
Ferdo kembali mengirim pesan pada Melina.
Ferdo: [ I Love u Mel.]
Melina:
[ I Love U too ].
Ferdo tersenyum kecil saat membaca balasan dari pacarnya itu. 'Kau sangat menggemaskan, tapi keras kepala.'
Ferdo pun duduk di kursi tunggu yang tersedia disana. Sengaja ia biarkan Melina untuk beristirahat, menahan diri untuk menemui gadis itu. Selain itu, ia juga sedang menunggu bucket bunga yang baru saja ia pesan. (Ya ialah, tidak mungkin menjenguk orang sakit hanya dengan tangan kosong).
Di dalam ruangan.
Ibuk sedang menyuapi makan siang ke mulut putrinya itu, yang kini sudah mulai berlatih untuk duduk.
"Mel, bagaimana kamu dengan pria yang waktu itu?"
"Siapa maksud ibu?"
"Itu, yang karyawan hotel. Dia terlihat baik dan juga tampan."
"Si Ferdo?.. kenapa tiba-tiba tanya dia?"
"Karena ... yang ibu tahu, dia menyukai kamu Mel."
"Oh ... em ... iya buk, dia sekarang jadi pacar aku."
"Benarkah? Lalu ... dimana dia? Dia tidak tahu kamu sakit?"
"Em ... aku memang tidak memberitahunya buk. Lagi pula ... dia sedang sibuk."
"Terus kenapa kamu tidak cerita ke ibuk? Tiba-tiba sudah jadi pacar,"
"Bu, ibu suka dia jadi pacar aku?"
"Suka lah sayang, dia terlihat perhatian, pekerja keras dan juga tampan."
"Oh ... syukurlah. Tapi buk, bagaimana kalau posisi kita dengan dia berbeda jauh?"
"Apa maksudmu Mel?"
"Kehidupan kita buk. Sangat berbeda."
"Karena dia hanya karyawan hotel? Sementara kita adalah orang terpandang di kampung kita dan kau adalah calon dokter? Itu maksudmu?"
"Hah? Buk-bukan buk. Justru ... dia berada jauh diatas kita. Dia bukan karyawan biasa di hotelnya buk. Tapi ... dia pemiliknya."
"Haaaaaaaaaa?" ibu terlihat tak percaya.
"Itu maksudku buk."
"Mel, bagaimana mungkin, seorang pemilik hotel menyukai gadis kampung sepertimu? Ibuk tidak yakin."
"Sekarang ibuk meragukan dia?"
"Begini Mel, ibuk ... memang tidak pernah menjumpai orang kaya raya yang bersikap tulus."
__ADS_1
Drrrrrrrt drrrrrrt
Ponsel Melina berdering.
Ferdo Memanggil. Karena ini bukan panggilan Video, Melina segera menjawabnya.
Melina : Halooo
Ferdo: Hai ... Aku temuin kamu sekarang yah ...
Melina : Haah?
Ferdo: Lihatlah ke arah pintu.
Segera Melina menggeser pandangannya, dan benar saja. Ferdo, datang.
Benar. Pacarnya itu ada dihadapannya saat ini. Kaget? Iya. Sangat. Melina bingung harus bilang apa, harus bersikap bagaimana. Dan lagi, tatapan Ferdo dengan ekspresi sejuta masalah kini tergambar di wajah pria itu.
Dia tidak segera mendekat. Hanya mematung disana. Membuat Melina semakin salah tingkah.
Hening. Hening. Hening.
"Ehmmm." si ibuk terpaksa berdehem untuk memecah keheningan. Setelah itu, ia segera menghindar dari sana, seolah mengerti akan keadaan.
Kini, tinggallah Melina berdua dengan Ferdo, namun masih terpaut jarak beberapa meter. Tidak. Mereka tidak hanya berdua, sebab, ada satu pasien lagi yang terbaring di sebelah tirai pembatas.
"Kenapa hanya berdiam disitu?" tanya Melina, lalu merentangkan kedua tangannya, membuat Ferdo memunculkan senyum kecil.
Greeppp.
