
“Bapak,, Ibu,, terima kasih banyak karena kalian berdua mau bantu Gea!”
“sama-sama non.. kami juga berterima kasih karena Non mau bantu pengobatan anak kami!”
“Pak, Bu, mulai sekarang, berlatihlah memanggil saya Nak atau Gea! Saya tidak tahu sampai kapan kita akan bersandiwara, tapi saya janji ini tidak akan lama.. Yah,,” Gea memohon dengan penuh harap.
“kami mengerti Non,”
Dengan terpaksa, Nagea membuat sandiwara tentang orangtuanya. Mantan pengasuhnya saat kecil dulu bersama suaminya lah yang kini bersandiwara sebagai kedua orangtua Nagea.
Gadis itu telah menjelaskan segala-galanya pada pasangan itu agar sandiwara mereka dapat berjalan dengan normal. Semua ini ia lakukan demi sesuatu yang namanya kebebasan. Ia ingin hidup dengan bebas di negara ini setelah masalah
dengan Jerry terselesaikan dengan baik.
'Menikah dengan pria gila itu? Baiklah! Aku siap menikah denganmu.. hanya menikah kan? Kau hanya butuh status sudah menikah tanpa
berniat memiliki istri. Bagaimana nasibku setelah menikah? Akan ku pikirkan nanti. Setelah adikmu kembali lalu kita berpisah? Bagus.. itu lebih bagus. Jadi setelah itu aku tidak perlu lagi hidup dalam rasa khawatir.'
Setelah menikah dengan Jerry, Nagea berencana berusaha sebisa mungkin untuk mencari keberadaan Marsha. Entah Marsha yang masih dalam keadaan hidup ataukah mendapat kebenaran lainnya.
Sesuai dengan perintah Jerry pula, kini Nagea akan kembali ke apartemen milik Jerry diantar oleh orang-orang suruhannya. Ada sedikit kelegaan
dihati Nagea karena Jerry tidak datang menemuinya.
..............
“Apa aku cantik?” tanya Fania dengan PDnya, memutar-mutar tubuhnya di depan cermin setelah mengenakan dress cassual yang disukainya. Jangan lupa, orang yang ia tanya adalah Ethan yang juga berada di dekatnya.
Mendengar kalimat pertanyaan APA AKU CANTIK dari gadis ini barusan membuat hati dan pikiran Ethan kembali mengingat Marsha kecil yang sangat
ia rindukan. Marsha tahu bahwa Ethan menyukai gadis cantik. Ethan juga sadar pernah mengatakan bahwa Marsha harus cantik saat dewasa nanti agar disukai Ethan.
“Hei... kenapa diam? Bukankah kita harus segera pergi?” tanya Fania, mengejutkan Ethan dari lamunannya.
“ah...oh.. maaf.. ayo kita pergi”
Ethan dan Fania berjalan beriringan hendak keluar dari istana negeri dongeng namun tak juga
kunjung bertemu dengan Rapunzel and the geng itu.
“Ethan, Fania.. tunggu dulu!” Mami muncul entah dari mana.
“ya, ada apa Mam?”
“Wahhh Fania, kamu sangat cantik..” mama menyentuh rambut Fania.
“Biasa aja kali Mam..” celetuk Ethan.
“Than... apa nanti kamu mengantar Fania langsung pulang ketempatnya? Atau kembai ke sini?”
“Maaf saya menjawab tante, setelah acaranya selesai saya akan langsung pulang ke tempat saya” terang Fania.
__ADS_1
“Oh, kalau begitu, ini bayaran kamu!” Mama menyerahkan sebuah amplop berisi uang kepada Fania. Tentu saja gadis itu menerimanya dengan
senang hati.
Entah kenapa, Fania dengan rasa penasaran membuka amplop tersebut dan segera membekap mulutnya sendiri. “tante.. kenapa bayarannya sangat banyak? Pekerjaan seperti apa yang akan saya lakukan disana?” Fania mulai merasa panik sendiri.
Ethan hanya melirik heran, atas ekspresi Fania.
“itu sudah bayaran kamu cantik.. kamu hanya perlu berada di samping putra saya selama disana” mami melirik Ethan, demikian juga dengan Fania.
'Jangan bilang, pria ini tidak bisa bawa diri saat berada di tempat orang lain dan harus dijaga ekstra?'
“ada apa dengan ekspresimu?” Ethan menatap protes ke arah Fania.
“Ah... tidak... maaf”
“sudah sayang, bawa saja.. itu buat kamu!” mami memaksa Fania membawa uang banyak itu.
