
Tok tok tok,
"Non, Nona!"
Ceklek, Marsha membuka pintu kamarnya.
"Iya bik, ada apa?"
"Ada yang nyariin Non, siapa itu yah," si bibi pake acara garuk kepala sambil mikir.
"Em dia tinggi bik?"
"Iya non,"
"Orangnya ganteng?"
"Banget non," mengangguk cepat.
"Lebih ganteng dari kak Ferdo?"
"Bener Non."
"Ganteng mana sama kak Jerry?"
"Hehe, lebih ganteng Tuan Muda ke satu non"
"Nah, itu pacar aku bik, namanya kak Ethan. Bik Sum kok lupa terus sih sama dia? Dah, aku temui dia dulu yah," Marsha bergegas masuk, ngaca dulu.
"Bik, bik, aku sudah cantik belum?" Marsha memutar tubuhnya di depan bik Sum, yang matanya sudah rabun.
"Cantik Non,"
"Baiklah, aku segera temui dia" berlari dengan langkah seribu menuruni tangga.
Si Bik Sum hanya bisa tersenyum menggeleng.
"Sha, kenapa harus berlari sayang? Hati-hati,"
"Mah, kak Ethan mana?"
"Tuh, sana lagi ngobrol sama papa," mama menunjuk kearah yang dia maksud.
Segera gadis itu mempercepat langkahnya, menuju sang kekasih yang terasa sudah lama tidak ia jumpai.
"Kak Ethaan,"
Mendengar panggilan Marsha, sontak membuat Ethan berdiri dari duduknya.
Grreep.
Tanpa basa-basi, langsung memeluk pria itu.
Degh~
Lagi-lagi jantung pria itu jadi korbannya.
Papa Juan yang melihat itu hanya bisa diam membisu dan sibuk mengedipkan matanya.
Ethan? Pria itu, gugup bukan main, tanpa berani membalas pelukan.
Sedang mama Fema yang menyaksikan itu dari tempatnya, segera menutup wajahnya dengan tangan. 'Oh Tuhan, anak gadisku, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat manja. Ini semua pasti karena dia sempat kehilangan kasih sayang selama ini.' Mama Fema hanya berusaha memaklumi.
"Aku kangen kakak,"
"Sha, disini ada ... papi kamu" bisik Ethan.
"Eh?" Marsha menoleh, tanpa melepas pelukan tangan nakalnya.
"Papa? Hehehe. Aku kangen kak Ethan Pah"
"Ya, ya ... lanjutkan sayang, papa paham akan perasaan kamu. Tapi, sepertinya kamu hampir membuat pacarmu jantungan."
"Hah? Jantungan?" Marsha malah menempelkan pendengarannya ke dada pria yang sedang di peluknya itu. "Benar, sayang, kamu gugup?" menengadah kepalanya ke wajah Ethan.
__ADS_1
Pria itu benar-benar di buat mati kutu atas tindakan menggemaskan gadis yang dicintainya itu. Alhasil, hanya bisa tersenyum canggung.
"Kasian jantung kamu sayang, maaf ya karena aku ngagetin." Mengelus punggung belakang Ethan.
"Ehmmm. Ya sudah, sepertinya Papa harus menyingkir. Silahkan lanjut dengan Marsha ya Nak Ethan,"
"Baik pak" jawab Ethan, dengan sikap hormat.
Papa Juan pun pergi meninggalkan pasangan muda itu, menyusul sang istri yang lebih dulu ke kamar.
"Kak, kakak tidak merindukan aku?"
"Ya rindu lah Sha, makanya datang kesini."
"Trus kenapa tidak membalas pelukanku?"
"Oke, aku peluk ya," membalas pelukan pacarnya itu.
Keduanya pun saling memeluk dalan waktu cukup lama, hingga sebuah suara menyadarkan keduanya.
"Ehmmm, Ehmm!"
"Eh? Bocah?" Marsha segera menyudahi pelukan.
Anak remaja usil itu melipat kedua tangan diatas perut dan mulai memicingkan matanya, sepertinya sudah siap akan mengatakan sesuatu.
