Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Mengakui Perasaan


__ADS_3

"Hai ... kak," sapa Marsha, dengan sikap canggungnya.


"Hai Sha" jawab Ethan, tak kalah canggung.


Keduanya jalan bersama menuju ke mobil. Ethan memberanikan diri untuk menggenggam jemari Marsha.


'Uuuuuuhhh kak Ethan,' batin Marsha seketika berteriak.


"Sha, mau aku gendong aja?" tanya Ethan, basa-basi.


"Hehe... tidak perlu kak,"


.


Di dalam mobil.


Hanya ada keheningan. Ethan sesekali melirik Marsha yang berada di sebelahnya disertai senyum smirk.


'Aaahh ... akhirnya aku, telah menemukan Marsha-ku lagi.


Lagi-lagi Ethan mensyukuri bahwa Fania adalah Marsha yang ia tunggu.


Tiba di kediaman Yared.


Ethan kembali mengambil satu tangan Marsha untuk ia genggam.


"Kak, kali ini aku merasa gugup,"


"Santai aja Sha. Papi orang baik kok."


.


"Slamat malam Pi, Mi,"


"Wah ... selamat malam sayang ... Sha, sini sayang"


Mode heboh mami seketika kambuh begitu melihat Marsha. Ia pun memeluk gadis itu dengan hangat. Terlihat sangat sayang.


"Pi ... ini dia, Marsha."


Belum lagi Ethan sempat memperkenalkannya, sudah di dahului oleh si Mami.


"Hai Marsha, saya ... papi-nya Ethan."


"Hai om, saya Marsha."


Setelah berkenalan, kini ke empat orang itu pun siap untuk dinner bareng.


Ethan dan Marsha duduk bersebelahan dan mami papi bersebelahan di hadapan keduanya.


"Dengan sigap Marsha menyiapkan makanan pada piring makan yang ada di hadapan Ethan.


"Sha?"


Ethan yang tidak terbiasa menerima layanan saat makan, merasa aneh.


"Kamu sukanya ini kan?"


Ternyata Marsha masih mengingat dengan baik makanan kesukaan pria itu.


'Apa ini kode alam?' batin Ethan, mulai mengaktifkan mode ngarep. Pikiran bebasnya menebak bahwa Marsha, juga memiliki sedikit perasaan padanya.


Tidak hanya Ethan, mami dan papi kini tertegun memandang Marsha. Seolah, hal yang ia lakukan ini adalah sesuatu yang luar biasa. Padahal, ini si, Marsha hanya mempraktikkan yang selalu dilakukan mama dirumah.


"Mi, kamu kalah sama calon menantu kita"


"Papi ih, ga asik. Ini Mami tuangin juga ya makanannya." Wanita itu lalu melayani suaminya untuk pertama kali dalam urusan makan. (Dasar somplak si mami).


Keluarga kecil Yared satu ini memang sedikit unik. Ketika makan, baik mami, papi dan Ethan, ketiganya akan melayani diri sendiri tanpa menyibukkan para pelayannya yang terbilang lebih dari cukup.


"Kak, silahkan dimakan!"


"Eh?"


Ternyata Ethan asik tertegun karena menerima perlakuan manis ini, matanya tidak berkedip menatap Marsha. (Lebai lu babang)


'Putraku benar-benar tidak salah memilih gadis ini. Selain cantik parasnya, dia juga terlihat baik.' puji si papi dalam hati. Ia merasa ingin cepat-cepat mempersunting putra tunggalnya ini dengan Marsha.


"Jadi ... apa rencana masa depan kalian berdua?" tanya papi setelah menelan satu suapan makanan ke mulutnya.


"Eh?" Marsha terkaget.


"Pi... Marsha belum kepikiran jauh kesana. Dia masih muda."


"Iya, tapi kamu yang ketuaan boy" sahut papi, apa adanya.


Marsha dan Ethan terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Jadian saja belum malah diminta mikirin masa depan bersama. Ethan si, paham. Tapi, Marsha? 'Kenapa ini? Beginikah perasaan seseorang ketika diperhadapkan dengan calon mertua?' Sungguh, Marsha belum pernah berada dalam situasi ini.


.


"Sayang, pakai ini minggu depan, saat ulang tahun perusahaan kita ya"


Sebuah paper bag diberikan oleh mami Angel kepada Marsha.


"Perusahaan kita? Jangan bilang, mereka menganggapku sebagai pacar kak Ethan'


"Apa ini tante?" menatap bingung.


"Itu dress buat kamu sayang, pakailah saat menghadiri acara itu ya, acaranya akan diadakan di hotel milik abang Jerry kamu itu loh, jadi, pasti kamu dan keluargamu juga akan hadir.


"Oh... tidak perlu memberikan saya ini tante, saya punya pakaian sendiri kok," tolak Marsha dengan polosnya. Perasaannya sudah tidak enak. Dia menebak bahwa ini pasti dress laknat yang tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya.


"Terima aja Sha. Itu aku yang pilih buat kamu. Kamu pasti suka." jelas Ethan, dengan rasa percaya diri yang tinggi.

