
"Aku datang,"
Kehebohan 3 orang kakak beradik itu terhenti saat menyadari kehadiran Abner yang datang dengan membawa bantal dan selimut miliknya.
Mau apa lagi dia kalau bukan ingin bergabung dengan ketiga kakaknya. "Geser kak, beri aku tempat," titahnya pada Marsha dengan memberi aba-aba melalui tangannya.
"Aaaaaa.. mama tolong aku,"😟
"Kasurku ini hanya muat untuk 2 orang. Kenapa kalian bertiga memaksanya menampung kita berempat!" teriak Marsha, namun tak dipedulikan.
"Tenanglah cerewet, kalau aku sudah menikah nanti, aku tidak akan berkesempatan tidur denganmu seperti ini. Meskipun kau merengek memintaku" kata Ferdo, dengan santai.
"Benar, aku juga. Karena kakak iparmu sedang tidak bersamaku, maka ini kesempatanku untuk menemani adikku. Kalau kakak iparmu itu sudah kembali, jangan harap aku bisa menemanimu lagi Marsha," ucap kak Jerry, dengan wajah tak kalah menyebalkan.
Marsha hanya menggulirkan bola matanya, jengah mendengar penuturan PD tingkat tinggi kedua kakaknya itu.
Abner terlihat hendak mengatakan sesuatu.
"Tunggu! Bang, memangnya siapa yang akan kau nikahi? Kak Melina? Tapi kenapa dia menghilang? Ahhh. Aku rasa ... kalian sudah putus bahkan belum sempat jadian!" tutur ABG itu, lalu tertawa.
Bocah itu menjeda kalimatnya untuk memperlihatkan tawa jahatnya. Kemudian beralih ke kakak pertamanya, "dan kak Jerr, aku merasa ... kak Nagea tidak akan pulang lagi ke ruamh ini. Kau akan menduda diusia muda kak, sabar ya," sambung Abner lagi dengan sikap tenangnya, terdengar sangat menjengkelkan.
"Booociiiiiiiil" Jerry dan Ferrdo mengeram gemesh adik bungsunya itu, seperti hendak menerkamnya.
Marsha tertawa terpingkal-pingkal menonton aksi ketiga saudaranya, terlebih ucapan pedas dari mulut adiknya.
"Ferdo, ayo kita buang anak nakal ini!"
"Ayo kak, buang saja. Dia sangat menjengkelkan"
Kedua abangnya itu benar-benar menggotong tubuh adiknya keluar dari kamar.
Sedangkan Marsha, ia kembali meraih ponselnya untuk membalas chat dari Ethan. Tidak ada niat sedikitpun untuk ikut campur kegaduhan antar ketiga saudaranya.
"Mama.... papa.... tolong....!"
"Tolooong"
"Tolooong"
"Toloooong"
ABG itu berteriak hebat. Bukannya meminta ampun pada kedua kakaknya, dia malah meminta tolong pada kedua orang tuanya yang mungkin sudah berada di alam mimpi.
"Toloooong, kak, hentikan. Ini namanya percobaan pembunuhan. Mama... mama... tolong!" Teriaknya, histeris.
"Ayo kak, jatuhkan dia. Satu, dua,"
"Astaga! Jerry! Ferdo! Apa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
Ternyata si mama sedang melintas untuk mengambil air mineral, mendengar putra bungsunya berteriak minta tolong. Auto shock lagi melihat Abner dalam keadaan tergantung dalam posisi terbalik dengan kakinya masing-mading dalam genggaman dua kakaknya itu.
"Mama?" Ferdo dan Jerry saling menatap, merasa panik, takut mama pingsan lagi.
"Ada apa sayang?" Papa Juan pun kini berada disamping istrinya itu.
Fema mengarahkan jari telunjuknya keatas.
"Astaga. Apa itu? Abner?"
Papa Juan tak kalah syok melihat aksi canda berlebihan ketiga putranya itu. Enak saja dua anaknya itu ingin menjatuhkan putra bungsunya dari lantai atas. Benar-benar keterlaluan.
"Papa ... tolong!"
"Bocah, kau selamat kali ini karena ada papa mama yah, lain kali kalau kau menjengkelkan lagi, kami berdua akan menguburmu hidup-hidup." ucap Ferdo, mengancam.
"Pa, tangkap dia. Dia akan melompat! Satu, dua, tiga." (tentu saja dua orang itu hanya bercanda).
"Hueeeek... huuueeeek"
Bocah itu berlari ke kamar Marsha melesat langsung ke kamar mandi kakaknya itu, untuk memuntahkan sesuatu yang sangat ingin keluar dari dalam sana.