"Sayang, maaf ya, karena-"
"Shhhuuut diamlah. Jangan katakan alasan apapun sekarang Mel."
"Makasih, trima kasih sayang" ucap Melina.
"Apa masih sakit? hm?"
Melina hanya mengangguk dalam pelukan itu.
"Jenguk aku tanpa membawa apapun?"
"Tadinya aku sudah memesan bunga. Tapi sampai sekarang mereka belum mengantarnya. Aku lelah menunggu dari tadi."
........................
Korea Selatan
Nagea nampak gelisah. Sudah satu minggu suaminya itu tidak pulang. Sama sekali pria itu tidak menghubunginya, demikian pula dengan Nagea.
"Nage, kenapa mama perhatikan kamu sedang gelisah?"
"Oh, Ma, em... apa ... suamiku menghubungi Mama?" bertanya dengan hati-hati.
"Oh, ada kok, baru saja dia menghubungi mama menanyakan kabar kita semua." jawab Mama.
__ADS_1
'Apa katanya? Suamiku? Ah, sangat senang rasanya menantuku teryata sudah sadar kalau dia adalah seorang istri.' batin mama.
"Apa dia ... juga menanyakan aku Mah?" dengan sikap canggungnya, Nagea bertanya.
"Tentu saja. yang pertama dia tanyakan adalah kamu. Sepertinya dia sudah kangen. Baru juga satu minggu." Mama tersenyum menggoda Nagea dengan memperlihatkan barisan giginya.
Nagea hanya tersenyum tidak jelas. "Ma, aku ... hanya khawatir sama dia." jelasnya kemudian.
"Tenang saja sayang, dia baik-baik saja. Dia bercerita bahwa ada sedikit masalah dengan pekerjaannya. Tapi itu akan segera teratasi." ujar Mama Fema.
Selama 12 hari di Korsel, kini keluarga itu bersiap pulang, dan besok adalah harinya. Memang, proses perawatan dan penyembuhan bekas luka operasi plastik tidaklah instan, karena harus melalui beberapa Fase lagi. Akan tetapi, sembari menunggu Fase selanjutnya, Marsha boleh pulang ke Tanah Air.
Tentunya Ethan dengan setia mendampingi kekasihnya itu, dan menghandle semua pekerjaannya dari jarak jauh saja.
Saat ini, keduanya sedang bersantai berhadapan dengan layar televisi, disaat mama dan kak Nagea sedang keluar untuk jalan-jalan.
"Selamat ya sayang, sedikit lagi, kamu akan sembuh." bisik Ethan.
"Iya kak, selamat juga. Akhirnya, pacar kakak jadi cantik lagi kan"
Tap tap tap.
"Papa, papa datang?" Marsha terlihat bersemangat karena sosok yang sangat dirindukannya datang tiba-tiba seperti sebuah kejutan.
"Sayang, kamu sudah baikan?" tanya Juan sembari memeluk putrinya itu.
"Akan baikan Pah. Jangan khawatir." jawab Marsha.
"Trima kasih sayang, karena akhirnya tuan putri papa akan sembuh." ucap Juan, dengan Nada seperti ingin menangis.
"Pah ... jangan bersedih. Aku tidak apa."
.....
Malam harinya.
Di Kamar.
"Pa ... besok kami akan pulang. Kenapa papa sayang menyusul?"
"Memangnya kenapa? Aku sangat merindukan istri dan putriku. Apa lagi ... aku dengar maminya Etan sudah di jemput oleh suaminya. Aku takut kau kesepian." tutur papa Juan.
"Yang benar saja. Aku merasa kamu sedang menyimpan suatu masalah. Ayo, bilang,"
Juan pun tersenyum simpul.
"Mama sayang, memang sedang ada sesuatu yang terasa sangat berat aku simpan. Aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini."
"Apa itu Pah?"
"Sayang, sebelumnya, aku sungguh meminta maaf padamu. Soal Marsha... ternyata dulu ... Marsha kita di culik oleh seseorang yang membenciku."
.
.
Bersambung.
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰🥰🥰