
Marsha: Thooooooorrrrr!😈😈
Author cantek: Iya Sha? Jan treak² dong.
Marsha: Kamu gimana sih thor? Tega bgt sama aku?😑😔
Author Cantek: Kenapa lagi? Lagian kamu sih, ngapain main petak umpet segala sampe 13th? Abang kamu nyariin tu loh!😒
Marsha: Ya udah, buruan pulangin aku.😏
\=\=\=\=\=
Bolak balik, Fania memikirkan sesuatu yang bisa menjadi cara yang tepat agar orang ini bisa tertangkap. Enak saja dia bersembunyi setelah berhasil menculik Marsha 13th lalu.
"Dia bahkan mengancamku dengan semua ini?" Fania menatap beberapa lembar Foto yang telah dikirimkan padanya. Yang mana adalah Foto seluruh anggota keluarga Marsha, bahkan Melina dan kak Nagea pun ikut terancam.
..........
FLASHBACK ONNNNNNNN
"Tolong... tolong..." seorang gadis kecil menjerit minta tolong saat terbangun dan menyadari dirinya ada di tempat asing. Gadis kecil itu ialah Marsha.
Masuklah seorang pria yang layak dipanggil paman, lalu membentak Marsha hingga anak itu terdiam.
"Hei.... gadis kecil...” seseorang yang lain yang usianya jauh lebih muda tiba-tiba masuk setelah kepergian paman jahat tadi!
“Kak, tolong Marsha... paman tadi memarahi Marsha!..”
“Kenapa... anak kecil? Kau... ketakutan?” Tanya anak muda tersebut, dengan seringai jahat yang sayangnya tidak dapat diartikan oleh Marsha kecil yang polos.
“Iya kak, Marsha takuut.. kak, apa kau akan membantuku pergi dari sini?”
“Ya.... kau akan dibawa pergi dari sini anak kecil.. pergi ke tempat yang sangat jauh! Kau tidak akan pernah bertemu kakak kesayanganmu itu lagi!”
Deg..
“Jadi kakak ini juga orang jahat? Mama.... Papa..... kakaaaak..! dimana kalian? Kenapa Marsha tidak melihat kalian lagi?” anak itu menangis dalam hatinya.
Beberapa hari dalam kurungan anak muda dan paman jahat itu, keduanya kembali mendatangi Marsha bersamaan. Anak muda itu memanggil orang yang lebih tua itu dengan panggilan paman. Entah apa hubungan mereka, Marsha juga tak tahu pastinya.
Dua orang itu membawa gunting dan mulai memotong rambut Marsha. Memotong rambut panjangnya, dengan maksud agar Marsha bisa tersamarkan dan tak dikenali oleh orang lain. Pasalnya, seluruh kota ini tengah mencari gadis itu. Fotonya terpampang dimana-mana, karena dinyatakan sebagai anak hilang.
“Jika kau menyayangi keluargamu, maka diamlah. Ikut saja kemana paman ini membawamu. Kau akan aman, tidak akan dibunuh! Ingat, jangan berani – berani melawan. Jika kau berani kabur atau berteriak minta tolong, ada sebuah pistol yang selalu siap meledakkan kepala kakak kesayanganmu itu!” tegas anak muda itu dengan nada mengancam.
Pada tengah malam, paman jahat itu membawa Marsha pergi meninggalkan kota dengan menumpang dalam sebuah kapal laut. Mereka pergi berdua saja tanpa anak muda itu.
Setelah beberapa hari dalam kapal laut, dan menempuh perjalanan darat beberapa jam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil, yang Marsha yakin bahwa paman jahat ini adalah pemiliknya.
“Ingat! Panggil aku ayah. Mulai sekarang, kau akan dimanggil dengan nama FANIA. Jangan sampai orang lain tahu bahwa kau bukan anakku.! Kau mengerti?” Paman itu kembali mengancam.
Marsha kecil hanya bisa mengangguk dalam ketakutannya.
__ADS_1
Flashback off dulu yeee..
“Ya... aku tidak boleh takut. Sekarang aku sudah dewasa. Aku harus menghadapi brengsek gila itu. Aku harus menangkapnya sebelum dia membahayakan keluargaku!”
