
'Oh Lord, dia ... bilang suka aku? Jadi ... kecurigaanku benar?'
"A ..pa maksudnya?" tanya Melina.
"Kamu ga denger? Aku ... Ferdo Barata, jatuh cinta sama ... kamu, Melina!" ungkapnya dengan pelan, namun mampu menggetarkan perasaan Melina.
'Ya ... ini sudah benar! Aku mengungkapkan perasaanku padanya.'
Ferdo melepaskan pelukannya, lalu menetap lekat dua bola mata gadis itu.
"Em ... apa kamu tidak salah?" tanya Melina, tanpa membalas tatapan Ferdo.
"Aku tidak salah, Mel! Aku, yakin dengan perasaanku."
"Oh ... ya. aku mengerti. Apa ada lagi?" tanya Melina dengan polosnya.
"Yah?"
"Apa ada lagi yang mau kamu bilang?"
"Aku harus bilang apa lagi?"
"Ooh, ya sudah, aku ... pergi dulu."
"Loh, Mel? Kok pergi?"
"Lah ... kan tidak ada lagi yang mau kamu bilang?"
'Kamu belum jawab pernyataanku Mel''
"Mel, ayo ... aku pengen ajak kamu makan siang"
"Oh, boleh!"
Keduanya pun, kini singgah di depan warung makan pak de Jarwo.
"Mel, kamu yakin kita makan siang disini?"
"Hmmmm"
"Apa makanan disini enak?"
"Ya, enak." Melina turun dari mobil. Ferdo pun demikian.
Sudah 5 menit menunggu. Nasi Lalap pesanan mereka belum juga terhidangkan di meja.
Ferdo terlihat sangat gelisah. Warung pengap yang hanya difasilitasi kipas angin gantung itu benar-benar membuat Ferdo kegerahan. Bahkan, hawa yang ditebarkan melalui kipas angin itu terasa panas. Pria itu mulai berkeringat dan ia sesekali mengipasi wajahnya dengan telapak tangan.
Bagaimana tidak, seorang Ferdo yang terbiasa dengan tempat nyaman, tiba-tiba harus berada di warung kecil yang dipenuhi uapan beserta asap yang aromanya sudah bercampur jadi satu.
'Kenapa mau makan saja aku harus setersiksa ini? Wah ... kalau bukan karena dia, aku tak akan pernah tau rasanya menunggu makanan dengan bercucuran keringat seperti ini. Ini sama saja dengan ... kerja keras dulu setelah itu baru mendapatkan jatah makan.'
Rencana ingin lanjut membahas tentang jawaban dari pernyataan cintanya pun terurungkan. Ferdo berpikir, dalam situasi ini tidak mungkin dirinya sanggup membahas tentang perasaan. Keinginan terbesar pria itu pada detik ini adalah makan dan keluar dari tempat pengap ini.
"Kamu kenapa?" tanya Melina, santai.
"Tak apa-apa Mel," Ferdo tersenyum, paksa.
"Tapi kok keringatan gitu?" Melina asal mencopot tisu dari tempatnya dan mengusap pelan wajah tampan pria yang katanya jatuh cinta padanya itu.
Deg.
Hampir saja Ferdo mencegah hal itu, akan tetapi sayang sudah terlambat. Tisu yang entah ada berapa bakteri yang menempel disana, kini benar-benar menyentuh kulitnya yang super terawat.
'Untuk kali ini, tak apalah, asalkan pelakunya kamu Mel'
Tak bosan-bosannya Ferdo memandang wajah cantik Melina yang sedang fokus mengusap wajah tampannya, untuk menghilangkan keringat yang bercucuran disana.
'Dia perhatian juga, aku tidak menyangka akan mengakui perasaanku pada gadis yang usianya jauh dibawahku' Mengingat, para mantannya dulu adalah gadis yang seumuran atau hanya terpaut 1 tahun.
Akhirnya, pelayan datang membawa dua porsi nasi lalap dengan lauk ayam, lengkap dengan sambelnya.
"Ayo makaaan" Melina terlihat begitu bersemangat.
Setelah menatap makanan dihadapannya beberapa saat, Ferdo pun memutuskan untuk mulai memakannya dengan perasaan sedikit was-was. Bukannya apa, Ferdo takut jika rasanya tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.
'Enak juga," batin Ferdo
Makanan pun habis dan keduanya pergi dari sana. Tampak kelegaan terpancar dari raut wajah Ferdo.
\=\=\=
Bandara Soekarno Hatta.
