Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Marsha? 2 Tahun Kemudian.


__ADS_3

2 Tahun Kemudian.


Suatu malam yang dingin.


"Marshaaaa"


"Maaarrrshhaaaaa"


"Maaashaaa"


"Marshaaaaaaaaa"


Keluarga itu, telah kehilangan, Marsha.


"Ma... sabar Ma... Papa janji akan menemukan putri kita sayang.."


Wanita itu, Fema... tentu saja dia lah yang merasa paling hancur disini.


Gadis yang baru saja duduk di kelas 5 Sekolah Dasar itu, tiba-tiba menghilang bak di telan bumi. Sudah 2 hari keluarga Barata bersama dengan pihak berwajib mencari keberadaannya. Semua orang andalan keluarga itu turut mencari dan menelusuri jejak Marsha, namun semua usaha sia-sia.


Fema hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Sampai pada akhirnya, wanita itu pun tumbang. Terpaksa ia dilarikan ke rumah sakit milik suaminya.


Ferdo dan kakaknya, Jerry, segera berlari menyusul ibunya ke rumah sakit.


"Maaa... Mamaaa... yang kuat Mama..." Ferdo menangis diakhir ucapanya. Kedua remaja yang sudah beranjak dewasa itu dengan setia menggenggam tangan Mama.


"Ma... maafkan aku tidak menjaga adikku dengan benar mah.." Jerry menangis sejadi-jadinya disamping mama.


Hubungan Marsha dan kedua abangnya itu sudah berjalan dengan sangat normal. Meskipun ada saja ulah Marsha yang membuat abang ke-2 itu melayangkan protes, akan tetapi itu bukanlah karena Ferdo Marah atau tidak menyukai adiknya. Protes yang ia keluarkan hanyalah bentuk gemashnya pada adik perempuan cantik itu.


Di Tempat Lain.


Nagea..


Gadis itu sedang duduk dengan tatapan kosong di atas tempat tidurnya.


"Maaf...maaf... maafkan kakak Marsha.. kakak tidak menjagamu."


Selama 2 tahun terakhir ini, Nagea dan Marsha berteman dengan sangat baik. Kenapa? Nagea yang adalah teman sekelas Ferdo, gadis itu mengakrabkan diri sebaik mungkin dengan Ferdo dan adiknya, Marsha. Hal itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Itu karena dia sedang mencari perhatian pangeran ke - 1 keluarga itu. Ya... Nagea menyukai Jerry sejak awal.


Satu-satunya orang terakhir yang bersama dengan Marsha adalah Nagea. Seharusnya, gadis itulah saksi kunci dari menghilangnya Marsha.


"Marsha... kamu dimana?" (Nagea).

__ADS_1


Satu minggu kemudian


Di sekolah. Ya... kini Ferdo dan Jerry ada di SMA yang sama juga. Ferdo kelas 10, Jerry kelas 12. Jangan lupa, Nagea juga berada di kelas yang sama dengan Ferdo.


"Nagea..." panggil Ferdo.


"Iya Fer.."


"Kamu dipanggil kakak aku."


"Hah?" Nagea terkejut. Untuk pertama kalinya, Jerry mengajak Nagea untuk bertemu. Tak ingin membuang waktu, Nagea segera pergi ke tempat dimana Jerry sedang menunggunya.


"Kira-kira ada apa dia memanggilku? Apa... ah, terserah, apapun itu, dia minta untuk bertemu denganku dan itu membuatku sangat senang."


"Aw..." pekik Nagea, karena tiba-tiba merasakan sakit di pergelangan tangannya.


Seseorang menyeretnya dan memasuki gudang sekolah yang sedikit gelap, karena kurangnya pencahayaan.


"Aaakh..." seseorang itu menghempas Nagea dengan kasar hingga membentur dinding.


"Dimana adikku?!" pertanyaan itu keluar dari mulut seseorang itu.


"Kak, aku tidak tahu dimana Marsha.." Jelas Nagea pelan. Rasanya sangat takut karena Jerry begitu kasar memperlakukan dia.


"Kemana aku harus mencarinya?"


"Kau yang telah membuat adikku hilang.."