"Sssshhhhh, Bang Ethan, segeralah nikahi kakakku,"
Setelah mengatakan itu, Abner pun pergi, meninggalkan sejoli itu yang hanya bisa saling tatap.
"Adikmu benar. Kita harus segera menikah sayang"
"Iya, aku juga mau kok buruan nikah sama kakak" tersenyum malu.
"Bagus, anak pintar." Ethan mengacak pelan rambut Marsha. "Tadi, aku sudah bicarakan tentang itu ke papi kamu."
"Hah? Oh yah? Trus papa bilang apa?" Marsha bertanya dengan wajah keponya.
"Katanya, terserah kamu aja. Kalau kamu siap, kita boleh nikah. Lagi pula, mami papi aku sudah tidak sabar ingin minang kamu sebagai menantu mereka satu-satunya."
Sementara, dikamar pasangan papa dan mama.
"Mama sayang, apa kamu setuju si Tuan Putri nikah muda?"
"Ehh? Maksud papa, Marsha?"
"Iya lah sayang, siapa lagi! Tadi ... waktu berbincang dengan Ethan, pria itu membahas tentang ingin melamar Marsha."
"Oh? Astaga, tapi aku takut anak kita belum dewasa untuk menjadi seorang istri Pah!"
"Tapi yang aku lihat, Marsha ... sudah tidak sabar untuk jadi istri sayang. Entahlah!"
"Emmm. Begini pah, kita ... serahkan aja ke Marsha. Kalau menurutnya dia sudah setuju untuk dijadikan istri, ya ... kita harus belajar melepaskannya sayang."
"Iya Mah, Papa setuju. Biar anak itu yang menentukan dan memutuskan."
"Pah, bagaimana dengan pangeran ke-dua? Masa iya, Marsha akan mendahului dia? Apa dia tidak akan protes?"
"Ferdo, dia kan juga punya pacar sayang. Tentu saja dia akan menikahi si Melina itu. Tapi ... paling tidak, 6 bulan lagi baru mereka boleh menikah. Secara, Melina itu kan mau selesaikan gelar dokter dulu,"
"Enam bulan tidak lama pah, kalau memang mereka berjodoh."
"Iya Mah, Papa juga berharap mereka berjodoh. Papa punya harapan besar pada gadis itu. Mungkin saja suatu saat dia bisa gantikan posisi papa saat papa pensiun nanti,"
"Iya kamu benar Pah, setidaknya, walaupun anak kita tidak ada yang mau jadi dokter, tapi masih bisa mengandalkan menantu. Marsha bilang, Melina itu sangat pintar. Mama percaya suatu saat dia akan sangat membantu pekerjaan papa."
Perbincangan pun diakhiri dengan ritual panas yang memabukkan pasangan itu.
.............
Satu minggu kemudian.
__ADS_1
"Sayang, kamu terlihat berbeda kali ini. Iya kan Pah?" Juan membenarkan perkataan istrinya.
"Jerr, santailah, jangan tegang begitu. Sebentar lagi Nagea akan memasuki tempat ini.
Saat ini, pernikahan Nagea dan Jerry kembali diadakan, bahkan setelah mereka sudah terlanjur melakukan malam pertama.
Ini semua adalah kemauan dari kedua orangtua Nagea, dan tentu saja disetujui oleh seluruh keluarga Barata itu.
Satu minggu terakhir ini, Nagea dipisahkan dari suaminya itu, karena dibawa pergi oleh kedua orangtuanya, pulang ke Thailand.
Ya ... acara pernikahan itu berlangsung di Negara tempat domisili kedua orangtua Nagea.
"Pah, Mah, aku sangat gugup kali ini. Bagaimanapun juga, aku sangat lama berpisah dari istriku. Ini membuatku gugup."
"Ya Elah Bang Jerr, baru juga seminggu," celetuk sang adik, siapa lagi kalau bukan Abner.
"Diamlah kau bocah. Aku juga jadi ikut gugup nih," Ferdo mengusap dadanya.
"Kak Jerry yang nikahan kenapa kamu yang gugup sayang?"
"Mel, aku membayangkan saat ini adalah acara milik kita berdua. Itu membuatku gugup."
