
Di kamar Jerry-Nagea.
Hari sudah larut, giliran gelap menyapa.
Nagea sedang menata kembali pakaiannya dari dalam koper, kedalam lemari.
Grep. Tangan Jerry tiba-tiba memeluk Nagea dari belakang.
"Apa si peluk peluk?" ketus Nagea, menghempas kedua tangan Jerry.
"Sayang, kenapa mode ketusnya diaktifkan lagi? Tadi kamu sudah panggil aku sayang di depan semua orang."
"Aku hanya bersandiwara. Apa kamu pikir kamu aja yang bisa akting?"
"Tapi sekarang aku sudah tulus Nagea! Aku ga sandiwara lagi"
'Tulus? Aku tidak percaya'
"Denger ya ... aku hanya meluangkan waktuku 1 bulan untuk tetap bertahan. Ini juga demi orangtuamu yang memohon. Jadi, jangan pernah mengira aku bertahan karena kamu. Kamu harus tau diri. Kamu itu tidak pantas untuk aku. Kamu hanya laki-laki murahan yang sudah dijamah oleh banyak wanita. Kamu kotor. Jujur, aku merasa Jijik bersentuhan dengami. Ingat itu!"
"Nagea?" Jerry tak pernah mengira akan mendengarkan kalimat penghinaan itu keluar dari mulut istrinya.
'Jadi, serendah itukah aku selama ini? Tuhan, tolong jangan membuat wanita ini pergi dariku!' Airmata pria itu mengalir begitu saja dari tempatnya.
"Pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin Seorang Nagea yang bahkan tidak pernah disentuh oleh pria manapun, berakhir menyedihkan seperti ini? Berakhir menjadi istri seorang pria sepertimu!" Lanjut Nagea lagi, dengan nada ketus, penuh penekanan.
"Nagea,, maafkan aku, aku berjanji tidak lagi sakiti kamu sayang" Pria itu berlutut dengan perasaan kacau. Istri yang sangat ia cintai kini berubah menjadi sangat dingin.
"Jangan seperti itu. Fokus saja memperbaiki akhlakmu. Dan satu hal lagi ... jangan pernah main kasar lagi. Kalau sampai kamu menyakiti tubuh aku lagi seperti dulu, aku tidak akan tinggal diam" Nagea memberi ancaman. Ia bahkan mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah pria itu.
Nagea kini benar-benar bersikap dingin terhadap suaminya. Selain untuk mengantisipasi dirinya sendiri dari kejahatan pria itu, Nagea memang sudah lama ingin mengeluarkan unek-uneknya. Menurutnya, Jerry harus benar-benar sadar betapa buruknya dia.
Meskipun sikap dingin istrinya ini sangat tiba-tiba, tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh Jerry saat ini.
\=\=\=\=\=
Keesokan harinya.
Seorang gadis memasuki pusat perbelanjaan, berencana untuk membeli handphone baru.
"Hari ini, aku akan berkeliling tempat ini saja."
Gadis itu ialah Melina. Mengingat ponselnya yang baru saja rusak gara-gara ulah si pencuri itu, terpaksa Melina harus ganti ponsel.
Dengan gaji yang baru ia terima terpaksa harus terpakai untuk membeli sebuah ponsel. Melina harus menyayangkan hal itu akan tetapi, apa mau dikata.
Ditempat lain.
Ferdo baru saja tiba di ruang kerjanya setelah baru saja menyelesaikan meeting dengan para manager hotel-nya.
Bip.
Sebuah notif masuk ke hp-nya dan langsung saja ia buka.
"Boss. Bukankah gadis ini orangnya?" Menampilkan foto Melina.
__ADS_1
π³"Melina?"
Ferdo dengan segera menghubungi sang pengirim foto tersebut, yang adalah sekertarisnya.
π "Ya Boss?"
π"Kau dimana Budi?"
π"Ah ... aku baru tiba mall. Sepertinya, gadis itu sedang ingin membeli ponsel, bos. Apa sekalian saja aku mengajaknya?"
π"Jangan. Tapi aku yang akan kesana. Tugasmu, ikuti dia dan jangan sampai dia membeli ponsel sebelum aku tiba."
π"Baiklah boss, terima kasih!"
Dengan segera, Ferdo menyambar kunci mobilnya. Ya ... dia memang menugaskan sekertarisnya itu untuk membeli ponsel lagi untuk Melina.
Di tempat lain.
"Permisi pak,"
"Ya ... ada yang bisa di bantu?"
"Pak ... saya ingin hp android dengan budged 1.5 jt" jujur Melina.
"Permisi, Pak, tolong tunjukkan android terbaru!" Lagi-lagi, Budi berada di dekat Melina dan berhasil mengalihkan perhatian para penjual untuk sigap melayaninya.
