Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Melina Yang Menggemaskan


__ADS_3

Pukul 03.00 dini hari, keluarga Barata di datangi oleh petugas kepolisian untuk menangkap Marsha palsu..


Tidak sopan memang, membangunkan orang yang pada pukul sebegini tentulah sedang enak-enakan tidur. Akan tetapi, Juan dan Fema tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan 2 pangeran yang belum tiba di rumah bahkan tanggal sudah berganti.


Dalam ketidaktahuan mereka, Fema dan Juan mati-matian membela Marsha palsu yang sedang merengek karena dibawa paksa oleh polisi. Kemudian, polisi menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya dimana Marsha yang asli telah ditemukan dan menginformasikan bahwa mereka harus segera ke rumah sakit.


Di Rumah Sakit.


"Dokter, tunggu!" Melina menghentikan dokter yang hendak membawa Marsha ke ruang operasi, kemudian berbicara pelan kepada dokter tentang Maraha. Ia meminta dokter untuk tidak mengatakan apapun tentang bekas luka ditubuh Marsha kepada pihak keluarganya.


Entah kenapa, Melina hanya khawatir akan kondisi mental Marsha ketika mengetahui tentang rahasia tubuh penuh bekas lukanya diketahui oleh orang banyak. Biarlah temannya itu yang akan memberitahunya nanti kepada keluarganya, pikirnya.


.


"Ternyata Fania adalah Marsha.. pantas aku selalu berdebar bahkan saat menyebut namanya. Cinta memang tidak pernah salah" Ethan membatin.


Saat ini, Ethan sedang melakukan donor darah untuk Marsha.. bersyukur dia memiliki golongan darah yang sama dengan gadis itu, sehingga dapat menolongnya. Ia bahkan meminta tim medis mengambil darahnya sebanyak apapun yang gadis itu butuhkan. Kalau cinta, memang harus berkorban. pikirnya.


.


Kini semuanya berada di depan pintu ruang operasi, menunggu dengan perasaan tidak tenang.


Sedangkan posisi Nagea saat ini berada di IGD.


"Hiks.. hiks.. hiks.. Melina terisak!" Melina merasa sangat sedih memikirkan Fania, sahabatnya itu. "Kamu terlalu banyak menderita Faniaaa.." batinnya.


Ferdo yang melihat itu, mendekati Melina. Ia duduk disebelah Melina dan membawa gadis itu bersandar di bahunya.


"Berjanjilah untuk jadi kakak yang baik untuk dia setelah ini.. berjanjilah selalu membuat dia gembira. Bisa kan?"


Ferdo memgangguk mantap, tanpa beban. "Dia adalah adikku. Aku pasti akan menjaganya."


Melihat kedekatan Melina dan Ferdo, lagi-lagi Tomi penasaran. Tomi seakan sedang mempertanyakan ada hubungan apa diantara Ferdo dan Melina. Ethan hanya menjawab tidak tahu lewat menikkan bahu.


“Ferdo..”


“Mah.. Pah..” Ferdo berdiri dari duduknya dan terhenti pula sandaran di bahu nyaman yang sedang dinikmati oleh Melina.


Ferdo lalu memeluk mama untuk menguatkannya menghadapi kenyataan tentang Marsha.


“Nak Ferdo, dimana Nagea-ku?”


Ferdo pun memberitahukan tentang kondisi Nagea dan keberadaannya. Kini, Papa Juan beserta ibunya Nagea sedang menuju ke tempat dimana pasangan itu berada.


Ceklek.


Terlihat Nagea tertidur pulas di ranjang pasien dan ada pula seseorang yang dengan setia berada di sampingnya. Sapa lagi jika bukan suaminya sendiri.


Menyadari kedatangan ibu mertua dan papa Juan, Jerry berdiri lalu menghampiri mereka. “Pa..” sapanya.


“Jerrry,, maaf papa harus melakukan ini!”

__ADS_1


BUUGH...


Juan memberi tinju kuatnya dibagian wajah pria tampan yang perilakunya ternyata tidak sebagus wajahnya itu.


