
Malam hari, di kediaman Barata.
Minggu depan adalah hari bahagia untuk Ferdo dan Melina. Undangan pernikahan padangan itu telah tersebar.
Malam ini adalah malam terakhir kedua calon mempelai itu boleh bertemu. Karena menurut kebiasaan, calon pengantin harus menahan rindu selama satu minggu sebelum kembali bertemu dalam acara janji suci sehidup semati.
Keluarga itu kini lengkap berkumpul di ruang tengah, termasuk Marsha dan Ethan juga hadir disana.
"Jadi ... apa rencana kalian setelah menikah?" tanya Papa Juan, memulai pembicaraan.
"Setelah menikah, kita berdua akan pindah ke apartemen dan-"
"Tunggu, Ferdo! Bukankah kamu pernah bilang ke mamah kalau tidak akan meninggalkan mama setelah menikah?"
Ferdo tercekat, merasa perkataannya dipotong begitu saja. 'Benarkah aku pernah mengatakan itu?' Pria itu berusaha menggali memorinya.
"Mel, bagaiman rencana melanjutkan pendidikan dokter ahli?" tanya papa pula.
"Saya sudah memikirkannya pak. Jika ada rejeki, saya akan lanjut setelah satu atau dua tahun mengabdi sebagai dokter umum." jawab Melina.
"Baiklah, itu bagus. Apa ... kau bermina menjadi ahli bedah seperti saya?"
"Tidak pak, maaf. Saya ... ingin menjadi dokter kandungan."
"Yah?" Ferdo bertanya heran. "Kenapa harus kandungan sayang?" tanya Ferdo kemudian.
"Ferdo, berhentilah protes akan apa yang disukai calon istrimu." sahut mama
"Ya ... sayang, aku lebih setuju kalau kamu jadi dokter spesialis Jantung."
"Kenapa memangnya?"
"Karena jantungku selalu berdetak tidak normal saat ada kamu. Jadi biar kamu langsung bisa mengobati aku jika jantungku kenapa-kenapa Mel,"
"Ferdo, hei ... berhenti bercanda. Papa sedang serius. Biarlah Melina memilih yang dia inginkan"
"Aku ingin melihat banyak bayi dilahirkan setiap hari. Aku ingin menyambut dan menolong mereka. Itu kenapa, aku ingin jadi dokter kandungan."
degh.
Kalimat panjang itu membuat keluar Barata terdiam sejenak. Mereka segera mengerti akan Melina.
"Iya sayang, aku akan dukung kamu. Aku akan jadi suami baik, mendukung semua keinginan kamu." Ferdo tersenyum.
'Mel, berbahagialah bersama kakakku.' Marsha memandang Melina dan kak Ferdo dengan tatapan bahagianya.
SATU MINGGU KEMUDIAN.
Seluruh rangkaian acara pernikahan Ferdo dan Melina telah selesai. Tentu saja dua sejoli itu kini sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Ferdo, selamat atas penikahanmu. Kakek sangat senang kau sudah menjadi seorang suami."
"Iya kakek, terima kasih. Aku akan berusaha selalu hidup bahagia.
Kini kakek Mahendra kembali berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanannya berlibur sesuka hati bersama teman-temannya.
Seluruh keluarga terlihat sangat bahagia tentunya. Demikian juga bapak ibuk dan keluarga dari Melina itu.
Malam ini, adalah malam pertama untuk pasangan ini. Tentu saja keduanya saat ini sedang berada di sebuah kamar.
"Mel, apa itu yang kamu baca?" tanya Ferdo, ketika keluar dari kamar mandi, melihat istrinya sedang membaca sebuah buku diatas tempat tidur, lengkap dengan kacamata baca yang bertengger dihidungnya.
__ADS_1
'Ini malam pertama kita, tapi dia lagi sibuk belajar? Aku saja yang sudah pasti ditunggu banyaknya pekerjaan masih sempat memikirkan malam pertama ini.'
"Aku lagi belajar, sayang." jawab Melina singkat.
'Apa ini adalah resiko memperistri gadis pintar? Yang diotaknya hanyalah buku.'
"Sayang, aku tahu kamu pintar. Kamu adalah bakal mahasiswa dokter spesialis kandungan. Tapi, ini adalah malam pertama kita Mel, ada hal yang harus kita lakukan."
Melina menurunkan kacamatanya. "Itu sebabnya aku lagi belajar agar malam pertama kita akan berkesan dan sukses." jawabnya, lalu membenarkan kembali posisi kacamata itu.
"Belajar untuk malam pertama?" Ferdo segera mendekati Melina dan melihat buku apa yang dibaca oleh istrinya itu.
Ferdo mengusap kasar wajahnya, tak men+yangka istrinya itu telah membeli buku seperti itu.
"Jangan hanya berdiri. Duduklah, aku akan membacanya untuk kita." Melina menepuk tempat disebelahnya, yang mana Ferdo hanya bisa menurutinya.
