
"Eh, bocil ... berani sekarang kau mengancamku yah,"
Abner terkaget melihat abang ke-dua tiba-tiba masuk ke kamarnya. "Itu bukan ancaman bang, aku lagi butuh." Bocah itu menjawab sekenanya sambil terus fokus pada ponselnya karena sedang MaBar FF dengan teman-temannya.
Ferdo melipat kedua tangan di atas perut, "Lalu kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Bocah itu melirik sekilas😒 lalu kembali fokus ke game-nya, "Aku akan kirimkan foto itu ke mama papa." jawabnya dengan santai.
"Berapa yang kau butuh?" bertanya dengan gaya cool khasnya.
"Berikan saja kartunya" sahut bocah itu lagi, tanpa menoleh, sepertinya permainannya semakin seru.
"5 juta cukup kan?"
"Temanku banyak bang" terlihat semakin menjengkelkan, tidak menghargai lawan bicara.
"10 juta?"
"Kartunya saja bang ... malu kalau bawa uang tunai trus gak cukup." terus saja menjawab santai.
"Memangnya kau akan mentraktir mereka apa?" Ferdo mulai meninggikan nada.
"Makan dan bermain sepuasnya bang!"
"Sepuasnya? Memangnya berapa banyak temanmu?"
"Satu kelas bang. 32 orang."
"baiklah, 20 juta, uang tunai."
"Pengen liat aku dirampok ya? Kartu debit aja bang." Abner terus saja menjawab sambil terus menatap ponselnya.
'Benar-benar krisis akhlak bocah zaman sekarang'
"Bang! Balikin!" Abner berteriak karena ponselnya sudah pindah ke tangan Ferdo.
"Ouwaaa" Suara itu?
Terlambat, Abner sudah terkena headshoot dari lawannya.
😡 "Bang ... kau.."😟
"Nih, hp-nya."
Abner terlihat seperti akan menangis.
Bagi Abner, kena kill lebih dulu adalah sesuatu yang sangat memalukan.
"Jangan sedih! Ini ... kartunya." Menyerahkan card berwarna hitam.
\=\=\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari. Melina terbangun karena merasa kehausan, 'Eh? Ternyata aku masih dirumah ini?' dirinya menyangka sedang berada di kamar sempitnya. 'Aku akan mencari air minum, mungkin saja para pelayan rumah ini sudah bangun.'
Melina pun menuju dapur. Benar, mereka yang diperkerjakan dirumah ini sudah bangun. Dengan sopan gadis itu permisi dan mengatakan bahwa dia membutuhkan air mineral.
"Silahkan Nona"
"Jangan memanggilku Nona. Aku hanya menumpang dirumah ini"😊
Para pelayan pun tersenyum dan mengangguk.
Melina lanjut mengambil air mineral.
"Selamat pagi Mamaku"
Grepp. Ferdo dengan santainya memeluk Melina yang dikiranya adalah mama Fema.
CUP.
Memberi kecupan asal.
"Mama ganti parfum ya"
😳😳😳😳😳 Para pelayan yang menyaksikan itu tersentak kaget😱😱😱😱😱
Bagaimana dengan Melina? Setelah sempat terhipnotis beberapa saat, akhirnya Melina berteriak, dan berhasil membangunkan seluruh penghuni yang masih tertidur.
"Me ... Mel?" Ferdo mengedipkan matanya beberapa kali, berharap ini hanyalah mimpi.
"Kenapa si, suka seenaknya? Apa kamu buta?" Teriak Melina dengan suara lantang. Ia pun pergi dari sana membawa botol air ditangannya.
__ADS_1
"Ke ... kenapa ini Fer?" Mama dan Papa muncul dari kamar.
Kaduanya kini menatap heran, si bakal calon mantu sedang menaiki tangga dengan wajah marah.
"Ma... Pa... tadi ... aku pikir dia mama jadi peluk dia."
"Apa? Kau ... dasar kebiasaanmu itu yah, memangnya dia sama mama terlihat mirip?" Fema membentak.
"Sorry Ma, tapi tadi aku baru bangun dan mataku belum terbuka sepenuhnya." terang Ferdo, bela diri.
"Ah ... kak Ferdo sengaja kali" Abner tiba-tiba saja sudah disana dengan tatapan mata penuh selidik.