Ibunya Nagea sangat terkejut melihat aksi Juan yang sedang marah pada Jerry. Wanita itu membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


Hening!


Hening!


Geeeep..


Jerry terjatuh. Bagaimanapun juga, ini adalah pukulan ketiga kali untuk kepalanya yang berharga. Dengan sisa kemampuan yang ia punya ia tetap menjaga istrinya yang sedang tertidur dan tak menyangka akan mendapatkan tambahan pukulan satu lagi. pria itu pun, tak sadarkan diri.


Sulit sekali mempercayai seorang Jerry Barata akan pingsan hanya dengan 1 pukulan di wajahnya. “baru satu kali menerima tinjuku kau sudah pingsan anak nakal? Bangun.. ada apa denganmu?”


Juan kini merasa panik. Dengan sigap ia meminta pihak rumak sakit untuk melaukan pemeriksaan secara menyeluruh pada tubuh putranya itu. Walaupun sedang marah padanya, tapi Juan tidak melupakan tentang putranya ini, seseorang yang sangat menyayangi keluarga, sebenarnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Melina baru menyadari jika ternyata, terdapat luka irisan pisau tajam milik seorang penjahat yang ia terima pada peristiwa beberapa jam yang lalu.


“ahhhh.. rasanya sangat sakit, tunggu! Kenapa aku susah menggerakkan jari tanganku? Jangan bilang ada uratku yang putus?” Melina menatap luka yang cukup panjang itu dengan mata melotot. “Sial... penjahat itu benar-benar tega!" Ia lalu pergi dengan buru-buru setelah membuat orderan di aplikasi gojek pada ponselnya.


Dalam sekejap, babang gojek telah tiba menjemput Melina.


Tiba di Puskesmas 24 jam. Melina pun harus mengantri dengan pasien lainnya. “Heran, jam segini masih ada aja pasien!” gerutunya, sambil terus mengelus pelan tangannya yang terluka. “Bertahanlah.. tolong jangan buru-buru infeksi ya..”


Tiba di Rumah Sakit semua orang masih setia menunggu Marsha yang belum keluar dari ruang operasi. Begitu melihat kemunculan Melina, Ferdo seketika berdiri dari duduknya. “Kamu dari manaaa? Aku mencarimu keseluruh Rumah Sakit ini!” Ferdo bertanya sekalian menjelaskan rasa khawatirnya pada Melina. Tampak sangat jelas diwajahnya bahwa dia sangat mengkhawatirkan gadis itu.


“Oh.. aku.. habis dari PUSKESMAS!” Jawab Melina, jujur.


“Pus...Kes..Mas?” Ferdo mengulang nama tempat yang dimaksud Melina.


“Iya.. dari Puskesmas. Pusat Kesehatan Masyarakat.” Jelas Melina. Keduanya seakan tak menghiraukan keberadaan orang lain disekitarnya.


“Kenapa kau kesana? Dan tidak pamit padaku?” Ferdo kembali bertanya dengan wajah khawatirnya itu.


'Oh my God, ada apa dengan tatapannya? Kenapa aku merasa dia perhatian?'


“Oh.. aku.. baru saja mengobati ini.” Dengan ragu-ragu, Melina memperlihatkan tangannya yang terbungkus perban.


“Mengobati? Kau pergi ke Puskesmas disaat kau sedang berada di Rumah Sakit sebesar ini?” Ferdo dan semua yang ada disana tentu saja merasa bingung, tak habis pikir.


“Hmm.. tentu saja, ini bukan sekedar luka, tapi aku mendapatkan 12 jahitan.” Jelas Melina.


“Siapa yang melukaimu? dan.. Apa kau pikir di rumah sakit ini tidak ada dokter?” Ferdo belum mengerti jalan pikiran Melina.


