
Marsha Agatha.
Gadis itu sedang menatap lurus langit-langit ruangan tempat ia dirawat. Dalam hati ia juga bersyukur, walaupun dengan cara seperti ini, tapi sekarang dirinya sudah pasti menjadi Marsha lagi. Marsha yang dicintai oleh keluarganya.
Ceklek.
Pintu terbuka, Fema dan Angel memasuki ruangan dan melihat Marsha berbaring dalam keadaan mata terbuka, dan kini gadis itu sedang menoleh kearah keduanya.
Sebuah tatapan kerinduan terpancar jelas dari sorot mata itu. Anak gadis itu terlihat mengusap kedua matanya yang kini mulai menghangat. Setelah sekian lama, akhirnya airmata itu keluar juga dari tempatnya.
Selama 13 tahun hidup dibawah tekanan dan ancama seorang pria tua memaksanya harus tumbuh menjadi orang yang hanya bisa menahan perasaan.
Tak jarang, pria tua itu menyakitinya hanya karena menangis. Pria tua aneh itu sangat marah ketika melihat airmata Marsha.
.
Fema sedikit berlari menghampiri putrinya itu. “Sayang ... anakku sayang ... Marsha-ku... “ Mama tak kuat lagi meneruskan kata-katanya. Wanita itu menangis memeluk putrinya.
“Maaaa ... Mama ... Mamaku..” hanya kata itu yang mampu Marsha ucapkan di sela isak tangisnya.
Mami Angel memilih kembali keluar ruangan untuk memberi waktu bagi ibu dan anak itu saling melepas rindu.
“Sayang, terlepas dari semua ini, kamu baik-baik saja kan nak? Kamu bertumbuh dengan sangat baik kan sayang? Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang?” mama Fema seakan ingin memeriksa apakah tubuh anaknya itu baik-baik saja tanpa cacat sedikitpun. Hal itu membuat Marsha bertambah sedih, mengingat banyaknya bekas luka pada tubuhnya.
Marsha memutuskan untuk merahasiakan itu dari keluarga. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi mereka saat mengetahui akan kesakitan yang pernah ia alami selama jauh dari keluarganya itu.
Marsha pun mengangguk dengan wajah menangis. “Aku baik-baik aja Ma!” ucapnya dengan suara bergetar.
Mama pun kembali memeluk Marsha.. “Terima kasih karena kamu sudah pulang yah nak” mama memeluk semakin erat. Takut, jika putrinya ini, menghilang lagi.
.
“Ma... dimana Papa?” tanya Marsha kemudian.
.
“Papa disini sayang!” sebuah suara tak asing tiba-tiba terdengar.
Marsha dan Mama pun menoleh ke asal suara.
“Papa!” Marsha reflek ingin bangun dari posisi berbaringnya. “Aaaaaw..” ia meringis karena rasa sakit pada luka tusuknya.
“Shaa ... jangan banyak bergerak dulu sayang!” ucap Mama dan papa bersamaan.
Marsha merentangkan kedua tangannya, menyambut papa Juan yang sedang menghampirinya. Melihat tatapan rindu putrinya itu membuat Juan melangkah cepat dengan airmatanya yang kini tak mampu ia bendung.
Greeep.
Kini, keduanya saling memeluk erat.
“Papa ... apa aku masih putri Papa?”
“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kau selalu jadi Tuan Putri papa satu-satunya!”
“Aku sangat-sangat rindu Papa.”
__ADS_1
“Iya ... iya sayang ... sudah, jangan nangis lagi yah.. papa disini.” Juan tak lupa mengecup sayang pucuk kepala putrinya itu. “papa sangat bersyukur karena kamu sudah pulang sayang.. terima kasih!”
Marsha mengangguk dalam dekapan sang ayah.
Mama Fema yang menyaksikan keduanya, pun tidak bisa menahan perasaan terharunya. Lagi-lagi ia mengusap bawah matanya yang dialiri air mata.
(Putriku masih sama.. dia benar-benar Marsha-ku yang sangat dekat dengan ayahnya. Orang yang bahkan bukan ayah kandungnya.)