"Cssshh ... dasar bocah, ikut campur aja ya,"
Abner tak peduli, ia malah kabur kembali ke kamarnya.
"Fer... lain kali pakai matamu dengan benar! Bisa-bisa kakak iparmu juga akan jadi korban kalau kau suka asal begitu."
"Korban? Kenapa aku merasa ... Papa sedang menuduhku sebagai penjahat?"
\=\=\=\=
Ditempat lain.
Seorang pria bangun dari tidurnya, dan melihat sang istri tertidur di atas sofa. Pria itu tak lain adalah Jerry Barata, pangeran ke satu yang telah bertobat dari semua kebiadaban-nya.
Takut kalau-kalau leher istrinya akan patah, ia mengangkat dan memindahkan tubuh istrinya ke ranjang sempit miliknya, agar bisa beristirahat dengan posisi yang benar.
'Astaga ... istriku sangat berat. Apa dia makan sangat banyak selama ini?'
Keduanya pun berbaring bersama di atas ranjang khusus satu orang pasien itu.
'Hai ... terima kasih karena ... kau mau memberiku kesempatan. Aku, akan benar - benar membuktikan kesungguhanku' Jerry lalu mencium kening wanita itu dan ... memeluknya.
Nagea terbangun dan mendapati dirinya sedang berada dalam dekapan Jerry Barata.
Deg deg, deg deg.
‘Kenapa ... aku disini? Dan kenapa ... debaran jantung ini ... terasa seperti dulu lagi? ahh ... ini pasti karena dia terlalu dekat.’
Nagea memandang lama wajah itu.
“Kenapa, sayang? Aku terlihat makin ganteng?”
“Kenapa aku dipindahkan ke tempat tidurrsempit ini?” ketus Nagea, dengan nada sedatar mungkin.
“Karena aku, ingin meniduri istriku”
“Apa?”
Jerry tersenyum, “tentu saja karena aku ingin tidur dengan istriku.” Pria itu meralat perkataannya.
“Ya sudah, sekarang lepas. Aku kebelet ingin ke toilet.”
“Aku titip boleh sayang?”
“Titip?” 🤨
“Aku juga kebelet pipis ni, titip di kamu ya.”
“Awwwwww” Jerry tiba-tiba meringis mendapat cubitan kuat dari Nagea. “Kamu tega sama suami,”
Nagea sudah menghilang dibalik pintu kamar kecil. ‘enak aja dia becanda disaat aku sedang sensi? Apa katanya tadi? Titip? Dasar mesum! Sejak kapan pria gila itu banyak bicara dan pintar becanda?’
Tok tok tok.
“Nagea sayang, buka pintunya ... aku juga kebelet nih, dan aku sangat serius Nagea!”
Tidak ada respon dari istrinya itu ‘Apa dia sengaja berlama-lama di dalam?’
Ceklek.
Nagea membuka pintu dan langsung disambut senyum tampan lelaki itu. “Jangan senyum-senyum” kesal Nagea.
‘Heran ... kenapa istriku sangat sensitif? Bawaannya selalu kesal bahkan saat aku mati-matian bercanda. Dia tidak mungkin sensi karena sedang hamil kan? Kami bahkan belum pernah sekalipun mencetak bayi.’
.
‘Sepertinya otak pria itu sudah jeglek. Kenapa dia bukan seperti dirinya?’
\=\=\=
__ADS_1
Sekarang, sudah waktunya pangeran ke-1 kembali ke kediaman keluarganya. Dokter mengatakan bahwa Jerry sangat baik-baik saja. Tapi, tidak demikian menurut Nagea. Wanita itu yakin bahwa ada masalah dengan otak pria itu sehingga mengubah sedikit kepribadian dan perilakunya.
Di dalam mobil.
Jerry dan Nagea dijemput oleh supir dan tentu saja keduanya berada di belakang sang supir. Dengan santai tanpa beban sedikitpun, Jerry menautkan jari-jari mereka. Membuat Nagea menatap kearahnya.
