Perjodohan Janda Duda

Perjodohan Janda Duda
Mereka Serasi


__ADS_3

'Aku berencana tidak bertemu lagi denganmu, setelah kamu mencuri ciuman pertamaku. Tapi kenapa malah kamu yang dikirim Tuhan untuk menolongku? Bagaimana sekarang aku harus bersikap?'


Melina masih dalam kondisi terdiam di dalam balutan selimutnya. Gadis itu masih dalam posisi duduk dengan matanya yang tertutup. Ada perasaan marah, takut dan malu bersamaan.


Rasa marah pada Ferdo setelah kejadian ciuman mendadak itu, juga malu karena Ferdo telah menyaksikan dirinya hampir saja dilecehkan. Perasaan takut juga bersarang dalam dirinya, takut jika hal ini terulang, itu sebabnya dia tidak mengusir pria itu pergi dari tempat tinggalnya itu. Akan tetapi, Melina juga tidak mengatakan apapun, dia hanya diam membiarkan Ferdo terlihat bodoh, tak tau apa yang hendak ia lakukan.


Begitu juga dengan Ferdo, ia hanya diam, tidak mungkin dirinya mengatakan maksud kedatangannya ketempat ini, mengingat Melina baru saja melewati peristiwa tak menyenangkan. Pria itu kini duduk di kursi yang ia letakkan disamping tempat tidur Melina.


Drrrt... drrrt...


Nama kontak (Si Manja Kesayangan,) memanggil.


"Halo dek," sapa Ferdo. Tentu saja yang sedang menelponnya adalah Marsha.


Marsha:


"Kakak, kenapa Melina-ku lama sekali? Kakak tidak bawa dia keliling kota dulu kan?" Pertanyaan menuduh dari Marsha, yang tentu saja salah besar.


"Ini masih ditempatnya. Sha, Melina sedang tidak enak badan jadi ... kakak--"


Marsha:


"Sakit? Kalau begitu bawa paksa dia kesini. Aku akan datang kesana kalau kakak tidak bawa dia ke tempat kita. Titik."


"Sha_"


Marsha:


"Mana Melina? Aku mau bicara dengannya!"


klik, Ferdo mengaktifkan loadspeaker. "Bicaralah, dia akan dengar" suruh Ferdo.


"Mel ... kamu baik-baik aja kan? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tunggu kamu di kamar aku yah ... Mel ... kamu dengar kan?"


Lama, Melina tidak menjawab.


"Mell, aku butuh kamu." 😔


DEG.


Seolah tiga kata itu merupakan kode khusus dari Marsha, Melina seketika membuka matanya yang sebelumnya tertutup.


"Sha, aku akan segera tiba. Tunggu ya!" akhirnya, Melina bicara. Ferdo sampai tercekat dibuatnya.


Tut tut tut, telpon dimatikan.


Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, Melina beranjak dari kasurnya, membiarkan selimut yang tadi membungkus tubuhnya, terjatuh sembarangan di lantai, kembali mengekspos tubuh sexy Melina. Kacaunya, berhasil membuat pria tampan yang masih sangat normal itu terpaksa menelan saliva, karena merasa tenggorokannya tiba-tiba mengering.


'Astaga ... apa ini? Kenapa aku tidak bisa biasa-biasa saja? Kali ini, aku benar-benar harus memeriksakan kesehatan jantungku.' Ferdo memegang dadanya merasakan jantungnya yang kembali tak karuan. 'Dia cantik, sexy, tapi ... apa dia gadis baik-baik?'


"Tolong kemasi pakaian adikmu." Dengan gerak cepat, Melina mengeluarkan semua pakaian milik Marsha dari dalam lemarinya. Mengagetkan Ferdo dari pikiran panas-nya.


'Wah ... gadis satu ini luar biasa. di menit yang lalu dia terlihat masih menikmati trauma atas kejadian tadi, sekarang dia bahkan terlihat begitu santai?'


"Jangan hanya berdiam. Ayo ... kemas!"

__ADS_1


"Oh, i ... iya!" Karena sibuk mengagumi Melina, Ferdo jadi tidak Fokus.


"Tutup matamu kak, aku akan memgganti pakaianku!"