Sedangkan papa dan mama mengelus dada dan bergegas ke lantai atas melihat anak-anaknya, ingin tau apa yang sedang terjadi dengan mereka.
Kedua pangeran yang sudah dewasa itu tertawa bahagia berhasil menakuti adiknya yang super menyebalkan itu.
"Becanda Mah," jawab Jerry, santai.
"Bercanda apa maksudmu? Lain kali papa tidak mau melihat candaam yang terlalu kriminal seperti tadi"
"Benar sayang, adik kalian bisa trauma atau bahkan phobia ketinggian jika kalian seperti tadi." ucap mama.
"Iya pa, ma," jawab Ferdo dan Jerry bersamaan, seperti bocah penurut.
Papa dan mama kembali ke kamar setelah berpesan pada ketiga anaknya itu untuk bertanggungjawab atas apa yang telah mereka lakukan pada adik bungsunya, dan meminta mereka untuk meminta maaf pada Abner.
"Ner ... kau tidak apa-apa kan, didalam?"
Marsha mengetuk pintu berulang kali, karena mengkhawatirkan adiknya itu yang tidak juga keluar dari kamar mandi.
Selang beberapa waktu, ABG usil itu akhirnya keluar juga dari kamar mandi dalam kondisi memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, dan terlihat sangat lemes.
"Bocah, maafkan kami berdua ya,"
Kedua kakak jahatnya itu mendekati Abner yang mukanya terlihat sangat tidak bersahabat.
Marsha, gadis itu lebih memilih diam-diam membalas chat sang pacar.
"Apa kalian berdua sungguh-sungguh minta maaf?"
__ADS_1
"Iya ... apa di jidatku tertulis bahwa aku sedang bercanda?"
"Abner, lain kali tolong filter setiap perkataanmu. Aku sangat sensitif jika itu menyinggung temyang istriku." jujur kak Jerry.
Posisi ketiga orang itu sedang duduk di sisi tempat tidur Marsha.
"Baiklah, aku memaafkan kalian. Tapi, --"
"Tapi apa?" Jerry-Ferdo mulai memicingkan mata, curiga.
"Besok aku ingin shopping bersama kak Marsha. dan--"
"Iya, iya, kakak mengerti. Black card kan? Besok akan kakak pinjamkan ya," Jerry mengacak sedikit rambut dikepala ABG itu.
Berbeda dengan kak Jerry, Ferdo serasa ingin menjewer telinga bocah itu. Bagaimana tidak, bocah itu benar-benar tak berperasaan jika diberi kepercayaan belanja menggunakan kartu.
Abner terlihat berubah senang dan sehat seketika.
"Baik sekali adikku ingin mengajakku berbelanja. Terima kasih ya Ner." Marsha mengedipkan matanya memberi kode pada Abner.
"Ehmm. Kak, aku ... juga ingin meminta maaf padamu ya," ucap Ferdo, tiba-tiba. sedangkan Jerry terlihat bingung.
"Waktu itu aku datang ke kantormu dan memukulmu. Aku minta maaf kak, aku juga mengatakan aku tidak ingin lagi menjadi adikmu. Saat itu aku hanya berbohong karena marah."
"Oh, itu. Aku kira apa. Sudahlah. aku tidak mengingatnya lagi." Keduanya pun berpelukan, dan saling maaf-maafan.
"Ikuuut," Marsha juga tak mau ketinggalan momen manis itu, ia menghampiri kedua abangnya dan ... memeluk.
"Baiklah, aku juga ikut" Abner pun menyusul ketiga kakaknya. (kayak Teletubies aja kalianðŸ¤).
\=\=
Keesokan harinya.
Juan dan Fema sudah duduk manis di ruang makan dan memunggu kedatangan 4 anaknya itu untuk bergabung.
"Mama sayang, anak-anak itu kenapa belum turun juga? Ini sudah 30 menit."
Fema pun meminta pelayan untuk memanggil anak-anak yang tidak biasanya bangkong itu.
Beberapa menit kemudian, pelayan yang dimaksud kembali dan mengatakan bahwa para tuan muda masih tidur di kamar milik nona.
"Haah?"
"Sayang, ayo datangi mereka." ajak Juan. Keduanya pun melangkah menaiki tangga menuju kamar Marsha dengan satu pertanyaan dikepala yaitu, bagaimana penampakan keempat orang itu tidur dikamar yang sama.
.
Bersambung ....
__ADS_1