
Bukannya mengiyakan untuk mentraktir melina, Ferdo malah menjawab dengan kata "tergantung."
"Apa maksud dia tergantung? Tergantung apa?"
10 menit di perjalanan, akhirnya Ferdo dan Melina tiba di salah satu restoran 24 jam.
'Gawat, apa bener dia akan membayar sarapanku? Takutnya dia ngajak BSS (bayar sendiri - sendiri).' Segera Melina membuka slingbag miliknya dan mengambil dompet untuk memastikan jumlah uang di dalamnya. 'Astaga!.... bagaimana ini? Mana sisa 30ribu lagi, kan malu kalau tiba-tiba disuruh bayar sendiri.'
Melina tahu betul, yang namanya restoran itu khusus mereka-mereka yang hobby buang uang hanya untuk makan.
Tok tok tok.
"Eh?" Terkejut.
"Kenapa masih ngelamun di dalam? Ayo turun!"
Melina baru tersadar kalau ternyata pria itu sudah turun dari mobil.
Dengan wajah yang sangat tidak enak, Melina bilang "maaf, aku.. tidak lapar!"
"Tidak lapar? Jangan bercanda. Bahkan wajahmu saja sudah menjelaskan kalau kamu akan segera pingsan karena kalaparan!" Ferdo menarik paksa tangan Melina, sukses membuat gadis itu menegang, seperti terkena aliran listrik. 'Please.. hentikan. Kamu tidak akan bisa tanggungjawab kalau aku jadi baper!' Melina berteriak dalam hati.
Ternyata sudah banyak penduduk kota ini yang sepagi ini sudah nongkrong ditempat ini untuk sarapan. Melina heran, apa saja kegiatan mereka setelah bangun, kenapa bahkan memasak untuk sarapan saja tidak sempat.
Setelah mengambil posisi duduk, Ferdo membuka menu makanan lalu menanyakan apa yang ingin Melina makan.
"Samakan aja dengan punya kamu," jawab Melina dengan perasaan penuh tanda tanya. 'Apa menu yang dia pilih harganya standart?'
"Kamu yakin samaan sama aku.?"🤨
"Hah?" Melina terkejut dan makin penuh tanya. "Tunggu.. yang kamu pesan harganya berapa?" Upss.. Melina keceplosan.
Sumpah, rasanya Ferdo ingin ngakak seketika, tapi ia tahan. "Seru juga bikin dia panik" batinnya.
"Ya sudah, uangmu adanya berapa?" tanya Ferdo, sengaja.
'Tuh kan... aku pasti disuruh bayar sendiri.! ibuu... tolong, anakmu dijebak.'🥺
Melina berdiri dari duduknya. Masa bodoh dengan rasa malu, pergi dari sini begitu saja tanpa pesan makanan, ia lebih baik mendatangi warung nasi kuning 10ribuan yang sudah bisa pake lauk ayam.
"Tidak perlu tau uangku berapa. Yang jelas, aku tidak jadi makan." tegas Melisa lalu melangkahkan kaki.
"Heiii..heiii" Ferdo menahan tangan itu. "Jangan ngambek.. duduklah, aku yang bayar.." bisiknya, agar orang-orang tak mendengar.
Melina tidak bergeming. Dia hanya mematung. 'Bisa-bisanya dia ngerjain aku?' Jujur saja, Melina merasa malu karena Ferdo berhasil membuatnya terlihat panik. 'Baik... kau yang cari gara-gara lebih dulu..'
"Mel... ayo duduklah.. aku minta maaf yah kalau kamu marah!" Ferdo memperlihatkan tatapan memohon, tapi tak dilihat oleh melina karena gadis itu membelakangi Ferdo.
Lama kelamaan, orang-orang yang berada di sekitar mereka mulai melirik dan terpancing untuk memperhatikan mereka berdua..
'Mari kita balas dia..' Melina menyeringai.😏
Melina memundurkan langkahnya pelan,
__ADS_1
Pleek..
Membentur tubuh Ferdo yang berdiri di belakangnya.
😳'Mau apa dia?' batin Ferdo, salting.