"Sayang, kamu serius kita akan praktikkan semua gaya itu malam ini? Baca seperlunya aja Mel, pelajari beberapa dulu untuk malam ini."
"Aku ingin semuanya sayang, aku penasaran apa rasanya akan berbeda."
'Oh my God. Mel, otak polosmu sangat berbahaya.'
"Sayang, kalau kita praktikkan semua gaya itu, maka kamu tidak akan bisa bangun besok pagi atau beberapa hari kedepan.
"Begitukah? Memangnya kamu sudah pernah? Kok tahu si?"
"Bukan sayang. Tapi aku ini sudah dewasa. Aku sudah sering mendengar pengalaman tentang malam pertama."
"Aku juga sudah dewasa kok, emang kamu kira kamu menikahi bocah?"
Ferdo tersenyum menggeleng.
"Dari pada baca, mending kita nonton cara praktik langsungnya." Ferdo lalu mengambil ponselnya.
"Ooowwwhh, sayang, dia sedang kesakitan atau gimana?" Reaksi pertama Melina saat menonton adegan (gelap). Ia mencermatinya sembari menggigit salah satu kuku jari tangannya.
"Sayang, kita bisa mulai?" bisik Ferdo, sembari memainkan rambut Melina.
"Tapi, itu kira-kira kenapa dia berteriak? Apa dia kesakitan?"
"Bukan sayang, justru dia lagi enak."
"Benarkah? Kalau enak kenapa harus teriak?"
"Itu bukan teriakan sayang, itu namanya erangan dari desahan." Ferdo memulai aksinya, pelan tapi pasti.
"Awh! Geli,"
"Nikmati aja, biar berubah jadi enak, Mel."
"Sayang, pelan-pelan. Ini benaran sakit."
"Nikmati aja Mel, nanti juga berubah jadi enak, sayang."
"Tunggu, aku bernapas dulu."
'Dia selalu mengatakan semuanya akan jadi enak. Yang benar saja.'
?
?
__ADS_1
"Apa sekarang enak, sayang?"
Melina tersenyum malu.
.
.
Setelah menuntaskan adegan panas dari malam pertama itu, Ferdo tiba-tiba melakukan sesuatu diluar dugaan Melina. Pria itu berbicara berhadapan dengan perut rata istrinya dan berkata "Hai, baby ... selamat berjuang. Papa menunggu diluar ya," Ferdo seolah sedang memberi semangat pada benih yang sudah ia tumpahkan di dalam sana, agar sukses berpetualang mencari keberadaan sel telur.
Tentu saja itu membuat Melina merasa terharu. Ia mengusap kepala Ferdo yang masih berada diatas perutnya da menghujani perut rata itu dengan ribuan kiss.
.
Keesokan harinya, Ferdo dan Melina pulang ke kediaman Barata. Karena masih pengantin baru, Mama Fema berkeras agar keduanya jangan buru-buru pindah untuk tinggal terpisah. Keduanya pun menyetujuinya.
"Kakak ipar, apa malam pertama kalian menyenangkan?" tanya Abner ditengah keheningan, tatkala semua orang tengah sibuk menikmati makan siangnya.
"Abner, apa yang kau ingin tahu?" bukannya mendengar jawaban Melina, tapi Ferdo malah bertanya untuk menyerang adik bungsunya yang super kepo itu.
"Tidak, aku hanya berpikir, apa hubungan kalian baik-baik saja? Atau bang Ferdo telah melakukan KDRT di malam pertama?"
"What? Apa maksudmu?"
Semua orang menatap Abner.
Merasa sedang diintimidasi, ABG itu, dengan tatapan menuduh tanpa beban, ia berkata "Itu, aku melihat ada sedikit lebam disitu." menunjuk leher Melina.
"Owh," semua orang berubah menutup wajah, merasa malu.
"Ferdo, kau keterlaluan. Kau merusak otak polos adikmu."
"Sorry pah,"
"Ferdo, Melina, kenapa kalian tidak menutupnya?"
"Maaf, Mah."
Sementara Jerry dan Nagea hanya tersenyum menggeleng.
"Kakak ipar, apa abangku sangat ganas? Lain kali kakak ipar harus melawan." sambung manusia menyebalkan itu lagi, disambut gelak tawa semua keluarganya.
"Hei, kenapa malah tertawa? Apa tidak ada yang merasa kasihan pada kak Melina? Kakak ipar, kau harus lakukan visum. Jangan biarkan abang menindasmu!"
"Bocah, diamlah. Ayo sayang," mengambil tangan Melina.
"Loh, Bang, kalian mau kemana? Makan makanan penutup dulu."
"Ke kamar, disana istriku akan memberiku makanan penutup."
FERDOOOO
ingin rasanya orang-orang dewasa itu meneriaki pangeran kedua yang tak tahu malu itu.
Sementara Abner, kembali menikmati makanan penutup dihadapannya, dengan wajah kusut penuh tanya dikepalanya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Sorry baru sempat up.
π€π€π€π€π€