"Hahaha, kau ini lucu." Melina menyatukan jemari tangannya dengan milik Ferdo, berusaha memberi kehangatan. "Sayang, ayo duduklah. Tinggalkan kak Jerry dengan segala kegugupannya." ajak Melina.
Sementara, sepasang anak muda lainnya, sedang dusuk santai menunggu acara itu dimulai, sibuk dengan dunia mereka sendiri, terlihat sangat manis. Siapa lagi kalau bukan Marsha dengan kekasih tercintanya yang selalu ia panggil kak Ethan itu.
MC pada acara itu mulai mengatakan sesuatu. Mengumumkan kepada semua yang hadir bahwa mempelai wanita akan segera memasuki ruangan bersama dengan keluarganya.
Dan benarlah, Jerry dapat melihat dari posisinya berdiri, seorang gadis melangkah memasuki ruangan dan berada dalam gandengan sang ayah.
"Mah, lihatlah pangeran ke satu-mu itu. Dia menitikkan air mata. Apa yang dia pikirkan? Kenapa harus menangis dihari bahagianya sendiri." Juan membisiki istrinya yang hanya menunduk.
"Mama sayang, kenapa kau juga ikut menangis? Astaga, aku paham sayang, kau pasti sangat terharu akan menikahkan anak nakal itu." Papa Juan menggenggam erat jemari istrinya.
"Pah, ini ada tisu." Abner menyerahkan sekotak tisu kepada ayahnya, entah dari mana ia mendapatkannya. "Bantu mama menghapus air matanya" bocah itu seperti sedang mengajari papa Juan.
'Aaakh, aku sedang bahagia tapi kenapa aku sangat ingin menangis?' Jerry sudah beberapa kali terlihat mengusap bawah matanya. Mempelai wanitanya itu kini semakin dekat dengannya.
'Aku sangat bahagia, akhirnya ... ini adalah pernikahan yang benar. Aku diantar oleh Papi menuju suamiku'
....
"Nak Jerry, dihadapan banyak saksi saat ini, Papi akan menyerahkan Nagea untukmu. Papi tidak mengharapkan satu sen pun harta milikmu, tapi ... Sayangilah dia, habiskan banyak waktu bersamanya, tolong, ... jangan pernah menyakiti dia. Dia kepunyaan kami satu-satunya."
Mendengar pesan dari ayah mertuanya ini, membuat airmata Jerry tak kuasa untuk bertahan ditempatnya. Pria itu lagi-lagi harus mengusap bawah matanya.
"Dan kamu Nagea, kamu adalah anakku yang mandiri. Kamu biasa melakukan banyak hal sendiri. Papi dan Mami percaya kamu bisa jaga dan rawat suamimu dengan baik. Jadilah istri yang hebat anakku"
"Untuk kalian berdua, semoga kalian bahagia" sang Papi itu sudah tidak bisa membendung perasaannya. Ia peluk dua orang itu bersamaan, lalu pergi dari altar menuju istrinya yang sudah duduk manis ditempatnya.
Dalam acara ini, papa Juan juga diberi kesempatan untuk berbicara. Beliau pun dengan senang hati, memghampiri putra dan menantunya itu.
"Tidak banyak yang ingin saya sampaikan. Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar dari pihak mempalai wanita, karena mau menerima putraku ini menjadi bagian keluarga anda. Anakku mungkin bukan yang terbaik, tapi ... aku pastikan dia akan selalu membahagiakan Nagea."
"Jerry, ingat pesan ayah mertua-mu. Jangan pernah sakiti Nagea dari segi apapun, dengan alasan apapun. Tugasmu, hanya harus membahagiakan dia."
"Nagea, terima kasih sudah hadir di keluarga Barata. Kami, sangat gembira menerimamu."
Terlihat Nagea mulai ikut mengusap bawah matanya. Wanita itu sudah pasti terharu dengan ketulusan papa Juan.
..............
Sekian, pernikahan mereka digelar dengan sangat meriah dan dihadiri oleh seluruh kerabat dan rekan bisnis Papi-nya Nagea. Hari ini beliau sangat senang telah mengumumkan bahwa putri satu-satunya itu telah menikah.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Kita lanjut besok guys😁