"Sayaaang... dedenya mau makan yang sama dengan makanan papanya.." Tiba-tiba Melina menuntun tangan Ferdo mengelus perutnya yang masih rata. Ya iyalah rata.
Ferdo? Pria itu? Ya paniklah, gelagapan dong!
"Me..Me,,Mel.. ada apa denganmu?" Ferdo bertanya pelan, dengan perasaan tak jelas, sembari mengikuti permainan Melina. Celakanya, semua orang sedang memandang keduanya dengan tatapan kagum.
Ooooo istrinya sedang hamil muda!
O...... istrinya lagi ngidam!
O...... efek lagi hamil istri memang cenderung sensi.
Kira-kira seperti itulah tanggapan orang-orang itu.
'Ciishhh.. dia gugup? hahaha.. aku mendengar detak jantungnya lagi.. apa benar dia berdebar untukku?' Melina menertawai Ferdo yang sibuk mengurusi jantungnya yang kini berdetak tidak normal.
Ferdo sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan dengan tiba-tiba, Melisa berbalik menghadap Ferdo lalu kembali melanjutkan kekonyolannya. "Sayaaang tidak apa kan, ini keinginan dede ki--"
"Oke oke oke...." Ferdo men'cut' sebelum Melina menyelesaikan perkataannya.
"Makasih sayaaanng" Melina memeluk dengan tingkah manjannya yang di buat-buat. "Ini pembalasan untuk yang tadi!"😏 bisiknya di telinga Ferdo.
"Sial.. tunggu saja pembalasanku Melina.." geram Ferdo, dalam hati. Ternyata dirinya telah melupakan keberanian seorang Melina. Di hari pertama mereka bertemu saja dirinya sudah mendapatkan lemparan bangkai ponsel dari seorang Melina.
\=\=\=\=
Kediaman keluarga Ethan.
"Mam.... Mami....!"
"Eh, sayang... kau pulang dalam keadaan mood yang sangat baik pagi ini! Mami jadi curiga. Ada apa?"
"Mam... ikutlah ke rumah sakit denganku nanti."
"Rumah sakit?... Ada apa disana?" tanya mami bingung.
"Ketemu Marsha-ku Mam..!" menjelaskan sambil tersenyum.
Ethan sudah tidak sabar ingin tahu reaksi mami saat melihat Fania yang adalah Marsha. Tapi, ia sengaja tidak mengatakannya. Biarlah mami melihatnya sendiri nanti, pikirnya.
Mami pun menanyakan Marsha kenapa, apa yang terjadi dengannya sampai harus berada di rumah sakit segala.
Agar mami tidak penasaran, Ethan mengatakan bahwa tidak ada yang serius. "Mami tidak perlu terlalu khawatir."
Tiba di kamarnya, Ethan langsung saja merebahkan tubuh atletisnya diatas kasur empuk, sembari membayangkan wajah Fania.. "Cepatlah bangun Fania, aku menunggumu!"
Dengan rasa percaya dirinya yang terlalu besar, Ethan terus saja membayangkan kebersamaannya kembali dengan Marsha. Pria itu memang sangat percaya diri. Tidak pernah dia memikirkan apakah ada kemungkinan lain? Apa dia akan berhasil dapatkan hati Marsha?. Memang.. sudah menjadi kebiasaan, semua yang dia inginkan sejak kecil pasti selalu ia dapatkan.
__ADS_1
\=\=\=\=
Kembali ke Rumah Sakit.
"Papa sayang... kenapa Jerry pah? Haa? Jawab... Kenapa dia tidak bangun.. Bahkan istrinya sudah sadar.. Tapi kenapa anak itu masih menutup matanya?"
Juan tidak menjawab apapun, sampai-sampai Fema harus mengguncang tubuhnya.
"Nagea,, Nagea sayang, tolong jangan tinggalkan anak mama.. please..!"
Fema sudah seperti hilang akal.. ibu dari empat orang anak itu menjadi sangat takut dan pesimis. Baru saja Nagea bangun dan bertemu ibunya, menantunya itu dengan entengnya ingin berpamitan untuk mengikuti ibunya pulang ke negara tempat tinggal mereka.