Marsha terlebih dahulu mengatur rencana untuk mengamankan Melina. Satu-satunya orang yang paling dekat dengan ancaman pria itu adalah Melina. Karena apa? Tentu saja karena Melina hidup mandiri jauh dari orangtuanya, dan lihatlah bangsal kecil ini. Dalam sekali gerakan saja pintunya akan terlepas! Akan dengan sangat mudah orang lain merusaknya dan mengambil Melina.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain.
“Pakai ini nanti malam!” Jerry menyerahkan sebuah paper box kepada istrinya, yang berisi sebuah dress cantik.
“Baiklah,” jawab Nagea, singkat. Apa susahnya menuruti permintaannya! Syukur-syukur karena pria ini sudah tidak menyiksa fisiknya lagi. bersikap baik, itulah pilihan Nagea saat ini.
“Kau tidak mengucapkan terima kasih padaku?” tiba-tiba saja Jerry bersuara dengan nada sedikit menjengkelkan ditelinga Nagea.
“Ya ampun, apa pentingnya mengucapkan terima kasih padamu?”
“Ehmmm.. ya, terima kasih banyak”
“Bersikaplah seolah kita ini adalah pasangan suami istri yang bahagia! Aku tidak ingin orang lain tahu jika kita hanya bersandiwara!” setelah mengucapkan kalimat itu, Jerry pun pergi meninggalkan Nagea sendirian di kamar.
“Huffff... pria ini memang berkopeten memperpendek umurku!” Nagea hanya bisa bergumam, dan sepuasnya mengumpat suaminya itu saat sendirian.
“Kakak ipar,”
“Astaga!” Nagea terkejut bukan main. Adik ipar bungsunya tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarnya yang sedang terbuka. “Ada apa Abner?” bertanya dengan perasaan gugup. “Apa dia mendengarku mengumpat kakaknya?”
“Mama meminta kakak ke kamarnya.” Jelas Abner.
Di kamar Mama.
Tok tok tok.
Nagea mengetuk walaupun kamar mama dalam keadaan terbuka.
“Nagea sayang, sini masuk nak,”
Nagea pun mendekat.
Mama memintanya duduk dengannya di tepi tempat tidur. Lalu, Fema membuka sebuah box besar yang nampak sangat elegant, yang ternyata berisi berbagi jenis perhiasan milik mama.
“Sayang.. mama akan mengenakan gaun yang ini nanti malam, dan coba kamu tolong pilih, mama akan cocok pakai kalung yang mana ?”
“Ma.. semua terlihat cantik dan keren. Mama cocok mengenakan yang mana saja!” jawab Nagea.
“Sayang, tapi mama ingin kamu memilih satu untuk mama!” Fema sedikit memohon.
“ya ampun, ibu mertua kenapa si? Tiba-tiba manja seperti ini! Ah tapi tidak ada salahnya sedikit berkontribusi selagi aku menjadi menantunya. “yang ini Mah..” Nagea menunjuk salah satu.
“Ah,, ya ampun sayang, pilihan kita sama. Mama juga memilih yang ini!” mama lalu mengasingkan kalung yang dimaksud. “dan ini, buat kamu ya Nagea.. mama akan pakaikan” Fema bermaksud memakaikan salah satu ke leher menantunya, akan tetapi tangannya di tahan oleh Nagea.
__ADS_1
“Jangan ma.. tidak perlu” tolaknya, halus.
“Tidak apa sayang! Pakailah ini!” mama memaksa Nagea, yang mau tak mau dituruti oleh gadis itu.
Ulang Tahun Mama Fema.
Malam hari ini, pesta ulang tahun mama Fema akan di gelar, yang acaranya akan di adakan di kediaman Barata.
Entahlah, padahal mereka horang kaya punya segalanya tapi ngadain acara kok di istana sendiri. menghemat kali yak!😑
"Faniaa! cepeeet." Melina setengah menyeret tubuh Fania untuk masuk rumah besar yang layaknya di sebut sebuah Mansion. Tempat inilah yang menjadi saksi tumbuhnya kasih sayang dari kak Jerry dan Ferdo terhadap Marsha.