'Kayaknya ni orang cari gara-gara. Apa dia sengaja mengikuti aku? Dari tadi selalu aja muncul di toko manapun aku pergi. Belagu banget si nanya android terbaru? Ga beli juga!' Melina mulai merasa risih.
"Ini nona, ponsel yang sesuai dengan harga yang anda tanyakan," Meletakkan beberapa di depan Melina.
'Duuhh ... mana ga sesuai lagi dengan keinginan aku,' keluh Melina dalam hati.
"Permisi, pak ... tolong berikan ponsel yang sama kayak punya saya" Ferdo yang entah muncul dari mana, memperlihatkan ponselnya kepada pemilik toko.
'Kenapa ni orang tiba-tiba sudah muncul disini?' batin Melina.
"Hai!" sapa-nya pada Melina, yang sedang menatap nyalang pada dirinya.
"Pak, saya mau yang ini" Melina asal menjatuhkan pilihannya pada salah satu ponsel.
"Sebentar ya Nona," lalu menyerahkan ponsel berlogo apple digigit permintaan Ferdo.
"Ini seharga 1.5jt, uangnya boleh saya terima nona?" tanya sang penjual.
Melani - pun mengeluarkan dompetnya.
"Tidak perlu pak, ponsel ini, buat dia." Ferdo pun menyerahkan ponsel yang baru saja dia beli, kepada Melina.
Si penjual memandang bingung ke arah anak muda di depannya. Ia berpikir bahwa dua orang ini tidak saling mengenal.
"Apaan si, ikut campur aja urusan aku," ketus Melina, melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
"Mel ... Mel ... Mel, tunggu." Menahan lengan Melina. "Maafkan aku, yah!" Ferdo yakin, permintaan maaflah yang paling tepat saat ini.
"Ya ... dan jangan ganggu aku lagi." jawab Melina, pergi.
"Mel, ini ponselnya di terima ya! Please."
Terlihat gadis itu menarik napasnya dan menghembuskannya kasar. "Sepertinya kita harus benar-benar bicara serius, ikut aku." suruh Melina, yang tentu saja dituruti oleh Ferdo.
Keduanya kini berada di bawah pohon yang lumayan rindang.
"Kenapa kamu harus belikan aku ponsel?" tanya Melina, tanpa basa-basi.
"Ponsel kamu yang sebelumnya rusak gara-gara aku, jadi aku bertanggung jawab." jawab Ferdo.
"Terus kenapa harus yang paling mahal? Apa kamu punya uang yang sangat banyak? Atau ... kamu sedang pamer kekayaan keluargamu padaku yang sederhana ini?"
"Ngomong apa si Mel? Iya, kamu benar, uangku sangat banyak."
Melina melipat kedua tangannya di atas perut. 'Jadi dia sedang pamer?'
Melina lalu berkata dengan nada pelan, sebijak mungkin. "aku tau kamu anak orang kaya. Tapi Jangan buang-buang uang ... kamu tau, bapak aku sampai jual lahan miliknya untuk mendapatkan uang puluhan juta seharga ponsel kamu itu. Dengan kamu memberikannya padaku dengan gampangnya, sangat melukai harga diri aku. Aku merasa sedang di hina. Apa otakmu paham maksudku?"
"Mel ... ada bermacam cara orang menikmati hidup. Selagi tidak merugikan orang lain, maka itu tidak apa-apa!"
"Kenapa kamu seperti ini? Kamu bisa saja buat aku salah paham. Kamu bahkan mencuri ciuman pertama aku. Apa maksud kamu?"
"Yah?"
"Aku tanya, kenapa kamu mencium aku? Apa alasannya?" tanya Melina, dengan nada datar, menatap lurus ke arah lain.
"Karna ... karna ... karna" Ferdo tak bisa memberikan alasannya. 'Aku suka kamu mel ' ia hanya sanggup mengatakannya dalam hati.
"Kamu ga tau alasannya kan? Kamu jahat, membiarkan aku salah mengira. Lain kali jangan diulang lagi." Melina melanjutkan langkahnya.
"Mel, tunggu" Ferdo kembali menahan lengan Melina dan ... menarik gadis itu kedalam dekapannya. "Aku rasa ... aku menyukai kamu Mel. Aku ... jatuh cinta sama kamu."
Deg deg, deg deg.
.
.
.
Bersambung.
Thor Chantikz : Ethan? lagi dimana lu?
Ethan: Napa Thor? Kepo aja, lg di Amrik ni
Thor : ih, jauh bet si mainnya? pain disana?
Ethan: Biasa thor, jd babu bapak gue.
Thor: π€ga kgn Marsha lu bang? kpn plg?
__ADS_1
Ethan: ya kgn lah, awas ye lu thor, jodohin dia ke yg laen.π
Othor: ππ.