
"God morning sayang"
Ethan kembali mendekap sayang istrinya itu.
"Huuummmp" Marsha menggeliat. "Pagi sayang"
Sesaat, Marsha tersadar akan sesuatu. 'Benarkah diantara kami tidak terjadi sesuatu?'
"Kenapa tersenyum? Ada yang lucu?"
Marsha menggeleng.
"Jangan nakal tu otakmu Sha"
"Ih, memangnya kenapa otakku?"
"Otakmu ini, sedang memikirkan hal yang liar. Aku bisa melibatnya."
"Kak Ethaaan. Jahat" Marsha tersenyum malu, merasa tertuduh.
\=\=\=*
"Good morning Mamaku"
Ferdo menghampiri mama yang sedang menata sarapan di meja makan.
Tidak seperti biasanya, kali ini mama hanya diam, fokus dengan yang dikerjakannya.
"Ma, jangan sedih Ma! Masih ada pangeran kedua disini. Aku tidak akan seperti dua orang itu, yang meninggalkan rumah ini setelah bahagia." memeluk mama dari belakang.
Untuk informasi, Nagea dan Jerry kini telah pindah ke apartemen, si Marsha pun sudah pasti tinggal dengan suaminya saat ini.
"Panggil adikmu, waktunya sarapan" perintah mama, membuat Ferdo melepas pelukannya.
"Loh Ma, bukankah ada pelayan? Kenapa lagi aku harus turun tangan?"
"Sedang cuti weekend" jawab mama, tanpa ekspresi ramah.
"Pagi mama sayang!" Papa Juan menyapa.
"Iya Pah, pagi!"
"Abneerrrr! Abneeerrrr!" teriak Ferdo memanggil adik bungsunya.
"Kenapa harus teriak-teriak Fer, kayak bocah saja kamu." protes si Papa.
Tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap.
Abner berlari menuruni tangga, tampak segar, dengan rambutnya yang terlihat basah.
"Pagi Ma, Pa, Baaang!"
Keluarga itu pun memulai sarapan. Memang, terasa ada yang kurang karena sudah tidak ada Jerry Nagea dan Marsha.
'Mamaku terlihat sangat sedih,' batin Ferdo.
"Ma ... hari ini shopping yuk," ajaknya.
__ADS_1
"Yah? Shoping? Yakin mau jalan berdua dengan mama?"
"Sama pacar aku jugalah Ma!"
"Pacarmu yang mana?" tanya Papa yang sambil memasukkan sarapan ke mulut.
"Ya Melina lah Pa, siapa lagi?"
"Oh, Mama kira kamu sudah tidak mau dengan Melina" ketus mama.
"Ya? Mama bicara apa si?" dengan wajah bingung, tanpa rasa bersalah.
"Kirain kamu balikan sama mantan" sambung Papa.
"Mantan? Si Suci? Mama sama Papa kok?-"
"Tadi malam kita lihat kamu pelukan sama dia. Mantan kamu kan?"
"Apa? Mama sama Papa lihat? Hei ... itu tidak seperti yang terlihat Pah."
"Kamu pernah pacaran dengan gadis itu tapi tidak beritahu papa dan Mama"
"Maaf Ma, belum sempat kenalin sidah keburu putus."
"O..... yakin kamu sudah putus? Yang Mama lihat, dia gandeng lenganmu, kamu biasa aja tidak menolak."
"Mama juga lihat itu? sama Papa?" Ferdo mengusap wajahnya.
"Iya, mama papa lihat, bahkan bukan cuma kita, Melina juga lihat."
"Uhuk uhuk uhuk" Ferdo keselek.
"Jadi tadi malam Melina melihat kami? Gawat. Aku harus menemuinya." Ferdo segera bangkit dan mencari keberadaan kunci mobilnya, berlari keluar.
Dalam perjalanan, pria tampan itu terus saja menghubungi kekasihnya itu, tetapi tidak sekalipun terhubung.
Tidak memakan banyak waktu, Ferdo sudah tiba di tempat tinggal Melina.