__ADS_1


Merasa tidak enak berdebat, Marsha pun menerimanya.


"Sha, ayo ikut aku sebentar." ajak Ethan, lalu meraih tangan Marsha membawanya pergi dari hadapan mami.


Mami tersenyum senang melihat kepergian Mereka. 'Duhhh... anakku sangat manis. Siapa yang mampu menolak pesona anak itu? Aku saja setiap hari terpesona melihatnya. Ah, titisan papi bener-benar luar biasa" 😁 gumamnya.


"Mi ... kau tadi memanggilku?"


Si papi tiba-tiba muncul setelah habis bertelponan dengan rekan bisnisnya.


"Perasaanmu saja itu Pi, untuk apa aku memanggilmu."🀭


"Oh... aku salah dengar, ku pikir tadi mendengarmu memujiku."


.


"Kak, kita mau masuk kamar? Mau apa?"


Marsha terlihat masih dalam mode bingungnya.


Ceklek.


"Ayo masuk, aku tidak akan memakanmu di dalam."


Saat ini, Ethan dan Marsha berada di dalam kamar milik Ethan. Katanya sih, Ethan akan mengatakan sesuatu. (Ayo kita dengar. Apa yang mau pria itu katakan.)


"Sha, aku ... suka sama kamu. Aku ... jatuh cinta sama kamu sejak dulu." ungakapnya, tanpa basa-basi.


Ethan dapat melihat dengan jelas aura penolakan dari wajah Marsha.


'Akhirnya dia mengatakannya?'


"Kak, aku ... aku,"


"Jangan di jawab sekarang Sha. Aku bisa tunggu sampai kapanpun kamu siap menjawab iya."


"Em... begini kak,"


"Jangan buru-buru Sha ... kamu pikirkan baik-baik. Ayo, aku antar kamu pulang,"


Ethan kembali meraih tangan Marsha. Ia tidak penasaran akan jawaban gadis itu. Baginya, lebih baik nanti saja, dari pada menjawab sekarang, tapi ditolak. Ethan, tidak siap dengan penolakan Marsha.


\=\=\=\=\=


Di kediaman Barata.


Setelah selesai berbincang dengan mami lewat telepon, Nagea membaringkan tubuhnya di atas kasur. Mumpung Jerry sedang tidak dikamar, gadis itu cepat-cepat menutup matanya ingin segera mengarungi mimpi, agar tidak terlibat situasi canggung dengan suaminya itu.


Jerry yang baru saja masuk ke kamar, melihat istrinya itu telah tertidur dengan sangat nyenyak. Lama, ia menetap wanita itu hingga akhirnya memutuskan ikut menyusul istrinya itu masuk ke alam mimpi.


Agar tidak membangunkan Nagea, Jerry berusaha tidak menimbulkan gerakan yang berlebihan. Bantal guling yang sengaja Nagea buat sebagai pembatas segera disingkirkan oleh pria itu.


'Beginilah seharusnya suami istri jika tidur bersama' Pria itu memeluk tubuh Nagea dan tak lupa memberi kecupan kilat di kepala wanita itu, lalu menyusul Nagea ke alam mimpi. (Awas aje lu babang kena siram sambel besoknya).


.


'Kemana si tu anak, masa tega gitu mengabaikan panggilan dari aku?'


Sekali lagi, Ferdo coba memanggil.


Drrruut .....


πŸ“ž"Halo," sapa seseorang dari seberang sana.


πŸ“ž"Ya? Siapa ini?"


Ferdo bertanya karena bukan Melina yang menjawab teleponnya.


πŸ“ž"Cari Melina ya Nak Ferdo, ini dengan ibunya Melina"


Deg. 'Ibunya tau nama aku?' batin Ferdo sejenak dan detik berikutnya auto menyadari bahwa tentulah ibunya membaca nama kontak Ferdo yang tertera sebagai pemanggil.


πŸ“ž"Oh iya bu, Melina ada bu?"


πŸ“ž"Melina sedang istidahat nak Ferdo, dari tadi ga mau bangun. Mungkin dia capek abis nempuh perjalanan udara dan perjalanan darat beberapa jam untuk tiba di rumah.


Legah. Itulah yang Ferdo rasakan. Ternyata Melina sedang tidur-tiduran dirumah bapak-ibunya dan bukan lagi berkeliaran keliling kampung seperti yang ia duga.


πŸ“ž"Ngomong-ngomong, nak Ferdo ini siapanya anak saya? Teman kuliah, tetangga disana atau --"


πŸ“ž"Saya kakaknya Marsha bu,"


πŸ“ž"Marsha? Siapa itu?"


πŸ“ž"Maaf bu, Fania maksud saya."


πŸ“ž"Fania? Oh, Melina belum cerita tentang Fania nak,"


πŸ“ž"Iya bu, jadi ... Fania itu namanya Marsha, selama 13 tahun ini menghilang dan sekarang dia sudah kembali ke keluarga."


