
Pada akhirnya, Jerry ikut menikmati nasi bungkus menyeramkan itu, dari pada harus menahan rasa laparnya.
"Enak kan Jerr!" tanya Fema.
"Enak karena lapar Ma.." jawab Jerry, yang masih memikirkan gengsinya. "Ternyata rasanya tak seburuk wujudnya"
"Terserah kamu Jer, yang penting kamu makan, aman."
Fema kembali mengerjakan pekerjaannya setelah perutnya sudah terisi.
Setelah memindahkan bungkus nasi yang baru dilihatnya untuk pertama kalinya itu ke tempat sampah, Jerry menawarkan bantuan untuk membantu pekerjaan Fema.
Dengan senang hati, Fema memberikan tempat duduknya kepada si sulung itu, setelah memberitahukan apa saja yang bisa Jerry kerjakan.
"Aaahhhh... beruntung mama punya anak pintar dan tidak gaptek. Jadi bisa santai sedikit. Trima kasih Jerr mau membantu!" Jerry hanya tersenyum simpul memdengar pujian mama, (ya.. anak itu tidak mungkin ngakak fema) sambil terus fokus pada berbagai nama merek pakaian dan sizenya.
"Ternyata, peminat butik mama banyak juga.. waa mama hebat, bisa segalanya. Ternyata, sesenang ini rasanya punya mama."
Selain menjual dengan harga satuan, ternyata butik mama juga menjual dengan harga partai, yang rata-rata pelanggannya itu dari luar daerah.
Dalam sekejap, anak itu sudah menyelesaikan pekerjaan mama.
Dilihatnya, mama sedang tertidur dengan sangat nyaman. Wajah yang sangat teduh, yang selalu menjadi penyemangat akhir-akhir ini.
Karena sudah menyelesaikan pekerjaannya, Jerry tiba-tiba ingin bermain game dan memutuskan untuk mencari aplikasi game pada PC milik mama.
Setelah meminimize semua table tools yang tadi ia kerjakan di komputer mama, Opps Jerry terkesima melihat wajahnya, Ferdo dan Marsha yang muncul dihalaman layar komputer yang ternyata memang di buat mama sebagai background. Pada pose itu telah diberikan caption nama Pengeran ke 1, Pangeran ke 2, Tuan Putri.
"Jadi, aku adalah pangeran ke 1? Mama ada-ada saja."
Jerry belum tahu aja masih ada julukan lain untuknya yaitu Pangeran Mahkota, Pangeran es balok, dan si sulung tampan.
Anak itu tersenyum senang mengetahui kenyataan ini. Ia melirik ibunya yang tengah tertidur, "Trima kasih ma" batinnya.
Diposisi Lain.
"Ethan, kau serius ingin mengajari adikku bermain piano?"
"Iya Ferdoo.. harus berapa kali aku bilang?"
__ADS_1
"Bagus jika kau serius. Aku menginginkan hasil. Awas saja kalau kau gagal."
"Lihat saja nanti.. lagi pula, piano itu hadiah dariku jadi tidak mugkin aku tidak sungguh-sungguh mengajarinya."
Ethan membelikan subuah hadiah piano khusus untuk adik cantik yang baru dilihatnya beberapa kali itu. Anak itu menghubungi mamanya untuk membayar piano tersebut, ia berada di toko alat musik, sementara mama berada di salon kecantikan untuk mempercantik diri.
Perkenalkan Ethan guysðŸ¤
Mamanya yang tak tahu-menahu itu, hanya mengikuti permintaan ABG satu-satunya yang tak terbantahkan. Ia melakukan pelunasan dari jarak jauh melalui ponselnya, sesuai dengan harga yang diberitahukan oleh pihak penjualnya, tanpa negosiasi mengenai harga terlebih dahulu. Maklum, mamanya Ethan anak sultan sejak lahir. Sebuah piano saja tidak akan membuatnya jatuh miskin.
Ferdo dan Ethan kini menuju kediaman Barata setelah kelar dalam urusan belanja alat musik. Sang sekertaris yang menemani mereka segera mengirimkan bukti pembelian alat-alat musik itu ke email bosnya, yakni Tuan Mahendra.
Sebuah mobil box besar mengikuti dari belakang untuk mengantarkan paket alat musik itu ke kediaman keluarga Barata. Ya.. Juan dan Fema memfasilitasi sebuah ruang di lantai paling atas kediaman Barata untuk dijadikan tempat latihan bagi grup band pangeran ke-2, lalu kakek Mahendra menyumbang alat musik fullband secara sukarela tanpa paksaan.
Diposisi Lain.
Setelah menyelesaikan tugasnya di ruang bedah dan memastikan tak ada lagi pekerjaan menunggu hari ini, Juan memutuskan untuk pergi ke butik untuk mendatangi istri, sekalian menjemputnya.
Hari sudah sore. Fema terbangun dan mendapati putranya sedang serius bermain game di komputer.
"Jer, kita siap-siap pulang sayang," ajak Fema.
"Maaa.." panggil Jerry.
"Ya?"
"Aku ingin mengajari Marsha bela diri karate. Apa boleh?"
Fema terlihat memikirkan sesuatu.
"Kenapa dia harus latihan bela diri?"
"Dia harus bisa bela diri kalau mau jadi adikku"
"Apa hubungannya?"
"Jadi itu syarat jadi adikmu?"
__ADS_1
"Tentu saja.. aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk menjaganya ketika besar nanti. Dia harus bisa menjaga dirinya."
"Oh... terserah kamu Jerr! Asalkan..."
"Asalkan apa?"
"jangan mengubahnya menjadi gadis tomboy. Mama sudah punya 2 anak laki-laki, itu sudah sangat cukup.
Tiba-tiba...
"Selamat sore.." sapa seseorang yang sangat mereka berdua kenal.
Saat Jerry bertemu mata dengan papa, sepertinya papa memberi kode supaya ia keluar dari ruangan ini lebih dulu. Jerry yang sudah paham akan kode itu pun segera mengerti, dan lebih memilih cari aman. Dari pada dia harus menyaksikan yang tidak-tidak, batinnya.
"Papa sudah datang, Ma.. aku tunggu diluar yah.." pamitnya, dan diiyakan oleh Fema.
Jeri pun menghilang di balik pintu, meninggalkan papa dan mama yang sedang tatap-tatapan di dalam.
"Papa sayang, ayo kita pulang."
"Baiklah, tapi tunggu dulu. Aku ingin pemanasan disini saja.
"Sayang, sabarlah.. tunggu nanti malam."
"Sekarang... sebentar saja.." menahan tangan Fema.
"Papa sayang, pangeran Mahkota dingin itu sudah menunggu diluar.."
Juan pasrah, tak bisa membantah kalau sudah Pangeran jadi alasan.
.
.
2 Tahun Kemudian.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Guys, Sebelum kita ke belasan tahun kemudian, kita mampir dulu ke 2 tahun kemudian yah guys..☺