"Apa? Kau memanggilku kakak?"


"Iya ... kakak tidak dengar?"


“Kenapa panggil aku kakak?”


“Jangan banyak tanya, tutup dulu matanya.”


Pria itu pun memejamkan matanya, sesuai perintah.


“Sudah” hanya itu yang Melina katakan sebagai tanda dia sudah ganti baju.


.


Di perjalanan.


Hening ... “Ehmmm” Ferdo membuka suara.


Melina menoleh, bertanya-tanya kenapa pria ini berdehem.


“Jadi ... kenapa panggil aku kakak?”


“Ya?” Melina menatap dengan satu alis terangkat. “Apa itu penting?”


Ferdo mengangguk. Heh.. kenapa pula pria itu ingin tahu alasannya? Bukankah hal itu biasa saja?


“6 bulan lagi aku memasuki 23 th. Kalau kamu berapa?” Melina malah menanyakan perihal umur.


“Kita terpaut 5 th. Wajar aku memanggilmu kakak. Kamu seumuran dengan kakakku.”


“Tapi kau bukan adikku.”


‘Ya ampun, pria ini bener – bener’


“Ya sudah ... anggap aku adikmu juga, seperti Marsha.”


“Apa? Tidak perlu ... sudah cukup adik perempuanku satu saja.”


“Lalu apa? Pake AKU KAMU terdengar tidak sopan. Kecuali kalau kita seumuran.” Melina mulai memunculkan suara tinggi.


Ferdo hanya diam, sesungguhnya pria itu juga tidak mengerti mau bilang apa lagi.


.


Mobil kini membawa Ferdo dan Melina memasuki kawasan kediaman Barata.


Setelah turun dari mobil, "Tolong jangan ... menceritakan peristiwa tadi ke Marsha ya" pinta Melina, dengan tanpa sadar memegang tangan Ferdo.


'Kenapa? Kau takut adikku mengkhawatirkanmu?'


Ferdo membalas tatapan memohon Melina. "Iya Mel, tenang aja," jawab Ferdo.

__ADS_1


Papa dan Mama menyambut Melina dengan sangat baik.


"Permisi ibu, bapak, saya akan melihat Marsha dulu."


"Iya Mel, terima kasih ya"


Melina pun menaiki tangga untuk menuju kamar Marsha, Ferdo berjalan disampingnya menenteng tas yang berisi pakaian Marsha.


"Ma ... benar katamu, gadis itu terlihat serasi dengan pangeran ke dua."


"Iya Pa, semoga saja mereka semakin dekat."


Papa Juan dan Mama Fema menatap kepergian Ferdo dan Melina, dengan wajah tersenyum.


"Pa ... ke kamar yuk," ajak Fema.


"Oke sayang, aku sangat senang dengar ajakanmu"


Keduanya pun berjalan menuju kamar tidurnya, untuk melakukan sedikit olahraga sebelum tidur nyenyak malam ini.


Di kamar Marsha.


"Mell" Marsha langsung memeluk Melina begitu melihat sahabatnya itu berada di depan pintu kamarnya.


"Kau sangat merindukan aku?"


"Iya Mel, aku sangat merindukanmu."


Keduanya kini tidak memperdulikan keberadaan kak Ferdo, lalu memasuki kamar Marsha.


"Apa kalian tidak melihatku?" tanya Ferdo.


"Hehehe. Kak, aku pinjem Melina sebentar ya.."


"Apa?"


Ferdo - Melina sama-sama terlihat bingung.


'Ih ... sok akting lagi nih bedua' batin Marsha.


.


"Cie ... kakak ipar datang lagi?" Abner muncul dari arah pintu.


'Kakak ipar?' lagi-lagi dua orang itu merasa sedang tertuduh.


Oh.. Ferdo dan Melina kini paham, si Abner pasti sudah jadi biang kerok.


"Bang, kalau mau foto itu aman, pinjamkan aku kartu debit-mu. Besok aku ingin mentraktir teman-temanku sepuasnya." Abner lalu pergi.


"Bocah itu sedang mengancamku?" Ferdo Geram.


Ia pun menyusul ABG itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2