‘Meskipun kini dia terlihat baik padaku, tapi aku tetap harus was –was, bisa saja perilaku lama-nya kumat pada waktu tertentu. Aku harus pastikan peredam suara di kamarnya itu tidak berfungsi, agar jika dia menyerang untuk menykitiku lagi, mama dan yang lain bisa segera menolongku jika mendengarku berteriak. Kali ini, aku harus benar-benar melawannya terang-terangan. Tidak perlu merasa takut lagi. jika dia kasari aku, maka harus ku balas. Ya ... itu baru benar! Jangan biarkan orang merampas hidupmu.’
“Sayang kenapa? Kenapa sepertinya Nagea-ku sedang merencanakan sesuatu yang jahat?” tanya Jerri, membalas tatapan istrinya.
‘What? Apa dia dukun? Dia bahkan mengerti kegelisahanku! Dasar pria gila menakutkan!’
“Sayang, berhenti memakiku!” Jerry mengelus serta mencium sekilas kepala istrinya itu.
‘Oke, bisa saja dia hanya sedang modus, karena sadar dirinya baru saja pulih. Kita lihat ketika dia sudah benar-benar sembuh, aku yakin, karakter aslinya akan muncul lagi pada saat itu.’
Tiba di kediaman Barata. Seluruh keluarga telah berkumpul menunggu kedatangan pangeran mahkota keluarga itu.
“Kak Jerr, kakak!” Marsha, dengan langkah tergesa dan tak sabar, menghampiri kak Jerry yang datang bersama Nagea dan saling bergandeng tangan. Tidak, Jerry sendirilah yang menautkan tangannya erat. Tentu saja Nagea hanya terpaksa.
Mama dan Papa merasa legah akan hal itu.
Lalu Marsha memeluk kakaknya itu erat-erat. “Kakakku sudah sembuh?"
"Tentu saja iya Sha ... "
"Apa kakak tidak merindukanku?"
"Jangan tanya, itu sudah pasti"
"Lalu, kenapa tidak membalas pelukanku?"
Jerry lalu mengelus punggung belakang Marsha, "Kau tidak merasakan tangan kakak ini?"
"Tapi itu hanya sebelah tangan. Memeluk itu seperti Marsha ini kak, dengan dua tangan!" Protes Marsha, dengan nada sedikit manja.
"Maaf Sha ... tangan kakak satunya sedang memegang tangan kakak iparmu." menjawab dengan santai.
"Ha?" semuai orang tak menyangka seorang Jerry barata akan bersikap seberlebihan itu.
Marsha melepaskan pelukannya, lalu menoleh kearah kedua tangan yanga saling bertautan itu, dengan wajah heran "Kak, tidak bisakah kakak melepasnya sebentar saja untuk bisa memeluk Marsha?"
Jerry menggeleng mantap.
"Jerr ... jangan berlebihan!" bisik Nagea.
"Maaf Sha, untuk sekarang tidak bisa."
"Ah ... baiklah kak, lagi pula, aku hanya bercanda" Marsha terpaksa mengalah. 'Kenapa kakakku terlihat seperti baru di landa virus cinta?' batinnya.
Yang lain hanya bisa diam menatap Jerry. Tak ingin banyak bicara.
"Sayang ... peluklah adikmu, aku tau kamu sangat merindukannya." suruh Nagea. Sepertinya wanita itu sedang akting.
DEG.
Jerry menoleh. "Tadi bilang apa? Sayang?"😍
"Iya sayang ... kenapa? Kamu keberatan?"🤨 'Aku mengatakan ini hanya karena demi Marsha. Jangan GR kamu' batin Nagea.
Jerry menggeleng dengan senyuman penuh diwajahnya. "Baiklah, terima kasih sayang" ia lalu melepas pelan tautan jari-jari itu dan merentangkan kedua tangan kearah Marsha. 🥺
Marsa kembali mendekat kearahnya dengan wajah menangis bahagia, Jerry pun begitu.
"Adikku, akhirnya adikku sudah pulang!" memeluk erat Marsha.
Suasana pun, berubah mengharukan. "Kakak, aku sangat merindukan kakak!" Marsha terisak sesegukan dalam dekapan sang kakak, yang juga sedang menangis.
"Apa adikku dirawat dengan baik disana?"
Lagi-lagi Marsha hanya mengangguk dan semakin terisak. Bagian ini yang paling menyakitkan untuk ia jawab.
"Jangan pergi lagi ya sayang!"
Marsha mengangguk, untuk kesekian kalinya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
.
.