“Oh... mungkin saat kita menjemput Marsha, seseorang tak sengaja menyayat tanganku. Dan.. Aku pergi ke Puskesmas karena Kartu BPJS-ku tidak berlaku di Rumah Sakit swasta.” Gadis itu bahkan memperihatkan kartu berwarna hijau kombinasi putih yang merupakan BPJS fasilitas Pemerintah Daerah yang ia dapatkan melalui ayahnya yang seorang PNS.


Melihat itu, semua orang terdiam saling memandang. Ternyata ini soal BPJS.

__ADS_1


“Untuk apa aku membayar rumah sakit ini mahal-mahal kalau aku bisa menerima pelayanan gratis! Aku bisa tidak makan satu bulan penuh jika nekad menerima perawatan di tempat ini!” kini ia bahkan tersenyum. 'Kalian keluarga sultan pasti ga pahamkan?' batin Melina.


“Ya... ya... iya, baiklah Mel..” Ferdo hanya bisa memaklumi maksud Melina. Ia kini mengelus kepala gadis muda itu dengan lembutnya. 'kau sangat polos.. setidaknya katakan padaku jika kau terluka.. bukan malah pergi ke puskesmas sendirian di pagi buta.” Batin Ferdo.



'Waduh,, dia mengelus rambutku? Tapi kenapa? Lalu tatapannya kenapa harus begitu? Dia benar-benar berpotensi membuatku meleleh!”



.


.


“Tom.. sudah jelas, gadis itu punya Ferdo. Kau.. berhentilah berharap!” bisik Arnav setengah meledek Tomi, yang menyaksikan interaksi antara Ferdo dan Melina.


“Hmmm.. kalau begitu, ganti sasaran.. aku.. beralih ke gadis satunya lagi..” Tomi menunjuk pintu ruang operasi, membuat Ethan melayangkan tatapan sengit kearahnya.


“Jangan coba-coba mendekati yang itu. Dia milikku!”


“Ha? Ethan.. kau keterlaluan.. masih banyak gadis disekitarmu kenapa harus berebutan denganku?” protes Tomi, tak percaya.


“Akuu tidak memintamu memperebutkannya denganku. Dia milikku.”


Tomi Okusima si pria malang yang selalu gagal memiliki pacar itu hanya bisa pasrah. Dia sadar, tidak mudah mengalahkan pesona Ethan.. dirinya jelas kalah jauh.. apa lagi jika Ethan sudah bilang itu miliknya, maka... itu artinya Tomi tak bisa apa. Belum juga memulai, dia sudah gagal. “Sabar Tom... kita akan mencari satu untukmu?” Arnav menepuk pundak sahabatnya itu.


Menit demi menit berlalu, akhirnya Fania keluar juga dari ruang operasi itu, dalam keadaan belum sadarkan diri.


“Ferr... benarkah dia Marsha?” mama bertanya dengan airmatanya yang berlinang, menatap tubuh kaku Fania. Ferdo, hanya mengangguk mengiyakan. “Ya... tidak salah lagi sayang.. dia Marsha kita.. Mama sudah merasakannya sejak awal..” Mama menggenggam erat tangan putrinya itu. Semua orang mengikuti arah gerak ranjang pasien, mengantarkan Marsha ke ruang rawat inapnya.


Bersyukur karena pisau tajam tidak mengedai organ vitalnya, sehingga nyawanya tidak terancam, meskipun kehilangan banyak darah.


.


“Ibu,, saya permisi pulang dulu ya, karena saya harus ke kampus.” Pamit Melina kepada ibu bosnya itu, yang ternyata adalah orang yang telah melahirkan sahabatnya. Fema pun mengiyakan dan meminta Melina berhati-hati.


.


“Temani aku sarapan dulu!” Ferdo lagi-lagi muncul di dekat Melina, berjalan disampingnya.


'ya ampun, orang ini, bisa-bisa aku akan salah sangka akan sikapnya.' Melina hanya membatin malas, namun tetap mengikuti ajakan Ferdo.


“Baiklah asalkan kamu bayarkan makananku!”


.


.


Bersambung...


Di part ini pasti ada yg senyum-senyum sendiri😊

__ADS_1


__ADS_2