Dua orang pria tampan keluar dari bandara dan masuk ke mobil yang datang menjemput keduanya.
Mereka adalah ayah dan anak, yakni Ethan EL-Yared dan sang ayah yang bernama Moze Nam Yared, seseorang yang berkebangsaan Amerika-Korea. Tak heran jika Ethan terlahir dengan mewarisi wajah Korea😋.
Ayah dan anak itu baru saja pulang dari Amrik, setelah melakukan perjalanan Bisnis.
Di dalam mobil.
"Kapan kamu akan pertemukan perempuanmu dengan mami papi Ethan?" Tanya Moze.
__ADS_1
"Segera Pi... tenang aja, sudah ada kok." Jawab Ethan dengan entengnya. Namun, satu detik kemudian dia membatin.
'Apa yang aku katakan? Kami bahkan belum jadian'
"Cepatlah nak, papi sama mami tak sabar ingin punya cucu."
'Belum tentu dia mau sama aku Pi,"
"Iya Pi ... Ethan akan bawa dia besok ya!"
"Baiklah ... janjilah tidak berbohong!"
..........
Di kediaman Barata.
Marsha sedang menonton televisi seorang diri. Ia tiba-tiba teringat akan seseorang. Lalu ia membuka Youtube dari TV tersebut dan mengetik nama Ethan di kolom pencarian.
"Nah, ini dia ..." Gadis itu pun membuka salah satu Video yang merekam aksi panggung pria itu dan menontonnya. 'Kamu sangat tampan kak ... wajar aja Melina sangat menyukai-mu. Eh? Melina? Gadis itu benar-benar tidak salah mata.'
Marsha lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Melina, tapi sepertinya ponsel gadis itu tidak aktif. Marsha pun iseng menghubungi kak Ferdo untuk menanyakan keberadaan Melina. Tentu saja Marsha sengaja ingin sekedar mengganggu kakaknya itu.
Panggilan Video
Memanggil (Kakakku 2)
Drrruuut!
📲 "Hmmm"
Bukannya kak Ferdo, tapi bener-bener Melina yang menjawab.
"Lah... kok kamu Mel? Cie... lagi sama kakak ya..." dengan senyum menggoda.
Ternyata, Ferdo dan Melina sedang dalam perjalanan.
"Kebetulan nih, napa? Feeling aku bilang, kamu lagi nyari aku!"
"Ih, para normal ya, kok tau si? Eh... ada yang mau aku kasi liat. Yayang kamu lagi nyanyi tuh!"
'Kurang ajar tu Marsha,' umpat Ferdo, terlihat jelas ekspresi tak suka di wajahnya.
Melina melirik sekilas ke arah Ferdo sebelum merespon Marsha.
"Aku sudah bosan liat dia!" balas Melina.
"Kamu yang bener Mel? Lagi sakit ya?" tanya Marsha, sulit mempercayai Melina mengabaikan seorang Ethan.
"Cieee ... yang sudah punya yayang di dunia nyata, pindah ke kak Ferdo ya hatinya?"
"Apaan si Sha, aku tidak pernah kali anggap Ethan lebih dari idola, dia bukan type aku!" jawab Melina, santai.
'Ah... Tuhan, ternyata posisi aku tidak terancam.' Ferdo bersyukur dalam hatinya.
"Yakin kamu Mel?" tanya Marsha lagi.
"Yakin, 100%."
"Oh, syukurlah"
"Kok Syukurlah? Cssssss ... aku jadi curiga. Kamu suka Ethan ya kan"
"Sok tau kamu Mel,"
Marsha mengakhiri sambungan videocall.
'Benarkah aku memang suka kak Ethan? Apa boleh ya?' Gadis itu menyibak sedikit lengan bajunya lalu meraba bekas luka itu, yang ternyata belum menghilang. 'Haaaaaah, bekas luka ini, akan terus siksa aku selamanya'
Bib..
Sebuah notif masuk ke ponsel Marsha.
Ethan:
(Haiii cantik)
"Dia chat aku?" Marsha merasa sangat senang.
Marsha:
(😊😊Kak Ethan gombal.).
Ethan:
(Ga gombal kok!)
Marsha:
(Tapi ... aku ga secantik yang terlihat kak)
Ethan: Degh 🤨🤨
(Maksudnya? Semua orang tau kamu cantik.)
__ADS_1
Marsha:
(Ga tau ah, gelap. hehehe😊)
Ethan:
(Aku OTW nih, mau ketemu kamu)
"Haaah? Dia akan kesini?" Marsha bergumam.