"Ma... aku tetap akan pergi Ma.. Papa-ku sedang menungguku untuk memarahiku disana."
Fema menggeleng.. "lihat.. lihat.." Fema menunjuk putranya yang belum sadarkan diri. "Dia.. dia suami kamu Nagea.. saat dia bangun, dia akan cari kamu!"
Nagea menggeleng. "Tidak Ma.. dia tidak menganggapku istrinya.. Maaa.. dengar,.." Nagea menggenggam jemari mama Fema. "setelah ini, dia akan bawa menantu yang lain untuk Mama.. percaya lah.. akan ada wanita yang jauh lebih baik dari pada aku.. untuk dia Ma.. yah!"
"Nagea.. Jerry terkena Trauma otak ringan, akibat pukulan yang ia terima dari bajingan Leo itu." Papa Juan akhirnya angkat bicara tentang kondisi putranya.
"Apa?"
"Dia akan bangun dalam waktu dekat ini.. Papa mohon, kalau bisa, bertahanlah dulu samapai dia bangun. Kalau memang kalian harus berpisah, ya berpisahlah baik-baik nantinya." ujar Papa Juan, dengan sikap tenangnya.
"Jadi Leo memukul kepalamu?" Nagea tidak menjawab apapun. Dia hanya menatap pria yang adalah suaminya itu, yang sedang tertidur. Airmatanya pun, lolos begitu saja keluar dari tempatnya. "Apa yang harus aku lakukan? Pergi dari hidupmu, atau menunggumu bangun?"
"Sayang, Mami akan pulang, kamu tinggallah nak. Dia masih suamimu.. Mami akan menjelaskan semua pada Papimu sayang." Ibunya Nagea yang bernama Mega itu, menyarankan putrinya untuk tinggal.
\=\=\=
Tiba di depan bangsal, tempat tinggal Melina. Ya, setelah menikmati sarapan pagi bersama, Ferdo kini mengantarkan Melina pulang ke tempat tinggalnya.
“Apa disini tempatnya?” Ferdo bermaksud meyakinkan, siapa tau mbak google salah ngasih arahan. Melina yang ditanya, tak kunjung menjawab. “Waaah... ternyata dia malah enak-enakan tidur setelah kenyang. Kayak ular Piton aja”
5 menit berlalu, Melina tak kunjung membuka mata. “Dia pasti sangat lelah setelah ikut bertempur tadi malam!” Ferdo tersunyum kecil memandang wajah Melina.
Puas memandang wajah gadis itu, netra Ferdo berpindah menatap perut rata yang satu jam lalu sempat dia elus karena kelakuan konyol Melani. “Dasar ratu drama.. bisa-bisanya kau membuatku terlihat seperti seorang suami di depan banyak orang! Hei.. aku bahkan belum menikah. Apa katamu? Dede bayi? Membuatnya saja aku belum pernah!” Ferdo mendumel panjang kali lebar dalam hati.
“Hmmmmp” Melina mulai membuka mata.
“kita sudah sampai?” Masih bertanya pula.
“Iya, mel.. kita sampai” Ferdo mendekatkan tubuhnya dengan Melina yang masih bersandar nyaman. “Ehhh.. apa yang dia lakukan?”
Kini wajah keduanya sangat dekat. Bahkan hanya tesisah jarak 2 senti. Melina yang tadi sudah membuka matanya sempurna, kini kembai menutupnya. Entah kenapa pula gadis itu menutup matanya. Apa ... dia gugup wajah mereka sedekat ini? Atauuu.. dia sedang menunggu sesuatu yang tidak mungkin?
Cklek.. seatbelt terlepas dari tancapan penguncinya. Saat itu juga, Melina kembali membuka matanya. 'Upsss apa yang ku pikirkan? Ternyata dia bermaksud membuka kunci sabuk pengaman sialan ini?' wajah Melina berubah pucat pasi.
“Kenapa, aku merasa.. kau sedang kecewa? Apa yang kau harapkan, Melina?”
Malu, itulah yang kini dirasakan Melina.
'Fix! Itu adalah balasan dariku untuk yang tadi.' 🤨🤨😏
__ADS_1