Tok tok tok.
"Mel, Mel, Melinaaa"
Tok tok tok.
Ferdo kembali memanggil nama gadis itu, namun tidak ada respon.
5 menit kemudian.
Ceklek,
Melina membuka pintu, namun hanya terbuka kecil saja dan hanya memunculkan sebagian tubuhnya saja.
"Mel ..."
"Ada apa yah?"
"Mel, aku boleh masuk kan?"
__ADS_1
"Oh, mau apa?"
"Mau bicara sama kamu lah Mel,"
Melina tersenyum kecil. "Silahkan."
"Mel,"
Sontak gadis itu memundurkan langkah ketika Ferdo hendak mendekatinya.
"Bicaralah. tidak perlu terlalu dekat." Gadis itu lalu duduk di kursi, lalu menikmati sarapannya yang baru saja ia buat. Memakan itu tanpa menawarkan pada Ferdo.
"Mel, yang kamu lihat semalam, itu-"
Degh..
Aktivitas mengunyah gadis itu dihentikan sesaat, lalu tersenyum. "Oh, selamat yah untuk yang aku lihat semalam" lalu melanjutkan makannya.
"Dia cuma mantan pacarku Mel, kita sudah putus. Dia tadi malam hanya minta tolong mengantarnya pulang." jelas Ferdo.
"Oh, mengantar pulang tapi kenapa terlihat seperti pasangan romantis?."
"Mel, kamu ... marah?" bertanya pelan, hati-hati.
"Eh?.. Marah? Iya. Aku sangat marah dan sedih tadi malam. Tapi sekarang tidak lagi. Untuk apa aku membuang energi untuk orang yang tidak setia." sambil terus mengunyah makanannya.
"Mel, maafkan aku yah,"
"Kenapa minta maaf? Jadi kamu merasa bersalah? Masih suka yah sama dia? Pergi aja mumpung kita belum terlalu jauh melangkah." Melina bangkit dari duduknya menuju dapur kecilnya untuk mencuci piring dan tangannya.
Ferdo mendekat dan memeluk Melina dari belakang. "Bukan itu sayang, maaf karena aku bodoh. Aku tidak akan mengulanginya Mel, percayalah."
"Tidak perlu merasa bersalah. Tidak perlu merasa tak enak hati padaku."
"Mel, aku itu, maunya kamu. Bukan yang lain." membalikkan tubuh Melina memghadapnya dan menangkup wajah gadis itu.
"Tapi aku lihat kamu diam saja saat dia menggelayut di lenganmu. Kamu menikmatinya. Sudahlah, sadari perasaan kamu sebelum menyesal."
"Mel, lihat mataku. Aku sedang sungguh-sungguh sayang. Aku tidak ada rasa lagi sama dia. Titik."
"Aku itu sadar diri. Aku bukan wanita yang sehat, aku tidak sempurna untuk dijadikan istri. Jadi, kalau kamu memang punya pilihan lain, pergilah sebelum benar-benar akan menyesal pilih aku."
"Sssuuut. Diam sayang, diam, cuma kamu yang pantas jadi istriku. Aku menginginkan kamu. Kita sudah janji akan menikah setelah kamu wisuda kan? Ingat itu Mel" Ferdo menitikkan air mata.
"Pulanglah dan pikirkan baik-baik tentang perasaanmu. Kamu mungkin hanya merasa tidak enak meninggalkan aku. Tapi aku akan baik-baik saja seperti sebelum kita bersama.
"Mel, please ...! Maaf sayang."
"Ya, baiklah. Aku memaafkanmu. Jadi pulanglah.
Aku akan memaklumi kamu kali ini. Tapi ... tidak untuk kejadian yang sama berikutnya. Kamu boleh berteman dengan wanita atau semacamnya, tapi harus mengerti batasan."
"Iya, Itu tidak akan terulang. aku janji ya." kembali memeluk Melina dan mengusap rambutnya. "Sayang jangan marah lagi ya,"
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Kita sambung besok.