Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Nasa


__ADS_3

"Apa kau tidak sedang berbohong?"😒


"Percaya napa si bang?"


"Terus, si Ferdo itu kenapa bilang I Love u?"


"Ya mana aku tau bang, suka kali sama aku,"


"Kerja apa dia?" tanya si bapak, ikut kepo.


"Kurang tau Pak," Melina menjawab dengan nada malas.


"Mel, kamu sudah boleh pacaran. Tapi, ingat, harus yang mau bekerja, dewasa, dan tanggungjawab." saran bapak.


"Iya pak."


"Jadi, si Ferdo itu, pacar kamu dek?" kali ini kakak ipar ikut bicara.


"Belum jadian kak. Dia baru bilang. Aku belum jawab." akhirnya Melina mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Ferdo.


\=\=\=\=


"Huuummmmm"


Nagea menggeliat dari tidur nyamannya.


'Eh, posisi apa ini?'


Nagea mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, berharap apa yang dilihatnya ini tidaklah nyata.


'Kenapa dia menempel padaku?'


Nagea merasa kesal seketika, saat menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pelukan penjahat kelamin yang belum tentu sudah tobat itu.


Semakin Nagea mencoba melepaskan diri, semakin kuat pula tangan itu melingkar di tubuhnya.


'Dasar manusia tidak tau diri, enak aja peluk-peluk'


"Lepas! Aku mau mandi."


Akhirnya Jerry membuka mata, tanpa melepas pelukannya.


Pria itu tersenyum karena begitu membuka mata, telah tersuguhkan wajah istri tercintanya dalam jarak sangat dekat.


"Slamat pagi, Nasa!" ucapnya.


"Nasa? Kau sedang bermimpi melihat wanitamu? Cishhh ... sudah kuduga.,"


Berpikir bahwa Nagea merasa kesal, Jerry semakin mengeratkan pelukannya.


"Heiii ... dengar, Nasa ... artinya, Nagea Sayang" bisiknya, serak.


"Gombal. Pergi sana,"


Pria itu menggeleng, lalu kembali berbisik,


"Sayang, ayo ... kita, bikin bayi!"

__ADS_1


Seolah tak menghiraukan kejutekan Nagea, Jerry malah mengatakan hal konyol lainnya.


"Kamu ini anggap aku bahan lelucon ya? Aku lagi marah ya marah," kesal Nagea.


Lalu Jerry mengurai pelukannya.


"Sampai kapan kesalnya sayang? Dari awal kita menikah aku sudah tidak pernah jahat Nasa, sejak itu aku sudah bertekad menjalankan pernikahan kita dengan sungguh-sungguh. Aku juga tidak pernah lagi pergi dengan wanita manapun sejak saat itu. Ayo, percayalah Nasa!"


Jerry menatap intens kedalam mata istrinya itu.


"Kamu minta apa? Bilang ya, kamu minta apa aja aku turuti sayang. Hmmm?"


"Aku minta kamu diam. hanya berbicara seperlunya. Sekarang kamu sangat berisik." ketus Nagea lalu melangkah cepat kedalam kamar mandi.


'Kenapa aku merasa sedih mendengar penjelasannya? duuh Nagea, jangan jadi perasa. Menjadi kejam diperlukan jika bersama dengan pria ini.'


\=\=\=\=


Pagi ini, Marsha bangun dari tidurnya dan merasakan luka jahitnya sudah sangat mendingan. Tidak menyakitkan lagi.


Gadis itupun melangkah keluar dari kamarnya. Saat melewati kamar Ferdo yang sedikit memiliki cela yang artinya tidak terkunci, ia pun berbelok untuk melihat kamar kakaknya itu.


Tok tok tok.


Marsha tetap mengetuk walaupun sudah dilihatnya keberadaan abangnya.


"Eh, Sha? Tumben ke kamar kakak?"


"Hehehe ... kaaak, Marsha mau ke bawah. Gendooong"


"Sha, Sha, kirain apaan. Gendong? Kamu pikir badanmu itu ringan kah?"


Pria itu kini mengenakan kemeja kerjanyanya, dan Marsha berinisiatif mengancing lengang kemeja itu, yang biasanya dilakukan oleh pelayan pribadinya apabila Ferdo merasa kesusahan melakukannya.


