Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Merindukan Suami


__ADS_3

Hai guys.. sorry, beberapa hari bolong upnya.


kita lanjut.


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ€œπŸ€œ


"Jangan merasa bersalah lagi Pah, yang terpenting, Marsha kita sudah pulang." Fema menceritakan pada Juqn bahwa dirinya tidak kaget mendengar hal itu, karena telah mengetahuinya dari dua dua pangeran itu. Namun, ketiganya telah sepakat bahwa tidak akan menceritakan hal ini kepada Juan. Siapa sangka ayah anak-anak itu akan mengetahuinya.


\=\=\=\=


Nagea terlihat gelisa lalu memutuskan untuk mengirimkan pesan text kepada suaminya.


Nagea :


[ Kamu dimana? Kita mau pulang ]


Demikianlah isi pesan yang dikirimkan Nagea ke kontak suaminya, dan ini adalah pertama kali bagi wanita itu mengirim pesan text kepada seuaminya itu.


Namun, pesan itu tidak mendapat balasannya.


...........


Bandara Internasional Incheon.


"Ayolah kakak ipar, semangat." Marsha menggandeng lengan Nagea untuk berjalan bersama memasuki pesawat yang akan mengantarkan mereka pulang kembali ke Tanah Air.


Tak ada aura bahagia dan semangat terpancar dari wajah kakak ipar cantiknya kini. Marsha menebak, bahwa kakak iparnya ini sedang memikirkan kak Jerry. 'Aku rasa, gunung es milik kak Nagea mulai mencair. baguslah, jadi kakakku bisa merasakan cinta dari istrinya'


Ya ... bukan rahasia umum lagi di keluarga Barata bahwa hubungan suami istri yang di jalani oleh putra sulung Juan itu tidaklah seperti pasangan muda nan bahagia lainnya. Terkadang, Nagea bahkan menampakkan dengan sangat jelas rasa tidak sukanya pada Jerry.


Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, tibalah mereka bandara Soekarno Hatta.


Kediaman Barata.


Dengan hati penasaran, Nagea melangkah cepat ke kamar yang ia tempati dengan suaminya, sedikit berharap bahwa pria itu akan ada di dalam.


'Kenapa aku ini? Isi kepalaku hanya memikirkan dia. Kak Jerr, dimana kamu sebenarnya?'


Nagea, dengan rasa gengsi yang ia punya, wanita itu tak pernah sekalipun bertanya pada keluarga suaminya tentang dimana orang itu berada saat ini.


Yang ia dengar dari ibu mertuanya, suaminya kini mengurus beberapa pekerjaan mendesak. Namun, tidak memberitahukan dimana itu.


.................


Sementara ditempat lain.


Karena Melina sudah benar-benar pulih, maka ibunya kini hendak kembali ke kampung.


"Mel, ingat pesan ibuk, katakan yang sebenarnya, jujur ke pacar kamu itu tentang kondisi kamu."


"Tapi buk, bagaimana kalau dia meninggalkan aku saat tau tentang itu? Buk, aku takut kehilangan dia."


Flash back.


3 hari yang lalu, karena rasa penasarannya, ibuk membawa Melina ke praktik dokter kandungan untuk melakukan USG. Memeriksakan perihal apakah putrinya itu tidak ada masalah.


Sesuatu yang bersarang di benak wanita paruh baya itu adalah tentang adik kandungnya yang hingga saat ini tidak berhasil memiliki anak dari kandungannya sendiri.


Karena putrinya mengalami penyakit serupa dengan adiknya itu, maka ibuk segera memeriksakan Melina, karena ingin tahu seberapa besar peluang anaknya itu bisa hamil jika suatu saat nanti sudah bersuami.


Ternyata, hal yang ditakutkan itu benar-benar akan dialamai Melina. Dokter menjelaskan bahwa kemungkinan bisa hamil sangat kecil, tapi tak ada yang mustahil, ujar sang dokter pula.

__ADS_1


"Mel, jujur dari sekarang lebih baik biar kamu tahu, dia bisa terima keadaan kamu atau tidak. Dia orang kaya Mel, orang kaya itu bisa melakukan apapun. Dia bisa nikah lagi dengan istri berapapun jika tahu istrinya sulit memberinya keturunan."


"Belum lagi orang tuanya. Belum tentu mereka tetap dukung kamu sementara kamu tidak bisa memberi mereka cucu. Orang kaya seperti itu Mel,"


"Buk, tapikan dokter bilang tidak ada yang mustahil. Itu yang aku yakini buk."


"Mel, dengar. Lebih baik dia meninggalkan kamu sekarang, daripada nanti Mel. Kamu ingat tantemu? Mantan suaminya mencampakkan dia dan berselingkuh karena beralasan tantemu tidak kunjung hamil."


"Beruntung suaminya yang sekarang orang yang sabar dan bisa terima dia apa adanya. Ibu tidak ingin anak ibu sakit hati suatu saat nanti nak."


"Iya buk, akan aku kasih tau dia segera." Melina terpaksa harus menurut.


Tok tok tok.