"Aku tidak pernah bermaksud begitu kak.. aku sudah menjelaskannya pada polisi."


"Urusanmu dengan polisi mungkin sudah selesai. Tapi, jangan harap kau bisa bebas begitu saja. Aku, memerintahkanmu untuk mencari adikku. Dapatkan kembali adik perempuanku! Kau mengerti?" Jerry membentak.


Air mata Nagea meluncur begitu saja karena bentakan Jerry. "Aakh" gadis itu kembali memekik saat tangan Jerry mencengram rambut panjangnya.


"Ini sakit katamu? Hah?"


"Aww" Lagi-lagi tangan itu mengencangkan remasannya pada rambut Nagea.


"Adikku bisa saja lebih sakit dari ini diluar sana. Hah? Dan itu gara-gara kau.. gadis bodoh, egois, kau yang memaksa mengajak adikku bermain ditaman kan?"


"Aaaaaa.. sakit kak Jerr..." gadis itu menangis.


"Jangan menangis.. tugasmu adalah mengabdikan diri untuk menemukan adikku. Jangan berpura-pura menangis hah!"

__ADS_1


"Lalu... bagaimana kalau... aku, tidak bisa menemukannya?"


"MATI. Itu artinya, kau harus mati" ucap Jerry dengan nada tegas, mengancam.


"Jangan pernah bermimpi untuk bernapas dengan baik selama kau belum menemukan adik perempuanku." tegasnya lagi, dengan tatapan membunuh. Sangat menakutkan bagi Nagea.


"Aahw.." pekik Nagea lagi, saat Jerr melepaskan cenkraman kuatnya dan sengaja menghempas gadis itu. Jerry pun pergi dari sana, membawa kemarahannya pada Nagea.


Kepergian Jerry, membuat Nagea kembali terisak. "Papa... mama... dia menyakiti Gea.." adunya, dalam kesendirian.


Saat ini juga, Nagea memutuskan untuk menghilangkan perasaannya pada Jerry. "Dia, menyakiti aku.. aku, tidak boleh menginginkan dia lagi. Ya.. itu lebih baik." Gadis itu lalu menghapus airmatanya kemudian melangkah keluar dari gudang pengap itu.


\=


Ethan El-Yared.


"Kamu diamana Sha.. kenapa meninggalkan kakak? Kemana kakak harus mencarimu?"


Selama 2 tahun belakangan ini, Ethan selalu meluangkan waktu untuk bermain piano bersama Marsha. Ya.. piano pemberianya untuk Marsha itu, kini tinggal kenangan di rumah keluarga Barata.


Berkat keberhasilan Ethan mengajarinya, Marsha mahir memainkan Piano. Mereka bahkan sering bernyanyi bersama sembari memainkan piano itu. Ethan yang memang suka menyanyi, tak jarang meminta Marsha mengiringi lagunya dengan musik piano. Lagu-lagu kesukaannya pun mereka nyanyikan bersama.


Satu hal yang selalu gadis polos itu tanyakan setiap kali bertemu Ethan adalah.. "Apa aku cantik kak? Apa hari ini aku masih cantik? Apa aku bertambah cantik kak?"


Marsha kecil itu selalu ingin terlihat cantik di depan Ethan, karena awal pertemuan mereka Ethan pernah mengatakan bahwa Marsha harus tetap cantik. Jadi, bagi Marsha, dia hanya perlu cantik jika bertemu kak Ethan.


Di Tempat Lain.


"Pah.. Kapan Marsha akan pulang?" Lagi-lagi Fema menangis.


"Sayang... maafkan suamimu ini, maaf karena tidak bisa menemukan Marsha.." Juan menangis.. menangis sambil memukul dadanya. Ia juga tak tahu apa lagi yang harus di lakukan untuk menemukan putri satu-satunya yang telah hilang.


Fema memeluk suaminya erat, mereka... menangis bersama. "Maafkan aku pah.. aku terlalu memaksamu! Biarkanlah aku menangis sesekali pah, sangat sakit rasanya kehilangan dia.." Keduanya kembali terisak.


.


.


.


Bersambung.


Bagaimana gess?

__ADS_1


.


__ADS_2