupakan susu hangat untuk suamimu? Jangan tidur dulu.. berikan aku susu hangatnya sekarang" (Menarik tubuh istrinya)
"Papa sayang.. jangan nakal.."
__ADS_1
"Aku hanya ingin menikmati susu hangat milikku" Tangan Juan mulai masuk kedalam baju istrinya.
"Baiklah-baiklah papa sayang.. lakukan sesukamu"
Tok tok tok.
"Shit... siapa yang berani-beraninya mengganggu kesenanganku!" Juan membuang napas kasar lalu membuka pintu.
Ternyata dua orang pelayan.
"Ada apa?"
"Maaf mengganggu anda Tuan!" (menunduk)
"Iya... kalian memang sangat menggangguku"
"Jadi ada apa?"
"Em... itu.. Tuan.. anu.."
Fema pun menyusul suaminya karena penasaran.
"Ada apa ini pah?"
"Selamat malam nyonya, maaf.. mengganggu"
"Bicaralah.. jangan hanya meminta maaf" (Ketus Juan).
"Itu.. anak-anak, ingin minum susu hangat buatan nyonya!"
"Oh?.. maksudnya Jerry dan Ferdo?" tanya Fema bersemangat, diangguki oleh kedua pelayan itu.
"Benar nyonya!"
"Oh, kenapa kalian tidak bilang dari tadi? Baiklah, saya akan segera membuat dan mengantarkannya."
Kedua pelayan itu pun pamit undur diri.
"Pah, aku akan buatkan susu hangat dulu.. dah.." Fema melangkah cepat. Namun, dia menghentikan langkahnya. Ia berbalik setengah berlari ke arah Juan yang masih diam ditempatnya. Memeluk serta memberi kiss singkat di bibir suaminya.
"Sayang, aku sangat senang anak-anak membutuhkanku. Tunggulah di dalam.. Anak-anak harus kelar dulu biar aman. Oke?"
"Cissshh" Juan tersenyum, lalu mengangguk.
3 Menit kemudian, Fema melangkahkan kaki jenjangnya menaiki tangga nenuju ke kamar anak remajanya.
"*Oke sayang, kalian berdua adalah bayiku yang akan selalu meminum susu buatanku. Anggap saja aku sedang menyusui kalian berdua.. Dengan begitu, keterikatan antara kita akan semakin kuat. Aku percaya kalian berdua mulai nyaman dengan keberadaanku sebagai pengganti ibu kalian.
.
.
Bersambung*......
Guys... tengks ya.. karena selalu ikutin kisah ini😊
__ADS_1