Marsha segera kembali ke kamarnya, hendak ganti baju. Kunci pintu dan memilih pakaian di dalam lemari.
Saat sudah menemukan pakaian ganti yang menurutnya cocok, Marsha melepaskan pakaiannya dengan hati-hati.
"Duuh, sakitnya ..." Marsha menjerit pelan, bekas luka tusuk di pinggangnya itu, memang belum sembuh benar.
Setelah susah payah membuka kaos oblong kebesarann itu dari tubuhnya, kini Marsha harus berjuang lagi mengenakan pakaian yang ingin dikenakannya untuk menyambut Ethan, yang sudah berberapa hari ini tidak pernah ia temui.
"Mell kamu dimana? Aku sedang butuh kamu!" Marsha bergumam karena hampir menyerah.
"Marshaaa - Marshaaa, kamu itu manusia macam apa si? Kenapa tubuhmu itu dipenuhi bekas luka?" Marsha sedang berdiri di depan cermin, mematung. Sedang berbicara dengan pantulan dirinya.
"Hai... kamu yang di dalam sana, sabar ya! Kondisi ini akan berlalu kok"
Tersenyum, itu adalah hal yang selalu ia lakukan setelah berbicara sendiri seperti orang gila.
'Kak Nagea... ya ... kak Nagea!"
Gadis itu teringat akan kak Nagea yang juga mengetahui tentang bekas luka-nya. Ia pun segera menghubungi kontak kakak iparnya itu.
Senyum legah tergambar di wajahnya setelah Nagea mengatakan akan segera datang.
Tok tok tok
Marsha menutup asal tubuhnya dan berjalan perlahan membuka pintu.
Ceklek.
"Silahkan masuk kak"
Nagea pun masuk mengikuti Marsha.
"Kak, maaf ... merepotkan kakak." ucap Marsha, tulus.
"iya, tak apa." Nagea bersikap biasa saja.
Nagea pun membantu Marsha mengenakan pakaiannya.
Saat Marsha berbalik membelakanginya, Nagea tampak syok mengetahui, betapa mengerikannya tubuh bagian belakang adik iparnya ini.
"Kak, ayo ... naikkan resletingnya,"
Marsha sengaja membuyarkan lamunan kakak iparnya itu. Ia tahu, Nagea sedang menatap penampakan tak mengenakkan itu.
Sebelumnya Nagea memang mengetahui jika Marsha memiliki bekas luka itu, tapi ... wanita itu tidak melihat di bagian ini. ia mengira bahwa bekas itu hanya ada di lengan kanan Marsha.
Srrrreeeeeeeet.
Akhirnya, dress dengan bahan yang nyaman itu pun berhasil menurupi tubuh gadis itu.
"Kak, aku ... sangat jelek yah?" Marsha tersenyum simpul. Lebih tepatnya, senyuman untuk menghibur dirinya sendiri.
"Sha ..." Nage beralih ke hadapan Marsha. "Sha ... kenapa seperti ini? Hem? Kenapa kamu tersiksa sebanyak ini?"
Nagea kini memeluk tubuh itu. Menangis sedih, sesegukan. "Sha ... maafkan kakak karena tidak menjagamu waktu itu. ini semua salah kakak Sha!"
"Hei kak, jangan nangis... aku sedang tak ingin nangis. Aku sudah tak apa kak..." Marsha mengusap punggung kakak iparnya dengan sayang.
"Sha ... ayo, kita beritahu keluarga. Mereka harus tau ini, yah!" Usul Nagea, setelah mengusap kedua pipinya yang penuh air mata.
"Kakak ... jangan yah, jangan dulu beritahu siapapun, aku belum siap liat mereka syok."
"Jadi apa rencanamu Sha?"
"Begini saja dulu kak, Oia, apa keponakanku sudah ada disini?" Mengelus perut rata milik Nagea.
Nagea hanya tersenyum penuh makna.
"Sayang..."
Mama memanggi, setengah berteriak.
"Sayang... ada Ethan tu, astaga Marsha... ada apa ini?"
Mama tercekat didepan pintu setelah melihat kondisi kamar Marsha yang berserakan, pakaiannya ada dimana-mana.
'Jadi seantusias ini kah putriku mempersiapkan diri menyambut Ethan?'
"Hehehe.. mama, maaf!"
Akhirnya, kekacauan itu menjadi tanggung jawab para pelayan.
__ADS_1