“Baiklah karena tante memaksa, terima kasih banyak!” ucap Fania, sopan.
Keduanya pun kembali melanjutkan langkah. “eit tunggu, seperti ini..” mami menyatukan lengan kedua rang itu agar saling bergandengan.
Spontan saja Fania menarik tangannya, seperti enggan bersentuhan dengan Ethan. “tidak perlu seperti itu tante..” tolak Fania sehalus mungkin.
'hah? Apa gadis ini tidak waras? Dia bahkan terlihat tak sudi bersentuhan denganku?' Ethan menatap fania dengan wajah tak percaya.
“kenapa Fania? Menghadiri acara bersama memang harus saling bergandeng tangan.. ingat, itu bagian dari pekerjaanmu Fania”
Akhirnya Fania terpaksa menuruti dan menggandeng lengan Ethan.. selagi keduanya berjalan bersama, menuju mobil, Fania mencuri tatapan ke wajah Ethan yang memandang lurus ke depan. Senyuman kecil penuh makna terpancar dari wajah cantik Fania tatkala memandang wajah tampan itu. “kau semakin tampan saja kak!” Fania membatin.
Di dalam perjalanan.
“Fania, apa.. kau pernah melihatku?” Ethan tiba-tiba bertanya, membuat Fania terlihat sedikit gelagapan.
“Em... tentu saja pernah, teman baikku sangat mengidolakanmu!” Jujur Fania. Memang benar, Melina adalah salah satu penggemar berat penyanyi satu ini.
“Oh, jadi karena temanmu kau mengenalku! Apa ada artis yang kau gemari?” tanya Ethan lagi.
“Tidak ada.” Jujur Fania.
Ethan mengangguk-anggukkan kepala.
Tiba di tempat acara yang dimaksud.
“Ayo turun, tunggu apa lagi?”
“Maaaf, tapi... apa Fans fanatikmu tidak ada disini? Aku takut jika tiba-tiba saja mendapat lemparan telur atau apa saja, karena bersama-sama
denganmu.”
“kau terlalu banyak menonton drama” ucap Ethan, dengan nada protes.
__ADS_1
Fania sungguh tak tahu ini acara apa, tapi setiap orang yang hadir berpenampilan sangat luar biasa. Tapi gadis itu tak ingin tahu apapun, ia hanya mengerjakan pekerjaannya yaitu berada di samping Ethan.
“Hai Ethan..” seorang gadis yang terlihat berkelas yang mungkin saja memang selevel dengan Ethan, menghampiri dan dengan santainya
menggelayut manja di lengan pria itu, tanpa rasa canggung.
Ethan pun membiarkannya saja tanpa menolak. Memang si, pria ini sudah sangat terbiasa dengan tingkah sok akrab para teman-teman
perempuannya.
“Than, kita kesana yuk,” ajak perempuan itu pada Ethan tanpa menghargai Fania yang berada disampingnya.
“Boleh,” sahut Ethan. Namun, belum juga Ethan pergi, tangannya yang satu ditahan oleh Fania.
“Mau kemana?” Tanya Fania.
“Aku akan berjalan kesana bersama temanku ini. Kau tunggulah disini ya..”
Fania hanya merespon dengan menaikkan kedua bahunya, acuh.
Lama ia menatap punggung Ethan yang semakin menjauh.
“Lebih baik aku pulang saja” Fania pun pergi dari sana.
Setelah kembali ketempat dimana ia tadi pamit kepada Fania untuk pergi sebentar dengan teman wanitanya, Ethan tak lagi melihat keberadaan Fania.
Dengan perasaan sedikit khawatir, Ethan bolak balik mencari keberadaan Fania, namun tak kunjung ia temukan.
Di tempat lain,
"Melina cantiikkk.. buka pintunya.."
Fania menggedor-gedor pintu bangsal kecil itu.
Ceklek,
kepulangan Fania disambut dengan wajah sedih dan mata sembab milik sahabat satu-satunya, Melina.
"Mel... ada apa denganmu? Apa kau sedang belajar makeup hantu-hantuan?"
Melina cuek saja dan kembali ke tempat tidur dengan langkah gontai.
"Hei Mell.. kau kenapa? Apa ada orang kurang kerjaan yang mengganggumu?"
Melina lagi-lagi tak merespon, malah bersembunyi di balik selimutnya.
"O.. dasar sundel... baiklah, aku juga mengantuk dan sangat lelah, besok saja kau cerita padaku"
.
.
__ADS_1
Bersambung.