Pelukan erat yang hangat itu pun berakhir. Juan menoleh pada istrinya yang tak hentinya mengusap airmata. “Mama sayang, kenapa? Kau sedih karena aku terlihat lebih menyayangi putrimu? Ha?” Juan menghampiri istri tercintanya memberinya pelukan hangat pula. “Tenang saja mama sayang, kamu tetap yang paling utama.”
(Papa bisa aja, senang melihat mereka saling menyayangi seperti ini. Mama beruntung, memiliki Papa Juan yang sangat mencintainya). Marsha membatin.
“Pah .. terima kasih, kamu masih menyayangi Marsha,” ucap Fema, kemudian membalas pelukan suaminya.
“Dia putriku sayang.. putriku satu-satunya diantara 3 pangeran. Tentu saja aku sangat menyayanginya!"
Fema mengangguk dan semakin mempererat pelukannya. Sudah sangat lama ia tidak memeluk Juan seperti itu.
"Bagaimana kalau.. kita berdua, ke ruanganku sebentar? Si kecilku sangat merindukan tempatnya sayang..” Bisik Juan, dan tentu saja tak terdengar oleh telinga Marsha.
Juan tak menyangka, ajakan konyolnya mendapat sambutan baik dari istrinya. Kebetulan, Marsha di rawat di Rumah Sakit milik Papanya ini. Keduanya pun pamit kepada gadis itu dan meminta Ferdo and the geng yang masih betah menunggu diluar bersama Mami Angel, untuk menemani Marsha.
.
.
Waktunya Permainan Panas dimulai.
Tidak heran, ruangan pribadi yang bersebelahan dengan ruang kerja Juan sebagai orang nomor satu di Rumah Sakit ternama ini, menjadi kamar kedua untuk pasangan yang tak lagi muda namun makin HOT, Juan dan Fema memiliki banyak pakaian ganti yang sengaja mereka tempatkan di ruangan ini, untuk kebutuhan saat darurat.
(Yesss.. ini yang aku tunggu darimu Fema sayang). Batin Juan, dibalik senyuman menggodanya.
Mama Fema benar-benar membuktikan ucapannya. Dari awal hingga akhir, dia memimpin pertempuran itu dengan gesitnya dan Juan merasa sangat puas. Sudah sangat lama Fema tak seperti ini. Akhirnya, semangatnya kembali setelah 13 tahun ini menghilang karena memikirkan keberadaan putrinya yang entah berada dimana. Aktivitas ini memang kerap mereka lakukan, namun itu atas inisiatif dan keinginan Juan.
Kembalinya Marsha membangkitkan semangat hidup Fema. Tak ada lagi beban di hati. Ia berpikir, kewajiban utamanya pada suami harus ia kerjakan dengan maksimal mulai sekarang. “Maaf selama ini mengabaikanmu sayang.. mulai hari ini, aku akan melakukan tugas satu ini dengan sepenuh hati.” Kata Fema di sela aktivitas panas mereka.
Juan hanya mampu menjawab dengan anggukan karena dirinya hanya sibuk menikmati hal itu. Dalam hati ia bersyukur karena Istrinya telah kembali seperti dulu lagi.
SKIP.
\=\=\=\=\=
Melina.
Gadis itu, dengan langkah tergesa ia mampir ke ruangan Marsha setelah pulang dari kampus.
“Melinaa!” Marsha memanggil nama sahabatnya itu begitu pemilik nama muncul dari arah pintu. Seakan tak memperdulikan keberadaan yang lain, Melina membelah kerumunan orang-orang yang sedang menjaga Marsha, lalu menghambur memeluk sahabatnya itu, menangis sesegukan. “Aku sangat khawatir padamu!” ucapnya, berbarengan dengan tangisan.
Ferdo dan yang lain saling melirik. Mami Angel, wanita itu sudah pergi dari sana untuk bertemu dengan teman-teman sosialita-nya.
(Ternyata... dia sesayang ini pada adikku) Ferdo terus menatap Melina tanpa sadar mengagumi gadis itu.
