Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Terlihat Kekanakan


__ADS_3

"Kak, ke-napa, kita berhenti?" tanya Marsha, dengan wajah polosnya yang hakiki.


"Ehmmm... aku hampir saja melupakan sesuatu."


"Ap..apa itu?" merasa penasaran.


"Emmmmmm" Ethan terlihat memikirkan sesuatu.


Sedangkan Marsha, masih stay dengan wajah polosnya.


"Begini Sha, kakak akan memberikan sesuatu sebagai tanda kita sudah jadian." ucap Ethan, dengan wajah serius.


"Oh ya? Apa itu? Mana? Berikan." Marsha menadah kedua tangannya menghadap Ethan dan ... menutup kedua matanya.


'Bagus, dia menutup mata.'


Marsha masih dalam posisi itu menunggu dengan rasa penasaran. ini Adalah pertama kali baginya akan mendapatkan hadiah, dari sorang pacar.


CUP.


Sebuah kecupan berhasil mendarat dibibir milik Marsha, kecupan secapat kilat.


"Kak, apa itu tadi?"


Marsha bertanya dengan ekspresi teramat bingung, karena merasa ada sesuatu bersentuhan dengan bibirnya. Namun, pada saat membuka mata, dia tidak tahu apa itu, apa yang telah terjadi.


"Pfffft"


Ethan tertawa geli melihat ekspresi wajah bingung pacarnya itu.


'Dia benar-benar tidak tau kalau aku barusan memberinya kiss?'


'Ternyata dia sangat polos!'


'Kenapa aku merasa aku sedang mengencani seorang gadis dibawah umur? Oh, tidak, Marsha'


"Kak, Jawab! Ko malah ketawa? Apa tadi yang menyentuh bibirku? Itu terasa aneh."


"Hah? Oh ... tadi, ada sesuatu di bibirmu. Jadi, aku ... membersihkannya."


Ethan kembali melajukan mobilnya yang sempat menepi.


"Ha? Sesuatu?" Marsha terlihat meraba bibirnya sendiri. "Terus, mana? Sesuatu yang ingin kakak berikan padaku?"


"Oh ... besok saja yah, itu ... ketinggalan Sha," Ethan terpaksa berbohong.


\=


Tiba di kediaman Barata.


Marsha dan Ethan turun dari mobil.


"Kak, terima kasih ya, telah mengantarku. Kakak sangat membantu sedikit tugas kakakku. hehe!"


'Heh, iya Sha, tapi jangan terus memanggilku kakak. Yang ada, orang hanya akan mengira kita ini kakak beradik'


"Kak, kok ngelamun?"


"Oh, tidak apa. Ayo, kita antar kamu ke dalam."


Grreep.


Marsha, tiba-tiba memeluk Ethan. "Seperti ini saja dulu, sayang."

__ADS_1


deg deg, deg deg,


'Dia benar-benar bertindak diluar dugaan.'


"Kak, jantungmu, berdetak ... tidak normal" ucap Marsha dengan nada polosnya.


"Iya, kesehatan jantungku ... memang sedikit menurun, akhir-akhir ini."


'Ahhhh ... benar-benar kacau. Kenapa jantungku bahkan terasa ingin meledak, hanya gara-gara dia memeluk dan memanggilku sayang?'


"Kak, jantungku pun terasa seperti ini kalau aku gugup saat didekatmu." jujur Marsha, yang masih saja menempelkan telinganya yang hanya setinggi dada Ethan.


"Benarkah?"


"Hmmm! Sekarangpun begitu. Kakak mau mendengarnya?" tanya-nya, polos tanpa rasa sungkan.


"Hah? Ti-tidak perlu Sha, aku ... percaya."


'Dan aku masih ingin tidur nyaman malam ini, tanpa mendapatkan amukan dari kakakmu yang terkadang gila itu.'


Ethan tau betul bagaimana kedua kakaknya Marsha ini yang sangat menjaga adik perempuannya. Lagi pula, Marsha ada-ada saja, bagaimana mungkin dia meminta seseorang mendengarkan detak jantungnya. Yang ada, jatohnya malah terlihat seperti adegan tak pantas, dan itu bisa saja mengancam kenyamanan hidup Ethan jika sampai kepergok oleh dua pria liar itu.


.


"Kak, hati-hati di jalan ya..."


"Iya Sha ..."


Ethan pun kembali ke mobilnya untuk segera pulang, setelah mengantarkan Marsha sampai di dalam rumah.


Sepeninggalan Ethan, Marsha tak henti-hentinya tersenyum.


"Ehmm ... senyuman apa itu?"


"Duuuuh, bocaaah, mau kakak jelaskan sampai kemanapun kamu tidak akan mengerti! Kakakmu yang cantik ini, sedang bahagia. Itu saja!" Marsha setengah berlari menuju kamarnya masih dengan wajah bahagianya yang tak ketulungan.


Ceklek.


Marsha membuka pintunya, sambil fokus ke layar ponsel untuk mengirim pesan cinta ke Ethan.


📨Marsha: "Sayang, sudah sampai belum?"