"Anggap aja latihan gendong istri kaak, Melina itu berat loh,"


"Csssh, kok jadi bahas Melina sih," Ferdo tersenyum, dalam sekejap pikirannya traveling sampai ke tempat Melina berada.


"Abisnya, kakak suka Melina kan,"🤭


"Bisa aja kamu,"


"Kakak sudah bilang ke Melina kalau suka?" Lagi-lagi Marsha ngepoin perasaan abangnya.


Ferdo memgambil jas dan tas kerjanya sebelum akhirnya mengajak adiknya itu untuk turun sarapan. Tanpa menjawab kekepoan Marsha.


"Kaak, kak Ethan, bilang jatuh cinta ke aku."


Marsha mengadu ke abang ke dua-nya itu, sembari mereka berjalan menuruni tangga bersama. Tak lupa, Marsha sedang bergelayut manja di lengan kakaknya.


'Apa? pria sok ngartis itu sudah nyatain perasaannya ke adik aku?'


"Jadi, kamu jawab apa ke dia?"


"Belum kak, minggu depan aja. Di acara ulang tahun perusahaan dia."


"Pintar ... ini baru dia adikku. Tidak perlu buru-buru jawabnya." Kecupan kilat mendarat di kepala Marsha dari kak Ferdo.

__ADS_1


Ternyata, sudah ada si bungsu dan kak Nagea duduk manis menunggu di ruang makan. Melihat kehadiran abang dan kakak perempuannya, Abner mulai memicingkan mata. Terlihat jelas diwajah ABG itu bahwa ia akan mengatakan sesuatu untuk mengacaukan suasana hati orang lain.


"Selamat pagi ...!" sapa seseorang.


Sontak seluruh keluarga barata itu menoleh ke arahnya.


"Kak Ethan?"


'Kenapa dia disini sepagi ini? Aku bahkan belum mandi,'


"Eh, Than, sini, sarapan yuk," ajak Nagea, pada temannya itu.


"Baiklah, aku juga belum sarapan." Ethan menempatkan bokongnya pada kursi di sebelah Marsha.


Gadis itu sedang tertunduk malu.


"Kak, kau pagi-pagi kesini tanpa di undang, kakakku bahkan belum mandi." Celetuk si bungsu.


"Diamlah kau bocah. Makan yang banyak tanpa banyak bicara." sergah Ethan


Ethan kemudian melirik Marsha yang sepertinya kehilangan selera makannya.


"Hei ... kenapa? Makanlah, jangan hiraukan aku," menyentuh singkat kepala Marsha.


"Apa koki di tempatmu pergi berlibur sehingga tidak ada yang membuatkanmu sarapan?" pertanyaan menjengkelkan datang dari mulut Ferdo.


"Adik sama abang sama aja ya, seharusnya kau bersyukur karena artis keren seperti aku mau numpang makan di rumahmu." sahut Ethan.


"Sudah, sudah. Kalian ini, kayak anak kecil deh. Malu sama ni bocah." timpal Nagea.


"Good morning!"


Jerry menghampiri meja makan dan duduk di sebelah istrinya.


CUP,


Kecupan selamat pagi mendarat sempuna di pipi kanan Nagea.


"I Love You, Nage Sayang!"


'Dasar tidak kenal malu.' umpat Nagea dalam hati.


Keadaan menjadi hening. Semua orang menahan senyum setelah menyaksikan sikap kak Jerry.


"Nagea, kasih tau suami-mu, lain kali jangan asal kiss. Malu sama bocah." sahut Ferdo, dengan maksud membalas ucapan Nagea yang mengatai dirinya seperti anak kecil.


"Makanya, menikahlah. Punya istri tu enak." sahut Jerry, sembari memikirkan hubungan rumitnya dengan sang istri.


Nagea, hanya diam.


'Sepertinya, pangeran ke-1 nya mamaku sudah banyak berubah. Dulu, dia selalu bersikap tenang, dingin dan cuek. Sekarang, kakak terlihat hangat. Mungkin dia berubah karena kak Nagea.' Marsha tersenyum dalam hati.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2