Melina membuka pintu yang ternyata orang yang mengetuk adalah Ferdo, yang akan memgantar Melina melepas kepulangan ibuknya di bandara sebentar lagi.


'Apa dia mendengar pembicaraanku dengan ibuk?'


\=\=\=\=


Kembali ke kediaman Barata.


"Kak, kau pulang? Bagaimana? Apa bekas itu sudah menghilang?" Abner yang baru saja pulang dari sekolah, segera menemui sang kakak perempuannya itu di kamar.


Ia tampak sangat penasaran dengan hasil bedah plastik yang sudah kakaknya itu jalani.


"Kak, kau sudah tidak tampak mengerikan lagi. Aku senang." ujarnya dan memberi pelukan kepada kakaknya itu.


"Jika ada yang menjahatimu lagi, kau harus melawan ya kak, jangan biarkan siapapun melukai tubuhmu lagi."


"Tenang saja Abner, tidak akan ada lagi yang menyakitiku. Aku sekarang di kelilingi pangeran tampan dan pemberani." jawab Marsha, dengan nada bercanda.


"Apa kak Ethan juga termasuk?" entah kenapa ABG itu melibatkan Ethan dalam pembahasan ini.


"Siapa lebih tampan? Aku atau kak Ethan?"


"Emmm.. " Marsha terlihat sedang membayangkan sesuatu.




"kau... sedikit tampan, Abner, tapi kak Ethan lebih banyak." jawab Marsha sembari terkikik geli.


"Ahhh, kakak pasti sakit mata. Aku yang tertampan."


"Baiklah-baiklah. Adikku paling tampan."


"Bagus. Pintar. Maka aku akan mentraktirmu besok kak, kakak boleh minta apa saja, akan aku belikan." ABG itu lalu bergerak ingin pergi dari kamar itu.


"Lah, kau mau kemana?"


"Aku sudah janji akan membawamu shopping besok kan, jadi aku akan cari sponsor dulu. Dahh"


'Cissshh dasar anak kecil.'


\=\=\=


Disinilah Nagea saat ini.


Mendengar suaminya akan pulang, ia meminta supir mengantarnya ke Bandara untuk menyambut kedatangan sang suami. Tak ia pikirkan bagaimana reaksi suaminya nanti. Entah pria itu akan senang atau malah sebaliknya, itu urusan belakang.

__ADS_1


Kabarnya, Suaminya itu akan tiba pukul 9 malam. Ia pun menunggu dan memilih tempat duduknya.


'Iya Nagea, ini sudah benar. Sudah cukup selama ini kamu mengeraskan hatimu. Cobalah lagi untuk lebih membuka hati untuknya. Terimalah dia apa adanya. Ciptakan kebahagiaan baru dengannya. Ya ... itulah yang harus dilakukan.'


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih 30 menit. Orang yang di tunggu belum juga muncul.


Pukul 10 malam.


Pukul 11 malam.


Tidak juga Nagea temukan wujud suaminya diantara banyaknya orang.


'Sudah 2 minggu aku tidak bertemu dengannya, muka dia tidak mungkin berubah kan? Mana dia? Apa pesawatnya deley?'


Nagea pun berusaha tetap optimis. Dengan tenang ia kembali duduk.


Di Kediaman Barata.


"Aku Pulang!"


"Owh Kak, kau tiba di pukul sebegini? Semua orang sudah di kamar masing-masing." Jelas Ferdo, yang sedang sendirian menikmati tontonannya di layar televisi.


"Baiklah. Aku segera ke kamarku."


Jerry pun dengan langkah besarnya berjalan menuju kamar miliknya dan sang istri.


'Sayang, aku pulang. Aku sangat sangat sangat merindukanmu.' batinnya.


Ceklek.


Hanya ada kesunyian. kamar dalam keadaan sangat rapih tak berpenghuni.


"Nagea? Sayang, kamu dimana?" membuka pintu kamar mandi, juga tak ada.


Segera pria itu kembali keluar. dengan langkah setengah berlari.


"Maa Ma..."


"Kau kenapa?" Tanya Ferdo.


"Dimana istriku?"


"Nagea? Aku tidak tahu. Saat aku pulang dia tidak terlihat." jawab Ferdo, cuek.


"Jerr, kamu sudah pulang nak?"


"Pa ... dimana istriku?"


"Loh. bukankah dia ada di bandara?"


"Bandara? Memangnya dia mau apa ke bandara?" Rasa panik kini menyinggapi seluruh pikiran pria itu.


"Dia ingin menyambutmu pulang. Lalu, kenapa kalian tidak bertemu?"


Papa belum menyelesaikan penjelasannya, Jerry sudah menjauh, kembali keluar dari rumah itu dengan langkah tergesa.


Bahagia, khawatir, juga panik ia rasakan. Bahagia karna mengetahui Nagea kali ini akan menyambut kepulangannya, akan tetapi ia juga sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya? itulah yang pria itu pikirkan.


'Sayang, tunggu aku. Tolong jangan kenapa-kenapa'


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2