'Aaaaa, ya ampum, ini pesan romantis dari aku untuk pertama kalinya.' Marsha mulai kehilangan kendali perasaannya, dan berjingkrak-jingkrak kecil dibalik pintu yang baru saja dia tutup😊


"Kenapa kamu Sha?"


"Aaaaaaa"


Marsha terkejut bukan main mendengarkan pertanyaan dengan nada datar dari abangnya si pangeran es.


"Kakak, kenapa kalian ada di kamarku?" tanya-nya, dengan nada setengah membentak.


"Apa? Kau sedang meninggikan suara terhadap kakakmu?" Ferdo mulai menajamkan tatapannya.


"Bu-bukan, tapi, aku kaget."


"Cepat bersihkan diri, ganti baju.. jangan hanya berdiri disitu." titah Jerry.


Marsha pun meletakkan tas-nya lalu segera ke kamar mandi.


"Huf huf... kak Jerry sama kak Ferdo ngapain lagi di kamarku? Oh... jangan sampai mereka berdua ingin menginterogasiku tentang kak Ethan."


Sementara Marsha sedang berada di kamar kecil itu, Ferdo menelpon Ethan, si mantan artis itu.

__ADS_1


📲"Halo, napa Fer?" sahut Ethan, dari seberang sana.


📲"Apa yang kau lakukan terhadap adik perempuanku? Kenapa dia seperti orang gila senyum-senyum sendiri?"


📲"Hah? Oh ... apa yah? Aku sepertinya belum melakukan apapun," jawab Ethan dengan nada santai nan menjengkelkan saat masuk ke telinga Ferdo.


📲"Apa katamu? Belum? Jangan kira kau boleh melakukan apapun terhadap adikku. Aku tidak ingin melihatnya jadi tambah gila.


📲🙄"Astaga, kau ini yang benar saja."


Tut tut tut, Ferdo mematikan sambungan. Membiarkan Ethan yang sudah pasti mengumpatnya diseberang sana.


Beberapa menit berlalu, Marsha keluar dari kamar ganti.


"Kak, ada yang ingin kalian bicarakan?" tanya Marsha, dengan wajah sedikit datar, berusaha terlihat santai.


"Naiklah ke tempat tidur!" titah bang Jerr.


"Hah? Kenapa?" bertanya dengan wajah bingung.


"Hah hoh hah hoh. Ya untuk tidurlah. Lihat ini sudah pukul berapa dan kau belum tidur." sahut Ferdo.


Marsha lalu mengambil ponselnya, kemudian melangkah ke arah kasur empuk yang memang sudah manggil-manggil sejak tadi.


'Memangnya aku bocah, harus tidur tepat waktu?' sayangnya, Marsha cuma berani membatin.


"Lah, kenapa kalian ikut berbaring denganku?"


Marsha kembali terheran, dimana kedua abangnya itu menyusulnya menikmati kenyamanan tempat tidur miliknya itu.


"Banyak tanya, tidurlah" ujar Ferdo dengan wajahnya yang santai tak bersalah.


"Iya, tapi aku bukan bocah yang minta di kelon."


"Sudahlah Sha ... kami berdua hanya mau menemanimu. Itu saja" jelas kak Jer pada akhirnya.


Setelah mengatakan itu, kedua abangnya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Marsha lalu bersembunyi kedalam selimutnya dan mengaktifkan mode getar pada ponselnya.


Sejujurnya, kedua abangnya itu memang ingin menemani adik perempuannya ini, untuk menjaganya dan memastikan adiknya sudah tidak sedih lagi.


Drrrt.


Getaran singkat pada ponsel milik Marsha memberi tanda bahwa ada chat. Gadis itu pun membukanya di dalam selimut. Dan tersenyum bahagia melihat chat dari Ethan yang dia beri nama "CINTA😍" pada daftar kontak.


Sedangkan kedua abangnya itu sama-sama mengirim ucapan manis ke wanitanya.


Ferdo: "Selamat tidur Mel, Love You"


Jerry: "Hai, istriku. I Love U"


Namun, keduanya tak kunjung mendapat balasan.


Menyadari adik perempuannya sedang happy di dalam selimutnya, Ferrdo dan jerry mulai usil.


Marsha yang asik berbalah chat dengan Ethan malah diganggu oleh kak Ferdo, dan terjadilah aksi rebut merebut rampas-merampas ponsel milik Marsha di tempat tidur itu dibarengi dengan teriakan rengek manja khas milik Marsha.


Tanpa ketiganya sadari, ada seseorang yang sedang menggeleng kepala dari arah pintu, heran menyaksikan ketiga kakaknya itu memperebutkan satu ponsel.


'Benarkah mereka bertiga adalah kakakku? Kenapa mereka terlihat kekanakan? Kenapa bukan aku yang menjadi anak sulung? Harusnya mama melahirkanku lebih dulu baru mereka. Ini malah melahirkanku paling akhir.'


Abner, anak itu pun melangkah ke kamarnya setelah menutup kembali pintu kamar kakaknya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2