“Hei... berhenti nangisnya Mel.. Idolamu sedang menyaksikan kau menangis. Apa kau tidak malu?” Marsha menghibur sahabatnya itu.
Melina hanya menggeleng dan terus memeluk tubuh Marsha.
__ADS_1
(Aku tidak sedang memperhatikan Melina.. tapi aku sedang menatapmu Sha). Tentu saja itu suara hati Ethan EL-Yared.
Drrruuut.. ponsel milik Melina yang ia letakkan sembarang didekatnya dan Marsha mendapatkan panggilan dari nama kontak “Ayahku”.
Melina tidak menghiraukannya, dan itu membuat kelima pria yang berada disitu kini menatap lekat layar ponsel itu.
😯😯😯😯😮
Ternyata, walpaper yang terpasang pada layar ponsel Melina adalah foto dirinya bersama sang Idola. Siapa lagi jika bukan Ethan EL-Yared yang sangat ia kagumi.
Kelima sahabat itu menatap tak percaya ke arah ponsel tersebut. 🤨🤨🤨🤨🤨
Galih, Arnav dan Tomi, bagaikan gaya slowmotion saling melempar pandangan, kemudian ketiganya mulai memindahkan fokus mata mereka ke arah Ethan dan Ferdo bersamaan. Dua pria itu jelas menampakkan raut wajah berbeda.
Ethan terlihat santai saja, walaupun mungkin awalnya tersentak kaget dalam diam. Namun, setelah memikirkan kenyataan bahwa dirinya adalah sang Idola banyak kaum Hawa, ia menganggap itu biasa saja. Mungkin, ponsel milik Melina ini adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan ponsel yang menggunakan foto dirinya sebagai wallpaper. Itulah yang ia percaya.
Berbeda dengan Ethan, FERDOOO meradang. Seolah merasakan hawa panas di seluruh wajahnya, kini wajah itu merah padam. Pria itu sendiri tidak mengerti, kenapa perasaan aneh ini harus ia rasakan. Melina bahkan bukan siapa-siapa baginya. Melina hanyalah gadis biasa yang mondar-mandir di sekitarnya akhir-akhir ini.
(Gadis ini memang berbakat dalam merusak suasana hatiku). Batinnya.
.
.
Keesokan harinya.
"Haiii..." Ethan menyapa dengan membawa sebucket bunga di tangannya.
(Please jangan tersenyum seperti itu kak, aku tidak kuat melihatnya)
Marsha menyambut kedatangan Ethan dengan ekspresi wajah biasa-biasa saja.
"Apa sebelum ini.. kau mengenalku?" Tanya Ethan.
"Hmmm.." Marsha mengangguk.
"Benarkah?"
"Tentu saja aku kenal kak.. kamu juga salah satu kakakku. Kamu yang sabar mengajariku bermain piano."
(Apa? dia bilang kakak? Aku bukan kakakmu.. aku calon suami-mu!). Itu adalah suara hati Ethan, tentu saja pria itu bebas saja mengatakan apapun dalam hatinya sendiri.
"Ya.. terima kasih karena masih mengingatku Sha." Ethan tersenyum hangat, lalu menyerahkan bucket tersebut ke tangan Marsha.
(Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapku kak, tapi ku mohon, hentikan perasaan itu. Aku benar-benar bukan typemu. Kamu... menyukai wanita cantik, sedangkan aku, aku hanya seorang gadis yang penuh dengan bekas luka di tubuhku. Ku pastikan, kamu akan lari menjauh dariku jika tahu yang sebenarnya).😔
Marsha memandang bunga cantik di tangannya yang diberikan oleh Ethan, dengan wajah tersenyum walau hati sedang menangis.
(Apa aku juga menyukai dia? Apa aku jatuh cinta pada kak Ethan? Jangan.. aku tidak boleh jatuh cinta. Aku hanya perlu memiliki keluargaku. Ya.. cukup mereka saja yang memiliki aku).
.
.
Benrsambung.
__ADS_1
Trima kasih pembaca. 🥰🥰