Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Salah Kira


__ADS_3

Juan menunggu kedatangan Fema keluar dari butik. Pria itu bersandar di mobilnya dengan melipat tangannya di atas perut. Tak lupa, kaca mata hitam bertengger di hidungnya yang lumayan mancung, menambah kadar ketampanannya.


Dari balik kacamatanya, ia melihat wanitanya itu keluar dari butik dengan langkah kaki berlari kecil. "Lihatlah senyuman istriku.. begitu bersemangat


melihatku?"


"Kenapa berlari..? Ada yang mengusirmu dari dalam sana?"


"Papa sayang... sa.. sayang" Fema tersenyum semakin manis. Ia bahkan memeluk erat suaminya.


"Sudah ku duga.. kamu merindukanku.. dia begitu terang-terangan di depan umum sekarang?"


"Ayo masuk ke mobil. Para pekerjamu sedang menonton aksimu." Juan merasa tidak nyaman menjadi tontonan gratis.


"Benarkah? Ah... baiklah... ayo masuk dulu ke mobil ada yang pengen aku ceritakan."


Kembali ke Jerry.


Anak remaja itu sedang menatap foto keluarga yang ada di atas meja mama Fema.


"Benar kata Ferdo, dia memajang foto ini!" menyunggingkan senyum. Lalu Jerry mengusap salah satu wajah pada Foto itu.


"Mama.."


"Ma...ma"


"Maaamaa"


"Haruskah aku membiasakan diri dengan panggil dia mama?" bergumam.


Beralih ke wajah Marsha.


"Kenapa dia harus memberiku adik seperti ini? Sok imut, manja pula, awas saja dia menyusahkanku ketika besar nanti. Jangan sampai papa memintaku menjadi kakak yang baik dan harus menjaganya seperti tuan putri." Jerry masih bergumam dan kali ini setengah menggerutu.


Di Lain Posisi.


"Apa? Anak itu... jadi dia menemuimu dan mengatakan hal itu?" Juan hampir hilang kendali stir mobilnya yang sedikit lagi menabrak trotoar sangking terkejutnya. "Sulit dipercaya anak pendiam sepertinya akan mengatakan hal konyol itu." gumamnya.


"Apa? Papa sayang kok bilang konyol sih? Manis kali pah.. dia sangat manis." Fema tersenyum membayangkan wajah tampan putra sulung itu.


"Kamu senang?"

__ADS_1


"Iya... bahkan sangat senang.."


"Jadi untuk itukah dia menghampiriku tadi sambil berlari? Astaga.. dengan PDnya aku mengira dia begitu merindukanku! Konyol"


"Bagaimana dengan Ferdo?" tanya Juan.


"Anak itu tidak ikut dengan kakaknya"


"Tunggulah. Dia akan mendatangimu dan mengatakan kekonyolan lainnya."


"Cssshhh... kau ini.."


"Mama sayang, kau ini katamu?" protes.


"Hehe..✌ Papa sayang!"


"Pintar.. itu terdengar menarik"


Setelah melakukan kewajiban mengisi kampung tengah, Juan kembali melajukan mobilnya dan membawa istrinya ke Hotel.


"Papa sayang, kita mau apa kesini?" Fema menatap bingung.


"Yang benar saja? Ini masih tinggi hari!"


"Tapi adik kecilku tiba-tiba merindukan sarangnya."


Jika sudah begini, Fema bisa apa? Menurut saja. Bukankah ini demi kelangsungan biduk rumah tangga mereka juga?


Di kamar yang sama dengan yang waktu itu.


"Papa sayang ada-ada saja, kita punya kamar sendiri di rumah luas itu kenapa lagi mesti kesini hanya untuk bercinta!"


"Sayang, disini tidak ada gangguan. Kalau di kamar kita, penuh resiko. Entah itu anak-anak, entah itu pelayan, sangat mengganggu!"


"Alasan.. mana pernah anak-anak mengganggu kita selama ini!" (nada protes)


"Ssssuuut... diamlah... ayo kita mulai.. aku hanya ingin menikmati waktu berdua saja denganmu sayang..."


Juan mendekati istrinya. Tak ingin membuang lebih banyak waktu, Fema mengikuti permainan suaminya.


"Mama sayang, sepertinya aku sudah kecanduan akan dirimu," Juan berbisik.

__ADS_1


"Itu bagus Papa sayang.. jadi, kamu tidak akan menginginkan wanita lain dan hanya menginginkanku."


Dan... ah... tertutup. Othor gak bisa lihat apa yang sedang mereka lakukan.


.


Ditempat lain.


Ferdo baru saja keluar dari gerbang sekolah. Paman Edy menjemputnya bersama Marsha.


"Kenapa lagi kau meminta dijemput paman Edy?"


"Papa yang minta kak.. ya kan paman?" Sang supir pun membenarkan.


"Baiklah kalau begitu." sahut Ferdo terpaksa.


Paman Edi kembali melajukan mobil.


"Eh... teman beruang, apa kau bisa bermain musik?"


"Tidak bisa kak,"


"kalau mau jadi adikku, kau harus bisa bermain musik sepertiku."


"Hah? Apa itu harus kak?" Marsha mengerutkan kedua alisnya.


"Iya, harus."


"Baiklah kak, Marsha akan belajar!"


Masa bodoh dengan hal lainnya, demi pengakuan sebagai adik, Marsha harus rela melakukan apapun yang dikatakan sang kakak.


.


.


Bersambung dulu ges...


Thooorrr! Katanya ada konflik. Mana?


Hehehe... ✌ belum ada di part ini. Sabar ya🤭

__ADS_1


__ADS_2