Dulu, Mereka bertiga bahkan sering memperebutkan satu tempat tidur, yakni ranjang empuk milik Marsha. Kedua kakaknya itu berubah layaknya anak kecil katika sedang memperebutkan Marsha.
Meskipun Ferdo selalu cerewet, tapi ujung-ujungnya adalah tetap mengalah pada Marsha. "Ya sudah.. Terserah Marsha.. Marsha maunya begini kan? Okelah.. kakak mengalah." kata-kata itu yang selalu Ferdo ucapkan di akhir protesnya.
Begitu pula dengan Jerry, walau pun ia dengan kerasnya mengajari Marsha ilmu bela diri, bahkan sering memarahi Marsha ketika gadis itu tidak dapat menirukan setiap gerakan yang ia ajarkan, endingnya akan selalu minta maaf dengan lembut. "Maafkan kakak ya Sha.. kamu pasti capek ya!" kalimat itu yang selalu Marsha dengar dan ia ingat sampai hari ini.
'Waaaahhh kak, kalian berdua pasti masih suka mengomeliku. Aku pulang kak, bisakah kalian mengenaliku?.. aku akan cari cara agar kita berkumpul lagi. semoga di saat itu tiba, kalian masih tetap sama.'
Memijakkan kaki di tempat ini lagi tentu saja membuat Fania tak bisa mengendalikan emosinya. Datang ketempat ini, berarti dia akan dipertemukan dengan keluarga yang sangat dirindukannya. Yang bahkan mungkin sudah tidak lagi mengingat rupa nya.
Suasana meriah memenuhi ruangan besar keluarga Barata, yang sudah disulap menjadi ruang sebuah pesta dan didekorasi dengan sangat elegant. Melina dan Fania sudah berada di dalam.
“Melinaaa!” teman-teman Melina sesama penjaga butik itu melambaikan tangan ke arahnya.
“Ayo Fania, kita kesana! Aku akan memperkenalkanmu dengan teman-teman kerjaku!” Melina kembali menyeret Fania.
“Hai teman-teman, ternyata kalian sudah datang lebih dulu!” melina basa-basi. Matanya terus jelalatan kemana-mana seperti ada yang di carinya.
“Eh, Mel.. cari sapa si? Anaknya bu Boss ya?” sahut salah seorang, menggoda Melina dengan cara mengedip-ngedipkan mata.
“Ah.. sembarangan. Aku hanya memastikan dia tidak melihatku karena jika dia sampai melihatku, moodku akan hancur” Melina berkilah. “oh ya, perkenalkan, ini sahabatku, namanya Fania.. Fania, mereka adalah teman-teman sekerjaku, dan mereka sangat baik.” Melina memperkenalkan satu per satu teman-temannya.
Menit demi menit berlalu, kini hadirlah sang empunya acara bersama sang suami yang berada di sebelahnya. Siapa lagi jika bukan the Barata’s family. Fema menggandeng lengan suaminya, Juan, dengan mesranya. Ketiga pangeran tampan mengikuti dari belakang. Jangan lupa, gadis yang baru saja bergabung dengan keluarga itu sebagai istri untuk pangeran ke satu, juga bersama-sama dengan mereka. Jerry dengan santainya meminta Nagea untuk menggandeng lengannya. Tentu saja istrinya yang masih gadis itu terpaksa melakukannya.
Sepasang bola mata indah menatap kearah keluarga itu denngan wajah penuh emosi. “Astaga.. aku tidak menyangka, hanya menatap kalian dari sini. Seharusnya, aku ada diantara kalian saat ini, menjadi tontonan semua orang, sebagai keluarga lengkap dan bahagia." batin.
Mengingat akan ancaman yang ia terima beberapa hari lalu, Fania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berharap bisa menemukan seseorang yang tampak mencurigakan.
"Dimana dia? Aku yakin, dia ada disini." batin.
.
.
.
Bersambung.
Hei... ini ada cerita temen othor, kalian boleh mampir, kali aja suka😊
__ADS_1