πŸ“ž"Oh, syukurlah nak, ibu senang dengarnya nak. titip salam sama nak Fania ya ... pasti dia semakin cantik ya, ibu senang dia berteman baik dengan Melina selama di kampung ini."


Ya, yang ibunya Melina ketahui akhir-akhir ini adalah bahwa Fania pergi diam-diam melarikan diri dari kampung, meninggalkan pria itu.


πŸ“ž"Iya bu, nanti saya sampaikan. Benar, adikku tumbuh jadi gadis cantik bu,"


'Anak ibu juga cantik' batinnya pula.


πŸ“ž"Oia nak Ferdo, kenapa cari anak ibu, ada apa ya?"


πŸ“ž"Oh, sa-saya hanya mau tau dia sudah tiba dengan selamat bu."


πŸ“ž"Oh begitu ... kamu baik sekali nak,"

__ADS_1


'Ya iya lah bu, namanya juga modus'


πŸ“ž"Ah, biasa aja bu, hehe. Kalau begitu, saya tutup dulu ya bu, lain kali kita ngobrol lagi"


Ibunya Melina pun mengiyakan.


\=\=\=


Di rumah Melina.


Di kampung, keluarga Melina terbilang cukup berada untuk ukuran rakyat biasa. Ayahnya merupakan seorang ASN yang menjabat sebagai kepala sekolah da SMP yang ada di kampungnya, sedangkan ibunya, selain sebagai ibu rumah tangga, sang ibu rajin bercocok tanam sehingga hasil kebunnya juga terbilang tinggi.


"Bu, hp siapa itu?" tanya abangnya Melina.


"Hp ade kamu lah bang" jawab ibu cuek.


"Bu, ini hp yang sangat mahal. Dari mana anak itu mendapatkannya?"


Si abang meraih ponsel itu dari tangan ibunya.


Si ibu yang tidak mengerti akan harga pasar teknologi, pun bertanya pada putranya. Kalau harga pasaran cabai dan kawan-kawannya si, ibu pasti tau lah.


"Memangnya semahal apa hp itu bang? Kamu tidak harus seheboh itu kali bang"


"Bu ... hp ini harganya puluhan juti bu. Bisa sebanding sama harga sekapling lahan."


"Apa? Jangan ngaco kamu bang."


Keesokan harinya.


Melina terbangun dalam keadaan tubuh yang terasa sangat fresh setelah tidur nyenyak semalaman.


"Slamat pagi!" ucapnya pada anggota keluarga lengkap yang sepertinya memang sedang menunggunya bangun. Ada bapak, ibu, si abang dan istrinya.


Drruut drruut drruut.


Ferdo memanggil.


"Hp aku? kok ada diluar"


Melina dengan santainya ingin maraih ponsel tersebut yang berada diatas meja, persis di hadapan si abang.


Ktepek.


"Aw ... bang! Kok tanganku dipukul?"


"Jawab, aktifkan loadspeakernya" titah si abang.


"Bang!" Melina sedikit berteriak.


Saat ingin mendapat pembelaan dari ibu dan bapak, Melina keburu menyadari bahwa kedua orangtua itu sedang melayangkan tatapan tajam kearahnya.


'Waduh, ada apa ini? Kenapa aku merasa merinding?'


Drrruuut drrruuuut.


'Ferdooo... please hentikan panggilanmu!'


"Melll, jawab. Atau, kakak yang jawab!"


Melina pun terpaksa menjawab panggilan pria yang bahkan belum jadian dengannya akan tetapi sudah berhasil membuat hidupnya seterancam ini.


πŸ“ž"Yaa?"


Semua orang seakan menyimak. Benar saja. Mereka sedang menyimak, termasuk si bapak.


πŸ“ž"Pagi Mell, bagaimana kabarmu?"


πŸ“ž"Aku baik"


πŸ“ž"Sudah sarapan?"


πŸ“ž"Belum dan ini baru aja mau sarapan. Sudah dulu ya,"


πŸ“ž"Kok buru-buru si Mel, ada apa?"


Drrep. Melina mematikan panggilan sepihak.


"Siapa itu Mel?" giliran bapak bertanya.


"Cuma temen Paak."


"Trus kenapa dia bilang I Love U ke kamu?" sergah si abang.


"Apa? Kapan? Jangan sembarang bang."


"Ada di chat. Aku sama ibu sudah baca!"


"Apaaa?" Melina mengusap kasar wajahnya. "Kurang kerjaan deh buka-buka isi hp orang."


"Mell ... abang kamu kamu itu cuma khawatir sama pergaulan kamu sayang." sahut sang ibu.


Melina terdiam. Ada benarnya juga, pikirnya.


"Trus, dari mana kamu dapat hp ini?"


Satu pertanyaan belum terjawab, tiba-tiba pertanyaan baru menyusul.


"Dari give away bang!"


'Aku tidak mungkin bilang kalau itu aku terima dari Ferdo, bisa-bisa mereka tuduh aku menyalahgunakan kecantikanku dengan memoroti seorang pria.'


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2